
Hari Terakhir Festival Kebangkitan Kerajaan, Istana Ruby
"Anda lebih hebat dari yang dirumorkan, Tuan Putri," sanjung seorang gadis berambut keperakan dan bermata biru. Senyum yang hangat terlukis di wajah gadis itu. "Saat seusia Anda dulu, saya masih suka bersembunyi di belakang ibu saya. Anda sungguh hebat dan menawan."
"Anda lebih hebat, Putri Amelia," balas Alice dengan senyum yang sama. Ia melihat ketulusan dalam wajah putri dari Kerajaan el Grandia, negara sekutu di selatan Kerajaan el Vierum itu. "Saya dengar Anda merupakan sarjana termuda di Kerajaan el Grandia bahkan di benua. Itu prestasi yang sangat mengagumkan."
"Benarkah? Kurasa beberapa tahun lagi titel sarjana termuda itu akan diambil seseorang," duga Amelia dengan penuh harap kepada Alice. Umur keduanya terpaut tujuh tahun. Jika dilihat dari jauh, mereka akan tampak seperti sepasang kakak adik yang tengah bersenda gurau.
"Siapa yang tahu?" balas Alice menatap ke cangkir tehnya dengan senyum sementara hatinya tengah mengembara ke cakrawala masa depan. Amelia pun memberi semangat, "Kamu pasti bisa. Aku sangat terpukau dengan sambutanmu di acara kemarin. Siapa sangka gadis pemberani yang bertanggung jawab atas acara itu sekaligus satu-satunya pemilik Istana Mutiara adalah seorang putri berusia sepuluh tahun?"
"Terima kasih, Putri Amelia," Alice dengan tulus menerima dukungannya.
"Putri Alice, maukah Kamu menghilang formalitas itu dan memanggilku kakak?" tanya Amelia dengan penuh harap. Di kerajaannya, ia adalah putri bungsu walau bukan anak terakhir. Ia ingin tahu rasanya punya adik perempuan.
"Baiklah, kalau begitu Kak Amelia juga tak perlu menggunakan honorifik kepadaku kecuali di tempat formal," kata Alice menerima proposal persaudaraan Amelia. Amelia pun dengan senang menyetujuinya, "Baiklah, aku memanggilmu Alice mulai dari sekarang."
"Tuan Putri, putra mahkota ingin bertemu dengan Anda," Anna menyampaikan pesan yang diterimanya dari seorang kesatria. Walau sudah berbincang agak lama dengan Amelia, ia masih belum ingin mengakhiri pesta teh kecil ini. Ia menatap Anna dengan ekspresi heran dan tidak terima seakan berkata, "Apa harus sekarang?"
"Putra mahkota?" tanya Alice sembari menyembunyikan ketidakterimaannya mendapat pesan itu di hadapan Amelia. Ia meliriknya sebentar. Amelia pun berkata kepada, "Sepertinya pertemuan kita hanya sampai di sini. Aku akan kembali ke el Grandia besok. Jadi datanglah ke tempatku kapan-kapan. Aku akan sangat senang menerimamu."
"Kak Amelia sudah mau pergi? Padahal aku masih ingin main dengan Kakak," Alice tampak sedih.
"Jadi seperti ini rasanya punya adik," kata Amelia dalam hati dengan tawa yang kecil, "Tenang saja, Alice. Aku akan sering berkunjung ke el Vierum jika sudah menjadi Duta Kehormatan Resmi nanti. Lagi pula, aku tidak bisa mengganggu pertemuan sepasang tunangan muda pewaris Kerajaan el Vierum ini."
"Apa yang Kakak katakan?" wajah Alice bersemu merah. Anna sedikit terkejut. Ini pertama kalinya ia melihat Alice berekspresi seperti itu jika bersangkutan dengan putra mahkota.
"Bukan apa-apa," balas Amelia dengan senyum usilnya, "Kalau begitu, Aku pamit undur diri"
Alice pun menatap Anna kesal begitu Amelia pergi. Ia menyalahkannya karena menyampaikan pesan yang~tidak~penting itu. Anna pun segera menarik keterkejutannya tadi.
Seorang kesatria yang menunggu mereka sejak tadi terlihat lega. Ia segera memberi salam dan memperkenalkan diri, "Saya Leonius von Denburg, kesatria pelindung Yang Mulia Putra Mahkota el Vierum. Izinkan saya mengantar Tuan Putri kepadanya."
"Lakukan saja tugasmu!" jawab Alice singkat dan dingin. Ia juga menatap kesatria itu dengan kesal. Akan tetapi, sepertinya anak pertama Marquis von Denburg itu tidak menyadarinya. Di matanya, Alice adalah Putri Musim Dingin sebagaimana yang rumor diskripsikan, dingin dan anggun.
"Alice, akhirnya Kamu datang," sambut Antonio senang.
"Kesalamatan atas Putra Mahkota Antonio el Vierum," sapa Alice menunjukkan sopan santun dan wibawa, "Ada perlu apa Putra Mahkota memanggilku?"
__ADS_1
"Singkirkan formalitas itu," jawab Antonio ingin lebih rileks, "Apa aku butuh suatu urusan untuk bertemu dengan tunanganku yang lebih cantik dari rembulan terindah di tengah malam?"
Alice semakin kesal. Anna terkejut. Leonius menahan tawa.
"Cih! Sepertinya Anda benar-benar harus kembali ke kelas tata krama. Ke mana sopan santun Anda beberapa hari lalu? Apa Anda lupa cara menjawab salam?" omel Alice tanpa dapat dijawab oleh Antonio, "Anda memanggil saya hanya untuk mengucapkan kata-kata konyol? Kalau Anda memanggil saya hanya untuk ini, lebih baik saya segera pulang."
"Ayah bilang, wanita akan senang bila disanjung. Sepertinya itu tidak benar." pikir Antonio mendengar omelan Alice itu sampai habis. Ia seperti melihat aura yang berapi-api pada tubuh Alice. Jelas sekali ia sedang sangat kesal. Lagi-lagi ia tidak peka dengan keadaan.
"Bukan begitu," kata Antonio ketika mendapat kesempatan, "Aku hanya ingin bertemu denganmu karena akhir-akhir ini kita sangat sibuk dan jarang bertemu."
"Jadi begitu? Sepertinya Anda tidak ada urusan sama sekali dengan saya," Alice berpaling dengan dingin dari Antonio, "Saya akan pergi sekarang juga."
"Tunggu! Ada yang mau kudiskusikan denganmu," tahan Antonio. Alice pun berhenti dan setengah menghadap kepadanya. Tatapannya tajam seakan berkata, "Ada apa lagi? Awas kalau itu hal konyol lain yang tidak berguna!" walau tentu saja Antonio tidak menyadarinya.
"Apa Kamu tahu tentang hal ini?" Antonio menunjukkan sebuah buku yang sejak tadi disembunyikannya untuk berjaga-jaga. Alice membaca judul buku itu sekilas. Ia pun menghela napas dan mengambil tempat duduk di hadapan Antonio.
"Kerja bagus, Yang Mulia," batin Leonius bangga. Ia lalu melirik ke Anna dan berpikir untuk mencoba mendekatinya. Saat kedua pasang mata mereka tidak sengaja bertemu, Anna memberinya seulas senyum simpul. Dengan buru-buru pun ia memalingkan pandangannya.
...***...
"Ugh... ada di mana kita?" bingung Nana memperhatikan setikarnya. Labirin rumput di sisi kirinya dan pelataran istana ada di sisi kanannya. Tidak seorang pun terlihat di sana.
"Bukannya tadi Kak Nana bilang harus lewat kanan," Charlotte mengingat perdebatan kecilnya tadi, "Apa benar Kakak sudah hafal seluruh istana di luar kepala?"
"Harusnya begitu!" Nana membela diri, "Aku sudah sering ke mari. Tapi...."
"Kak Nana buta arah?" tebak Charlotte.
"Bukan! Itu karena istana ini yang terlalu luas." gengsi Nana. Biasanya ia diantar oleh pelayan istana saat ada urusan di sini. Akan tetapi, karena terburu-buru tadi, ia menolak menunggu pelayan itu dan bergegas pergi.
"Ayo kita keluar dengan terbang saja," usul Charlotte lalu merapal sihirnya, "Lagi pula, kita tidak akan ada tugas yang menguras mana sihir selama seharian ini."
"Tidak, tunggu!" cegah Nana. Terlambat sudah. Charlotte sudah mengambang di udara dan meluncur ke langit. Ia tampak riang dan menantang Nana untuk balapan. "Aku lihat gerbangnya di sana. Ayo lihat siapa yang lebih cepat sampai ke sana."
"Berhenti, Lottie," Nana mulai merapal sihir terbangnya juga. Voxnus pernah memperingatkannya untuk berhati-hati menggunakan sihir di sekitar istana. Entah apa sebabnya, daerah tertentu kadang-kadang menjadi daerah yang tidak menerima sihir. Bisa bahaya jika sihir itu tiba-tiba hilang saat masih di ketinggian ini.
"Lottie, terbang lebih rendah!" kata Nana memperingatkan.
__ADS_1
"Baik, Kak," kata Charlotte mengindahkan peringatan itu. Ia terbang lebih rendah. Di bawahnya terdapat taman labirin yang begitu indah. Air mancur tinggi diletakkan di pusatnya. Saung-saung putih disebarkan di sekitarnya.
Kekhawatiran Nana benar-benar terjadi. Sihir Charlotte mendadak hilang. Ia sangat kaget ketika menyadari mananya tak dapat digunakan. Tubuhnya pun tiba-tiba seperti terbakar. Sungguh sangat panas.
"Lottie, maafkan aku. Aku harus pergi sebelum musnah di sini," bisik sebuah suara dalam hati Charlotte. Charlotte semakin kaget. "Tidak, Balqis. Tunggu!"
Charlotte terjatuh dari ketinggian. Ia sangat panik dan menutup matanya. Angin di udara tersibak olehnya. Ia bisa mati jika tidak dapat segera mengendalikan sihirnya.
Percuma. Berapa kali pun ia mencobanya, mananya tak akan dapat berfungsi juga. Tubuhnya pun semakin panas dan sakit seperti di serang mantra tingkat tinggi. Apa lagi Balqis, makhluk astral yang berkontak dengannya telah pergi.
Charlotte ingin berteriak. Akan tetapi, suaranya seakan tertahan di tenggorokan tak mau keluar. Tubuhnya seperti terbakar dan semakin kesakitan. Habis sudah riwayatnya.
"Awas, Tuan Putri!" sebuah suara terdengar begitu Charlotte nyaris sempurna jatuh ke tanah. Untunglah seseorang menangkapnya terlebih dahulu.
"Anda tidak baik-baik saja, Nona?" tanya pemilik suara itu. Charlotte pun membuka matanya. Dilihatnya seorang wanita cantik berkerudung putih yang baru saja menyelamatkannya.
"Terima kasih, saya baik-baik saja berkat Anda. Saya hanya sedikit terkejut." kata Charlotte berterima kasih sembari menahan sakitnya. Peluh keringat membasahi wajahnya. Hawa panas itu belum juga hilang darinya.
"Apa benar begitu? Bagaimana bisa Kamu jatuh dari langit? Apa Kamu penyihir?" tanya seorang gadis bermata merah ruby. Rambutnya biru gelap seperti langit malam. Ujung-ujungnya kemerahan seperti cahaya fajar. Gadis itu menatap tajam Charlotte penuh kebencian. "Aku yakin sudah memberi larangan kepada para penyihir untuk berkeliaran di area ini,"
"Tu... an Pu... tri...!?" kata Charlotte terbata. Tiba-tiba tubuhnya menggigil. Ia sangat takut dengan hawa membunuh yang dikeluarkan Putri Mahkota el Vierum itu.
Ketika mata mereka saling bertemu, rasanya seperti seribu kutukan masuk menyerangnya. Charlotte benar-benar tidak kuasa melihatnya. Padahal ia sangat ingin berteman dengan putri nomor satu di Kerajaan el Vierum itu.
"Lottie!?" Nana baru saja sampai dengan berlari. Saat melihat Charlotte jatuh tadi, ia segera menonaktifkan sihirnya. Di lihatnya sekarang muridnya itu tengah berhadapan dengan musuh terbesarnya.
"Tidak! Ini bukan waktu dan tempat yang tepat," batin Nana ketika terbesit di hatinya untuk menangkap Putri Mahkota el Vierum. "Terlebih, dayangnya dari Keluarga Saville yang misterius itu ada di sini. Aku harus bersabar sampai rencana dijalankan. Satu hal yang harus kulakukan sekarang."
"Menghadap Yang Mulia Putri Mahkota el Vierum," sapa Nana berlutut hormat, "Saya Nana Magansei, Kepala Divisi Penelitian Penyihir Kerajaan memberi hormat."
"Apa yang Kamu lakukan di sini?" tanya Putri Mahkota el Vierum dingin. Charlotte masih dalam penjagaan Madam Saville. Nana ingin cepat-cepat membawanya pergi, "Kami ingin keluar dari istana, Tuan Putri. Akan tetapi, kami tersesat di tengah jalan."
"Jalan keluar tamu kehormatan dan para bangsawan ada di arah berlawanan," Putri Mahkota memberi tahu. Nana benar-benar menyesali kekeraskepalaannya tadi ketika berdebat arah, "Mohon maaf atas kecerobohan kami. Tolong izinkan saya segera membawa murid saya pergi untuk diperiksa."
"Bawa dia!" kata Putri Mahkota el Vierum tidak peduli, "Madam, serahkan gadis itu. Ayo segera pergi dari sini."
Putri Mahkota el Vierum pun segera pergi. Nana yang masih berlutut menatapnya dengki. Ia bersumpah benar-benar akan segera menangkap persembahan itu. Ketika waktunya tiba, Menara Penyihir akan memiliki kekuatan yang lebih besar dari sekarang.
__ADS_1