Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Para Pemuda itu


__ADS_3

"Jadi, kamu akan ke ibu kota sekarang?" Marchioness Rubia berdiri dengan sebuah tongkat yang menopang tubuhnya. Ia didampingi calon kepala Keluarga van Ryvat selanjutnya yang merupakan seorang pria paruh baya. Pria itu adalah kemenakannya. Ada juga Ramirez van Ryvat di sampingnya.


"Benar," Derrick hanya mengangguk.


"Tolong menetaplah sedikit lebih lama di ibu kota kali ini," pinta Marchioness Rubia. Ia yakin Alice butuh pemuda itu untuk melindunginya. Sebagai seorang kakak, ialah yang paling pantas menjaganya.


"Begitulah rencanaku sedari awal. Terima kasih telah menyambut saya dengan baik di sini," Derrick pun berpamitan. Ia lantas berangkat setelah mendapat doa dari neneknya. Bersama selusin kesatria yang mengawalnya, ia meluncur ke ibu kota.


Perjalanannya berkali-kali lebih cepat dari perjalanan Alice. Kuda-kuda yang dikendarai rombongannya lebih leluasa melaju. Mereka sampai di ibu kota dalam empat hari.


"Keselamatan atas Tuan Duke Muda vi Alverio," sambut butler di kediaman. Derrick menuju ke mansion keluarganya tanpa mampir ke Istana Ruby dulu. Yah, begitulah kebiasaannya. Ia tidak akan singgah di sana sebelum diingatkan. Secara tersirat, ia ingin menyampaikan kepada kerabatnya dari Keluarga Kerajaan el Vierum bahwa mereka membutuhkan Keluarga Duke vi Alverio.


"Kakak, selamat datang," sambut Alice ketika Derrick sampai di aula kediamannya. Gadis itu terlihat sehat dan ceria. Tidak ada tanda-tanda kalau ia kelelahan dan sebagainya. Mungkin kondisi Duke vi Alverio sudah membaik lebih dari yang dikira.


"Bagaimana kondisi ayah?" tanya Derrick berbasa-basi. Wajahnya yang datar sudah biasa Alice lihat. Jadi, gadis itu tidak merasa terbebani sama sekali.


"Syukurlah ayah sudah membaik," Alice menjawab dengan senyum yang tersungging indah bak peri yang menyerbuk bunga. Ia sangat bahagia karena ayahnya subuh dengan cepat. Namun, ia memberi peringatan, "Walau begitu, ayah masih harus beristirahat lebih banyak."


"Aku tahu. Baguslah kalau ayah sudah sehat," Derrick tersenyum tipis melihat keceriaan adiknya. Senyum dari gadis kecil itu menular. Ia membawa kebahagiaan bagi orang-orang yang melihatnya.


"Kamu datang, Putraku?" Duke vi Alverio memastikan penglihatannya benar. Barangkali ia masih bermimpi dan melihat putra semata wayangnya yang jarang ia temui. Padahal ia adalah pewaris tunggal Keluarga vi Alverio. Bakatnya hebat dan ia cakap dalam urusannya. Duke vi Alverio sungguh menyesal tidak dapat lebih dekat dengan anak-anaknya.


"Saya di sini, Ayah," jawab Derrick dengan wajahnya yang sedingin es. Ia sangat mirip dengan Duke vi Alverio di masa muda dulu. Tidak sembarang orang bisa mendekatinya. Ia sangat disegani dan berwibawa.

__ADS_1


"Kamu sudah tumbuh sangat cepat, ya?" Duke vi Alverio memperhatikan anaknya dari atas sampai bawah. Pemuda itu lebih tinggi dari anak-anak seusianya. "Kamu yang dulu bahkan tidak lebih tinggi dari pinggangku."


"Ayah juga menua sangat cepat. Padahal umur Ayah masih empat puluh tujuan. Tolong jangan terlalu memaksakan diri Anda," ucapan Derrick dipenuhi sindiran seperti biasa. Gaya bahasanya sangat mirip dengan Duchess vi Alverio, ibundanya tercinta. Sangat menusuk walaupun halus nada bicaranya. Ia pun mengakhiri kalimatnya dengan berkata, "Kalau Ayah sakit terus begini, Alice pasti akan sangat bersedih."


"Apa kamu tidak nggak sedih kalau ayah sakit?" tanya Duke vi Alverio tersenyum kecut. Ia membalas sindiran Derrick. Derrick pun membalas enteng dengan nada sindiran yang tulus, "Saya pasti sangat bersedih. Namun, mungkin saya terlalu sibuk sampai telat mendengar kabar tentang kondisi ayah. Mohon maklumi buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya ini."


Maksud Derrick, ia mungkin akan menyibukkan dirinya untuk menghindari segala pikiran buruk. Persis seperti yang ayahnya lakukan dulu saat Duchess vi Alverio meninggal. Ia hanya meniru saja.


"Haha, kamu benar. Ayah minta maaf karena tidak dapat memperhatikan kalian lebih baik dari ini," Duke vi Alverio menghela napas. Ia pun terdiam. Matanya terpejam dan menelusuri masa lalu. Kenangan indah bersama istrinya bermunculan menghiasi hatinya. Ia pun terlelap dengan wajah tersenyum.


"Ayo, keluar," ajak Derrick dengan lirih. Alice yang sejak tadi hanya terdiam memperhatikan obrolan ayah dan kakaknya mengangguk. Mereka pun keluar bersama dengan langkah sunyi.


"Alice, teman-teman dah sampai di tempat acara," di lorong menuju ke luar rumah, mereka bertemu Akilla yang datang dengan wajah sumringah. Gadis berkerudung itu membawa selembar surat berkertas putih yang datang dari para gadis cendekia. Saking senangnya, ia tidak menyadari keberadaan Derrick.


Derrick pun membalasnya dengan salam yang setara. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan gadis itu. Dilihatnya sekilas wajah Akilla yang buru-buru membungkukkan muka.


Gadis berkerudung itu punya pancaran yang berbeda dengan kebanyakan gadis bangsawan. Ia menutup mahkota dan perhiasannya sehingga terjagalah muruah dirinya. Begitulah ia diajarkan sedari kecil tentang menjaga kehormatan sebagai seorang wanita.


Derrick sempat merona tipis saat memikirkannya. Untung Alice tidak melihatnya berekspresi demikian. Kalau saja adiknya yang peka itu meliriknya barang sedikit saja, gadis itu pasti tahu apa yang dipikirkannya.


"Kakak, kami pergi dulu," pamit Alice. Akilla mengajaknya ke taman saat Derrick sibuk dalam lamunannya. Mereka ingin membalas surat para gadis cendekia bersama-sama.


Dengan topeng wajah yang melekat erat, Derrick mengangguk. Di wajahnya yang dingin terdapat senyum tipis nan samar. Saat kedua gadis itu pergi, barulah Derrick bernapas lega dan melepas topengnya.

__ADS_1


...***...


Saat kehangatan meliputi Kediaman Keluarga vi Alverio, sebuah situasi yang canggung mewarnai komplek perkemahan yang disiapkan Count de Vool selaku penanggung jawab acara pemburuan.


"Apa? Dia tidak ikut dengan kalian?" tanya Antonio dengan serius di depan tenda Istana Mutiara. Ia segera datang saat mendengar kabar datangnya rombongan putri mahkota itu. Pangeran muda itu ingin lekas bertemu dengan tunangannya untuk berbincang.


"Sebagaimana yang Anda lihat, tuan putri tidak ada bersama kami," jelas Rosemary yang menatap Antonio dengan dingin. Nama baik si putra mahkota telah tercoreng di benaknya. Ia tidak berniat menunjukkan rasa hormat yang tinggi. "Duke vi Alverio sedang sakit. Jadi, tuan putri membatalkan keberangkatannya."


"Dia bohong, ya?" gumam Antonio lirih. Ia ingat isi surat Alice. Gadis itu bilang akan datang. Antonio pun jadi merasa kecewa dengannya.


"Yang Mulia, jaga kata-kata Anda!" kecam Rosemary dengan suara yang tidak terlalu besar maupun kecil. Rupanya ia dapat mendengar gumaman lirih Antonio. Ia tidak bisa menerima penghinaan terhadap tuan putrinya itu. "Jika bukan karena situasi yang mendesak, beliau pasti datang bersama kami."


Antonio tersentak. Ia sangat terkejut dengan hawa intimidasi yang Rosemary pancarkan. Mata gadis itu menatap tajam seperti harimau yang menatap rubah. Dengan sedikit gerakan saja, mungkin ia akan diterkam dan mati seketika.


Solid yang menemani Antonio bahkan segera memalingkan wajah. Ia sangat takut dengan ekspresi gadis Keluarga vi Cornelia itu. Apalagi sejak pengusirannya di Kota Aurelis yang lalu.


"Ck! Aku tahu. Aku bisa memakluminya kali ini," Antonio membuang muka dengan kesal. Ia berusaha menjaga harga dirinya dengan tidak terlihat rendah di depan gadis yang merupakan tangan kanan tunangannya itu. Tanpa banyak berkata lagi, ia pun pergi meninggalkan perkemahan Istana Mutiara.


"Solid," panggil Rosemary sebelum calon kesatria muda itu mengikuti Antonio.


Solid yang dipanggil seketika bergidik. Ia langsung menghadap Rosemary dengan wajah yang dihias senyum guna menyembunyikan kegugupannya. Ini aneh. Entah sejak kapan ia begitu segan pada gadis itu.


"Sampaikan padanya untuk tidak bertindak macam-macam lagi," pesan Rosemary yang dibalas anggukan oleh Solid.

__ADS_1


"Aku pasti menyampaikannya. Kamu tidak perlu cemas," ucap Solid dengan percaya diri, "Aku akan mendidiknya dengan baik."


__ADS_2