
"Bagaimana kabar ibu kota belakangan ini?" tanya Derrick. Alice menoleh. Ia menghabis makanan yang ada di mulutnya terlebih dahulu baru kemudian menjawab, "Bisa dibilang sangat baik. Rakyat ibu kota antusias dengan festival kali ini. Para bangsawan juga seperti biasa. Berisik dan penuh gaya."
"Haha, tentu saja. Ditambah lagi dengan berita pertunangan putra dan putri mahkota kerajaan," Derrick menanggapi saat Alice menyuap kembali makanannya. "Apa pertunangan Kalian berjalan lancar?"
"Ya, putra mahkota perhatian denganku. Jadi Kakak tidak perlu khawatir," jawaban Alice itu sukses membuat Derrick mematung sejenak. Di satu sisi ia bersyukur, di sisi lain ia berfirasat bahwa adiknya itu akan semakin jauh darinya.
"Bagaimana dengan Istana Mutiara?" Derrick mengalihkan pembicaraan.
Alice kembali menoleh padanya. Makan malam di hadapannya telah habis. Ia baru saja mau meminum jus buah kesukaannya.
"Acara tahun ini berjalan lancar berkat bantuan semua orang," jelas Alice. Dalam hatinya ia bersyukur dengan memuji Tuhan. "Aku mendapat lima teman baru yang menjanjikan. Apa Kakak ingin aku memperkenalkan mereka denganmu?"
Pertanyaan Alice kali tidak hanya membuat Derrick tersedak, tapi juga membuat Kakek James yang di belakangnya bersama beberapa pelayan lainnya tersentak. Baru siang tadi Kakek James berusaha mencari akal untuk bisa menghubungi Istana Mutiara. Ia sampai lupa bahwa pemegang kunci istana itu adalah nonanya sendiri. Ia dengan mudah mendapatkan aksesnya demi masa depan Duchy vi Alverio yang cerah.
"Aku akan dengan senang hati bertemu mereka," Derrick tersenyum lembut menjawabnya sampai Alice berkata, "Kakak tidak boleh menemui satu pun dari mereka."
"Eh?" ucap Derrick bingung. Kakek James juga kaget dengan perkataan nonanya itu. Aksesnya bisa jadi menguap begitu saja.
"Kecuali Kakak sudah mempersiapkan hati untuk mempersunting salah satu dari mereka," lanjut Alice dengan senyum menggoda. Walaupun ia belum akrab dengan teman-teman barunya, bisa dipastikan bahwa mereka akan memiliki kedudukan yang tinggi di masa depan. Bahkan Mainne yang merupakan rakyat biasa.
Derrick tersenyum canggung. Kakek James tersenyum haru. Ternyata harapan pak tua itu tidak akan menguap sama sekali. Ia hanya harus memberi dorongan lebih agar tuan mudanya segera siap menikah. Idealnya tiga samapi lima tahun lagi. Itu bukan waktu yang lama baginya.
__ADS_1
"Aku duluan," Alice beranjak dari kursi lalu naik ke kamarnya. Ia mengajak Anna untuk menemaninya membaca. Tak lama setelah itu, Anna menyuruh para pelayan untuk mempersiapkan Taman Malam di kediaman.
Para pelayan~terutama yang perempuan~ bersorak dan segera bergegas mempersiapkannya. Mereka menyalakan lilin-lilin cantik guna menerangi taman, menyiapkan teh dan cemilan, terakhir menggelar tikar di halaman.
Alice suka mengadakan pesta buku. Di malam yang cerah, ia akan mengajak orang-orang terdekatnya untuk membaca bersama di Taman Malam. Walaupun tidak semua membaca, esensi sebenarnya terletak pada kebersamaan dan keharmonisan di lingkungan Keluarga vi Alverio. Mereka mengobrol dan melihat langit berbintang bersama.
Di pesta buku itu, seakan tidak ada perbedaan di antara mereka. Semuanya seperti saudara dan sahabat. Alice selalu riang di sana. Itu bertolak belakang dengan citra Alice di ibu kota sebagai Putri Musin Dingin.
"Alice," panggil seorang gadis yang baru sampai ke Taman Malam. Gadis itu tampak periang. Rambutnya panjang kebiruan. Selaras dengan warna matanya yang sejernih lautan. Ia adalah sepupu Alice dari Keluarga vi Alverio, Hanna vi Alverio. "Maaf baru bisa mendatangimu sekarang.
"Hai hai, bagaimana rasanya bertunangan? Apakah begitu mendebarkan? bagaimana dengan tunanganmu? Dia orang yang menyenangkan, tidak?" runtutan pertanyaan itu keluar dari lisan periang Hanna. Usianya tiga tahun lebih tua dari Alice Ia penggemar novel romansa.
"Ya ampun, Hannah. Kamu harusnya bertanya satu per satu. Jangan membuat Alice kebingungan," seorang gadis lain menyahut. Ia sangat mirip dengan Hannah. Usianya dua tahun lebih muda.
"Tentu saja," Arina segera duduk di kursi sebelah kanan Alice. Ia tersenyum dan bertanya, "Bagaimana perjalananmu di ibu kota kali ini, Alice?"
"Hai! Aku dulu yang bertanya!" sahut Hanna. Ia duduk di sebelah kiri Alice. Di tangannya sudah terdapat sebuah novel yang di dikeluarkan dari perpustakaan kediaman.
"Aku yang lebih dekat," Arina tidak peduli. Ia segera menatap Alice agar menjawab pertanyaannya. Itu membuat Hanna mendengus kesal. Pada intinya, kedua pertanyaan sepupu Alice itu sama. Bagaimana pengalaman pertunangannya di ibu kota?
"Perjalanan kali ini sedikit spesial," Alice memulai ceritanya. Mata Hanna berkelap-kelip antusias. Ia mencium bau romansa. Arina pun tak kalah tertariknya.
__ADS_1
"Eh? Apa putra mahkota orang yang membosankan?" tanya Hanna setelah mendengar pertemuan Alice dan Antonio yang tidak banyak. Ia baru saja mau memakan sebuah kue kering yang renyah.
"Bukan begitu, dia sungguh orang yang perhatian," Alice menyangkalnya.
"Tapi Kamu yang cenderung menghindarinya," tebak Arina, "Mengapa?"
"Sebenarnya, kupikir pertunangan yang terlalu dini dan panjang ini tidak terlalu baik," Alice menjelaskan, "Mungkin masih tujuh tahun lagi sampai kami menikah. Akan sulit menjaga hubungan pertunangan selama itu."
"Bukankah itu agar membuat Kalian berdua saling mengenal dan lebih akrab," Hanna berkomentar. Bukunya tidak jadi dibaca. Cerita Alice lebih menarik dari kisah di buku itu.
"Dalam pertunangan terdapat banyak batasannya," Arina yang menjawab. Sejak dulu, ia sering bermain dengan Alice. Jadi tak jarang pula ia mendapat pendidikan dari mendiang Duchess Evianna. "Pada dasarnya, pertunangan memang bertujuan untuk saling mengenal dan mengakrabkan diri, tetapi kalau terlalu lama malah akan berakibat fatal."
Hanna mengangguk-angguk paham. Ia sudah sering membaca novel romansa di mana antagonis wanitanya sudah bertunangan dengan pemeran utama pria sejak kecil. Lalu tiba-tiba datang protagonis wanita membuat hubungan keduanya memburuk. Ditambah lagi dengan obsesi antagonis wanita yang keterlaluan. Akhirnya ia jatuh pada alur kehancuran.
"Jadi Kamu menghindarinya agar tidak terlalu terobsesi seperti dalam novel-novel itu," tanya Hanna dibalas dengan tawa kecil Alice.
"Aku tidak kepikiran tentang itu," Alice menjawab, "Aku menjaga jarak untuk menjalankan syariat yang diajarkan ibundaku. Aku percaya itu adalah akhlak terbaik yang dituntunkan oleh Tuhan kepada setiap hamba-Nya."
Hanna memiringkan kepalanya masih belum paham. Dalam novel yang dibacanya, seorang protagonis biasanya akan selalu terlibat dengan pasangannya. Karena sering bersama, cinta akan tumbuh di antara keduanya. Walau banyak rintangan yang harus dihadapi, mereka berakhir bahagia. "Bagaimana Kamu akan menjadi akrab kalau menjaga jarak begitu?"
"Akrab itu bisa setelah menikah," Alice memalingkan wajahnya. Mukanya merona merah. Ia menggigit bibirnya saat teringat Putra Mahkota el Vierum.
__ADS_1
Para pelayan yang melihatnya tersenyum hangat. Arina dan Hanna menggoda Putri Mahkota el Vierum itu geli. Taman Malam yang seharusnya jadi tempat membaca yang tenang itu menjadi ramai dengan canda tawa.