Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Pesta Teh Kecil-Kecilan


__ADS_3

Sinar mentari hangat perlahan menggelitik pipi Charlotte yang tembam. Gadis itu pun mengedipkan matanya dan terbangun di sebuah tempat yang asing. Nyawanya silir-semilir terkumpul. Memori terakhirnya pelan-pelan terukir.


Charlotte seketika terperanjat saat mengingat obrolannya dengan semalam. Ia langsung mendorong selimut yang sejak semalam dipakainya. Wajahnya celingak-celinguk mengamati sekitar. Dilihatnya Aria yang tengah merapikan kain-kain di tendanya.


"Kamu sudah bangun. Bagaimana keadaanmu?" tanya Aria dengan nadanya yang lembut. Gadis berambut perak itu menatap Charlotte dengan tenang. Ia menghentikan sejenak aktivitasnya.


"A—aku sudah lebih baik," Charlotte masih sedikit gugup mengobrol dengan Aria. Tekanan yang ia rasakan semalam masih membekas di hatinya. Ia pun harus memberanikan diri untuk berbincang dengannya setelah ini. Karena ia sudah bertemu dengan salah seorang gadis cendekia, ada beberapa hal yang ingin ditanyakannya.


"Basuh dulu mukamu di luar, setelah itu baru kita berbincang," ucap Aria yang segera dibalas dengan anggukan oleh Charlotte. Gadis itu pun beranjak pergi dengan selembar kain yang sejak kemarin digunakannya sebagai jubah. Ia meninggalkan tempat tidurnya begitu saja.


Hari sudah cerah, tapi embun masih tebal di beberapa tempat. Kebanyakan orang di perkemahan juga masih merapatkan mantel saking dinginnya. Beberapa lagi sedang memasak dan menghangatkan tubuh. Atmosfernya jauh berbeda dengan suasana di dalam kota.


Charlotte membasuh muka di tempat yang ditunjukkan oleh seorang gadis yang jauh lebih tua darinya. Gadis itu tersenyum ramah padanya. Namun, Charlotte dapat merasakan kewaspadaan darinya.


"Terima kasih, Lady Florence," ucap Charlotte sesopan mungkin. Ia tak ingin dipandang buruk oleh orang lain. Jadi, ia akan berusaha untuk tidak menyinggung siapa saja.


"Kamu gadis yang baik. Sekali menjadi gadis yang baik, teruslah menjadi baik," pesan Florence sebelum Charlotte pergi.


"Saya mengerti," Charlotte membalas senyum ramah Florence lantas pamit, "Kalau begitu, saya pergi dulu, Lady Cantik."


"Oh, dia pandai membuat hati orang senang," gumam Florence ketika Charlotte sudah lumayan jauh, "Apakah itu salah satu cara atau syarat memanipulasi pikiran? Hah ... intinya aku tidak boleh lengah. Nona Aria, semoga ia ingat pesanku semalam."


Saat sampai di tenda Aria, Charlotte mendapat tempat itu sudah sangat rapi. Bahkan tempat tidurnya yang tadi ia tinggalkan berantakan begitu saja. Aria sungguh telaten menjaga kerapian wilayahnya. Namun, di mana gadis itu?

__ADS_1


"Hai, kamu pasti anak yang Aria ceritakan itu kan?" seorang gadis berambut pirang mengagetkan Charlotte di dalam. Gadis itu datang bersama seorang gadis yang berambut gelap kecokelatan. Keduanya membawa set untuk minum teh.


"Aristia, kamu membuatnya kaget," ucap gadis berambut gelap kecokelatan, "Namamu Charlotte kan? Perkenalkan, aku Mainne Hamra."


"Aku Aristia de Clarence," gadis berambut pirang keemasan mengenalkan diri, "Kamu bisa memanggilku Kak Tia."


"A—aku Charlotte de Vool," Charlotte ikut memperkenalkan diri. Ia pernah mendengar nama kedua gadis itu, tapi ini pertama kalinya ia bertemu langsung dengan mereka.


"Kalian masih belum siap?" Aria datang dengan membawa teko putih bergambar bunga. Sangat selaras dengan rambut peraknya yang dibiarkan tergerai lurus.


"Aku sudah menyiapkan tikarnya di luar, ayo kita ke sana," seru Aristia riang seperti biasa. Charlotte dan para gadis cendekia pun menuju ke tempat yang sudah Aristia siapkan. Aria mulai menuangkan teh untuk menjadi teman mengobrol.


"Di mana Kak Mary?" tanya Mainne saat melihat tak ada Rosemary di antara mereka.


"Ah—eh, apa?" Charlotte terkejut saat namanya disebut. Ia memperhatikan cara Aria menuangkan teh dengan anggun sejak tadi. Jadi, konsentrasinya pun seketika buyar.


"A—aku tidak tahu. Saat aku bangun, aku sudah ada di tenda itu," Charlotte menunjuk tenda medis yang ditempatinya seharian kemarin. Tenda itu ada di wilayah Akademi Kerajaan. Saat ini, di depan tenda itu sudah ramai oleh orang-orang yang berkumpul entah untuk apa.


"Charles memang pemuda yang bertanggung jawab, sayangnya dia selalu terkena cipratan ulah Senior Solid dan Senior Swan," komentar Aristia saat mengikuti arah jari Charlotte menunjuk. Ia pun kembali berpaling pada gadis berambut pirang platinum itu, "Dia akan menjemputmu pagi ini kan? Apa dia masih belum datang?"


"Entahlah, mungkin masih belum," Charlotte mengalihkan pandangan pada teh yang masih mengepul di depannya. Ia tidak ingin membayangkan wajahnya yang mungkin sedang merona sekarang. Melihat reaksi itu, Aristia tersenyum geli, "Oh-oh ... romantisnya ... Walaupun dia bukan pangeran, tapi dia kesatria sejati kan?"


Charlotte tergagap dan tak mampu menjawab. Padahal ia baru bertemu dengan pemuda itu kemarin, tapi mengapa ia jadi seperti ini sekarang. Apa yang menarik dari pemuda itu? Saat memikirkannya, gadis itu jadi teringat usapan Charles di kepalanya sebelum pergi kemarin. Mukanya semakin tertunduk dan merona merah.

__ADS_1


Mainne tertawa kecil melihat. Ia pun saling berbagi pandang dengan Aristia. Mereka berdua sama mengangguk, lalu Mainne bertanya, "Nona de Vool, kamu berteman dengan putra mahkota kan? Bagaimana pandanganmu tentangnya?"


Charlotte terguncang dalam hati ketika mendengar nama putra mahkota disebut, tapi ia tak menunjukkannya. Ia terdiam memikirkan cara yang tepat untuk menjawab. Putri dari Keluarga de Vool itu masih belum tahu motif sebenarnya para gadis cendekia mengundangnya.


"Aku—," ucapan lirih Charlotte terpotong sejenak guna memastikan kembali kalau kata-katanya tepat, "Tidak mau terlibat lagi dengannya."


"Hah? Benarkah?" selidik Aristia. Ia menatap Charlotte seakan dapat mendeteksi kejujurannya. Charlotte buru-buru membenarkannya. Lagian, ia memang tidak bohong. Ia hanya ingin berteman juga dengan Putri Mahkota el Vierum.


"Aku setuju denganmu. Lebih baik tidak terlibat lagi dengannya," balas Aristia kemudian. Ucapannya itu membuat Charlotte keheranan. Ia benar-benar tidak mengerti motif Aristia bertanya.


"Tidak perlu dipikirkan. Kami hanya ingin melihat sudut pandangmu mengenai gosip yang baru-baru ini beredar," Aria yang sejak tadi diam memperhatikan mulai unjuk bicara.


"Aku tidak suka itu. Aku benci gosip itu," gumam Charlotte, "Tapi, itu semakin membuatku sadar dengan tempatku sehingga aku tidak menjadi antagonis bagi tuan putri."


Obrolan mereka semakin hangat setelah Charlotte menunjukkan curahan hatinya pada para gadis cendekia. Mereka lanjut mengobrol sampai tanpa sadar mentari mulai memanjat setinggi penggalan kepala, waktu umum para penduduk mulai bekerja.


Aria pun menyinggung tentang sihir di akhir sesi pesta teh kecil-kecilan itu. Ia secara tersirat memberi arahan pada Charlotte untuk meninggalkannya. Namun, Charlotte merasa keberatan.


Jika ia meninggalkan dunia sihir, berarti ia akan berpisah dengan Balqis. Jika ia berpisah dengan Balqis, mungkin tak akan ada lagi orang yang memandangnya. Ia tidak ingin itu terjadi.


Ia tidak ingin mengulang masa lalunya yang sepi nan sunyi. Gadis itu haus akan perhatian dari orang lain. Karena itu, saat orang-orang memandangnya ada, ia pun merasa bahagia.


Charles datang tak lama kemudian. Ia tak datang sendiri, melainkan datang bersama Solid. Calon kesatria muda paling berbakat itu meminta maaf pada Charlotte dengan enggan. Para gadis cendekia pun yakin kalau pemuda itu terpaksa melakukannya di bawah tekanan Rosemary vi Cornelia.

__ADS_1


"Aku ingin melihat-lihat acara ini sebelum pulang. Apakah boleh?" pinta Charlotte. Lagaknya seperti seorang adik yang memohon pada kakaknya. Itu terlihat menggelikan bagi Aristia dan Mainne. Apalagi saat melihat respon di wajah Charles yang dingin. Ini adalah pemandangan langka yang mungkin hanya sekali seumur hidup.


__ADS_2