
Rombangan Alice sampai di sebuah desa pada hari keempat. Baron yang mengepalai desa itu menyambut mereka dengan penuh hormat. Mereka dijamu sebaik mungkin. Di desa itu, mereka hanya mampir sebentar untuk istirahat. Perjalanan akan dilanjutkan ketika matahari mulai condong ke ufuk barat.
"Apa yang Kalian lihat dari desa ini?" Florence mulai melakukan penilaian terhadap para muridnya.
"Damai dan tenang," jawab Akilla memperhatikan anak-anak yang berlarian dengan ceria. Mereka bersorak-sorai melihat para kesatria yang memasuki desa.
"Penduduknya bekerja sebagai petani," sambung Aristia. Ia lebih tertarik dengan pemandangan gandum yang mulai menguning. Angin berhembus kencang sehingga membuat lautan gandum itu bagai menari-nari.
"Kondisinya relatif aman," Rosemary mengamati perumahan yang tak dikelilingi benteng atau sejenisnya. Di sekitar desa ini hanya ada petak-petak perladangan gandum. Hutan yang ada di sekelilingnya berjarak cukup jauh.
"Mn... pendidikan di sini cenderung terbelakang," kritis Mainne dengan hati-hati. Ia berusaha mencari jawaban yang berbeda dari kawan-kawannya. Maka, ia mengambil dari sudut pandangnya yang kental akan buku dan pengetahuan. Rata-rata penduduk di desa ini buta huruf.
"Wah! Menarik," Florence mengangguk-angguk kecil sambil tersenyum. Ia pun menoleh ke Aria dan Alice yang belum menjawab, "Bagaimana dengan Kalian?"
"Sejuk," ucap Aria singkat. Ia menikmati angin yang berhembus membawa kenyamanan. Matanya juga melirik ke beberapa pohon rindang yang tertanam di sekitar rumah para penduduk.
"Orang di sini seperti tertekan dalam hierarki dan kasta," Alice berujar datar. Ia mengingat jelas bagaimana para penduduk menyambut mereka dengan berlutut ke tanah. Mereka bahkan tidak berdiri sampai Alice memerintahkan baron di desa ini untuk menyuruh penduduknya bangkit.
"Kalian memiliki pandangan-pandangan yang unik," Florence dengan ceria menepuk tangannya sekali dan melanjutkan diskusi, "Aku tertarik dengan pernyataan Tuan Putri dan Nona Mainne," ia mengenakan bahasa semiformal di luar ruangan, "Nona Mainne, Kamu sepertinya peduli dengan pendidikan di sini. Bagaimana Kamu akan mengembangkannya di masa depan? Tidak hanya di sini, tapi juga di seluruh penjuru kerajaan."
"Em...," Mainne berpikir sejenak baru kemudian menjawab, "Membangun sekolah rakyat."
__ADS_1
"Bagaimana Kamu akan membangunnya di seantero kerajaan yang luas ini?" Florence melanjutkan pertanyaannya. Para gadis cendekia lain menyimaknya dengan tenang. Mereka duduk di bawah sebuah pohon rindang dengan beralaskan tikar tipis yang disediakan seorang warga desa.
Alice membiarkan anak-anak yang tertarik dengan mereka untuk bergabung. Para kesatria awalnya ingin menghalangi anak-anak itu agar tidak menggangu. Akan tetapi, Anna menyampaikan pesan Alice agar para kesatria itu tenang saja.
"Pertama, harus ada pusat keilmuan yang memelopori pendidikan di kerajaan ini," Mainne mulai menerangkan argumennya. Ia tidak terlihat seperti gadis berusia 13 tahun saat melakukan itu. "Dalam hal ini, Akademi Kerajaan dan Akademi Alverio sudah memenuhinya."
"Untuk melebarkan jangkauan pendidikannya," lanjut Mainne setelah terdiam sejenak, "kedua akademi ini dapat manfaatkan para muridnya untuk mengabdi dalam kurung waktu tertentu. Dengan banyaknya murid di akademi saat ini, setahun pun sudah cukup."
"Akademi Alverio yang dibangun mendiang Duchess vi Alverio memang mungkin melakukan hal itu," Florence mempertimbangkan beberapa hal, "Tapi, Akademi Kerajaan yang didominasi bangsawan tidak akan mau dengan mudah melakukan hal itu."
"Dapat mengabdi pada kerajaan adalah suatu kebanggaan dan kehormatan bagi para bangsawan," Mainne menjawab pertimbangan gurunya, "Suatu negara yang kuat membutuhkan para akademisi yang hebat untuk mempertahankan eksistensinya. Para bangsawan pasti bisa memahaminya. Tidak perlu ada kasta dalam pendidikan karena itu adalah hak semua orang."
"Aku mengerti maksudmu, tapi menjalankannya tak semudah mengatakannya dalam forum seperti ini," ujar Florence mengingatkan, "Kamu harus bekerja keras di masa depan."
"Untuk Tuan Putri, sepertinya Anda memiliki pemikiran yang sejalan dengan Nona Mainne," Florence melanjutkan diskusinya dengan Alice, "Anda terlihat tidak begitu menyukai sistem kasta dalam kerajaan ini. Bagaimana Anda akan menyikapinya sebagai calon ratu masa depan."
"Esensi sejati bangsawan adalah pengayoman," Alice menuturkan ilmu yang sudah dipahaminya dengan buku, "Mereka adalah perisai yang melindungi rakyatnya. Mereka yang paling bertanggung jawab atas urusan bangsa. Menjadi bangsawan bukan soal kebanggaan dan kehormatan. Bukan pula kekuasaan dan pengaruh. Akan tetapi, ini adalah soal amanah dan tanggung jawab."
Semua orang terdiam. Itu bukan seperti perkataan yang diucapkan seorang gadis berusia 10 tahun, tapi pakar kebangsaan yang sudah bertahun-tahun belajar.
"Ibunda juga sering mengajarkan hal itu," lanjut Alice kali ini dengan suara yang lebih lirih. Senyuman ibunda tiap mengajarkan hikmah-hikmah terbayang di benaknya. Ya, begitulah salah satu cara mendiang Duchess Evianna vi Alverio dalam mengajarkan anak, yaitu dengan tersenyum. Anak kecil harus sering diberi senyuman agar mereka merasa nyaman dan bahagia.
__ADS_1
"Itu jawaban yang bagus," Florence memecahkan keheningan. Waktu istirahat sudah habis. Saatnya mereka melanjutkan perjalanan. "Ayo kita kembali ke kereta kuda."
Perjalanan berlanjut. Rombongan Alice melewati sebuah padang luas yang pernah mengisi buku-buku sejarah. Para gadis cendekia dengan antusias mengamati Padang itu. Rerumputan hijau tumbuh di sana.
"Seorang kaisar tiran pernah dikalahkan di sini," Rosemary memulai diskusi mengenai Padang luas itu, "Itu adalah tahun tanpa musim panas. Hujan mengguyur sepanjang tahun. Tidak ada rerumputan hijau di sini. Hanya ada lumpur becek yang menghalangi laju kuda dan para kesatria."
"Benar, kaisar itu menunda pertempuran sampai siang hari karena tanah yang becek," Akilla menyambung cerita Rosemary, "Ia berharap tanah akan menjadi kering di siang hari. Nahas, penundaan itu malah membuat sang kaisar gagal. Pasukannya tak dapat menghancurkan musuh sampai sore tiba. Sore itu, bantuan musuh datang dan membalikkan keadaan."
"Ada sebab tidak terduga dari kegagalan kaisar itu," Anna bergabung dalam diskusi. Para gadis cendekia menoleh. Florence juga tertarik mendengarnya. "Seperti yang sudah Nona Mary dan Nona Akilla jelaskan, cuaca yang tidak mendukung turut berkontribusi dalam kekalahan kaisar tiran itu. Tahun tanpa musim panas telah membawa kerugian padanya. Apa kalian tahu? Mengapa tahun itu tidak ada musim panas?"
"Tidak ada dokumen tersisa mengenai hal itu," Florence mencoba mengingat buku-buku yang sudah dibacanya, "Hanya tersisa catatan bahwa awan sangat aneh pada tahun itu."
"Benar, awan aneh itu turut mempengaruhi cuaca. Di beberapa bagian dunia bahkan terjadi musim dingin yang panjang," Anna melanjutkan penjelasannya. Seandainya ia diizinkan untuk menggunakan gawainya, tentu penjelasan itu akan lebih mudah dimengerti. "Awan aneh itu disebabkan oleh ledakan gunung yang amat dahsyat. Jaraknya ribuan kilometer dari sini. Gunung itu terletak di daerah yang disebut sebagai cincin api,"
"Bagaimana letusan gunung yang berjarak ribuan kilometer itu dapat berdampak sampai daerah ini?" Aristia tidak mengerti.
"Abu vulkanik yang berasal dari letusan gunung itu mengandung tegangan listrik. Tegangan listrik itu mempengaruhi kondisi atmosfer tempat terbentuknya awan sehingga meningkatkan curah hujan," jelas Anna panjang lebar. Para gadis cendekia semakin tidak mengerti. Anna tersenyum maklum melihatnya.
"Abu vulkanik itu adalah debu-debu yang amat kecil," Rosemary menjelaskan saat Aristia bertanya padanya, "Ada partikel-partikel kecil di dalamnya."
"Kaisar tiran yang mendominasi benua itu dikalahkan oleh debu-debu yang terangkat ke angkasa," kesimpulan Alice mengembalikan diskusi ke topik utama, "Sekuat apa pun tentaranya, ia tak akan mampu melawan ketentuan Tuhan."
__ADS_1
"Badai batu yang amat kecil itu adalah peringatan untuk kita sekaligus menunjukkan bahwa Tuhan dapat memberikan kerajaan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya juga dapat mencabut kerajaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya."
Perkataan Alice mengakhiri diskusi mengenai sejarah padang yang luas itu. Topik pun beralih ke pembahasan yang lain. Begitulah para gadis cendekia menghabiskan waktunya selama perjalanan.