
"Sayang sekali, ritual tidak dapat ditunda," penyihir itu memainkan jemarinya hendak membaca mantra, "Padahal akan lebih baik jika kita memiliki persembahan yang sehat dan bugar. Namun, itu tidak mengapa karena yang kami butuhkan hanyalah darah perawan dari keluarga kerajaan."
Alice berusaha memejamkan matanya. Ia berteriak dalam hati memohon pertolongan Tuhannya. Tak sudi benar ia tertangkap oleh para penyihir yang hina itu. Mereka pasti akan melakukan hal yang buruk kepadanya, bahkan setelah jasadnya tak bernyawa.
Shht ...!!!
Sebuah anak panah meluncur sehalus bulu, nyaris tak terlihat oleh mata. Voxnus pun tiba-tiba berteriak parau. Darah bercucuran dari matanya. Pria tua berjanggut putih itu langsung berlutut. Ia ingin mencabut panah yang tertancap di matanya itu, tapi tak kuasa menahan rasa sakitnya.
Benang-benang mana yang mengikat para serigala pun terputus. Mereka langsung berlarian menjauhi Voxnus, takut dengan jeritan paraunya sekaligus tak ingin diikat paksa kembali. Berbeda dengan yang lainnya, serigala paling besar dengan berani mendekati Alice, berniat memangsa gadis kecil yang malang itu.
Namun, sebuah anak panah kembali melesat. Tidak! Bukan hanya satu, tapi tiga anak panah yang melesat berurutan dengan cepat. Lagi-lagi, anak panah itu membidik mata mangsanya.
Sama seperti tuannya, si serigala raksasa pun langsung melolong keras saking sakitnya. Dua anak panah yang lain pun menusuk tepat di leher dan badannya. Bulunya yang seputih salju jadi ternoda oleh merah darah.
Wajahnya si serigala raksasa pun menegang marah. Ia menggeram. Matanya menyapu ke arah asalnya anak-anak panah itu berdatangan. Saat itu, ia pun melihat satu lagi anak panah yang mengarah kepadanya. Namun, ia bisa menghindarinya kali ini.
Melesat lagi anak-anak panah yang lain. Beberapa di antaranya pun tepat mengenai tubuh si serigala raksasa itu. Sayangnya, si serigala raksasa masih tetap berdiri seolah panah-panah itu tak berarti baginya.
Serigala putih itu berdiri di tempatnya dengan tubuh gemetar. Ia menggeram marah sekaligus menahan sakit di sekujur tubuhnya yang penuh dengan anak panah. Saat itu juga, instingnya pun memerintahkan ia untuk kabur.
Voxnus masih menjerit keras sampai tak tahu bahwa tunggangannya telah lepas kendali. Tubuhnya tiba-tiba diseret oleh si serigala raksasa yang berlumuran luka. Ia dibawa menjauh sejauh mungkin dari arah anak panah ditembakkan. Setelah kedua penjahat itu pergi, barulah si pemanah menunjukkan dirinya.
__ADS_1
"Alicia!" seru seorang pemuda, kaget melihat kondisi Alice yang sangat mengkhawatirkan, "Apa yang Kamu lakukan di sini? Jangan bilang kamu mengikutiku, hah? Hai, kamu bisa dengar, kan?"
"Siapa lagi itu?" tanya Alice dalam hati. Mulutnya berusaha mengatakan sesuatu, hendak membalas pertanyaan pemuda itu. Namun, tidak ada satu pun kata yang keluar dari lisannya. Ia hanya dapat menggerak-gerakkan bibirnya tanpa suara. Dilihatnya pemuda itu amat sangat khawatir.
Alice mengedip-ngedipkan matanya. Pandangannya mulai memudar. Napasnya pun terasa hampir berhenti. Di tengah kondisi yang memprihatinkan itu, ia berusaha mengenali pemuda yang baru saja menyelamatkannya.
Mata pemuda itu berwarna merah semerah ruby, sama seperti Alice. Fakta itu membuat sang putri heran bukan kepalang. Di seantero kerajaan, tidak ada seorang pun yang bermata ruby selain keluarga kerajaan. Ia pun berpikir, "Putra mahkota!? Bagaimana mungkin ia di sini?"
"Tidak, tunggu!" Alice melihat rambut gelap pemuda itu diterpa cahaya bulan. Hanya sebagiannya yang kemerahan. Berbeda dengan rambut Putra Mahkota el Vierum yang berwarna merah terang seluruhnya. Apalagi ketika disiram cahaya bulan dan sinar mentari. Alice pun kembali bertanya-tanya dalam hatinya, "Dia bukan putra mahkota. Lantas siapa? Siapa orang itu?"
Pendengaran Alice sudah mati. Ia tidak lagi mendengar suara si pemuda bermata merah ruby itu. Samar-samar, ia melihat air muka panik di wajahnya. Itu membuatnya semakin yakin sekaligus bertanya-tanya, "Ya! Tidak mungkin dia putra mahkota. Putra mahkota tidak akan menunjukkan ekspresi seperti itu. Siapa...?"
Tubuh Alice diangkat. Nyeri kembali menggerogoti tubuhnya. Ia pun tak kuasa lagi menahan rasa sakitnya. Hilanglah pandangannya. Gulita pun membungkus matanya. Bersamaan dengan itu, habis sudah takdirnya di Kerajaan el Vierum. Ia tidak akan pernah kembali lagi ke sana.
Keluarga itu adalah keluarga mendiang Raja Herculius yang merupakan raja sebelumnya sekaligus kakek Alice dari pihak ibu. Di masa kebangkitan kerajaan, anak-anaknya yang tersisa hanyalah seorang putra dan sepasang putri kembar yang lahir di akhir masa penyatuan. Salah seorang putri itu pun meninggal sebelum kelahiran Alice.
Saat ini, hanya ada dua orang yang berambut merah terang di kerajaan. Mereka adalah Raja Claudius el Vierum dan Putra Mahkota Antonio el Vierum, sedangkan yang bermata ruby hanya tersisa tiga, yaitu Alice sendiri dan kedua orang itu.
"Apakah itu kakak?" barin Alice menerka. Rambut kakaknya itu berwarna biru gelap sebagaimana ciri gen dari Keluarga vi Alverio, tapi ia punya sedikit warna kemerahan yang jadi ciri gen dari Keluarga el Vierum, mirip dengan pemuda itu.
Akan tetapi, kakak Alice tak mewarisi mata merah ruby seperti dirinya. Gen vi Alverio lebih kental pada diri sang kakak. Apakah mungkin si mata mirah delima itu kakaknya?
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?" suara si pemuda bermata ruby itu kembali terdengar di telinga Alice. Jelas sekali ketulusan dalam nada suaranya. Pemuda itu terdengar sangat khawatirkannya seakan ada ikatan yang dalam di antara mereka.
"Kakak," gumam Alice lirih.
“Alicia!” seru pemuda itu mendengar gumaman lirih Alice, “Bertahanlah!”
“Tapi,” gumam Alice lagi. Suaranya amat lirih sampai tidak terdengar sama sekali. Terlihat hanya bibirnya saja yang bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu. Sejatinya, gadis itu berkata, “Aku bukan Alicia.”
***
Pagi hari setelah tragedi malam itu, para Kesatria Istana Mutiara ditemukan oleh warga setempat dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Jasad mereka bergelimpangan bersama bangkai puluhan serigala besar. Terdapat banyak bekas cakaran dan koyakan pada tubuh mereka.
Wajah-wajah para kesatria itu pun tak mudah lagi untuk dikenali. Tak ada seorang pun dari mereka yang selamat kecuali seorang kesatria muda yang sepertinya cukup beruntung. Pedang yang menusuk pada tubuhnya tidak mengenai daerah vital, tapi kondisinya tetaplah kritis.
Kabar musnahnya rombongan Putri Mahkota el Vierum itu sampai ke telinga Duke Muda Derrick vi Alverio pada siang hari. Ia segera meninggalkan pekerjaannya dan bergegas ke tempat kejadian begitu mendengarnya. Perasaannya gundah gulana. Ia tak ingin percaya bahwa adiknya telah tertimpa bencana.
Jalanan tempat terjadinya tragedi itu masih penuh dengan darah saat Derrick sampai di sana. Bangkai-bangkai serigala sudah dibersihkan, sedangkan mayat para kesatria dibawa ke desa terdekat.
Baron Alder, tuan tanah desa itu menunggu keputusan Derrick untuk bertindak. Ia adalah pengikut setia Duke vi Alverio sejak dulu. Pinggiran Hutan Kaskas masuk ke dalam wilayah yurisdiksinya.
Derrick pun memutuskan untuk segera mengubur para kesatria yang gugur. Ia tidak menemukan mayat Alice di sana. Karena itu, ia berharap bahwa Alice adalah korban yang tersisa walau ia sudah diberi tahu bahwa orang itu adalah seorang kesatria muda.
__ADS_1
Tidak mungkin pemuda itu adalah adiknya. Harapannya itu tak lebih dari kesia-siaan belaka. Derrick hanya tidak mampu menerima kenyataan bahwa Alice vi Alverio telah menghilang.
“Alice,” gumam Derrick vi Alverio dalam perjalanan menjenguk korban yang selamat, “Kamu masih hidup, kan?”