
"Selamat datang kembali, Alice," sambut Ratu Clara dengan senyum yang merekah indah di wajahnya. Alice terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu Ratu Clara di Rumah Sakit Saville.
Aristia dan Akilla justru tidak ada. Mereka sedang ada urusan di luar, sedangkan Mainne masih terbaring lemah di kasur rawatnya sekarang. Alice pun mendekatinya.
"Kondisinya sudah membaik," jelas Ratu Clara yang sejak pagi menjaga Mainne, "Kamu tidak perlu khawatir lagi."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Alice lantas memuji Tuhan, "Aku sangat cemas dengannya. Kami banyak mendapat masalah selama peninjauan. Aria bahkan terluka."
"Kalian sudah bekerja keras," Ratu Clara mengelus rambut Alice. Ia melihat rona lelah di wajah gadis kecil. Padahal ia hanyalah seorang gadis berusia sepuluh tahun yang terlihat kuat walaupun sebenarnya rapuh. Ratu Clara sampai merasa bersalah karena tidak dapat menahan keinginan suaminya yang terburu-buru untuk mengangkat Alice sebagai Putri Mahkota el Vierum.
"Aku ingin istirahat. Rasanya lelah sekali," Alice duduk di atas sebuah sofa. Sambil menunggu kawan-kawannya yang lain, ia menceritakan pengalamannya selama perjalanan kepada Ratu Clara. Wanita paling terhormat itu menyimaknya dengan senang hati. Jarang-jarang Alice mencurahkan perasaannya dan banyak bicara seperti ini.
"Saville sangat hebat. Mereka sudah banyak membantu kerajaan, khususnya Istana Mutiara," ucap Ratu Clara menanggapi cerita Alice. Gadis itu sudah berbaring di pangkuannya sekarang. Matanya perlahan menutup.
Rosemary dan Aria datang tak lama kemudian. Mereka terkejut saat melihat Ratu Clara Sam seperti Alice. Ratu Clara pun menaruh telunjuknya di bibir, mengisyaratkan kepada mereka untuk tenang. Alice sudah tidur sekarang.
"Kalian juga beristirahatlah," ucap Ratu Clara, "Akilla dan Aristia juga akan segera datang sebentar lagi."
Keduanya pun duduk di sofa. Seperti biasa, Rosemary selalu menjaga sikapnya. Aria pun tidak jauh berbeda. Ia selalu bersikap tenang di mana pun ia berada. Tak butuh waktu lama sampai mereka juga tertidur saking lelahnya.
Ratu Clara pun memanggil beberapa dayang untuk menyiapkan tempat tidur bagi para gadis cendekia. Semuanya bergerak dengan cepat dan tenang. Tak ada yang mau mengganggu tidur para gadis.
"Bibi, kudengar teman-teman sudah kembali," Akilla muncul dan bertanya dengan suara lirih. Sebenarnya ia sudah tahu situasinya, tapi ia hanya ingin memastikan saja. Aristia pun muncul di belakangnya. Ia tidak melihat kawan-kawannya yang di sana.
"Mereka sedang tidur di ruang sebelah. Lebih baik tidak menganggu mereka," kata Ratu Clara mengingatkan, "Untuk mengisi waktu, maukah kalian menemaniku minum teh?"
"Tentu!" jawab Aristia dan Akilla kompak. Selama merawat Mainne beberapa hari ini, Ratu Clara sering datang berkunjung. Ia sangat perhatian dengan para gadis cendekia.
"Omong-omong, bagaimana perasaan kalian? Apa kalian akan tetap menjadi gadis cendekia setelah ini?" tanya Ratu Clara penasaran, "Kalian bahkan sempat berada dalam bahaya. Mainne dan Aria sampai terluka. Bukannya tidak mungkin di masa depan nanti kalian juga mengalami hal serupa."
__ADS_1
"Aku baik-baik saja," Akilla menjawab tanpa ragu, "Aku tahu Alice sedang memperjuangkan suatu yang luhur. Aku pasti membantunya."
"Aku juga," Aristia menyahut, "Kami pasti akan berjuang bersama-sama sampai ajal menjemput."
"Wah... benarkah? Berarti kalian akan setia pada Istana Mutiara sampai akhir?" Ratu Clara terkesan. Mereka mirip dengan generasinya yang penuh semangat sejak dulu. Sekarang kawan-kawannya juga sudah menjadi orang-orang hebat di daerahnya masing-masing. Komunikasi mereka pun selalu terjalin dengan baik. Yah, walaupun kadang ada sedikit perbedaan pendapat.
"Bagaimana kalau kalian saling bersilang pendapat nanti?" tanya Ratu Clara ketika mengingat saat-saat itu.
Akilla dan Aristia saling berpandangan. Mereka merasa sulit membayangkannya karena selama ini tidak pernah ada percekcokan di antara mereka. Mereka mungkin masih dalam tahap orientasi sebagai Gadis Cendekia. Namun, mereka merasa tidak ada yang perlu diperdebatkan dalam integritas Istana Mutiara.
"Kami tidak ingin itu terjadi," jawab Aristia dengan yakin. Akilla menambahkan, "Kalaupun itu terjadi, kami akan segera mencari jalan tengah untuk memecahkan masalahnya dan saling mengerti."
"Bagus! Itulah jawaban yang kuinginkan," Ratu Clara menepuk tangannya sekali dengan menyungging senyum. Ia puas dengan jawaban mereka. Sama seperti Marchioness Rubia, tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi mengenai sahabat-sahabat sang putri mahkota kecil itu.
"Kami akan membawa perubahan untuk kerajaan ini," seru Aristia semangat, "Tentu saja perubahan yang baik."
"Contohnya?" Ratu Clara ingin tahu dengan antusias. Aristia pun melanjutkan, "Kita akan membawa perdamaian ke seluruh dunia. Kita perlihatkan pada dunia bagaimana Kerajaan el Vierum mewujudkannya."
Armada itu berkali-kali lipat besarnya dari kapal-kapal galiung colombus. Mereka membawa banyak pasukan, tapi bukan untuk menjajah. Mereka mengembangkan perekonomian dunia, mengangkut berbagai budaya, dan menyebarkan ilmu kepada dunia. Itulah ekspedi paling berkesan sepanjang sejarah manusia.
"Mainne sungguh berpengetahuan luas. Ia ahlinya tentang benua Timur," puji Aristia yang sejak tadi bercerita dengan menggebu-gebu, "Dia sangat cocok memegang posisinya sebagai kunci pendidikan masa depan."
Tanpa terasa waktu berlalu. Mentari mulai condong ke ufuk barat. Rosemary pun sudah bangun dan bergabung dengan mereka.
"Kalian semua memiliki harapan yang besar," Ratu Clara bangkit sekaligus mengakhiri acara minum teh nonformal itu, "Kudoakan agar kalian sukses selalu."
"Terima kasih, Baginda," para Gadis Cendekia memberi hormat.
Ratu Clara sedikit terhuyung saat mulai meninggalkan kursi. Ia merasa sedikit pusing sekarang. Untung para Gadis Cendekia tidak menyadarinya. Jadi, itu tidak membuat mereka khawatir. Ia akan segera mengunjungi sahabatnya yang bekerja sebagai tabib untuk konsultasi.
__ADS_1
...***...
"Dia mengirim surat?" Antonio menatap sepucuk amplop bersegel yang baru saja diserahkan Solid. Ia menatapnya tanpa ekspresi. Entah mengapa, ia tidak tertarik sama sekali.
"Beliau bilang mungkin dapat menyusulmu kalau ada kesempatan," Solid menyampaikan kabar baiknya. Ia baru saja berhasil menyusul rombongan Akademi Kerajaan yang akan memulai pemburuan. Untung rombongan itu banyak beristirahat sehingga ia tidak kesulitan menyusulnya.
"Begitu, ya? Itu bagus," ucap Antonio lirih. Ia membuka segel suratnya, lalu mulai membaca. Surat itu tidaklah berisi kata-kata manis maupun sindiran seperti surat Derrick vi Alverio.
Alice hanya menanyakan kabarnya dan berharap dia baik-baik saja. Tulisannya disusun sangat rapi. Jelas sekali surat itu ditulis dengan hati. Namun, Antonio tidak mengerti. Entah mengapa, surat itu tidak berkesan baginya. Padahal ia pernah mengharapkannya dulu. Ia bahkan sampai rela mengulang pelajaran etikanya berkali-kali untuk itu.
Akan tetapi, semuanya sudah tidak berarti lagi sekarang. Hatinya telah tertambat di lubuk yang lain. Entah sejak kapan, tapi Antonio tidak dapat melupakan senyum manis gadis itu sebanyak apa pun ia berusaha. Bahkan, ibunya sudah memberi perintah untuk menjauhinya, tapi ia merasa tidak bisa walaupun nyatanya ia sudah melakukannya.
"An... An, apa kamu mendengarku?" ucapan Solid menyadarkan Antonio dari lamunan. Tanpa sadar, putra mahkota itu sudah meletakkan surat yang tadi dibacanya. Solid pun tersenyum menggoda, "Apa yang ditulis tuan putri? Pasti hal yang indah kan? Kamu bahkan tidak berkedip saat membacanya."
"Bukan urusanmu," balas Antonio dingin. Ia melipat surat lalu menyimpannya di saku. Rasa pun iri tumbuh di hatinya.
Alice vi Alverio, Putri Mahkota el Vierum. Gadis itu selalu mendapat perhatian dan pujian banyak orang. Seakan ia ada dipuncak dari segalanya. Padahal ia hanyalah gadis yang lemah.
"Ia lebih pantas hidup sebagai burung dalam sangkar daripada terbang bebas dan menarik perhatian orang-orang," begitulah yang terbesit dalam hati Antonio.
Ia tiba-tiba merasa benci setiap dibandingkan dengan tunangannya. Semua orang menganggapnya hebat dan berkuasa. Padahal nyatanya ia hanyalah gadis yang rapuh sampai-sampai butuh banyak orang untuk melindunginya.
Tangan Antonio pun mengepal. Matanya diliputi api kebencian. Ia berjalan dengan wajah tertunduk dalam sampai-sampai tanpa sengaja ia menabrak seseorang dan terjatuh.
"Maafkan saya. Apa Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" suara seorang gadis membuat Antonio segera menoleh. Gadis itu lebih tinggi dan kelihatan lebih tua darinya. Ia mengenakan pakaian khas dari divisi penyihir.
Dengan senyum yang ramah dan manis, gadis itu mengulurkan tangannya untuk membantu Antonio bangkit. Saat tangan keduanya bersentuhan, sejumlah mana mengalir ke tubuh sang pangeran muda. Mana itu menyebar dengan amat cepat dan tanpa terasa.
"Senang bertemu Anda, Yang Mulia. Saya pamit undur diri," ucap gadis itu tanpa mengenalkan dirinya. Antonio tidak keberatan. Ia pun kembali berjalan ke tujuan awalnya.
__ADS_1
Melissa menyeringai. Rencana selalu berjalan lancar. Ia tidak sabar untuk melihat hal menarik di County de Vool nanti.