
"Panggil aku Sifer," si Pembawa Lentera tidak keberatan Lincoln mengikutinya. Mereka kini sedang beristirahat. Sifer pun menaruh lenteranya dan membentangkan sebuah lembaran.
"Apa ini peta bawah tanah Kota Marianna?" Lincoln ikut memperhatikannya. Peta itu tidak seperti peta kota yang dikenalnya. Jadi ia berkesimpulan demikian setah melihat garis-garis rumit itu.
Sifer mengangguk. Ia sengaja membuka peta itu untuk memperlihatkannya kepada Lincoln. Mereka berada di pihak yang sama walau memiliki naungan yang berbeda.
"Kamu harus segera keluar dari kota, bukan?" Sifer merencanakan sesuatu di benaknya. Kebetulan sekali penjara bawah tanah itu dekat dengan jalan keluar yang dicari agen Balai Pengawas Rahasia itu. Sifer pun menunjuk salah satu tempat di peta, "Ini adalah jalan tercepat untuk keluar dari kota. Jika ingin melewatinya, Kamu harus berhadapan dengan para penjaga yang berada di penjara bawah tanah."
"Kamu ingin aku melumpuhkan mereka?" tebak Lincoln yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Sifer.
"Tidak hanya itu. Setelah keluar, Kamu harus segera menuju ke rombongan sang raja dan melaporkan situasinya," Sifer mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Itu adalah sebuah tabung sebesar kepalan tangan. "Berikan benda ini kepada baginda raja. Beliau akan tahu apa yang harus diperbuatnya."
"Bagaimana denganmu?" Lincoln menerima tabung itu dan menyimpannya di tempat teraman. Sifer yang sedang melipat peta menoleh, "Aku harus menyelamatkan para sandera. Jadi, kuserahkan urusan di luar padamu. Ayo kita berangkat."
Lincoln mengangguk. Mereka kembali berjalan. Sifer pun menghentikan langkahnya begitu merasa telah dekat dengan tempat tujuan. Ia memastikan Lincoln masih mengikutinya lalu mematikan lentera. Kegelapan segera menyelimuti begitu cahaya telah sirna. Di kondisi seperti itu, mata Lincoln dengan cepat beradaptasi dan dapat kembali melihat. Berbeda dengan Sifer yang segera menyalakan gawai inframerahnya.
Mereka terus menyusuri gorong-gorong. Sekali mereka menaiki tangga lalu terlihat lorong bercahaya. Ada nyala obor di sana. Terdengar pula gelak tawa dan cegukan orang-orang mabuk di sana.
"Geh! Ini membosankan," gerutu seorang pria bersuara serak. "Buat apa kita menjaga tempat ini. Tidak ada gunanya!"
"Benar, orang-orang sedang bermain-main di atas sana," seru yang lain. Ada suara cegukan di sela-sela kalimatnya, "Kita malah harus berjaga di tempat sialan ini."
"Tidak akan terjadi apa-apa di sini," yang lain ikut menimpali. Tangannya menunjuk ke atas, "Aku lelah. Aku juga ingin main seperti para bedebah itu."
Lincoln menggertakkan giginya. Ia sangat marah karena mengetahui maksud kata 'bermain' bagi mereka itu. Ia segera menghunuskan kedua pedang pendeknya. Di sampingnya, Sifer menjepit beberapa pisau di celah jari-jemarinya. Keduanya mengangguk. Rencana mereka terbentuk tanpa kata-kata.
Sifer yang pertama menyerang. Dua dari tiga pisau yang dilemparnya tepat mengenai para penjaga gadungan itu. Satunya meleset dan menancap di sebuah gelas yang sedang dipakai seorang penjaga. Walau tidak terluka, ia tetap terpental dari tempat duduknya.
__ADS_1
Belum sempat yang lainnya bereaksi, Lincoln sudah lebih dulu menerjang. Ia menyayat setiap penjaga gadungan yang tersisa. Hampir tidak ada suara di penyerangan mereka itu. Akan tetapi, ada seorang penjaga ceking yang kebetulan baru saja kembali dari atas.
Penjaga ceking itu langsung terjatuh dengan kaki gemetaran. Insting bertahan hidupnya yang tinggi segera menyuruhnya untuk pergi. Ia berbalik dan meninggalkan nampan yang dibawanya dari atas. Tepat sebelum kakinya menaiki tangga, tubuhnya kembali terjatuh dengan darah yang mengalir di perutnya.
"Jalan keluarnya sudah dekat," kata Sifer sambil mencabuti pisau-pisaunya dari tubuh para perompak itu. Lincoln menyabetkan pedangnya. Darah yang tertempel di sana seketika terentas ke tanah.
"Berhati-hatilah! Jangan sampai tertangkap lagi," pesan Sifer. Dari sini, ia akan mengambil jalan yang berbeda dengan Lincoln. Lincoln mendengus. Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak pernah tertangkap. Hanya ketahuan saja. Yah, itu tidak terlalu berbeda jauh.
"Aku pasti selamat. Tunggulah bantuan dari kami," Lincoln segera beranjak pergi. Kedua pedang pendeknya semakin erat tergenggam di tangan. Saat Lincoln sempurna menghilang dari pandangan, barulah Sifer menyimpan pisau-pisaunya. Ia lalu mengeluarkan sebuah senapan sebar dari balik jubahnya.
"Sandera pertama berhasil dibebaskan," ujarnya pada diri sendiri, "Sayang sekali misi untuk bernegosiasi dengan orang gila itu gagal. Kali ini, aku harus mencari penggantinya untuk memimpin pasukan."
Sifer melanjutkan perjalanannya. Ia menembak setiap perompak yang ditemuinya. Hari itu, lorong penjara bawah tanah bermandikan darah dan mayat. Bau anyir menyeruak hingga membuat siapapun dapat muntah seketika. Lebih parahnya lagi, kebanyakan mayat itu tergeletak tanpa memiliki kepala. Kepala-kepala mereka sudah hancur berceceran di mana-mana.
......***......
"Mengapa tidak boleh?" Alice terus mendesak agar dayangnya itu mau berbagi informasi. Ia menunjukkan wajah kesalnya karena masih dianggap sebagai anak kecil.
"Anda memang masih kecil, Nona," balas Anna. Ia menepuk kepala tuan putrinya itu dengan lembut. Alice pun menggelembungkan kedua pipinya. Ia jauh dari kesan Sang Putri Musim Dingin jika bersama orang-orang terdekatnya saja.
"Aku bisa mengatasinya. Jangan remehkan aku," seru Alice terus mendesak. Anna tidak terpengaruh dengan desakan itu. Ia malah tertawa melihat wajah kesal Alice yang menggemaskan.
"Dengan saham yang dimiliki Istana Mutiara saat ini, Anda harusnya sudah memiliki hak untuk mengakses informasi dari serikat," Anna pun menjelaskan setelah berkali-kali dituntut untuk menerangkan alasannya, "Akan tetapi, akses itu masih belum bisa Anda gunakan selama Wali Istana Mutiara belum memberi izin."
"Nenek?" Alice baru teringat bahwa istananya yang cukup berkuasa itu memiliki wali di samping penguasanya yang masih bocah ini. Anna mengangguk penuh perhatian, "Benar. Anda harus mendapat izin dari ibu suri terlebih dahulu untuk memperkuat kekuasaan di Istana Mutiara. Termasuk mengakses informasi terdalam dari Serikat Dagang Saville."
"Sudah lama aku tidak mengunjungi nenek," gumam Alice tanpa sadar melupakan kekesalannya barusan. Jika dipikirkan, hubungannya dengan ibu suri tidak terlalu dekat. Ibu suri juga sosok yang dingin seperti dirinya. Bisa dibilang, sifat dinginnya itu menurun dari sang nenek.
__ADS_1
"Aku jadi ingin bertemu dengannya," Alice membaringkan diri di kasur, "Lagi pula, pekerjaan yang datang tidak sebanyak yang kukira."
Anna tersenyum. Tentu saja begitu. Pekerjaan itu sekarang akan lebih banyak diatasi oleh para amtenar. Baginda ratu menegur mereka belum lama ini. Jadi, Alice hanya akan menerima laporan-laporan singkatnya saja. Di samping itu, Baginda ratu lebih merekomendasikan Alice untuk belajar dan memahami kondisi rakyat di lapangan.
"Apa aku bisa mengajak teman-teman ke wilayah barat?" Alice berpikir untuk segera melakukan kunjungan. Ia terduduk dengan semangat setelah mendapat ide itu. Kedua tangannya memeluk bantal yang empuk.
"Para gadis cendekia bisa mendapat izin dengan mudah dari akademi," jawab Anna memberikan lampu hijau persetujuan, "Sarjana Florence akan mengurusnya segera jika Anda menginginkannya. Lagi pula, ini bisa menjadi pembelajaran bagi mereka."
"Kalau begitu, sudah diputuskan," Alice turun dari kasurnya dan berjalan keluar sambil masih memeluk bantal, "Aku akan ke wilayah Keluarga van Ryvat dan meminta persetujuan dari nenek."
Anna menghela napasnya maklum. Senang rasanya melihat putri kecil itu bertingkah seperti gadis seusianya. Hanya di istana dalam ini ia dapat bersikap seperti itu tanpa khawatir melepas topeng wajahnya. Syukurlah dia memiliki kawan-kawan yang tepat di sekitarnya.
"Kak Mary," Alice mengetuk pintu kamar Rosemary dengan jari tengahnya. Jadi, tidak terdengar suara ketukan yang terlalu keras di sana, tapi itu sudah cukup untuk memanggil empunya kamar.
"Alice, ada apa?" Rosemary muncul dari balik pintunya. Gadis berambut cokelat panjang itu sedikit lebih tinggi dari Antonio. Alice benar-benar terlihat kecil di hadapannya. Ia harus mendongak saat bertatapan dengannya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," jawab Alice yang disambut baik oleh Rosemary. Ketua gadis cendekia itu mempersilakan Alice untuk masuk ke kamarnya. Dengan ceria, putri kecil itu pun menceritakan idenya.
"Jadi, apa Kalian ada sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan di akademi?" tanya Alice memastikan satu hal yang masih bersarang di pikirannya. Walau ia ingin mengajak teman-temannya, ia tidak ingin mengganggu proses studi mereka.
Rosemary memejamkan mata. Tugas OSIS langsung tergambar di benaknya. Benar, hanya ada lembaran kertas itu yang diingatnya. Ia sudah memahami materi semester ini dengan tuntas. Jadi, tidak ada masalah di akademik. Seringai manis pun tersungging di wajahnya saat membayangkan wajah kelelahan Swan si ketua OSIS.
"Tenang saja, menemani Anda adalah tugas utama kami," akhirnya Rosemary menjawab dengan senang hati, "Tidak ada tugas penting di akademi. Anda tidak perlu risau."
Alice membalas senyuman Rosemary dengan senyum simpul. Ia sempat melihat seringainya tadi. Jadi, ia bisa menebak-nebak maksud dibaliknya.
"Ketua Swan, Anda benar-benar malang dengan menempati posisi itu," begitulah batin Alice saat memikirkannya.
__ADS_1