
"Terima kasih sudah menemani kami selama beberapa hari ini, Bibi," Rosemary mewakili teman-temannya untuk pamit. Seharian kemarin, mereka berjalan-jalan keliling kota sambil mengamatinya. Kota Coulmer memiliki daya tarik tersendiri di antara kota-kota di wilayah barat. Seperti yang dibilang Aristia, makanan di sana enak-enak.
"Terima kasih kembali, suatu kehormatan dapat menemani Kalian," Countess de Clarence tersenyum hangat. Ia memberikan cendera mata pada setiap gadis cendekia, bahkan Anna dan Florence. "Sampaikan salamku pada Keluarga de Ernest dan Keluarga van Ryvat."
"Baik, Bibi," Akilla dan Aria menjawab bersamaan, tapi suara Aria terlalu kecil walaupun masih terdengar. Setelah cipika-cipiki ria, para gadis pun masuk kereta dan berangkat melanjutkan perjalanan.
"Sampai County de Ernest nanti, tidak ada desa atau kota lagi," Anna menjelaskan di awal perjalanan agar para gadis bersiap," Kita akan beristirahat di tempat terbuka. Jadi, persiapkan diri Kalian."
"Kita akan berkemah?" seru Aristia semangat.
"Ya, ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan?" Anna mengulas senyum, "Kuharap Kalian tidak keberatan."
"Tentu saja tidak," Aristia mewakili suara kawan-kawannya setuju. Mereka berhenti di sebuah padang hijau yang luas pada sore hari. Para kesatria membangun tenda. Juru masak menyiapkan makan malam, sementara para gadis menunggu di bawah sebuah pohon besar sambil memandang tenggelamnya matahari.
Langit biru mulai dibalut senja. Awan-awan putih merona merah saga diterpa mentari yang pamit pulang ke peraduannya. Burung-burung pun kembali dengan perut kenyang ke sarangnya.
"Alice, apa Kamu tidak pernah merasa rindu dengan tunanganmu?" Rosemary menyibak kesunyian di sore itu. Gadis kecil yang dipanggilnya menoleh. Alice mengerti apa itu rindu, tapi rindunya terlalu mahal untuk ditujukan kepada Antonio. Ia lebih merindukan ibundanya.
"Tidak, apa Kak Mary merasakan hal itu pada tunangan Kakak?" Alice malah bertanya balik.
Rosemary mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak menyangka akan dibalas seperti itu. Di antara para gadi cendekia, hanya Rosemary yang sudah bertunangan. Itu pun tak lama sebelum seleksi Istana Mutiara.
__ADS_1
"Sepertinya tidak," Rosemary menjawab asal. Ia pun tidak mengerti. Tak ada perasaan khusus pada tunangannya. "Kami hanya pernah bertemu sebanyak tiga kali. Itu pun hanya di acara-acara formal."
"Berbeda denganmu, Alice," Aristia menyahut. Ia tertarik dengan hal-hal berbau romantis. "Kamu kan sering bertemu tunanganmu. Apa Kamu tidak ada rasa sama sekali."
"Entahlah," Alice menjawab bingung. Di matanya, Antonio adalah sosok bocah pengganggu yang suka melanggar batas. Ia menghormati pemuda itu sebagai tunangannya dan juga putra mahkota. Mungkin hanya sekali dua kali ia merasa takjub pada pemuda itu. Sisanya biasa-biasa saja baginya bahkan terkadang jengkel.
"Kamu tahu, anak itu sangat populer di akademi," Aristia mencari-cari isi hati tuan putrinya. Barangkali gadis kecil itu akan merasa cemburu jika diceritakan sesuatu. "Para gadis di akademi suka menontonnya bermain pedang dengan Senior Solid. Kuakui, permainan pedangnya memang hebat, tapi tak sehebat senior yang sering melatihnya itu."
Aristia menceritakan banyak hal tentang Antonio selama sore itu seakan-akan ia mendengar semua gosip tentangnya. Tak jarang ia menyebut nama-nama gadis yang berusaha mendekati Putra Mahkota el Vierum itu. Di akhir ceritanya, ia memperingatkan, "Berhati-hatilah, Alice. Bisa jadi dia direbut gadis lain."
"Itu bukan masalah besar," Alice bersikap biasa saja. Saat membicarakan hal, Alice menampakkan sosok sedingin esnya. Tak banyak ekspresi selain tatapan yang seolah menyelidik.
"Apa Kamu tidak cemburu?" Aristia bertanya gemas.
"Nona-nona, sudah saatnya kembali," Florence memanggil para gadis cendekia untuk kembali ke komplek perkemahan yang sudah rampung didirikan. Langit mulai menggelap. Mentari nyaris seluruhnya ditelan horizon.
Setelah perjalanan dua hari dari Kota Coulmer, Alice dan rombongannya mulai melihat benteng kota yang kokoh menjelang sore. Akhirnya mereka sampai di County de Ernest, kampung halaman Aria. Seperti di Kota Coulmer, rombongan Alice disambut langsung oleh penguasa kota, Count de Ernest.
"Selamat datang, Tuan Putri," Count de Ernest menyambut hormat. Pria berambut perak itu merupakan sosok yang pendiam dan sedikit bicara. Sangat mirip dengan putrinya. Juga sosok Alice yang dingin.
Sambutan dari para warga tidak semeriah di kota sebelumnya, tapi tetap saja ramai. Mereka sangat penasaran dengan sosok yang disebut Putri Musim Dingin. Sayangnya, mereka tidak melihatnya karena Alice enggan memamerkan wajah.
__ADS_1
Countess de Ernest sangat senang ketika menyambut rombongan putrinya. Ia memberi hormat kepada Alice secara formal. Wanita itu tidak sependiam Aria maupun suaminya, tapi gaya bicaranya penuh wibawa dan formalitas. Mirip seperti Rosemary.
Sama seperti sebelumnya, kali ini, Countess de Ernest juga menemani langsung tur para gadis cendekia. Tidak ada hal khusus yang bisa diceritakan. Intinya, Kota Eren yang dikuasai Count de Ernest itu tak kalah menawannya dengan Kota Coulmer. Florence juga seperti biasa mengajak murid-muridnya untuk berdiskusi. Countess de Ernest menyimak dengan antusias.
"Tuan Putri, Anda mendapat surat dari istana," seorang pelayan mengantarkan sepucuk surat di hari kedua para gadis tinggal di Kota Eren.
"Wow, itu dari pangeran. Apa dia mengirim surat cinta?" seru Aristia membaca nama pada badan surat itu.
"Hm? Benarkah?" ekspresi Alice tampak berubah sesaat. Samar-samar, rona merah mewarnai pipinya, tapi tak ada yang menyadari itu.
Para gadis cendekia terdiam. Mereka memberi ruang pada Alice untuk membaca surat pertama dari tunangannya dengan tenang. Tak lama kemudian, Alice menghela napas sehingga para gadis cendekia terheran.
"Ini tidak seperti yang Kamu harapkan, Kak Tia," ucap Alice sambil melipat suratnya, "Ini surat permohonan maaf."
"Apa?" Aristia tidak percaya. Rosemary dan Akilla juga sama. Mainne dan Aria dengan tenang menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Ada gosip aneh yang beredar di ibu kota. Putra mahkota tidak ingin aku salah paham," jelas Alice, "Jadi, dia mengirimkan surat sebelum gosip itu sampai."
"Gosip?" Rosemary penasaran.
"Ya, sepertinya anak itu mendekati seorang gadis untuk berteman dengannya," lanjut Alice, "Orang-orang mengira dia tertarik pada gadis itu."
__ADS_1
"Alice!" seru Aristia sampai membuat para gadis kaget, "Itu berbahaya. Gadis itu bisa merusak hubunganmu dengan putra mahkota."
"Semoga saja tidak," ucap Alice sambil menatap tehnya yang masih penuh. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Ia masih belum tahu apa itu. "Aku tahu gadis itu. Aku yakin ia cukup sadar diri."