Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Bab 012: Anak-Anak Kembar


__ADS_3

Kota Cordovia, sepekan lebih setelah Alice vi Alverio menghilang—


"Kenapa dia masih belum bangun juga?" tanya seorang gadis ayu dengan raut khawatir di wajahnya. Dilihat sekilas, gadis itu mirip dengan Alice, tapi dengan paras yang lebih dewasa. 


"Tenang saja, Alicia," balas seorang pemuda yang duduk di samping gadis itu, "Kata tabib, kondisinya sudah semakin membaik."


"Arnus!" Alicia tak suka dengan sikap enteng saudara kembarnya itu, "Tapi ini sudah hampir seminggu!”


“Sudah lebih malah,” balas pemuda yang dipanggil Arnus, “Kalau dihitung dengan waktu perjalanan menuju ke kota ini, ia sudah pingsan selama sepekan lebih. Tapi, aku sudah memberinya pengobatan darurat saat mampir di kampung pedalaman Hutan Kaskas. Saat itu, kondisinya sangat kritis. Melihat ia yang bisa tidur dengan nyenyak seperti sekarang, berarti kondisinya sudah semakin membaik.”


“Apanya yang membaik?” Alicia tak percaya, “Kalau dia sudah membaik, harusnya dia sudah sadar sekarang.”


Suara cempreng Alicia sangat nyaring. Gadis cerewet itu tak henti-hentinya protes pada Arnus. Padahal, pemuda itu tidak salah sama sekali, bahkan bila ia gagal menyelamatkan Alice vi Alverio malam itu.


“Kakak,” sebuah suara yang lirih, tapi jelas terdengar menghentikan omelan Alicia. Gadis itu pun menoleh. Detik kemudian, Arnus berkata, “Lihat, kan? Dia sudah sadar sekarang?”


“Ha?!” Alicia menampar kedua pipinya pelan. Gadis itu sungguh terkejut, tapi juga senang. Ia sudah menunggu-nunggu Alice vi Alverio yang merupakan sepupunya tersebut siuman.


“Bagaimana kondisimu?” tanya Arnus lembut, “Apa ada yang sakit atau pusing?”


“Ini di mana?” bukannya menjawab pertanyaan Arnus, Alicia malah balik bertanya.


“Di rumah,” Alicia yang menjawab. Ia pun membantu Alice yang berusaha untuk duduk. Setelah itu, ia segera menyodorkan segelas air putih pada gadis itu.


“Hm?” Alice mengedipkan matanya dua kali. Ada ekspresi bingung di wajahnya. Ia pun bertanya singkat, “Siapa?”


“Aku Alicia Mutia el Janna,” jawab Alicia memperkenalkan diri, lantas menepuk saudara kembarnya dengan keras, “Ini Arnus Hamza el Janna. Kita kerabat dekat loh.”


“Aduh!” tepukan–tidak, pukulan Alice terlalu keras sampai membuat Arnus langsung melotot padanya, “Hai! Sakit tahu!”


“Cih!” Alicia berdecak lirih, “Padahal itu cuma tepukan ringan.”

__ADS_1


“Ringan apanya?” Arnus tak terima dengan klaim Alicia, “Kamu sengaja memukulku keras-keras, kan?”


“Dasar manj–” Alicia hampir saja mengejek saudara kembarnya, tapi sebuah panggilan membuat ucapannya tertahan.


“Arnus, Alicia,” panggil suara itu, “Jangan berisik. Kasihan Alice yang baru istirahat.”


Alice ikut menoleh ke asal suara itu. Mata merah rubynya terbelalak seketika. Dadanya pun tiba-tiba menjadi sesak. Dilihatnya sosok seorang wanita anggun berambut merah terang, bermata ruby, dan berparas ayu.


"Bunda!" Alice langsung bangkit dari ranjangnya dan berlari ke arah wanita itu. Dipeluknya wanita itu dengan penuh kerinduan. Wanita yang ia peluk pun membalasnya pula pelukannya. 


"Ternyata Alice sudah bangun, ya," ucap wanita itu.


"Ini karena Alicia mengomel terlalu keras," Arnus melapor, "Suaranya pasti mengganggu Alice."


"Bunda," Alicia tak diam saja dituduh begitu, "Aku hanya khawatir pada Alice, tak berniat mengganggunya sama sekali."


"Iya, Sayang," wanita yang dipanggil bunda oleh Alicia itu tersenyum simpul, lalu menaruh telunjuk di  depan bibirnya. Tangan kirinya menepuk-nepuk pundak Alice yang sedang menangis tersedu-sedu. Ia adalah Elianna el Janna, saudari kembar dari Duchess Evianna vi Alverio.


"Hm, dia tidur lagi?" Arnus memperhatikan Alice ketika tangisan gadis kecil itu tak lagi terdengar. Ia pun mendongak pada ibunya dengan wajah penuh tanda tanya. Setelah itu, ia menoleh kepada saudari kembarnya.


“Apa?” tanya Alicia ketus. Tampaknya, gadis itu masih marah pada saudaranya. Ia pun membuang wajah tanpa sebab yang jelas.


"Dia masih capek," jelas Elianna yang kemudian membopong Alice kembali ke kasurnya, “Kalian keluar dulu, ya. Biar adik kalian istirahat dulu.”


“Hm, oke,” Arnus mengangguk patuh. Ia pun berjalan ke luar diikuti Alicia. Begitu melewati pintu, ia langsung memprovokasi saudarinya lagi, “Aku bilang juga apa? Dia pasti akan bangun. Kamu yang malah ganggu dia.”


“Aku kan cuman khawatir,” balas Alicia berdalih meski merasa bersalah.


“Sudahlah, yang penting dia salamat,” Arnus pun menepuk pundak saudarinya, “Kita cukup berdoa. Semoga kondisinya dapat segera membaik.”


“Hm,” Alicia mengangguk setuju, “Kamu benar. Semoga dia segera membaik.”

__ADS_1


Alicia dan Arnus berjalan di lorong istana yang panjang. Mereka adalah Putri Pertama dan Pangeran Kedua dari Kerajaan el Janna, sebuah kerajaan besar yang terletak di balik Pegunungan Kaskas yang besar. Merekalah yang menyokong Keluarga Saville sehingga dapat menjadi pedagang besar berskala internasional. Sebagai gantinya, Keluarga Saville berkontribusi untuk menjaga celah gunung dan menutupi keberadaan Kerajaan el Janna dari wilayah lain.


“Hai, Arnus, Alicia,” panggil seorang pemuda yang tiba-tiba muncul dari balik persimpangan, “Kalian habis dari tempat bocah gadis itu, kan? Bagaimana kondisinya sekarang?”


“Dia sudah sempat bangun tadi,” jawab Arnus, “Sekarang, dia sedang beristirahat di kamarnya.”


“Arman juga penasaran dengannya?” Alicia menatap heran.


“Jangan anggap aku tidak peduli seperti itu,” Arman merasa tersinggung dengan tatapan itu. Ia adalah Pangeran Pertama, kakak tiri dari Alicia dan Arnus. Namun, usia mereka tidaklah berbeda jauh, hanya terpaut tiga bulan. “Bagaimanapun juga, sepupu kalian juga sepupuku.”


“Ya, tunggu saja kabar selanjutnya,” Arnus pun mengajak Arman untuk pergi. Mereka kakak adik seayah beda ibu. Jika mereka dikenakan pakaian yang sama, orang-orang pasti berpikir bahwa mereka adalah anak kembar meskipun wajahnya tak persis sama. Karena itu, terkadang Alicia merasa iri karena hidup sebagai satu-satunya putri di Kerajaan el Janna. Begitu Arnus pulang membawa Alice, ia jadi langsung merasa senang karena punya adik perempuan.


“Omong-omong,” Arman jadi kepikiran sesuatu, “Aku nggak pernah menyangka bahwa adikku ini akan membawa seorang gadis sepulangnya dari perjalanan keluar.”


“Aku kan sudah cerita,” Arnus merasa kesal karena Arman tiba-tiba menyinggung hal itu, “Aku tak sengaja melihatnya dalam bahaya di pedalaman Hutan Kaskas. Dia hampir dimakan serigala raksasa kala itu.”


“Hm, hm,” Arman manggut-manggut, lalu menoleh pada Alicia untuk memberinya kode, “ Itu sungguh menarik.”


“Haha, seperti cerita pangeran dalam dongeng,” Alicia langsung mengerti maksud dari kode yang kakak pertamanya berikan, “Arnus, apa kamu akan menikahinya di masa depan?”


“Hmph!” Arnus berpaling tak peduli, “Mana ada dongeng kayak gitu?”


“Ada,” sahut Arman dengan senyum usil di wajahnya, “Bukannya cerita itu mirip kisah ayahanda dan ibunda kalian?”


“Ha?!” Alicia berpura-pura baru sadar, padahal dialah yang menyebarkan cerita itu, “Benar juga. Arnus, kamu romantis sekali.”


“Ck, dasar!” decak Arnus yang mulai kesal dengan candaan saudara-saudarinya, “Dia itu sudah punya tunangan tahu.”


“Kan baru tunangan,” Alicia menimpali dengan senyum usil yang sama seperti Arman, “Siapa yang tahu masa depan? Aku mau loh dia jadi adikku beneran.”


“Ck!” Arnus kembali berdecak, lalu mempercepat langkahnya untuk mengabaikan kedua pengganggu itu, “Apaan sih kalian?”

__ADS_1


__ADS_2