
Alice mengirim laporan singkat kepada Raja Claudius el Vierum II terkait kondisi kota yang ia singgahi. Kurir yang dikirimnya sampai di ibu kota pada siang hari setelah seharian memacu kuda. Begitu menerima suratnya, Raja Claudius pun terkekeh dibuatnya.
"Duke vi Alverio, anak gadismu sangat peka dan aktif," Raja Claudius meletakkan surat itu dan mengambil kesempatan untuk beristirahat. Setumpuk pekerjaan masih menantinya, tapi punggungnya sudah terasa pegal karena terlalu banyak duduk di meja kerja. Ia pun bangkit dan mengajak iparnya untuk jalan-jalan keluar.
"Kekuasaan Istana Mutiara kosong selama tiga tahun sejak adikku meninggal. Dua tahun terakhir, ia baru bisa kembali membangun kekuatan di bawah pengawasan putrimu," ucap Raja Claudius dengan wajah yang ceria. Sebenarnya, ada noda lelah di air mukanya, tapi semburat lelah itu tertutup oleh senyum senangnya, "Ini baru tiga bulan sejak ia menjadi putri mahkota, tapi ia sudah sangat tangkas memotong semua akar penyakit di kerajaan ini. Aku sangat terbantu olehnya."
"Para amtenar di Balai Pengawas sudah terlalu lancang selama ini," kata Duke vi Alverio sambil membaca surat dari putrinya, "Apalagi para akuntan publik yang berani berkolusi dengan oknum-oknum tak bertanggung jawab guna kepentingannya sendiri."
"Oh, orang itu sudah datang," Raja Claudius menatap seorang pria berkumis yang datang dengan dikawal dua kesatria. Ah, tidak. Lebih tepatnya seperti diarak dengan sedikit paksaan.
Pria itu memberi salam pada Raja el Vierum dan Duke vi Alverio sambil berlutut. Ia tertunduk tak berani saling bertatapan muka dengan kedua orang mulia di Kerajaan el Vierum. Peluh keringat dingin membasahi wajahnya. Ia merasa ada masalah serius yang tak diketahuinya.
"Count de Bourne, apa Kamu menemukan masalah di beberapa kota akhir-akhir ini?" tanya Raja Claudius dengan tampangnya yang berwibawa. Duke vi Alverio hanya terdiam dengan dingin. Count de Bourne pun baru menjawab setelah menelan ludah, "Saya menemukan beberapa masalah, Baginda. Semua sudah dilaporkan tanpa terkecuali."
"Hm, benarkah? Apa Kamu juga melaporkan kejanggalan di Kota Aurelis?" Raja Claudius menunggu jawaban. Kota yang ia sebutkan merujuk pada kota yang disinggahi oleh Alice.
"Ti ... tidak, Baginda. Kota Aurelis selalu dalam kondisi yang baik," Count de Bourne tersentak dalam hati. Jantungnya berdetak kencang. Ia mengingat-ingat bagian yang mungkin luput dari laporannya. "Laporan mengenai kota tersebut tidak menunjukkan kejanggalan."
__ADS_1
"Apa Kamu memeriksa sendiri laporan itu?" Raja Claudius memicingkan mata. Tidak mungkin laporan pengawasan setiap wilayah diperiksa oleh satu orang. Jadi, direktur Balai Pengawas Pusat itu tidak dapat serta-merta disalahkan.
"Tidak, Baginda. Saya hanya mendengar singkat-singkatnya saja karena pekerjaan saya terfokus pada pengawasan ibu kota," kali ini, Count de Bourne mengingat-ingat staf Balai Pengawas yang bertanggung jawab atas Kota Aurelis. Pikirannya buram. Ia tak bisa mengingat dengan jelas pada kondisi yang tegang ini.
"Count de Bourne, Kamu adalah amtenar kepercayaan Duchess Evianna. Apa kinerjamu menurun seiring bertambahnya usia?" Raja Claudius mempertanyakan kredibilitas orang berkumis tebal itu. Semburat-semburat keriput sudah terlihat banyak di wajahnya.
"Saya mohon maaf, Baginda. Perombakan terakhir kali telah membuat banyak tenaga ahli kami berkurang," Count de Bourne mengatakan yang sejujurnya. Kursi di Balai Pengawas Pusat banyak yang kosong sejak kasus Kota Marianna. Jika kasus Kota Aurelis juga menyebabkan hal yang sama, Balai Pengawas Pusat akan amat kewalahan.
"Banyak orang tua mendekam di penjara sekarang. Tinggal menunggu waktu sampai keputusan terhadap mereka ditetapkan," kata Raja Claudius sambil menepuk pundak Count de Bourne. Ancaman tersirat jelas dari kata-katanya. "Anak-anak muda pun menggantikan mereka. Apakah pengalaman mereka yang minim bisa menjadi dalih?"
Count de Bourne terdiam. Tak ada yang dapat ia katakan. Tubuhnya masih berlutut sejak tadi. Ia pun memutuskan untuk segera menyelesaikan masalah ini dan pensiun kemudian.
"Pergilah ke Kota Aurelis dan tinjau kondisinya secara langsung!" Raja Claudius pun bertitah. Count de Bourne menjawabnya dengan tegas. Mungkin karena ia sangat dah bertekad untuk segera pensiun.
"Apa lagi itu?" tanya Raja Claudius begitu melihat ajudannya membawa seberkas dokumen saat ia sampai di kantor. Ia pun melirik ke dalam di mana meja kerjanya menunggu. Setumpuk dokumen itu masih di sana tanpa berkurang sedikit pun.
"Ini keluhan warga Kota Aurelis yang dikirimkan oleh Putri Mahkota el Vierum," jawab ajudan itu. Raja Claudius hanya dapat tersenyum sambil menghela napas dalam hati. Sejak menjadi raja, harinya selalu dipenuhi dengan hal-hal yang berat. Ia pun melirik Duke vi Alverio, tapi kebetulan putranya datang untuk memberi salam sehingga ia mendapat ide.
__ADS_1
"Keselamatan atas Baginda Raja el Vierum dan Duke vi Alverio," sapa Antonio dengan sopan. Dulu ia paling benci dengan formalitas semacam itu. Akan tetapi, sejak bertunangan dengan Alice, ia sudah mengulang ujian etika beberapa kali. Jadi, ia sudah semakin terbiasa sekarang.
"Ya ampun, aku sampai lupa kalau putraku sudah menjadi pewaris takhta," ucap Raja Claudius yang ditangkap sebagai alamat buruk bagi Antonio, "Ada kasus yang sedang diurus oleh Putri Mahkota el Vierum sekarang. Sebagai tunangannya, Kamu harus membantu. Duke vi Alverio akan membimbingmu."
Duke vi Alverio dan ajudan raja mengangguk siap. Berkas dokumen yang baru pun diserahkan kepada Antonio. Benak pangeran muda itu segera dihantui berbagai pertanyaan.
"Mari, Yang Mulia," ajak Duke vi Alverio.
"Apa yang dilakukan Al ..., maksudku putri mahkota?" Antonio memperbaiki kata-kata saat dipandang Duke vi Alverio. Sebenarnya itu tatapan yang biasa saja, terkesan ramah malah. Hanya saja, Antonio terlalu banyak pikiran. Ia sedikit canggung berhadapan dengan ayah dari tunangannya.
"Ada kejanggalan dalam pemerintahan di Kota Aurelis," jelas Duke vi Alverio dengan ketenangannya, "Keamanan, masalah rasial, dan ketimpangan hukum. Itu adalah masalah yang serius di sana."
Antonio malah teringat dengan Derrick yang jelas-jelas menunjukkan sindiran dan kekuasaannya. Juga Alice yang pernah memarahi kelancangannya. Ia jadi merinding dengan orang-orang dari Keluarga vi Alverio. Ibunya tidak salah saat mengatakan kekuatan Keluarga vi Alverio lebih hebat dari kekuatan Keluarga el Vierum sekarang.
"Bagaimana putri mahkota akan mengatasinya?" tanya Antonio sambil memeriksa berkas yang ada di tangannya.
"Dia memiliki dua sarjana dan para gadis cendekia di sisinya sekarang. Istana Mutiara pun berada di genggamannya. Ia akan mengatasinya dengan caranya sendiri," ucapan Duke vi Alverio tidak menjawab pertanyaan Antonio, tapi lebih terdengar sebagai peringatan baginya.
__ADS_1
Pemimpin Keluarga vi Alverio itu seakan menunjukkan tingginya posisi Putri Mahkota el Vierum dibanding dengan Antonio yang sampai sekarang masih fokus belajar di kelas. Sama seperti Derrick vi Alverio yang terang-terangan menunjukkan dukungan penuh pada adiknya apa pun yang terjadi. mereka secara tersirat menuntut kepantasan Antonio sebagai tunangan putri keluarganya.