
Kediaman Duke vi Alverio di Ibu Kota
"Ayah, jaga kesehatanmu. Jangan terlalu berlebihan bekerja," kata Alice memperingatkan Duke vi Alverio setelah selesai sarapan bersama. Ia sudah berpamitan dengan teman-temannya di istana semalam. Jadi sejak pagi buta tadi, ia berangkat dari Istana Mutiara ke Kediaman Duke vi Alverio di ibu kota.
"Tentu saja, Putriku," kata Duke vi Alverio tersenyum menghibur. Setiap hari, segunung pekerjaan telah menumpuk di kantornya. Jadi, ia terpaksa tidak bisa mengindahkan peringatan putrinya itu.
"Ayah tidak boleh bohong!" desak Alice tidak percaya, "Aku akan memarahi Baginda raja kalau beliau tidak mengizinkan ayah beristirahat."
"Ha ha... Tenang saja, Putri Mahkota," kata Duke vi Alverio sengaja memanggil putrinya dengan panggilan kehormatan karena ia sudah menyebut Raja el Vierum. Ia merasakan sensasi nostalgia di hatinya.
Beberapa tahun lalu, saat Alice dan Derrick masih kecil, peringatan itu selalu didengungkan oleh istrinya tercinta. Sekarang, putri semata wayangnya yang mengatakan hal itu. Benar-benar kalimat yang persis. Duchess vi Alverio bahkan juga pernah ingin memarahi kakaknya, Raja el Vierum jika terlalu berlebihan bekerja.
"Ayah sungguh beruntung memiliki putra-putri yang cerdas seperti Kalian," kata Duke vi Alverio bangga.
"Kalau Ayah benar merasa beruntung, Ayah harus bersyukur pada Tuhan," sahut Alice mengingatkan.
"Puji teruntuk Tuhan," balas Duke vi Alverio menurut. Lagi-lagi, sensasi nostalgia itu menyeruak di dadanya. Sosok istrinya, Tuan Putri el Vierum terakhir di generasi yang lalu, Evianna vi Alverio Vierum kembali membayang-bayangi hatinya. Ia sangat menyesal akan kesalahannya di hari itu. Saat ia tak dapat menemani hari terakhir istrinya karena percaya pada perkataan penyihir dari menara.
"Kamu yakin ingin ikut ayah ke istana?" tanya Duke vi Alverio sebelum berangkat. Ia menggandeng tangan Alice menuju kereta kuda yang telah siap di depan pintu mansionnya.
"Ya, lagi pula aku harus berpamitan dengan baginda raja dan putra mahkota," jawab Alice. Ia masuk terlebih dahulu ke dalam kereta kuda. Baru kemudian diikuti Duke vi Alverio yang duduk di hadapannya.
"Alice, Kamu tidak perlu memaksakan diri," ujar Duke vi Alverio mengingat cara putrinya memandang putra mahkota. Ia tahu jelas putrinya itu tak tertarik pada posisinya selain karena kewajiban seorang putri satu-satunya dari keluarga kerajaan yang tersisa.
"Apa maksud Ayah?" Alice tidak menangkap maksudnya. Ia melihat-lihat pemandangan kota yang mulai hidup. Kawasan elite para bangsawan ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang.
__ADS_1
Kereta-kereta kuda yang cantik berukir indah sesekali terlihat menunjukkan status pemiliknya. Emblem-emblem keluarga mereka dipasang besar-besar pada daun-daun pintunya. Sekali melihat emblem itu, orang-orang akan tahu siapa yang ada di dalamnya.
"Bagaimana putra mahkota menurutmu?" jawab Duke vi Alverio dengan pertanyaan. Ia tidak bisa menutup mata terhadap ketidaksukaan putri tercintanya itu pada Antonio. Ia ingin putrinya itu memilih sendiri jalan hidupnya. Tentu ia juga akan memberi pengarahan agar Alice tidak salah memilih.
"Putra mahkota?" tanya Alice memastikan.
"Ya," angguk Duke vi Alverio.
"Entahlah," jawab Alice kemudian. Ia mencoba mengingat-ingat momen kebersamaannya dengan putra mahkota selama ini. Sedikit sekali. Mereka jarang sekali bertemu sebelum maupun sesudah pertunangan mereka.
"Rasanya biasa saja. Ia hanya kadang membuatku jengkel," jelas Alice, "Tapi aku tidak membencinya. Aku harap kami dapat bersama mengayomi kerajaan ini dengan baik seperti harapan semua orang."
"Begitu, ya," lega Duke vi Alverio, "Kamu sangat mirip dengan ibumu."
"Ya, ibumu sangat pengertian dan baik hati," jelas Duke vi Alverio. Ia mencurahkan isi hatinya guna mengurangi kerinduan dalam hatinya itu. Jika bercerita dengan Alice, ia akan merasa lebih baik. "Jika saudarinya adalah srikandi kerajaan, ia adalah sarjana kebijaksanaan. Pandangannya sangat tajam sampai-sampai Menara Penyihir pun harus berhati-hati dengannya."
Mendengar nama yang sangat dibencinya itu, Alice mengepalkan tangan erat menekan kemarahannya. Akan tetapi, ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali. Datar dan dingin seperti padang salju.
Alice tak akan melupakan hari datangnya penipu dari menara itu. Setiap mengingatnya, kekecewaannya terhadap Duke vi Alverio mencuat kembali. Akan tetapi, wasiat ibundanya lebih kuat dari perasaan itu. Ia pun dengan rela mengesampingkan perasaan kecewa tak berguna itu dan merawat ayahnya yang semakin terpuruk.
...***...
"Keselamatan atas Baginda Raja Claudius el Vierum II," sapa Duke vi Alverio dan Alice di ruang takhta. Raja Claudius pun menjawab sesuai krama. Alice lalu memandang Antonio yang berdiri di samping ayahnya. Wajahnya itu seakan berkata, "Lihatlah! Begitu cara menjawab salam yang benar."
Walau tidak mengerti maksud pandangan Alice, entah mengapa Antonio mengingat tegurannya kemarin. Ia benar-benar dilempar kembali ke kelas etiket oleh Ratu Clara setelah itu. Lagi-lagi Alice melaporkannya tanpa ampun.
__ADS_1
"Kudengar Putri Mahkota akan kembali ke Duchy vi Alverio sementara," Raja Claudius memulai percakapan, "Ada apa? Apakah ada yang kurang di ibu kota, Putri Mahkota?"
"Ibu kota sangatlah makmur, Baginda," kata Alice merujuk ke kawasan elite para bangsawan lalu menyinggung daerah kumuh di pinggiran ibu kota, "Seharusnya, seluruh kerajaan pun merasakan kemakmurannya."
"Benar sekali," kata Raja Claudius menangkap maksud Alice. Hatinya tertawa geli mendengar sindiran halus itu dari keponakannya yang masih berusia sepuluh tahun, "Lalu, langkah apa yang harus kita ambil untuk mewujudkannya menurut Putri Mahkota?"
"Kuil sangat kenyang dan rendah hati," kata Alice melirik dingin seorang uskup kuil yang mendampingi studi teologi Antonio, "Mereka dengan senang hati menjual kebutuhan berharga rendah pada rakyat. Sangat berani sekali menanggung rugi jika dilihat dengan sudut pandang pedagang."
"Putri Mahkota sangat bijaksana dan murah hati," Uskup Paleologos itu tak berhasil menyaring sindiran Alice. Otak penjilatnya dengan lancar menyusun berbagai rangkai pujian guna menyenangkan lawan bicaranya, "Kebijaksanaan yang akan menyinari Kerajaan el Vierum selamanya. Rakyat pasti bahagia dengan kemarahan hati Putri Mahkota."
"Kuil Suci pun pasti bahagia," sindir Alice tajam. Dalam akad sumbangan para bangsawan ke Kuil Suci, tercatat bahwa Kuil Suci akan membagikan sumbangan itu secara gratis kepada rakyat sehingga setiap orang dapat menerimanya. Akan tetapi, Kuil Suci dengan berani menjualnya walau dengan harga miring demi menghilangkan kecurigaan.
Sebagai hasilnya, rakyat miskin jadi harus membeli hak mereka yang seharusnya mereka dapat secara gratis. Sedangkan rakyat fakir dan anak yatim tak dapat mengambil sumbangan itu sedikit pun.
"Istana Mutiara telah menganggarkan dana pendidikan untuk beberapa panti asuhan di daerah pinggir," kata Alice baru menjawab pertanyaan Raja Claudius tadi, "Setiap panti asuhan itu akan berada di bawah pengawasan kami secara langsung. Kami harap dapat mengasah kemampuan anak-anak itu sehingga kelak mereka dapat menghidupi diri mereka sendiri dan turut serta memutar perekonomian di kerajaan."
"Memberi pendidikan kepada rakyat jelata?" Raja Claudius tengah berpikir, "Itu sangat menarik untuk keuntungan jangka panjang," katanya setelah mempertimbangkan. Akan tetapi, masih ada yang mengganjal di hatinya. "Apa saja yang akan Kamu ajarkan pada mereka?"
"Di samping mengasah kemampuan mereka, kami mewajibkan pelajaran Kewarganegaraan dan eksakta kepada mereka. Pemahaman dan kebanggaan mereka sebagai rakyat kerajaan akan memperkokoh kesetiaan mereka," jawab Alice sudah mempertimbangkan kegelisahan Raja Claudius itu. Pendidikan dapat membawa perubahan besar bagi setiap peradaban. Jika tidak didampingi dengan ideologi dan paham yang tepat, ia dapat berakibat fatal.
"Bagus sekali," Raja Claudius merespon positif usulan calon menantunya, "Kerajaan el Vierum mendukung penuh usaha Istana Mutiara. Kami akan menantikan pencapaian Putri Mahkota di masa depan."
"Terima kasih, Baginda," jawab Alice. Sudah waktunya ia undur diri. Raja Claudius menyuruh Antonio untuk menemaninya berkeliling istana sampai urusan perdana menteri selesai. Setelah itu, ia harus mengantar kepergian Alice ke Duchy vi Alverio nanti.
"Alice, bagaimana pandanganmu terhadapku sebagai tunangan?" tanya Antonio malu-malu di perpustakaan. Seperti biasa, Alice datang ke perpustakaan dulu untuk meminjam buku sebelum berbincang di saung taman. Ia menatap Antonio datar. Dilihat bocah yang akan menjadi raja di masa depan itu bersemu merah. Alice pun tersenyum dan dengan senang hati mengungkapkan perasaannya, "Anda...."
__ADS_1