Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Diskusi dalam Perjalanan


__ADS_3

Alice dan rombongannya kembali berangkat di esok harinya. Kini mereka tengah melewati Padang rumput yang luas. Pegunungan Kaskas yang amat panjang menjadi latar belakangnya. Awan putih indah menghias cakrawala nan biru. Burung-burung berterbangan sabar nian mencari makan.


"Apa Kalian tahu untuk apa gunung-gunung itu ada?" Florence mencomot asal topik pembicaraan. Suaranya menyibak keheningan yang menyeruak sekeluarnya mereka dari gerbang kota. Anak-anak gadis itu pun menoleh. Mereka menunjukkan ekspresi yang bertanya balik.


"Tidak tahu, memang ada apa dengan gunung-gunung itu?" Mainne yang mewakili mereka menanyakan hal itu dengan lisan.


"Hm, apa Kalian tahu lempeng tektonik?" Florence mengangkat jari telunjuknya. Ia mengajak para gadis cendekia berpikir dan mencari jawaban. Wajahnya cerah dihiasi senyum cantik.


"Bagian dari litosfer," jawab Rosemary.


"Benar, lebih tepatnya adalah bagian dari litosfer yang selalu bergerak sehingga mempengaruhi bentuk bumi," jelas Florence. Mainne masih terlihat bingung. Ia lantas tak malu bertanya, "Litosfer itu apa?"


"Litosfer adalah batuan yang membentuk kerak bumi," Florence berusaha mencari penjelasan yang paling mudah dipahami, "Simpelnya, itu adalah bagian teratas dari bumi. Termasuk tanah yang kita injak. Itu juga bagian dari litosfer."


"Lalu apa hubungannya dengan gunung-gunung itu?" Aristia ikut bertanya mengembalikan pembicaraan ke topik awal.


"Seperti yang tadi sudah kujelaskan, lempeng-lempeng tektonik itu selalu bergerak," Florence melanjutkan penjelasannya. Ia kemudian kembali mengajak para gadis cendekia berpikir, "Apa Kalian bisa membayangkan bagaimana jadinya jika tanah yang kita pijak selalu bergerak?"


"Gempa bumi," jawab Aria lirih tapi masih dapat didengar semua orang di kereta kuda.


"Kita tidak akan bisa hidup," Rosemary yang pertama menjawab.


"Tidak akan ada daerah yang bisa ditempati," Aristia berekspresi seakan seperti seorang yang baru menyadari hal besar.


"Kita tidak bisa membangun rumah," Mainne memberi kesimpulan yang mirip dengan Aristia.


"Itu benar. Karena itulah keberadaan gunung amat penting," Florence mulai kembali menerangkan maksudnya, "Gunung-gunung itu adalah pasak yang menahan pergerakan gunung. Semakin tinggi ia tumbuh, semakin dalam ia memaku bumi."


"Hebat, gunung-gunung itu adalah pahlawan," Aristia diikuti Mainne kembali melirik keluar jendela. Pegunungan Kaskas masih menghias di sana. "Apakah ada yang lebih hebat dari gunung?"


"Besi," Aria yang memberi jawaban. Kata-katanya sangat singkat, tapi tetap menarik perhatian Aristia, "Lalu apa yang lebih hebat dari besi."

__ADS_1


"Api," jawab Aria lagi. Ia tidak perlu menjelaskan panjang lebar karena Aristia dan Mainne yang paling penasaran dapat memikirkan logikanya sendiri.


"Besi dilelehkan oleh api, api dipadamkan oleh air, air ditiup oleh angin," Akilla melanjutkan jawaban Aria dengan lebih jelas, "Sedangkan mereka semua masih tidak sebanding dengan manusia yang bersedekah. Tangan kanannya memberi sedangkan tangan kirinya tidak mengetahui."


"Apa maksudnya?" Aristia tidak mengerti.


"Sehebat apapun makhluk-makhluk itu dalam hierarkinya, orang-orang yang bersedekah dengan ikhlas lebih baik di sisi Tuhan," Alice yang kali ini memberi jawaban, "Terlebih yang sembunyi-sembunyi sampai orang-orang di sekitarnya tidak mengetahui."


"Apa itu falsafah religius?" Rosemary mengerti maksud Alice.


"Mungkin? Bisa disebut begitu?" Alice menjawab dengan nada bertanya. Sepertinya ia masih belum yakin dengan istilah falsafah religius itu, tapi kedengarannya keren.


"Aku ada cerita yang berkaitan dengan sedekah," Anna yang sejak tadi menonton saja dengan tenang mulai bergabung dalam diskusi, "Apa Kalian mau mendengarkannya?"


"Tentu!" ucap Aristia semangat.


"Ini adalah kisah di zaman para rasul," Anna membuka ceritanya, "Tentang seorang yang amat kaya raya setelah sebelumnya ia miskin."


Anna berhenti sejenak. Ia memandangi para gadis cendekia yang menyimak dengan seksama. Mereka amat tenang mendengarkan.


"Tapi orang itu malah mengatakan kalau segala harta yang dimilikinya adalah hasil dari ilmu yang ia punya. Mungkin ia tidak tahu bahwa sebelumnya Tuhan telah membinasakan kaum-kaum yang lebih kaya dan lebih kuat darinya."


"Suatu ketika, ia pergi kepada kaumnya dengan penuh kemegahan sampai-sampai orang yang menginginkan dunia menjadi iri padanya. Mereka amat ingin seperti orang yang sangat kaya itu. Mereka pikir ia adalah orang yang beruntung."


"Berbeda dengan orang yang memiliki ilmu. Mereka menyadari bahwa kebaikan yang ada di sisi Tuhan itu lebih baik dan kekal."


"Maka, dibenamkanlah orang kaya itu bersama rumahnya ke dalam bumi. Tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya. Harta bendanya tidak berguna. Pasukan-pasukan penjaga tiada berdaya. Lantas apa gunanya ia menimbun harta yang tak berarti sama sekali."


"Begitulah akhirnya. Orang yang kikir itu berakhir dengan kemalangan," Anna menepuk kedua tangannya sekali saat mengakhiri cerita itu. Ceritanya cukup singkat, tapi sarat akan makna. Suasana menjadi hening sejenak setelah Anna selesai bercerita.


"Apakah kita merasa aman sedangkan Tuhan yang ada di langit dapat membuat kita tertelan bumi seperti orang kikir itu?" Alice bergumam pelan. Hanya Aria yang dapat mendengarnya. Gadis berambut perak itu pun mengelus pundak Alice dan berkata, "Tenanglah, itu ditunjukkan kepada orang-orang yang ingkar."

__ADS_1


"Hm," Alice mengangguk singkat. Ia pun menoleh keluar jendela. Pengunungan Kaskas masih setia menjadi penghibur matanya.


Para gadis mulai kembali bercerita. Jelas sekali mereka amat menikmatinya. Alice ikut senang mendengarnya.


...***...


Ibu Kota Kerajaan el Vierum, Mansion Menara Penyihir


"Lottie, aku pulang," seru Nana yang langsung memeluk Charlotte begitu disambut di depan mansion. Charlotte sedikit terkejut, tapi ia menyunggingkan senyum dalam pelukan kakak asuhnya itu.


"Bagaimana kabar, Kakak?" tanya Charlotte berbasa-basi. Nana melepas pelukannya dan menunjukkan wajah yang cerah. Leonius, kapten kesatria yang selama ini memimpin pembasmian makhluk sihir menggeleng tak percaya.


"Bukannya ia adalah wanita jahat yang kejam?" bisik seorang kesatria pada teman di sampingnya. Temannya itu mengangguk setuju. "Aku tidak percaya ia bisa memperlihatkan wajah secantik itu saat tersenyum."


Untung percakapan itu tidak terdengar sampai telinga Nana. Charlotte segera mengajak gadis penyihir berbakat itu untuk masuk, sementara para kesatria melanjutkan perjalanan ke Istana Ruby untuk melapor.


"Syukurlah iblis penghancur itu tidak ikut," ujar seorang kesatria dengan helaan napas lega.


"Yah, ini lebih baik. Akhirnya kita berpisah dengannya," balas yang lain.


Leonius yang mendengar setiap gerutuan para prajuritnya itu hanya dapat terdiam. Apa mau dikata? Itu memang salah Nana yang terlalu kejam dan haus darah selama pembasmian.


Di dalam Mansion Menara Penyihir, Charlotte dan Nana saling mengobrol. Sepertinya, sudah sebulan lebih mereka tidak bertemu. Terkadang Charlotte menggoda Nana, mencurigai kedekatannya dengan kapten kesatria.


"Penyihir wanita dan kapten kesatria," kata Charlotte senang, "Itu akan menjadi kisah romansa yang menyenangkan."


Tidak seperti yang Charlotte duga, ternyata Nana malah terkekeh. Ia membicarakan Leonius yang terlalu kaku dan dingin. Sikapnya itu sangat merepotkan bagi Nana.


"Mana mungkin aku tertarik padanya?" Nana menunjukkan ekspresi yang seolah mengatakan bahwa itu tidak mungkin. Ia lalu balik bertanya pada Charlotte. Sebuah pertanyaan yang membuat gadis berambut pirang platinum itu terdiam seribu bahasa.


"Bagaimana hubunganmu dengan Putra Mahkota el Vierum?"

__ADS_1


__ADS_2