Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Perbincangan di Kantor OSIS


__ADS_3

"Bagaimana kondisi di Balai Pengawas Pusat, Tuan Putri?" Aristia bertanya dalam perjalanan ke kantor OSIS. Saat ini, mereka ada di lingkungan umum. Jadi, mereka harus memerhatikan etika.


"Sidang hari ini sudah selesai, besok akan dilanjutkan lagi bersama Baginda Raja el Vierum," jawab Alice. Ia menjelaskan sekadarnya saja kondisi di sidang itu pada kedua temannya. Ia juga sempat menyinggung kakak Mainne. "Dia terlihat sudah terbiasa berbicara di depan umum."


"Yah, kakak adalah instruktur muda yang mudah akrab dengan orang lain," Mainne menjelaskan dengan tenang. Dalam hati, ia menyimpan kebanggaan yang besar terhadap kakaknya. "Dia juga sering bersosialisasi dengan orang-orang asing di sekitar pelabuhan."


"Apa kakakmu bekerja di dekat sana?" Aristia baru tahu. Walau ia adalah yang paling dekat dengan gadis biasa itu di Istana Mutiara, tetapi ia masih belum tahu banyak tentangnya.


"Mn, kakak selalu bekerja di sekitar pelabuhan sejak kecil. Pemahamannya yang cepat dalam menguasai bahasa asing membuat instruktur di sana tertarik padanya," Mainne tanpa sadar dengan semangat mulai bercerita. Kakaknya yang berbakat itu memiliki banyak kenalan di antara para pedagang. Di antaranya bahkan ada yang dengan senang hati memberikan buku-buku berharga yang tentu saja sangat mahal di benua Barat.


"Jadi karena itu Kamu sangat bersemangat membuat kertas?" Aristia mengerutkan kening. Ruang OSIS sudah ada di depan mereka. Mainne mengangguk. Ia mempelajari teknik pembuatan kertas dari sebuah buku yang berasal dari benua Timur. "Aku juga ingin menulis banyak buku. Karena itu, aku butuh banyak kertas."


"Kalian sudah datang," Akilla muncul dari balik pintu saat Aristia baru mau mengetuknya, "Selamat datang, Tuan Putri. Mari masuk."


Kantor OSIS sangat luas. Ada sofa-sofa empuk tak jauh dari pintu. Jendelanya besar sehingga cahaya matahari dengan mudah dapat masuk. Beberapa meja kayu berornamen indah disusun sedemikian rupa. Sebuah lemari besar terletak di dekat salah satunya. Saat masuk, Alice melihat Rosemary yang sedang merapikan sebuah rangkaian bunga.


"Anda bisa beristirahat dulu," Rosemary memberikan senyum hangatnya dan mempersilakan Alice dan kawan-kawannya untuk duduk di sofa. "Maaf karena tidak dapat segera menyambut Anda, Tuan Putri."


"Itu tidak masalah, Nona Mary," Alice menyungging senyum yang sama, "Aku justru minta maaf karena menggangu pekerjaanmu."


"Anda tidak perlu minta maaf begitu," Rosemary mengeluarkan beberapa kue kering yang disimpan di lemari dan menyuguhkannya di atas meja. Tak lama kemudian, Akilla datang dengan peralatan minum teh yang ada.

__ADS_1


"Keselamatan atas Tuan Putri Mahkota el Vierum," sapa seorang pemuda berambut pirang yang tiba-tiba datang tanpa menunjukkan hawa keberadaannya. Aristia sampai menumpahkan tehnya karena terkejut. Ia segera melotot ke pemuda berjas putih yang tersenyum dengan wajah tanpa dosa itu.


"Senior Swan, bisakah Anda menghilangkan kebiasaan muncul tiba-tiba seperti itu?" protes Aristia kesal. Swan yang diprotes terlihat tidak peduli. Apa salahku? Aku kan hanya menyapa tuan putri? Begitulah maksud wajah tak pedulinya yang dihiasi senyum.


Alice hanya menatapnya sekilas dan menjawab salamnya. Ia lalu kembali fokus dengan cangkir yang sudah di tangannya. Ia ke akademi ini hanya untuk melepas lelah. Jadi, ia tidak ingin berurusan dengan apa pun yang bersifat politik.


Pemuda bernama Swan itu adalah ketua OSIS saat ini. Ia mengalahkan Rosemary dalam pemilihan tahun lalu. Yah, justru karena itu, Rosemary berani mengajukan diri sebagai gadis cendekia.


Swan terlihat ingin membicarakan sesuatu. Akan tetapi, melihat ketidakacuhan Alice membuatnya menyerah sebelum mencoba. Tidak banyak gadis yang bisa mengabaikannya seperti itu. Padahal ia pemuda yang tampan. Lebih dari Antonio malah.


Sepertinya dia syok karena merasa tidak dipedulikan. Apalagi, omelan Aristia yang panjang tak memberinya ruang sedikit pun untuk berbincang dengan Alice.


"Eh, benarkah?" Swan bertanya dengan nada yang ada sedikit kekecewaan di sana. Ia benar-benar gagal untuk berbincang dengan Putri Mahkota el Vierum. Padahal ini adalah kesempatan langka.


"Sisanya tinggal tugasmu. Lekas selesaikan!" Rosemary menunjuk ruang tempat keluarnya tadi. Swan dengan lesu masuk ke sana. Mungkin lain kali ia baru bisa tampil sedikit lebih lama. Nasib figuran memang tidak untuk populer.


"Jadi, bagaimana status Kota Marianna saat ini?" Rosemary duduk di sofa dan bergabung dengan kawan-kawannya. Beberapa gadis anggota OSIS yang juga tertarik ikut bergabung. Sebenarnya para pemuda juga penasaran. Akan tetapi, karena yang berkumpul hanya para gadis, mereka memutuskan untuk pergi.


"Pemerintah sudah mengirimkan surat kepada penguasa kota itu," Alice menjawab yang dapat dijawabnya. Hanya informasi yang boleh diketahui umum. Rencana perombakan Balai Pengawas tidak boleh sampai bocor. "Saat ini, kami sedang menunggu balasan. Entah ia menyangkalnya atau mengakuinya, ia tidak dapat dibiarkan karena sudah mengabaikan rakyatnya."


"Kalian tahu? Kudengar penguasa kota itu bersekongkol dengan perompak di laut selatan," seorang gadis OSIS yang keluarganya merupakan bangsawan sekaligus saudagar besar ikut berbicara. Alice dan Anna sontak meliriknya. Kabar itu juga sudah sampai pada mereka.

__ADS_1


Tidak hanya itu, kenyataan sesungguhnya adalah penguasa kota itu sudah lengser sejak lama. Selama beberapa bulan ini, ia hanya dijadikan boneka oleh musuh-musuhnya untuk bersembunyi dari pantauan kerajaan. Setelah mereka memiliki cukup kekuatan dan berhasil menghasut para amtenar di Balai Pengawas dan lembaga pemerintah lainnya di kota itu, barulah mereka bertindak. Kekuasaan di kota sudah berganti tangan sekarang.


"Kota Marianna adalah kota yang penting. Ia adalah satu dari tiga kota bandar yang menghubungkan Kerajaan el Vierum dengan benua luar," kata Rosemary dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia menahan cangkirnya di tangan. Matanya memandang jauh menembus cakrawala masa depan yang mungkin saja terjadi, "Bisa gawat kalau kota itu dikuasai orang jahat."


"Apakah akan terjadi perang?" pertanyaan seorang gadis OSIS yang lain menarik perhatian semua orang. Ia jadi terlihat gugup dan takut-takut salah bicara.


"Kemungkinan itu ada," Rosemary baru saja menyeruput tehnya, "Karena itu kita harus berhati-hati."


Alice mengepalkan tangannya. Seandainya ia memiliki kekuasaan sebesar pemilik Istana Mutiara pertama, Sang Putri Srikandi yang mampu menggerakkan pasukan, sudah pasti ia bergerak sekarang. Ia masih sangat lemah. Sangat-sangat lemah.


Anna mengelus punggung Alice saat melihat wajahnya yang tertekan oleh berbagai beban. Rosemary dan teman-temannya masih berbincang seru tentang Kota Marianna, tetapi Alice sudah tidak mendengarnya lagi. Ia larut dengan pikirannya sendiri.


"Anda tidak perlu merasa sesal begitu," ucap Anna lirih. Ia ikut terjebak dengan perbincangan para gadis remaja ini. Entah sejak kapan, topik berubah. Seorang gadis tiba-tiba bertanya pada Anna, "Madam, apa ada seorang yang Anda sukai?"


"Eh, aku?" Anna memastikan benar dirinya yang ditunjuk. Para gadis kompak mengangguk. Anna jadi gugup karenanya. Alice bahkan memperlihatkan ketertarikan. Di Kerajaan el Vierum, usia Anna saat ini sudah terlalu tua untuk seorang gadis.


"Ah... itu...," Anna ragu-ragu menjawab, "Ada, tetapi dia tinggal di tempat yang sangat jauh."


"Wah, apakah teman masa kecilmu?" Aristia bertanya semangat. Ini pertama kalinya Anna ikut perbincangan seperti ini. Anna tersenyum. Tidak ada rona di wajahnya. Ia menjawab bahwa ia tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal semacam itu.


Di Kantor Ketua OSIS, Swan tidak dapat berkonsentrasi sama sekali. Ia memeras rambut pirangnya dan meletakkan kepala di meja. Timbunan kertas dan perkamen berserakan di sekitarnya. Padahal barusan Rosemary dan Aria dengan susah payah merapikannya.

__ADS_1


__ADS_2