Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Efek Sihir


__ADS_3

"Akhirnya selesai juga," Ratu Clara bernapas lega setelah menyelesaikan tugasnya hari ini, "Rasanya lelah sekali. Aku juga sering pusing akhir-akhir ini."


"Mungkin Anda terlalu banyak bekerja, Baginda Ratu," Henrietta menuangkan teh baru di gelas Ratu Clara. Dia bertugas sebagai asisten administrasi sekaligus dayang kepercayaan sang ratu. Nama lengkapnya adalah Henrietta de Ernest. Ia masuk ke keluarga bangsawan count itu setelah menikah dengan, Rwan de Ernest. Suaminya bekerja sebagai sebagai eksekutif di Balai Pengawas Pusat.


"Yah, mungkin saja," Ratu Clara menaruh kepalanya di meja dengan lengan sebagai bantalan. Ia menatap tumpukan kertas putih yang tertata di mejanya. Beberapa bulan lalu, ia masih menggunakan perkamen dan kertas kuning yang kualitasnya lebih rendah. Dalam hati, ia berterima kasih pada Mainne yang mau mempelajari dan mengembangkan teknik pembuatan kertas dari negeri timur.


"Ini sudah akhir semester akademi, bukan?" Ratu Clara mengingat sesuatu. Ia pun menegakkan kepalanya lalu bangkit, "Apa acara yang akan dilakukan akademi di awal musim panas nanti?"


"Akademi akan mengadakan perburuan di luar ibu kota," jawab Henrietta.


"Pemburuan di luar ibu kota? Di mana?" Ratu Clara bergabung dengan Henrietta duduk di sofa.


"Akademi belum mempublikasikan tempatnya. Akan tetapi, harusnya mereka sudah mulai bersiap-siap sekarang," jelas Henrietta yang kemudian menoleh saat pintu kantor Ratu Clara diketuk.


Ratu Clara juga menoleh. Ia tahu siapa orang di balik pintu itu dari suara ketukannya. "Masuklah, pintunya tidak dikunci."


Saat pintu dibuka, terlihat seorang gadis kecil dari baliknya. Gadis itu langsung berhambur masuk dan memeluk Henrietta. Dengan suara nyaringnya, ia berseru, "Mama...!"


"Zuhaily, bagaiamana kabarmu?" tanya Ratu Clara lembut. Zuhaily yang masih nyaman dalam pelukan ibunya pun menoleh. Ia menatap Ratu Clara dan kemudian tersenyum sembari berseru ceria, "Aku baik, Bibi."


"Lily, bersikaplah sopan pada Baginda Ratu," Henrietta mengajarkan. Zuhaily selalu suka bermain ke istana saat dia bekerja. Untung Ratu Clara mengizinkannya. Ratu el Vierum itu bahkan suka mengundang putri pertamanya bersama Alice.


"Baginda?" Zuhaily menatap Ratu Clara dengan polosnya. Ratu Clara pun terkekeh lalu membelai rambut sepunggung Zuhaily yang berwarna keperakan khas Keluarga de Ernest. "Tidak apa-apa, Lily. Panggil aku bibi saja."


"Baginda, akan sulit menghilangkan kebiasaannya jika sudah besar nanti," protes Henrietta yang amat peduli dengan tata krama. Tidak seperti Ratu Clara yang luwes, ia lebih mirip dengan kakak iparnya, Leticia de Ernest.


"Tidak apa-apa, dia pasti mengerti kalau sudah besar nanti," balas Ratu Clara santai, "Lily, apa Kamu mau jadi seperti ibumu? Kamu akan sering bertemu Kak Alice nantinya."


"Aku mau! Kak Alice sangat baik," jawab Zuhaily senang.

__ADS_1


"Kamu harus banyak belajar kalau begitu," Ratu Clara sekali lagi mengelus rambut perak Zuhaily.


"Lily rajin belajar dan pintar," seru Zuhaily ria. Ia mengepalkan tangannya ke langit. Sosoknya penuh semangat seperti Aristia. Padahal ibunya kaku. Mungkin karena ia mewarisi tabiat ayahnya yang supel.


"Wah... Istana Mutiara akan ramai kalau Kamu di sana," sambut Ratu Clara. Henrietta hanya dapat menghela napas pasrah, tapi ia amat bersyukur karena putri pertamanya sudah mendapat dukungan dari sang ratu sejak dini. Masa depannya pasti akan cerah.


"Baginda, Putri Mahkota el Vierum mengirimkan surat kepada Anda," ucap seorang pelayan wanita setelah mengetuk pintu berapa kali. Ratu Clara pun menyuruh pelayan itu untuk masuk dan mengambil suratnya.


"Kamu boleh kembali sekarang," Ratu Clara tidak ingin membuat pelayan itu terlalu lama menunggu. Sebelum pelayan itu pergi, Ratu Clara kembali berkata, "Tunggu! Bawalah cemilan ini dan makan bersama teman-temanmu saat istirahat."


Pelayan itu terlihat ragu. Dia belum lama bekerja di istana. Jadi, ini pertama kalinya ia ditawari makanan oleh majikannya.


"Tidak perlu sungkan, ambillah!" ulang Ratu Clara.


Pelayan itu melirik Henrietta yang mengangguk padanya. Dengan terbata, ia pun berterima kasih dan menerima cemilan dari Ratu el Vierum itu. Di luar kantor, ia berseru riang dalam hati.


"Hm?" Zuhaily memiringkan kepalanya terlihat mencerna kata-kata sang ratu. Ia pun mengambil sepotong kue bolu dari meja, lalu memberikannya pada Henrietta, "Mama, aku berbagi."


"Bagus! Itu benar, Lily," puji Ratu Clara.


"Lily anak pintar, ya," tambah Henrietta sambil menyuguhkan senyuman manis. Anak-anak harus banyak diberi senyuman untuk membangun kepribadian mereka. Mereka akan merasakan kebahagiaan dengan itu.


"Lily anak pintar," Zuhaily mengulang kata-kata sambil bertepuk tangan. Ia amat senang menerima kebahagiaan dari orang-orang terdekatnya.


Di sisi lain istana, salah seorang dayang yang akan melayani Ratu Clara siang ini menoleh ke kanan dan kiri. Ia terlihat seperti tengah memperhatikan bunga-bunga. Mulutnya komat-kamit membaca sesuatu.


Ketika mulutnya berhenti, sebuah botol kaca yang amat kecil jatuh seolah muncul dari ruang hampa. Botol itu sebelumnya berbentuk bunga Lili berwarna putih. Setelah mantra dibacakan, sihir ilusi di sana pun menghilang.


...***...

__ADS_1


"Kamu akan segera lulus, kan?" tanya Antonio di sela istirahatnya, "Ke mana Kamu akan bermagang?"


"Entahlah, aku belum menentukannya," Solid membalas santai. Ia tampak tak peduli dengan masa depannya. Padahal ia calon kesatria terbaik yang diharapkan banyak skuad.


"Orang berbakat tidak banyak berpikir, ya?" sindir Antonio.


"Itu urusan mudah. Aku berencana untuk ikut perburuan tahun ini," jawab Solid masih terlihat tak peduli. Ia meraih pedangnya dan bangkit berdiri. Sesaat kemudian, ia menghunuskan pedang itu ke arah seorang pemuda yang baru datang.


"Apa maksudnya ini, Kepala Pedang?" ejek Charles dengan wajah kesal. Ia ingin menyampaikan pesan profesor, rivalnya itu malah mengajak ribut dengannya.


"Ck! Dasar Otak Buku tidak seru," Solid menurunkan pedangnya. Amarah Charles pun semakin berkobar. Ia sampai melupakan amanah profesor yang mengirimnya. "Siapa yang Kau panggil Otak Buku?"


"Bukannya sudah jelas? Siapa lagi kalau bukan dirimu?" cibir Solid. Antonio berdecak. Kedua seniornya mulai lagi. Mereka sudah saling menghunus pedang dan siap berduel.


"Sudahlah Kalian! Bisakah Kalian tenang? Aku ingin istirahat, " Antonio melerai keduanya sebelum mulai bertarung. Ia tidak ingin melihat duel tidak penting hari ini. Ada banyak pikiran yang menyibukkannya sekarang.


Solid dan Charles menoleh. Ini pertama kalinya Putra Mahkota el Vierum itu menengahi mereka. Charles pun baru teringat maksud kedatangannya.


"Pangeran, Profesor Alverous memanggilmu," kata Charles menyampaikan pesannya.


"Hm? Ada apa?" Antonio menatap malas.


"Entahlah, beliau ingin Anda segera ke kantornya," jawab Charles seadanya. Memang hanya itu yang dia tahu.


"Hah... oke," Antonio menghembuskan napasnya lalu bangkit. Ia pun segera pergi meninggalkan Solid dan Charles yang mungkin akan kembali berduel.


"Vool," gumam Antonio tanpa sadar. Selama perjalanan menuju kantor Profesor Alverous, ia banyak memikirkan Charlotte. Akhir-akhir ini, ia sering begitu. Padahal ia sudah mengindahkan peringatan ibunya untuk tidak berurusan lagi dengan gadis itu.


"De Vool," Antonio tidak bisa melupakan Charlotte berapa kali pun ia mencobanya. Senyuman di wajah gadis itu terus membekas di benaknya. Ia pun memijat keningnya berharap rasa pusing yang tiba-tiba datang segera menghilang.

__ADS_1


__ADS_2