Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Penyelidikan Aria


__ADS_3

"Nenek Yulia, apakah di kota ini pernah ada warga kota yang muntah darah tiba-tiba?" Jasmine mewakili Aria bertanya.


"Muntah darah? Teman Kalian mengalaminya?" Nenek Yulia memastikan pendengarannya benar. Jasmine dan Aria mengangguk. Nenek Yulia pun melanjutkan, "Muntah darah disebabkan oleh masalah pada organ dalam, terutama lambung. Apakah teman Kalian itu meminum racun dan sejenisnya?"


"Tidak ditemukan racun apa pun, baik pada makanan maupun minuman yang dikonsumsinya," jelas Jasmine.


"Apa dia pecandu alkohol?" tanya Nenek Yulia lagi.


"Itu tidak mungkin," bantah Aria. Jelas itu tidak mungkin. Gadis cendekia tidak akan diberi dan tidak boleh meminum alkohol. Lagi pula, Mainne tidaklah sebodoh itu sampai mengonsumsi alkohol diam-diam.


"Oh, apa ia sering muntah akhir-akhir ini?" Nenek Yulia terus bertanya. Ia sudah seperti seorang tabib yang sedang mendiagnosis pasien.


"Tidak, sebelumnya ia sehat-sehat saja," jelas Aria dari balik tudungnya, "Ia mengalami muntah darah tiba-tiba kemarin."


"Begitu, ya?" Nenek Yulia terlihat sudah membuat kesimpulan, "Ada beberapa kasus yang mirip di kota ini. Sebenarnya, itu cukup terkenal sejak lama. Mari kita pergi untuk menginvestigasinya saja."


Nenek Yulia bangkit diikuti Aria dan Jasmine. Mereka meninggalkan gang tempat biasa para agen Istana Mutiara itu menetap. Sebelum berangkat, Nenek Yulia memberikan sebilah rapier pada Aria dan berkata, "Aku tahu Putri de Ernest dapat menggunakannya."


"Terima kasih, Nenek," Aria menerimanya dengan senang hati. Ia menyembunyikan pedang berbilah ganda yang tipis itu di balik jubahnya. Akan lebih baik untuk tidak terlihat mencolok.


"Penyakit yang tiba-tiba seperti itu?" seorang warga menatap awas saat mendengar pertanyaan itu, "Sungguh orang yang malang. Dia mungkin sudah menyinggung penguasa besar di kota ini."


"Itu sudah pasti sihir," warga di tempat lain juga menjelaskan hal yang sama, "Orang-orang besar di kota ini suka datang ke cenayang untuk membalas target yang dibencinya. Kalian berhati-hatilah. Walaupun penguasa kota sudah ditangkap oleh tuan putri, bukan berarti segalanya sudah aman. Jangan sampai Kalian menyinggung para bangsawan itu sendirian."


"Kami mengerti. Terima kasih nasihatnya," ucap Jasmine mewakili rombongannya. Mereka sudah pergi ke beberapa tempat. Mayoritas orang yang ditanya menjawab dengan jawaban yang hampir serupa. Intinya, penyakit yang tiba-tiba itu disebabkan oleh sihir dan santet.


"Nona, apakah Anda adalah utusan dari Tuan Putri Mahkota el Vierum?" tanya seorang pria berkeriput saat rombongan Aria sedang berdiskusi di sebuah kedai.


"Benar," Jasmine yang menjawab.

__ADS_1


Pria itu jadi gemetaran sampai membuat orang-orang di sekitarnya keheranan. Ia pun bersujud di hadapan mereka dan memohon, "Tuan Putri, mohon ampuni saya. Saya sudah menduga kalau penyakit itu berasal dari sihir, tapi saya masih belum yakin saat itu. Saya sedang berusaha mencari bukti. Mohon ampuni saya."


Suasana di kedai berubah. Orang-orang diam mengamati. Seorang putri tetaplah seorang putri. Sangat jarang ia pergi ke kedai yang sederhananya itu.


"Berdirilah! Kamu adalah tabib waktu itu kan?" ucap Aria dengan nada bicaranya yang dingin dan khas.


"Be ... benar, Tuan Putri. Saya adalah tabib yang memeriksa Putri Hamra waktu itu," pria tua itu pun bangkit berlutut, "Saya adalah tabib asli kota ini."


"Jelaskan dugaanmu!" titah Aria.


"Di ... dimengerti," tabib itu masih gemetaran hebat. Traumanya di masa lalulah yang membuatnya jadi begitu. Ia pernah ditangkap dan disiksa oleh penguasa kota. Kalau waktu itu ia tak berhasil menyelamatkan salah satu kerabatnya, ia pasti sudah kehilangan kepala.


Sekarang, ia berhadapan dengan seorang putri utusan Putri Mahkota el Vierum. Jika ia tak menjelaskan hipotesisnya dengan baik, bisa saja hal yang lebih buruk menimpanya. Yah, itu hanya pikirannya yang berlebihan saja. Aria tidak akan melakukan itu.


"Kasus semacam ini telah terjadi beberapa kali. Awalnya, itu benar-benar tidak diketahui penyebabnya. Akan tetapi, suatu ketika seorang warga mendengarkan perbincangan aneh orang-orang tak dikenal," si tabib berhenti sejenak untuk mengambil napas, "Warga itu melaporkannya pada saya bahwa itu ada hubungannya dengan tukang sihir. Saya pun menyelidikinya."


"Ba ... baik, Tuan Putri," si tabib gelagapan, "Penyakit itu benar ulah tukang sihir. Saya sudah mengonfirmasinya."


"Apa Kamu tahu tempat para cenayang itu?" Jasmine bangkit dari duduknya.


"Biasanya mereka bersembunyi di hutan yang ada di selatan kota," jelas si tabib tanpa berani menatap wajah gadis yang mengenakan jubah bertudung itu, "Tempat itu berbahaya. Tolong jangan bertindak gegabah dengan masuk ke sana sembarangan."


"Kami mengerti, terima kasih informasinya," Aria pun ikut bangkit, juga Nenek Yulia, "Ayo, Kak. Kita akan berangkat bersama kesatria Istana Mutiara."


"Eh? Oke," Jasmine tak menyangka kalau Aria akan berangkat secepat itu. Ia bahkan belum melaporkan hasilnya pada Anna. "Tapi, bagaimana kita akan mengajak kesatria Istana Mutiara?"


"Aku adalah gadis cendekia dari Istana Mutiara. Cukup dengan izin dari Tuan Putri Mahkota el Vierum, kita bisa menggerakkan para kesatria," ucap Aria dengan percaya diri. Dia langsung pergi diikuti Nenek Yulia. Jasmine pun hanya dapat menghela napas dan pasrah saja.


...***...

__ADS_1


"Nona Aria akan melakukan itu?" tanya Anna begitu menerima laporan Jasmine dengan handsfree yang tersembunyi di balik kerudungnya, "Sebenarnya, itu tidak masalah. Kita sudah melakukan pengintaian di sana. Penyelidikan Nona Aria sudah melengkapi hipotesis kita."


"Apa Anda akan mengizinkannya, Madam?" Jasmine tak menyangka bahwa Anna tidak merasa keberatan sama sekali.


"Hak untuk memberinya izin bukan ada di tanganku. Semua terserah pada keputusan tuan putri nantinya," ucap Anna enteng.


"Izin apa?" kebetulan Alice baru saja keluar dari kamarnya. Sekarang adalah sesi istirahat setelah diskusi seharian ini dengan para eksekutif.


"Menggerakkan kesatria," Anna sudah tidak terkejut lagi setiap kali Alice melihatnya menggunakan gawai. Ia pun menceritakan penyelidikan Aria bersama Nenek Yulia hari ini.


"Bagaimana menurut Anda, Nona?" tanya Anna yang sudah lupa bahwa teleponnya masih tersambung dengan Jasmine.


"Jadi, itu adalah kutukan?" api kebencian menyala di mata Alice. Tubuhnya bergetar sebab teringat pada memori yang sekejap saja terlintas. Air matanya pun tumpah sampai membuat Anna terkejut. Ia tidak ingin temannya bernasib sama dengan Duchess Evianna, ibunya yang meninggal karena racun dan kutukan penyihir jahat.


"Madam, apa yang terjadi?" Jasmine kembali bertanya saat teleponnya tiba-tiba hening.


"Jasmine, lanjutkan tugasmu! Aku menunggumu di hotel," Anna pun mematikan telepon. Jasmine yang masih dijalan belum menyelesaikan laporannya. Ia keheranan dan bergegas untuk kembali.


"Nona, ada apa?" Anna memeluk Alice yang kini tengah menangis. Ia menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan lembut seperti menenangkan adiknya sendiri. Diberinya putri kecil itu kata-kata yang hangat agar ia cepat tenang.


"Nona, kami di sini. Anda adalah gadis yang paling berani," ucap Anna dengan meniru cara Duchess Evianna saat merawat Alice dulu. Kenangan itu jadi menghampiri hati Alice, membelainya dengan kerinduan, dan menariknya ke masa lalu.


Seakan-akan Alice mendengar sendiri ibundanya berkata dengan lembut, "Alice sayang, ibunda di sini. Alice kan anak yang paling kuat dan pemberani. Alice tidak akan sendiri. Tuhan selalu menyertai hamba-Nya."


"Mengapa?" ucap Alice dengan isakan yang belum tenang, "Mengapa mereka selalu mengincar kami? Apa salah kami? Mereka sudah membunuh ibunda, sekarang mereka ingin membunuh temanku."


Anna mengelus-elus rambut Alice yang masih menangis di pelukannya. Ia mengerti perasaan nonanya itu. Saat Duchess Evianna meninggal, ia juga ada di sampingnya. Saat itu usianya 17 tahun. Ia masih belum banyak mengerti tentang masalah para putri dan Menara Penyihir.


Tragedi itulah yang membuat giat menggali informasi tentang Menara Penyihir. Ia pun dimasukkan ke Biro Rahasia divisi penyelidikan oleh petinggi Saville. Dari sanalah ia memanjat karirnya sampai sekarang, Kepala Biro Rahasia Saville. Ia bertekad untuk melindungi nonanya. Ia tak ingin membiarkan Alice sampai menderita.

__ADS_1


__ADS_2