Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Vi Alverio


__ADS_3

"Paman pergilah sekarang!" seru Alice mengusir, "Kerjakan tugas Anda sebagai raja dengan baik dan benar!"


Raja Claudius pun hanya dapat mengangguk. Siapa sangka omelan Alice akan lebih lama dari yang diduga? Hampir setengah hari sang raja tertahan di Kediaman vi Alverio. Ia sampai pegal karena terus duduk sepanjang hari.


"Bibi juga pulang dulu saja," pinta Alice dengan lebih lembut, "Aku bersama Akilla di sini. Jadi, semua akan baik-baik saja. Dokter kerajaan juga akan menetap."


"Eh? Kamu mengusirku Alice?" Ratu Clara berpura-pura sedih dengan wajah memelas. Ia masih ingin bersama Alice sedikit lebih lama. Namun, Alice malah tersenyum dan dengan lugas membenarkannya, "Ya, Bibi sungguh sangat peka."


"Tidak bisakah aku menetap sedikit lebih lama di sini?" Ratu Clara menawar. Topeng melasnya sudah tersingkap. Ia tidak dapat menyembunyikan maksud aslinya dari Alice.


"Saya takut tidak bisa menemani Anda, Baginda," Alice mengubah gaya bahasanya menjadi lebih formal. Ia menunjukkan keseriusan ucapannya dengan itu. Sesuai tata krama yang berlaku, Alice menuntun sendiri bibinya keluar, "Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak ingin merepotkan Anda lebih dari ini."


"Kamu sungguh anak yang berbakti," Ratu Clara mengelus rambut gelap Alice. Matanya menatap dalam diselubungi kerinduan. Harusnya, ia juga memiliki seorang putri seusia gadis itu. Namun, ketentuan telah berlaku padanya. Maka, segala yang lalu, biarlah berlalu.


"Duchess Evianna telah sukses mendidikmu," Ratu Clara melihat bayangan Sang Putri Sarjana Kebijaksanaan di balik pewaris tunggal Istana Mutiara itu, "Maka, kamu juga harus sukses mendidik anak-anakmu nanti. Jangan jadi seperti diriku yang terlalu lalai dan abai ini."


"Tidak, Bibi," Alice meraih tangan Ratu Clara yang halus, "Bibi juga sudah melakukannya dengan baik. Aku sayang Bibi seperti sayangku pada ibunda."


Ratu Clara tersenyum menahan haru. Kerinduannya pupus oleh kata-kata tulus yang Alice ucapkan. Dipeluknya sang putri dengan penuh kasih sayang. Sebelum beranjak pergi, ia pun berterima kasih dan mengucapkan salam kepada pewaris posisi ratunya itu.


"Jagalah dirimu baik-baik, Alice. Kamu adalah kebanggaan kami semua," bisik Ratu Clara. Wanita pun itu beranjak menyusul suaminya yang telah menunggu di kereta kencana. Mereka segera kembali ke Istana Ruby untuk mengurus urusan negara.

__ADS_1


"Alice, tuan duke memanggilmu," ucap Akilla ketika Keluarga Kerajaan meninggalkan Kediaman vi Alverio. Alice pun membalik badan. Ia mengangguk kecil dan berterima kasih kepada sepupunya itu.


"Ayah, bagaimana kondisi Anda?" tanya Alice begitu sampai di kamar Duke vi Alverio.


Pria paruh baya itu terbaring lemas di kasur. Ia memang terlalu banyak bekerja sampai tidak memperhatikan kondisi kesehatannya. Sejak Duchess vi Alverio meninggal, ia selalu berusaha menyibukkan dirinya dengan bekerja keras seperti itu. Putra dan putri semata wayangnya pun juga sampai mengikuti gen workaholicnya. Ia sangat khawatir saat Alice tumbang kelelahan dulu.


"Selama kamu di sini, ayah baik-baik saja," Duke vi Alverio berusaha mengulas senyum terbaiknya. Lebih baik tidak membiarkan Alice mengikuti kebiasaannya yang berlebihan. Ia ingin putrinya itu juga beristirahat sejenak.


"Aku akan di sini," ucap Alice di samping ranjang ayahnya, "Katakan saja jika ayah butuh sesuatu."


"Yah, teruslah di sini," Duke vi Alverio membelai kepala putrinya penuh kasih sayang. Melihat anak gadisnya yang sangat perhatian itu, ia jadi merasa bersalah. Selama ini, ia tidak bisa menunjukkan banyak kasih sayang kepada kedua anaknya. Apalagi sejak ibu keduanya meninggal. Ia sungguh sangat menyesal.


Tak lama kemudian, mata Duke vi Alverio terpejam. Melihatnya, Alice meminta Akilla yang ikut menunggu untuk mengambil buku-buku di perpustakaan. Ia tidak ingin waktunya terbuang begitu saja.


"Terima kasih, kalian boleh pergi sekarang," ucap Alice lirih sambil menaruh telunjuknya di bibir. Para pelayan pun memberi salam hormat dan segera keluar.


"Akilla, apa surat untuk kakakku sudah dikirim?" tanya Alice begitu teringat hal itu.


"Sudah, surat itu akan diantar secepat ke March van Ryvat oleh Saville," jawab Akilla. Ia menatap Alice yang tampak menyembunyikan kesedihannya. Tuan putri itu telah kehilangan ibunya di usia yang sangat belia, semoga ia tidak ditinggalkan lagi oleh orang tuanya yang tersisa.


Suasana pun menjadi hening. Akilla memilih sibuk dengan buku yang diambilnya setelah melihat Alice tak berniat untuk bertanya lagi.

__ADS_1


Alice pun juga begitu. Ia mungkin terlihat sedang membaca, tapi sebenarnya hatinya sedang berusaha menahan bala. Ia amat sedih setiap menatap wajahnya ayahnya. Ia tahun lalu, ia juga melakukan hal yang sama saat ibunya mulai terbaring sakit.


Ia menunggui Duchess vi Alverio seharian saat itu. Dari hari ke hari, hatinya semakin cemas karena sang ibu tak kunjung sembuh dan malah memburuk. Saat muncul secercah harapan, justru harapan itulah yang mempercepat kepergian Duchess Evianna.


Sebuah omong kosong di mana seorang penyihir datang dan menjanjikan kesembuhan pada Duchess Evianna asal Duke vi Alverio dapat membawakan hati dari Penguasa Hutan Kaskas, hewan buas yang duduk di puncak rantai makanan di hutan itu. Ia hewan berkuku dan taring tajam. Tubuhnya sebesar beruang dengan kulit yang dilapisi duri-duri selancip jarum.


Karena terbutakan oleh cinta dan keputusasaan, Duke vi Alverio dengan rela memburu hewan itu. Padahal Duchess Evianna dengan keras menolaknya. Sang Putri Sarjana Kebijaksanaan bahkan sampai mengutus Alice untuk menahannya pergi.


Namun, Alice gagal. Ia menangis tersedu-sedu di kamar ibundanya saat itu. Ia mengadukan betapa bebalnya sang ayah yang keras kepala.


Pada akhirnya, Duke vi Alverio berhasil membunuh hewan paling buas itu dan mengambil hatinya. Ia pulang dengan penuh harapan. Akan tetapi, ia sampai di rumah dengan berlinang kekecewaan.


Istrinya telah wafat di samping sang putri yang pingsan tak bertenaga. Senyum indah terlukis di wajah wanita yang telah membeku itu, tetapi kesedihan amat membekas di mata anak gadisnya. Bahkan gadis itu tak sadarkan diri selama beberapa hari. Saat terbangun, ia tak dapat lagi menumpahkan air mata saking sedihnya.


Duke vi Alverio sangat putus asa. Hati Penguasa Hutan Kaskas yang dengan susah payah diburunya menjadi tak terpakai. Tidak! Sejak awal, hati hewan buas itu memang tidak berguna. Para ilmuwan dari Akademi vi Alverio telah mengonfirmasinya. Bahan obat rekomendasi penyihir itu ternyata malah beracun.


Hubungan antara Alice dan Duke vi Alverio sempat merenggang kala itu. Apalagi saat sang duke mulai lebih memusatkan pikirannya pada pekerjaan. Seandainya Anna Saville tidak membimbing Alice untuk menjalankan wasiat ibunya, pasti hubungan ayah-anak dari Keluarga vi Alverio itu tak akan seerat ini.


...***...


"Ayah sakit, ya?" Derrick menerima kabar tentang ayahnya jauh sebelum surat dari Alice sampai. Ia menghela napas dan hanya mendoakan sang ayah agar cepat sembuh. Masih banyak yang harus dilaksanakannya. Ia tidak bisa membuang waktu demi perasaan. Lagi pula, hubungannya dengan Duke vi Alverio tidak sedekat itu.

__ADS_1


Saat surat Alice sampai, Derrick tak banyak bereaksi. Ia sudah tahu mengenai penyakit ayahnya. Ia juga sering mengirim surat kepada orang tua itu agar banyak beristirahat.


"Itu memang ayah. Kalau tidak bekerja, sakitnya malah semakin parah," gumam Derrick. Wajahnya yang dingin mengkerut saat membaca tulisan Alice yang menyuruhnya untuk segera ke ibu kota. Untung saja urusannya tinggal sedikit lagi. Karena adik kecilnya yang meminta, maka ia pun tak keberatan untuk datang.


__ADS_2