
"Selamat datang, Tuan," sambut seorang pria berjubah selutut dengan riang. Senyumnya lebar mengembang. Ia memiliki janggut yang panjang dan tebal. "Oh, apakah ini Sifer? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?"
"Aku selalu sehat, Bos," ucap Sifer setelah memuji Tuhan.
"Dan siapa anak muda ini? Aku melihat kilauan masa depan yang cerah di wajahnya," pria yang dipanggil Bos itu mengulurkan tangan pada Derrick tanpa tahu bahwa ia adalah seorang tuan muda. Derrick menerimanya saja tanpa banyak protes. Lagi pula, ini bukan Kerajaan el Vierum.
"Derrick, senang bertemu denganmu," jawab Derrick tanpa menyebut marganya.
"Aku Yahya. Senang juga bertemu denganmu," pria itu memperkenalkan dirinya dengan akrab. Derrick kesusahan mengeja namanya. Pria itu pun terkekeh lalu berkata, "Anda bisa memanggilku John saja. Itu pasti lebih mudahmu."
"John? Yah, itu benar," Derrick sedikit bingung. Namun, ia menerimanya.
"Yo, Bos. Aku pesan seperti biasa," Sifer berseru riang, "Bagaimana denganmu?"
"Entahlah, berikan saja makanan yang kamu rekomendasikan," jawab Derrick. Ia tidak terlalu mengerti dengan aksara di menu. Ia hanya melihat gambarnya yang sangat bagus dan menarik. Kelihatannya semua makanan itu enak.
"Oke, kalau begitu akan kusamakan saja. Dua chuleton dan es lemon akan segera siap," seru John senang. Ia pun beranjak ke dapurnya. Kebetulan waktu sarapan sudah lewat, jadi hanya tersisa dua pelanggan itu di restorannya pagi ini.
"Chuleton? Apa itu?" Derrick memicingkan mata. Ia pun mengulurkan menu yang sejak tadi dipegangnya. Ia ingin tahu gambar makanan yang dipesannya.
"Ini dia," Sifer menunjukkan sebuah gambar yang terlihat seperti daging panggang di sana, "Yah, itu adalah daging iga sapi yang dipanggang sempurna. Rasanya sangat enak. Kamu akan mengerti nanti."
"Benarkah? Aku sudah sering merasakan daging seperti ini," Derrick mengambil lagi daftar menunya. Ia ingin menghabiskan waktu dengan melihat-lihat hal yang menarik baginya.
"Oh, ini adalah daging iga spesial," Sifer membanggakan makanan langganannya, "Jaminan halal dan baiknya adalah yang terpenting."
"Halal?" Derrick menemukan lagi salah satu kosa kata yang tidak ia mengerti.
__ADS_1
"Maksudnya diizinkan baik dari materinya sendiri maupun faktor lainnya seperti cara mendapatkan dan menyembelihnya," jelas Sifer. Ia menjelaskan banyak hal kepada Derrick. Pengetahuannya mengenai kebudayaan Saville dan Kerajaan el Vierum sangat luas. Sesekali ia melakukan perbandingan dengan Derrick.
"Ini dia, dua chuleton dan es lemon," John datang dengan riangnya, "Silakan dinikmati. Jangan lupa untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan."
Derrick pun mulai mengiris daging di hadapannya. Aromanya sedap. Teksturnya renyah. Saat digigit, dagingnya terasa lembut. Ini memang berbeda dengan daging yang biasanya ia makan.
"Benar kan? Aku yakin kamu pasti suka," ucap Safir bangga, "Ini adalah produk unggulan di sini."
"Yah, aku memang suka," balas Derrick sambil tetap menikmati makanannya, "Rasanya nostalgia. Aku pernah makan yang seperti ini dulu."
"Wow, di mana?" tanya Safir guna menyambung percakapan. Sebenarnya ia tidak terlalu penasaran. Itu adalah salah satu cara menjalin dan mempererat interaksi saja.
"Di restoran Saville. Ini memang produk yang sama. Ibuku juga suka daging ini," jawab Derrick. Ia pun mulai tenggelam dalam perenungannya. Tak ada lagi yang bicara. Masing-masing sibuk dengan sarapannya sendiri.
"Halal. Ibu juga pernah mengucapkan kata itu dulu," gumam Derrick dalam hatinya. Ia merasakan setiap tusuk daging yang diambilnya sambil mengingat masa lalu. Ia yakin saat itu Alice masih bayi dan sangat kecil. Akan tetapi, mata merahnya sangat cerah dengan pandangan yang teduh menunjukkan bahwa ia akan menjadi gadis periang saat besar nanti.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu," Derrick masih terus tenggelam dalam horizon masa lalunya, "Penyihir, perburuan di Hutan Kaskas, dan penyakit ibunda. Alice bilang semuanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Karena itu, Alice sangat benci dengan penyihir."
"Aku tidak tahu banyak. Bagaiamana ibunda sakit? Mengapa ayahanda pergi berburu? Untuk apa penyihir datang ke Duchy vi Alverio?" tanpa sadar Derrick sudah menghabiskan chuletonnya. Es lemonnya pun sudah tandas setengah. "Aku orang yang objektif dan tidak menilai dengan perasaan. Aku tidak melihat penyihir datang selain untuk membantu. Karena itu, aku punya alasan untuk membenci mereka seperti Alice."
"Ayo kita berkeliling ke tempat lain," ajak Safir. Ia baru saja menyelesaikan pembayarannya. Sekarang saatnya untuk menunjukkan Desa Saville lebih banyak lagi.
Mereka mengunjungi berbagai tempat. Salah satunya adalah alun-alun desa. Alun-alun itu terdapat di depan sebuah bangunan sentral yang beratap kubah. Safir bilang, itu adalah tempat beribadah. Di sampingnya ada gedung pemerintahan. Ada juga komplek pembelajar seperti akademi.
Tempat paling menariknya adalah pusat kuliner yang tak jauh dari situ. Ada bermacam makanan yang belum pernah Derrick lihat di sana. Batagor, siomay, cimol, dan lain sebagainya. Itu adalah makanan-makanan yang unik dan sedap. Apalagi harganya murah.
Derrick mempelajari banyak hal di sana. Mulai dari arsitektur, antropologi, sampai sistem pemerintahan yang disebut emirat. Mereka hampir mirip seperti sistem feodal di Kerajaan el Vierum.
__ADS_1
Derrick kembali ke March van Ryvat di sore hari. Safir langsung kembali ke Saville begitu mengantar Derrick sampai gerbang kota.
"Sangat menyenangkan dapat berwisata dengan Anda," Safir mengembalikan bahasa formalnya. Ia memberi sebuah sovenir kepada Derrick sebelum pergi. Itu adalah sebuah lencana berukiran panther pada mukanya.
"Benda ini memiliki mekanisme unik, mungkin akan berguna bagi Anda suatu saat nanti," begitulah yang dikatakan Safir.
Marchioness van Ryvat sudah menunggu cucunya di kediaman. Ia menyambut Derrick dengan senyum yang teduh. Wajah Derrick dan Alice sangat mirip dengan Duchess Evianna. Jadi, Marchioness Rubia selalu senang melihatnya.
...***...
Di hari yang sama dengan kunjungan Derrick ke Desa Saville, Alice menyelesaikan urusannya. Ia mengutus Count de Bourne untuk mengawasi dan membimbing Count de Aurel yang baru, Lugwid de Aurel.
"Saya tidak akan mengecewakan Anda, Yang Mulia," begitu kata Count de Aurel.
Aria juga sudah sembuh. Sekarang saatnya gadis cendekia yang tersisa untuk pulang. Mereka tak sabar untuk bertemu kembali dengan Mainne dan yang lainnya.
"Bagaimana dengan benda itu?" tanya Alice pada Calastine sebelum ia berangkat. Benda itu merujuk pada alat guna-guna yang selama ini digunakan para cenayang untuk menyantet warga kota.
"Perantaranya sudah kami temukan. Seperti perintah Yang Mulia, benda itu sudah dihancurkan," lapor Calastine, "Cenayang terakhir yang tersisa masih berada dalam kurungan. Apa perintah Anda, Yang Mulia?"
"Bunuh dia!" ucap Alice dengan lirih dan dingin. Tatapannya tajam memendam amarah. Ia pun langsung masuk ke kereta kuda, tak mau lagi membahasnya.
Calastine menerimanya tanpa protes. Itu adalah hukuman yang pantas untuk penyihir. Eksekusi langsung dilaksanakan di depan publik begitu perintah sampai. Para warga yang menyaksikan berseru memaki si cenayang. Mereka telah banyak dirugikan.
Beberapa hari kemudian, hasil keputusan lanjutan datang dari ibu kota. Keputusan itu datang langsung dari Raja el Vierum. Tidak ada yang dapat melawan. Para bangsawan dan penjahat yang tercatat dalam tindak kriminal besar dihukum gantung kemudian.
Perres Puliu termasuk yang selamat. Akan tetapi, semua hartanya disita dan dia dipenjara seumur hidup. Keluarganya terpecah.
__ADS_1
Nasib paling buruk yang menimpanya adalah kehilangan Preves. Ia hampir kehilangan kepalanya karena dicurigai menyembunyikan anak durhaka itu. Kalau bukan karena kesaksian Nenek Yulia, ia pasti akan ikut dipenggal.