Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Ulah Gadis Penyihir Itu


__ADS_3

"Kak Nana, ayo cepat," Charlotte dengan riang berlarian di tengah ladang yang luas. Ia mengenakan sebuah topi lebar berwarna putih yang terdapat hiasan bunga lili biru di atasnya. Gaunnya berwarna selaras, putih bersih bagai gaun peri di musim panas.


Nana berjalan dengan malas menyusul putri kedua Keluarga de Vool itu. Ia berkali-kali menghela napas setiap kali Charlotte memintanya bergegas. Sebenarnya, ia lebih suka rebahan saja di vila, tapi ia tak bisa menolak ajakan dari Charlotte. Lagi pula, ini memang tujuan awal mereka datang ke mari.


Musim panen akan segera tiba. Gandum-gandum yang ranum mulai menguning. Para petani pun beranjak menyiapkan segalanya. Count de Vool beserta keluarganya turut hadir melakukan pemantauan.


"Tahun ini akan menjadi musim panen yang bagus," gumam Count de Vool. Pria berkumis tebal itu memiliki sorot mata yang optimis. Di wajahnya terdapat banyak kerutan yang menandakan kalau ia sudah banyak bekerja keras untuk fiefnya. Wilayahnya itu menjadi salah satu lumbung padi utama di Kerajaan el Vierum.


"Ini semua berkat Tuan Count," pejabat yang bertugas mengaudit pendapatan hasil bumi memuji. Ia mengikuti pandangan Count de Vool yang menatap ke ladang gandum wilayahnya yang luas. Oh, bukan. Lebih tepatnya, Count de Vool sedang asyik mengamati putrinya bermain.


"Bukan, Andreas. Ini semua berkat usaha kita semua," Count de Vool merendah. Pekerjaannya hanyalah mengurus berbagai dokumen di kantor. Sesekali ia akan mengawasi transaksi perdagangan. Ia juga akan menyempatkan diri untuk melakukan peninjauan. Jika ia lelah, ia akan bermain dengan putri keduanya yang entah bagaimana selalu memancarkan hawa menenangkan.


"Nona Charlotte terlihat sangat bahagia," Andreas mengganti topik karena paham bahwa sang count lebih fokus pada putrinya.


"Kamu benar. Dia sangat bahagia," gumam Count de Vool lirih. Ia pun menunduk sedikit. Pandangannya menembus waktu ke masa lalu. Ia pun kembali bergumam, "Bagaimana bisa aku mengabaikan dia sebelumnya?"


"Nona memang banyak berubah sejak dapat menggunakan sihirnya," Andreas melihat Charlotte yang asyik menerbangkan dedaunan dengan sihirnya. Gadis itu sudah sampai di sebuah bukit yang dekat dengan ladang. Nana terlihat sedang susah payah menyusulnya, "Menara Penyihir bahkan menempatkannya di Laboratorium Istana. Itu adalah suatu kehormatan bagi County de Vool."


"Ya, Kamu benar," ucap Count de Vool lagi. Sekejap matanya menyala biru. Sebuah hawa yang menenangkan seakan baru saja merasuki dirimu.


Andreas juga memperhatikan banyak perubahan pada tuannya sejak nona kedua itu mulai membuka diri. Tuannya jadi terlihat lebih hangat dan perhatian. Anggota keluarganya yang lain pun juga begitu. Seolah musim semi selalu datang di dalam keluarga yang dekat dengan Menara Penyihir itu.

__ADS_1


Di balik senyumnya, Charlotte menyembunyikan kesedihan. Semua kehangatan dan musim semi yang diterimanya adalah kebohongan. Baginya itu hanyalah ilusi sihir belaka. Dalam hatinya selalu ada kekosongan. Kehangatan yang mereka berikan tak dapat mengisinya.


"Lottie, cepat ke mari. Ayo makan siang," panggil seorang gadis berambut pirang yang memiliki senyum seindah malaikat. Ia melambai-lambaikan tangannya. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya dengan senyum tipis hanya terdiam memperhatikan.


"Aku ke sana, Kak," jawab Charlotte senang. Gadis itu adalah kakaknya, Catherine de Vool. Dulu, ia bersikap amat dingin terhadap Charlotte. Akan tetapi, sihir telah mengubah dirinya. Ia menjadi sosok yang hangat sekarang. Yah, ia menjadi sosok yang kelihatan hangat sekarang. "Kak Nana, ayo naik."


"Apa sudah waktunya makan camilan?" Nana antusias. Di Keluarga de Vool, ia sangat disambut. Walau ia memiliki kebencian yang amat dalam terhadap bangsawan, ia tidak merasakannya di keluarga itu. Mungkin karena ia sering ikut serta dalam proses transaksi antara keluarga itu dan Menara Penyihir. Jadi, ia tidak merasa sangsi untuk berinteraksi dengan mereka.


"Ini sangat enak," Nana mencomot sepotong kue lapis yang sudah dikeluarkan dari keranjang bekal. Catherine dan Countess de Vool hanya tersenyum. Mereka pun ikut memakan jatah mereka.


Charlotte terdiam dulu untuk beberapa saat. Ia melihat kepalsuan dengan intuisinya yang amat peka. Padahal di awal-awal dulu, ia sangat menyukainya walaupun wajah-wajah itu hanya berbohong. Ia yang haus akan kasih sayang pun perlahan mengerti makna kehilangan yang sebenarnya. Ia sangat takut jikalau suatu saat nanti sihirnya tiba-tiba lenyap. Kasih sayang yang diterimanya pun juga akan lenyap.


Pasti akan lebih baik kalau ia benar-benar polos dan tidak mengerti segala kebohongan itu. Ia akan lebih tenang jika tak dapat melihat kepalsuan itu. Perasaan kosong ini mungkin juga akan hilang darinya.


"Semoga saja," gumam Charlotte lirih. Ia sudah menggigit sebagian Rati lapisnya. Roti itu berisi daging dan sayur-sayuran. Rasanya gurih dan segar.


"Toh, kalau sihirnya habis, aku tinggal menyihir mereka lagi," ucap Balqis enteng. Tubuh transparannya melayang di sekitar Charlotte. Ia ikut makan bersama gadis yang berkontrak dengannya itu.


...***...


"Kamu sudah dengar? Pemburuan kali ini akan diadakan di County de Vool. Kudengar di sana banyak tempat pariwisata. Ini pasti akan seru," ucap seorang murid di kelas Antonio. Nama 'de Vool' membuat pemuda itu bereaksi. Bayang-bayang wajah gadis penyihir dari keluarga itu pun menghampiri dirinya. Dia segera menggeleng-gelengkan kepala. Ia adalah seorang putra mahkota yang sudah memiliki tunangan.

__ADS_1


"Kak Solid belum pulang, ya?" gumam Antonio pelan sehabis pelajaran usai. Ia jadi merasa menyesal karena telah mengusir seniornya yang berisik itu. Ia malah merasa kesepian sekarang.


Sebuah wajah rupawan yang cantik kembali hinggap di pikiran Antonio. Rambut pirang platinum sosok itu bagai lautan gandum yang menguning. Bersama angin, ia menari-nari riang. Sosok itu semakin mengecil dan menjauh seakan ia akan segera hilang dari pandangan. Antonio langsung terkesiap saat tersadar. Lagi-lagi ia mengingat Charlotte de Vool.


"Sebenarnya, apa yang menarik dari gadis itu?" gumam Antonio di dalam kereta kudanya. Ia menatap ke luar. Dedauan pohon-pohon di pinggir jalan sudah memerah. Musim panas sudah mulai menyapa. Ini adalah hari terakhir studi. Acara pemburuan musim panas akan segera tiba. Antonio pun tanpa sadar berharap, "Di County de Vool, ya? Apa aku dapat bertemu dengannya di sana?"


Saat sampai di depan istana, Antonio melihat rombongan yang beremblem Istana Mutiara. Kabarnya, mereka sudah sampai di ibu kota sejak pagi buta tadi.


"Sais, arahkan kereta kudanya ke Istana Mutiara," kata Antonio begitu ia teringat dengan tunangannya. Sesampainya di sana, Antonio hanya mendapati orang-orang yang membereskan barang-barang saja. Ia pun bertanya pada seorang kesatria yang ikut membantu, "Di mana putri mahkota dan para gadis cendekia? Apa mereka sudah di dalam?"


"Oh!?" kesatria itu terkejut saat melihat Antonio yang menepuk punggungnya. Ia pun memberikan salam terlebih dahulu baru kemudian menjawab, "Para putri sedang di rumah sakit sekarang. Kalau...."


"Apa!? Apa yang terjadi?" potong Antonio sebelum kesatria itu menyelesaikan ucapannya. Kecemasan terlihat jelas di wajahnya. Para gadis itu sudah sampai sejak pagi tadi, mengapa ia tak mendengar kabar apa pun?"


"Maaf, Yang Mulia. Mohon tenangkan diri Anda," kesatria itu menghela napas. Ia pun menjelaskan situasinya di Kota Aurelis. "Nona Hamra tiba-tiba sakit. Jadi, sebagian rombongan dipulangkan, sementara Putri Mahkota el Vierum masih mengurus masalah di kota itu."


"Jadi, itu belum selesai, ya? Dia masih di sana?" tanya Antonio lirih. Kesatria itu pun mengangguk. Tanpa bertanya apa-apa lagi, Antonio pun kembali ke kereta kudanya.


Kusir tak berani bertanya saat Antonio kembali begitu cepat. Ia langsung mengikuti perintah untuk mengantar pangeran muda itu ke Istana Ruby.


Selama perjalanan pulang, Antonio diliputi oleh kekalutan. Tunangannya sangat berbakat. Mereka seakan berada di dunia yang berbeda sekalipun ia adalah putra mahkota. Saat gadis itu sudah mengurus urusan pemerintahan, ia masih saja diam menunggu acara pemburuan. Ia benar-benar merasa tak berguna. Ia merasa tak pantas bersanding dengannya.

__ADS_1


Melissa melihat Antonio yang pulang dengan wajah muram dari kantornya. Ia malah tersenyum senang. Dengan suara yang teramat pelan, ia pun merapalkan mantranya. Sihirnya lagi-lagi telak mengenai pemuda itu. Dengan begini, rencananya pun akan berjalan semakin mulus. Tinggal menunggu kematian sang ratu.


__ADS_2