Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Bab 005: Pencarian yang Nihil


__ADS_3

Setelah memberi beberapa perintah, Derrick ditemani Baron Alder menjenguk korban yang selamat itu. Sesampainya di depan rumah tempat si korban dirawat, Duke Muda vi Alverio masih berharap bahwa orang itu adalah Alice. Barulah setelah masuk dan melihat langsung sosok Solid van Denburg yang terbaring kritis, ia percaya pada laporan yang diterimanya.


Alice tidak ditemukan. Ada kemungkinan putri kecil itu masih selamat. Derrick dan Baron Alder pun memerintahkan para kesatrianya untuk menyusuri Hutan Kaskas. Menurut keterangan singkat Solid yang sempat bergumam, putri kecil itu berlari ke arah hutan. Ini menjadi satu-satunya petunjuk yang Derrick punya. Sayangnya, para kesatria kembali di sore harinya dengan tangan kosong.


Solid van Denburg pun dibawa ke kediaman Duke vi Alverio. Sebagai satu-satunya saksi hidup yang tersisa, ia akan dimintai keterangan lebih lanjut mengenai tragedi yang menimpa Putri Mahkota el Vierum ketika sadar nanti.


Malam itu juga, Derrick menulis dokumen untuk menghimpun tim pencarian. Ia juga menulis surat untuk raja, ditambah dengan edaran untuk setiap tuan tanah yang berbatasan dengan Hutan Kaskas agar turut membantu pencarian Putri Mahkota el Vierum, Alice vi Alverio.


"Tuan Putri!" seru Solid begitu bangun dari komanya. Tangannya langsung berusaha menggapai sesuatu, tetapi hanya kehampaan yang didapatinya. Dilihatnya langit-langit kamar bercat putih yang tidak ia kenali. Pening di kepalanya pun langsung kembali menyerang.


"Tenanglah, Sir," kata seorang perawat yang kebetulan masuk untuk memeriksa kondisinya, "Anda baru saja sadar setelah koma selama dua hari. Anda masih harus kembali berbaring dan banyak beristirahat."


"Bagaimana keadaan tuan putri?" tanya Solid risau. Perawat itu pun hanya terdiam, lalu menghela napas pelan. Ia meletakkan herbal yang dibawanya di atas sebuah meja kayu, kemudian berkata, "Saya akan melaporkan kondisi Anda kepada tuan duke muda dahulu. Mohon jangan terlalu banyak bergerak dan beristirahatlah yang benar, Sir."


Solid mencoba menerka-nerka. Dalam benaknya, ada kemungkinan Alice berhasil diselamatkan oleh kesatria lain. Akan tetapi, dugaan itu hanya bertahan sampai ia tahu bahwa dirinyalah satu-satunya korban yang selamat.


Derrick mengunjungi Solid ketika hari menjelang sore. Ia berharap bisa mendapat informasi yang berguna untuk menemukan Alice. Namun, harapannya itu kandas seketika.


Solid malah memberi informasi yang memperumit situasinya. Serigala sihir dan fakta bahwa Dominique adalah pengkhianat menunjukkan bahwa Alice vi Alverio memang telah diincar. Itu berarti, ada kemungkinan Alice sedang ditahan oleh penjahat sekarang.


"Jika aku mengetahuinya lebih dulu, akan kubuang mayat pengkhianat itu jauh-jauh," gumam Derrick kesal. Solid tampak kaget mendengarnya, "Si—sir Dominique itu juga tewas?"

__ADS_1


"Benar, kami menemukan bekas sayatan senjata tajam di lehernya. Kukira, itu karena serangan bandit, tapi ada banyak mayat serigala di sana. Situasinya sangat janggal sampai sekarang," jelas Derrick dengan wajahnya yang dingin, "Kamu satu-satunya orang yang selamat. Jika bukan kamu yang membunuhnya, lalu siapa lagi?"


"Mungkin tuan putri," jawab Solid setengah yakin, "Beliau membawa sepasang belati ketika berlari ke hutan."


"Begitu, ya? Kemampuannya memang tidak bisa diremehkan. Hanya saja, dia masih terlalu lemah untuk melawan seorang kesatria dewasa yang bahkan tak bisa kamu kalahkan," Derrick berdiri hendak meninggalkan ruangan, "Namun, kalau yang kamu katakan itu benar, berarti kita masih punya kesempatan untuk menemukan Alice."


"Tuan Duke Muda," panggil Solid sebelum Derrick sempurna meninggalkan ruangan, "Izinkan saya ikut dalam tim pencarian. Saya pastikan untuk dapat menemukan tuan putri secepat mungkin."


"Pulihkan dulu tubuhmu! Kamu hanya akan menjadi beban dengan kondisimu yang sekarang," ujar Derrick dengan dingin di daun pintu, "Kuharap, ia ditemukan secepat mungkin tanpa harus menunggu seorang calon kesatria yang tidak berguna pulih dari lukanya."


Solid hanya terdiam mendengar sindiran itu. Apa yang Derrick katakan tidaklah salah. Ia benar-benar kesatria yang tidak berguna. Harusnya, ia segera melaporkan kecurigaannya pada Ferrum saat mendapati tindak-tunduk mencurigakan Dominique beberapa hari sebelum keberangkatan. Ini adalah salahnya. Ia terlalu lambat dan ragu untuk bertindak.


***


"Keselamatan atas Tuan Duke Muda vi Alverio," sapa Anna penuh hormat saat Derrick keluar untuk menemuinya. Nona berpakaian tertutup lengkap dengan kerudung itu adalah gadis berbakat dari Keluarga Saville, keluarga yang berasal dari luar kerajaan, tapi memiliki serikat dagang besar berskala global yang sangat berpengaruh.


Anna Saville sudah bekerja kepada mendiang Duchess Evianna vi Alverio sejak berumur 15 tahun. Loyalitasnya pada sang putri tak perlu diragukan lagi meskipun dia bukan penduduk asli kerajaan. Setelah Duchess Evianna wafat, ia pun memberikan loyalitasnya untuk melayani Alice vi Alverio.


"Madam, apakah aku bisa menyerahkan penyelidikan kasus ini padamu?" tanya Derrick setelah berdiskusi panjang dengan Anna.


"Saya akan mengerjakannya dengan sebaik mungkin, Yang Mulia," jawab Anna dengan tegas. Walau wajahnya tampak tenang dan dingin, tangannya mengepal keras penuh amarah.

__ADS_1


Putri Keluarga Saville yang berbakat itu segera kembali dari tugas pentingnya begitu mendengar berita bahwa Putri Mahkota el Vierum menghilang. Baginya, Alice vi Alverio sudah seperti adiknya sendiri. Ia tidak ingin kehilangan lady kecilnya itu.


Sebagai putri pedagang sekaligus orang yang aktif mengawasi dunia dalam bayang-bayang, Anna sudah menyimpan daftar merah para bangsawan. Mereka adalah orang-orang yang kemungkinan bermusuhan dengan keluarga Duke vi Alverio. Selama bekerja pada kediaman ini, ia mendapatkan banyak sekali informasi yang tersembunyi.


Raja mengirim delegasi yang dipimpin langsung oleh Putra Mahkota el Vierum untuk membantu pencarian. Pemuda itu terlihat dingin sama seperti Derrick. Dengan para kesatria yang menemaninya, ia menyusuri belantara hutan, sementara Anna dengan biro rahasia yang dipegangnya menyelidiki orang-orang atau organisasi yang diperkirakan terlibat dalam tragedi ini.


Pencarian berlangsung selama sebulan penuh. Hasilnya nihil. Para kesatria tak menemukan tanda-tanda keberadaan Putri Mahkota el Vierum di hutan. Mau sekeras apa pun mereka mencari, Alice tidak pernah bisa ditemukan di sana.


"Bagaimana pendapatmu terkait hasil yang kosong ini, Madam?" tanya Derrick kecewa. Ia sudah mengerahkan banyak usaha dan biaya selama sebulan ini. Namun, hasilnya sama sekali tidak ada. Mereka bahkan tidak menemukan jasad Alice sama sekali agar Derrick dapat memakamkannya dengan layak.


Sang Duke Muda vi Alverio menatap sebuah kotak  di meja kerjanya. Kotak cantik tersebut dilapisi beludru berwarna biru gelap khas Keluarga vi Alverio. Di dalam kotak beludru itu terdapat barang peninggalan terakhir adiknya tercinta, yaitu belati panjang yang berhiaskan ukiran mawar indah di bilahnya.


"Ada satu barang lagi yang kami temukan di hutan, Yang Mulia," kata Anna menjawab pertanyaan putus asa itu, "Kami sangat yakin bahwa benda ini berhubungan erat dengan tragedi hilangnya tuan putri."


"Apa itu?" tanya Derrick penasaran. Ia telah putus harapan dan mulai menerima kenyataan.


Sebulan sudah berlalu. Sangat kecil kemungkinan Alice dapat bertahan di Hutan Kaskas. Kalau dibilang kasus penculikan, anehnya tak ada satu pun pihak yang meminta tebusan. Para pedagang budak yang selama ini bersembunyi pun sudah digeledah, tapi Putri Mahkota el Vierum tidak ada di sana sama sekali.


Anna mengeluarkan sebuah peti kecil dari sakunya. Ketika dibuka, sebuah kain hitam berbau anyir mencuat dari sana. Derrick tak suka dengan kain itu. Namun, ada satu fakta yang membuatnya sangat tertarik.


"Bukankah ini jubah penyihir kerajaan? Ini bahkan jubah penyihir elit," tebak Derrick. Alisnya mengerut. Ia tidak bisa menemukan kaitan benda itu dengan kasus menghilangnya Alice vi Alverio.

__ADS_1


"Benar, Yang Mulia," jawab Anna dengan sebuah anggukan kecil. Wajahnya terlihat datar, tapi hatinya dipenuhi gejolak kemarahan.


"Lalu," kata Derrick dengan suara yang terdengar kesal. Ia tak ingin mendengar omong kosong. Duke Muda itu pun bertanya, “Apa hubungannya dengan kasus yang menimpa adikku?”


__ADS_2