
“Putra Mahkota, akhirnya Anda bangun juga,” suara lembut seorang gadis kecil menyambut Antonio begitu ia terbangun. Sosok gadis itu perlahan terlihat setelah matanya mulai terbiasa dengan intensitas cahaya di sekitar. Ia pun duduk dan mendapati gadis yang ia dambakan ada di hadapannya.
“Terima kasih, Nona de Vool,” suara Charles datang dari arah belakang, “Sihir penyembuhan Anda sungguh luar biasa.”
“Sir Charles tidak perlu sungkan,” balas Charlotte yang tersenyum lembut kepada Charles, “Sudah kewajiban saya sebagai penyihir yang memiliki sihir penyembuhan.”
“Sebelumnya saya tidak pernah menyangka,” Charles duduk di samping Antonio dan menyodorkan segelas air padanya, “Ternyata Anda adalah gadis penyihir berbakat yang dirumorkan itu. Kukira, itu adalah Nana Magansei. Dia kan satu-satu penyihir muda yang jadi murid langsung Sang Penyihir Agung.”
“Miss Nana adalah guru saya. Dia penyihir yang unik dan perhatian,” Charlotte mengerjapkan matanya—senang membicarakan Nana yang dibanggakannya. “Dia selalu menemaniku sejak pertama kali aku bergabung dengan Menara Penyihir. Kami berlatih bersama dan menciptakan sihir-sihir baru di sana.”
Antonio yang awalnya ingin menyapa Charlotte jadi terdiam. Sosoknya seolah terlupakan karena kedatangan Charles. Alih-alih mengkhawatirkan kondisinya, ia malah mempertanyakan berbagai hal dalam benaknya. Setelah bosan menjadi nyamuk di antara Charlotte dan Charles selama beberapa menit, ia pun berdeham.
“Yang Mulia!? Apakah Anda masih sakit?” seru Charlotte kaget. Ia terlalu larut dalam obrolan bersama Charles sampai lupa kalau pasiennya belum mendapatkan perawatan lebih lanjut. Antonio malah membuang muka. Dengan sedikit kesulitan, ia berusaha bangkit sampai Charles harus membantunya.
“Yang Mulia, sebaiknya Anda istirahat terlebih dahulu. Tidak ada yang bisa kita lakukan di sini sekarang,” Charles memapah Antonio agar tidak terjatuh. Di wajahnya tersirat rona khawatir. Sebagai ajudan putra mahkota di akademi, ia akan dituntut apabila tidak dapat melindungi junjungannya dengan baik.
“Di mana kita?” Antonio baru memperhatikan sekitar setelah Charles mengingatkannya.
“Masih belum jelas, Pangeran,” Charles menggeleng tidak tahu, “Saat ini, anak-anak dari kelas kesatria sedang mengamati sekitar.”
“Turunkan aku,” pinta Antonio setelah sampai di dekat sebatang pohon yang besar. Ia pun menyandarkan tubuhnya di sana. Matanya menyapu sekitar dan mendapati pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Akar-akar gantung yang kebiruan temaram, sungai-sungai kecil yang memantulkan cahaya elok nan berwarna-warni, juga berbagai serangga aneh yang berseliweran di sana-sini. Antonio takjub melihatnya, tapi juga cemas karena sadar bahwa ia telah tersesat di tempat entah-berantah.
__ADS_1
“Ada berapa orang di sini?” Antonio berusaha berpikir jernih. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Matanya masih menyapu sekitar. Dilihatnya ada sekitar lima orang selain ia dan kedua orang yang membangunkannya.
“Empat belas, enam laki-laki dan sisanya perempuan,” jelas Charles kompleks. Di antara anak-anak yang tersesat di sini, ia adalah yang paling tua dan bijak. Namun, loyalitasnya pada Keluarga Kekaisaran el Vierum membuat ia tak mau memimpin rombongan. Baginya, itu adalah perbuatan lancang karena ada Antonio el Vierum di tangah-tengah mereka.
“Begitu, ya?” Antonio mengerutkan kening. Dalam hati, ia berharap ada Solid van Denburg di antara empat orang siswa yang sedang mengintai. Lagi-lagi ia menghela napas. Ingatannya masih berkabut tetang peristiwa janggal ini. “Charles, apa kamu ingat apa yang terjadi sebelumnya?”
Charles menggeleng. Ingatannya juga masih belum sempurna seolah ada sesuatu yang menghalanginya. Semua anak yang terdampar di sini juga mengalami hal yang sama kecuali satu orang. Yah, satu orang. Anak itu tak berani mengungkapkan kejadian sebenarnya karena takut orang-orang akan membencinya.
“Lottie, bukannya kamu penyihir?” Antonio memanggil Charlotte yang tengah tertunduk dalam. Gadis itu pun segera mendongak. Sejenak kemudian, ia mengangguk cepat membenarkan perkataan Antonio. Pemuda itu lantas kembali bertanya, “Apa kamu bisa merasakan mana di sekitar sini?”
Charlotte terdiam. Ia memang bisa merasakan mana di sini. Sangat pekat malah. Balqis sudah berkali-kali menghampiri dan menghiburnya. Makhluk astral itu bilang bahwa ia bisa mengeluarkan Charlotte begitu saja kalau ingin pergi sendirian.
“Apa kamu bisa mencari jalan ke luar dengan mendeteksi jalur mana?” tanya Antonio penuh harap. Meskipun bukan penyihir, ia mengerti sedikit tentang dunia metafisik itu. Kalau tebakannya benar, mereka bisa saja keluar dengan mudah atas bantuan Charlotte.
“Hah, baiklah,” balas Antonio dengan nada yang terkesan sedikit kesal entah apa sebabnya. Ia kembali membuang muka sehingga membuat Charlotte bingung. Gadis penyihir itu pun kembali tertunduk dan tenggelam dalam dilemanya yang akut.
...***...
“Ada distorsi mana di sini,” ucap Melissa yang tiba-tiba berhenti di atas tepi sebuah danau yang indah. Matanya menyapu sekitar dengan teliti. Sekejap kemudian, ia menemukan jejak sihir yang lain, “Ini bekas mana bunyi. Penyihir suara mengaktifkan sihirnya di sini belum lama ini.”
“Aku tahu. Dia pasti pengguna seluring,” Nana bergumam kesal. Mana di tangannya terkonsentrasi secara spontan. Seandainya gadis itu tak pandai mengendalikan mana, tangannya pasti sudah meledak karena kelebihan massa mana. Apalagi, ia adalah tipe penyihir penghancur.
“Seluring, ya?” Melissa turun ke permukaan tanah dan berjongkok di sana. Ia pun menggoreskan tangannya di atas sebuah formasi yang masih terlihat jelas. “Tidak banyak penyihir suara yang menggunakan seluring. Dilihat dari caranya menarik anak-anak ke formasi ruang ini, hanya ada satu orang yang dapat melakukannya.”
__ADS_1
“Hamelin, pria pengecut itu ...,” Nana langsung mengenal orang yang Melissa maksud, “beraninya menyinggungku. Aku akan membakarnya sampai jadi abu kalau terjadi apa-apa pada Lottieku nanti.”
“Ayo bergegas,” Melissa mengingatkan, “Formasi ini sudah aktif kemarin. Kita akan kehilangan Lottie kalau terus bermain-main di sini saja.”
Nana pun langsung berkomat-kamit membacakan mantra sambil menutup mata. Dengan begitu, mananya tersebar ke segala penjuru. Tak lama kemudian, matanya kembali terbuka dengan raut geram di wajahnya. Tanpa mengucapkan satu kata pun pada Melissa, ia langsung meluncur menuju tempat yang diincarnya. Melissa pun menghela napas, lalu mengikuti gadis penyihir itu pergi.
Setelah setengah hari terbang di langit, kedua penyihir itu sampai di atas rimba hutan. Nana langsung melesat turun ke sana. Ia mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya saat hampir sampai di ujung pohon paling tinggi. Dalam sekejap, puluhan bola api bermunculan di sekitarnya. Sedetik kemudian, bola-bola api itu meluncur ke bawah dan meledak seketika.
“Siapa yang berani mengganggu istirahatku?” seru sebuah suara yang berasal dari tengah-tengah asap yang mengepul. Daun-daun hijau pun berterbangan dari sana. Bagai ratusan pisau yang tajam, daun-daun itu melesat ke arah Nana dengan cepat.
Wush ….
Nana membakar semua daun itu dalam sekejap. Ia pun menodongkan tangannya ke bawah dan mendapati seorang pria yang memasang kuda-kuda di tengah kobaran api. Sebuah bola api kecil terkonsentrsi tinggi muncul di ujung jarinya. Dalam waktu yang singkat, api itu melesat secepat peluru menuju pria yang diincarnya.
Duar!
Api mengepul di tempat peluru Nana mendarat. Gadis penyihir itu pun menggeram dan kembali menggunakan mantra pendeteksinya. Matanya terbelalak seketika saat menyadari kedatangan serangan mana dari titik butanya.
“Akh …!” teriakan pilu berbunyi kencang. Terlihat Melissa yang kini sudah mencekik pria incaran Nana dengan seringai yang seram. Belatinya yang dilapisi mana kini berlumur darah. Dengan suaranya yang nyaring, gadis itu bertanya, “Hamelin, di mana anak-anak yang kau curi?”
“Cih! Dasar gadis Menara Penyihir gila!” umpat Hamelin. Sorot matanya berkobar marah. Ia tidak terima mendapat serangan yang begitu tiba-tiba. Kobaran api yang panas tiba-tiba melintas tepat di hadapan matanya. Ia pun melotot pada Nana yang lagi-lagi sembarangan menyerangnya, “Kau!”
“Cepat katakan! Di mana kau menyembunyikan anak-anak yang kau curi?” bentak Nana.
__ADS_1
Hamelin mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak mengerti dengan maksud Nana. Darah terus mengucur di pergelangan tangannya, sementara ia masih berusaha bebas dari cekikan Melissa. Tubuhnya pun tiba-tiba dihempaskan ke sebatang pohon. Ia merasakan patah di beberapa tulang rusuknya. Mulutnya langsung menyemburkan darah. Dalam hati, ia terus mengumpati kedua gadis yang datang tanpa diundang itu.