
Charlotte membuka matanya perlahan. Saat ingatan terakhirnya muncul kembali, ia segera terperanjat dan berteriak. Teriakannya sampai membuat Charles yang bosan menunggu terkejut.
"Kamu bangun juga akhirnya," ucap Charles diikuti helaan napas lega. Ia pun berdiri dan berjalan mendekati gadis yang masih ketakutan itu. Setelah urusan di sini selesai, ia akan langsung membuat perhitungan dengan Solid.
"Si—siapa?" tanya Charlotte dengan tubuh yang masih saja getaran. Ia sangat menyesal telah kabur dari rumah dan tidak menurut pada ayahnya. Gadis penyihir kecil itu hanya ingin segera pulang ke rumah sekarang.
"Tenang saja. Aku bukan orang jahat yang menangkapmu tadi siang," jawab Charles asal. Ia masih kesal dengan Solid. Jadi, begitulah lisannya berkata, "Aku akan menghajar orang jahat itu nanti. Kamu tidak perlu cemas. Oh, ya. Siapa namamu, Gadis Kecil?"
"Char—Charlotte de—," Charlotte ingin menyebut nama keluarganya, tapi ia masih ragu. Pemuda di depannya itu memang terlihat baik. Ia juga tidak merasakan permusuhan darinya. Mungkinkah tidak masalah untuk percaya padanya.
"Kamu seorang bangsawan? Dari keluarga mana kamu?" lanjut Charles. Ia menyadari ketakutan Charlotte. Jadi, ia berkata dengan nada selembut mungkin untuk mendapat informasi. Dalam hati, ia merutuki Solid yang menyeretnya ke dalam masalah ini. "Ini semua salah bocah itu!"
"Charlotte de Vool," jawab Charlotte saat benar-benar yakin kalau pemuda berwajah ramah itu bukan musuhnya. Mata hijaunya berkaca-kaca hendak menangis. Ia ingin memohon pada pemuda itu untuk mengantarnya pulang, tapi ia masih tetap takut.
"De Vool? Apa kamu putri dari tuan rumah pemburuan kali ini?" tanya Charles memastikan.
Charlotte mengangguk kuat. Tangisnya nyaris pecah. Namun, ia berusaha menahannya sekuat tenaga.
"Hah ... aku mengerti. Kita ada di perkemahan sekarang. Hari sudah hampir malam. Apa kamu ingin segera pulang?" Charles menawarkan. Ia tidak tega melihat gadis itu menangis. Putra Marques von Martinez itu tak seperti Solid van Denburg yang tega meninggalkan gadis kecil tak berdaya di sembarang tempat.
"Tuan Muda, matahari hampir tenggelam. Lebih baik Anda tunda dulu sampai besok pagi," tabib tua yang tadi siang merawat Charlotte tiba-tiba masuk dan memberi saran, "Jika Anda pergi sekarang, mungkin gerbang kota sudah ditutup ketika Anda sampai di sana."
"Begitu, ya? Nona de Vool, bagaimana menurutmu?" Charles tetap meminta pendapat Charlotte. Ia bisa saja mengantarkannya walaupun pintu gerbang sudah ditutup nanti. Lagi pula, gadis itu adalah putri penguasa kota.
Charlotte hanya terdiam. Ia memang ingin segera pulang. Namun, kalau ia pulang sekarang, mungkin ia akan dapat masalah besar dan tetap dijadikan citra pusat di acara puncak besok.
"Apa kamu tetap ingin pulang sekarang?" tanya Charles lagi.
__ADS_1
Setelah berpikir cukup lama, Charlotte akhirnya menggeleng. Ia ingin tetap di perkemahan ini daripada repot berdebat dengan ayahnya nanti. Apalagi dengan Nana, tersangka paling kuat yang diduga dalang dibalik semua masalah ini.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke perkemahan murid putri Akademi Kerajaan," Charles memberi solusi, "Kamu tidak keberatan kan?"
Charlotte mengangguk. Ia pun bangkit dari ranjang rawatnya dan merapatkan kain yang sejak pagi dipakainya sebagai jubah. Untung kain dan gaun tidurnya tidak diganti sama sekali
"Ayo ikuti aku," Charles pun pergi keluar tenda rawat bersama Charlotte yang mengekor di belakangnya. Tabib di dalam tenda hanya menatap sepasang anak bangsawan berambut pirang itu dalam diam. Ia sama sekali tidak mengira kalau Charlotte adalah putri penguasa kota. Padahal Charles sudah menyebutnya tadi.
"Lottie, jangan pakai sihirmu selama di perkemahan ini," bisik sebuah suara dalam hati Charlotte.
"Balqis? Ada apa memangnya?" balas Charlotte dalam batinnya. Ia berjalan dengan menunduk. Tangan kanannya mencengkeram jubah Charles. Ia tidak ingin berpisah dengan pamuda itu di perkemahan yang ramai ini.
"Aku tidak tahu. Untuk sementara, aku akan pergi dan kamu tidak akan bisa menggunakan sihir," jawab Balqis, "Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa tidak nyaman di sini. Kamu bisa mengandalkan pemuda itu jika ada apa-apa. Kurasa, dia orang yang baik."
"Hm," Charlotte mengangguk setuju. Tanpa disadarinya, mereka telah sampai di komplek tenda murid putri Akademi Kerajaan. Charles pun berbicara dengan salah satu gadis di sana.
"Apa dia adikmu?" tanya gadis yang mengobrol dengan Charles. Pemuda itu pun menggeleng dan menjelaskan identitas Charlotte. Gadis yang diajaknya bicara malah terkejut dan asal bertanya, "Bagaimana bisa kamu menculik putri penguasa kota di sini!?"
"Kalian berkomplot menculiknya? Ya ampun ... apa kalian tidak bisa berhenti membuat masalah?" sebenarnya Adel sudah mengerti. Ia hanya ingin sedikit menggoda pemuda paling dingin di antara tiga serangkai yang terkenal di akademi itu.
"Jangan libatkan aku dengan perbuatan Solid dan Swan. Aku selalu menjadi korban dari perbuatan mereka. Bagaimana bisa kalian memfitnahku dengan kejam begini?" protes Charles yang mulai jengkel. Yah, begitulah nasibnya. Hanya karena dekat dengan dua orang pembuat olah itu, ia jadi dikenal sebagai komplotan mereka.
"Oke-oke, aku mengerti. Apa dia akan jadi tunanganmu?" Adel kembali bertanya asal menggoda. Namun, melihat ekspresi Charles yang galak, ia segera menariknya. Ia pun menyanggupi permintaan pemuda itu untuk menjaga Charlotte selama satu malam, "Serahkan saja padaku. Kami akan merawatnya dengan baik."
"Nona de Vool, kamu bisa tenang sekarang," ucap Charles dengan lembut. Adel mengamatinya dengan seksama. Pemuda itu mengusap rambut pirang platinum Charlotte dan berkata, "Aku akan menjemput dan mengantarmu ke kota besok."
"Ya ampun, Tuan Muda. Ternyata putra dari Keluarga von Martinez bisa romantis seperti itu," goda Adel yang tidak kapok mesti melihat Charles yang menatapnya tajam. Ia pun memalingkan wajahnya ke Charlotte dan mengajaknya masuk sebelum Charles memarahinya lagi.
__ADS_1
"Bagaimana aku memanggilmu? Char? Lottie?" tanya Adel dengan ramah, "Aku Adelina di White. Putri Earl di White."
"Lottie," jawab Charlotte dengan wajah yang terlihat gelisah. Ia menatap arah Charles pergi. Gadis yang kini jadi anak biasa itu pun bertanya, "Ke mana dia akan pergi?"
"Hm? Maksudmu Charles von Martinez itu? Dia hanya akan kembali ke tendanya," jawab Adel dengan senyum manisnya, "Kamu tenang saja. Seperti katanya, ia akan menjemputmu besok. Bagaimana kalau kita saling bercerita dan mengobrol setelah ini?"
Charlotte pun mengangguk. Berita kedatangannya bersama Charles menyebar cepat ke seantero perkemahan, tapi tidak sampai ke kota. Padahal keluarganya sangat gelisah dan khawatir di sana.
Charlotte tidak pernah menyangka akan disambut seramah ini oleh para murid putri Akademi Kerajaan. Sebelumnya, ia harus menggunakan sihir agar orang-orang mau memperhatikannya. Karena itu, ia selalu merasakan kepalsuan dan kekosongan.
Namun, tempat ini berbeda. Orang-orang sangat hangat padanya. Mereka sudah seperti keluarga. Padahal ini adalah pertama kalinya mereka saling bertemu.
"Hai-hai, bagaimana kamu bertemu si Muka Datar itu hari ini?" tanya seorang gadis. Di Akademi Kerajaan, Charles adalah orang ketiga yang paling dikagumi setelah putra mahkota dan Solid. Pemuda itu terkenal dengan kecuekannya. Apalagi dengan lawan jenis.
"Aku nggak tahu," Charlotte menggeleng. Ia benar-benar tidak tahu. Saat terbangun, pemuda itu sudah ada di sampingnya. Jadi, ia pun menjawab, "Dia bilang akan menghajar orang jahat yang menangkapku tadi siang."
"Apa!? Jadi, kamu benar-benar diculik? Lalu, Tuan Muda von Martinez menyelamatkanmu?" seru gadis yang lain heboh. Adel tertawa geli. Ia tahu siapa orang jahat itu dari Charles.
"Sangat romantis. Sayangnya kamu masih terlalu muda," kata gadis yang lain.
Kali ini Adel tidak tertawa dan memikirkannya dengan serius seperti seorang detektif. Jika melihat perilaku Charles yang hangat pada gadis itu, bisa saja ini menjadi kisah paling romantis sepanjang abad. Ia bahkan mulai berpikir kalau tipe Charles adalah yang lebih muda.
Benar! Pasti begitu. Kisah seorang tuan muda yang menyelamatkan seorang gadis dari penjahat. Ternyata penjahat itu adalah kawannya sendiri. Kemudian, tuan muda dan gadis itu menjadi pasangan dan hidup bahagia selamanya.
Adel manggut-manggut setuju dengan imajinasinya. Ia mungkin bisa menjadi seorang novelis ternama setelah ini. Itu bukanlah hal yang sulit.
"Permisi," sapaan lembut seorang gadis menarik Adel dari lamunannya. Seorang gadis berambut keperakan memasuki tenda. Di wajah gadis itu ada keteduhan. Ia adalah salah satu gadis tahun kedua yang paling populer di Akademi Kerajaan. Ia berkata mengutarakan maksud kedatangannya, "Kudengar Putri Keluarga de Vool ada di sini. Belohkah aku mengobrol dengannya?"
__ADS_1
Charlotte terpesona melihat gadis berambut perak itu. Bukan karena kecantikan maupun keelokan parasnya, melainkan karena statusnya yang amat Charlotte kagumi. Tidak mungkin ia tidak mengenal gadis itu.
Gadis itu adalah perwakilan dari Istana Mutiara. Seorang gadis cendekia yang rumornya akan mewarisi ketenaran Sang Putri Srikandi. Ia adalah Aria de Ernest.