Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Kota Ilios


__ADS_3

"Apa Anda akan membiarkan Putra Mahkota el Vierum begitu saja?" tanya Anna mengingat Alice mulai membuka hati untuk pemuda itu. Air muka Alice kembali keruh. Perasaannya kembali buruk mendengar Anna menanyakan hal itu. Anna menangkapnya sebagai tanda-tanda cemburu.


"Hah, memang apa yang Kakak harapkan?" Alice balik bertanya setelah dengan cepat dapat mengendalikan emosinya. Anna yang tengah menata rambut Alice hanya terdiam.


"Aku bukan wanita antagonis yang terobsesi dengan tunangannya seperti di novel-novel," Alice melanjutkan. Rambutnya yang lurus tergerai sudah hampir rapi. Tinggal menaruh bando cantik berhias bunga untuk memberi sentuhan akhirnya. "Lagi pula aku tidak terlalu peduli dengan pertunangan ini, sama seperti An."


Anna memiringkan kepalanya tak percaya. Ia memasangkan bando yang dipilih Alice. Keraguan terukir jelas dibenak dayang yang murah senyum itu. Jarang-jarang Alice memanggil Putra Mahkota el Vierum dengan namanya. Apalagi dengan panggilan kecilnya.


Suasana di ruang makan biasa saja. Hanya ada dua orang di meja makan ditemani beberapa pelayan yang akan melayani permintaan keduanya kapan saja. Alice tak memiliki semangat untuk membicarakan apa pun. Pikirannya berkelana menembus waktu ke masa depan.


Bagaimana nasib pertunangannya dengan Antonio nanti? Dengan kekuasaannya di Istana Mutiara, apa ia akan menuntut takhta pada akhirnya? Apa ia harus bersaing untuk kursi tidak berguna yang hanya memberi beban di pundaknya itu?


Melihat wajah murung Alice, Derrick mencoba bertanya, "Apa ada hal yang mengganggumu, Alice?"


Alice segera tersadar dari lamunannya. Makanannya sudah semakin dingin. Ia baru melahap sedikit daging panggang yang dimasakkan untuknya. Para pelayan sampai khawatir kalau-kalau nona mereka tidak suka dengan makanan itu. Akan tetapi, mereka menahan diri untuk bertanya sampai mereka dipanggil.


"Bukan apa-apa," Alice menggeleng kuat. Ia segera menyantap kembali makanannya. Itu membuat Derrick menghela napas, "Kalau ada masalah, katakan saja padaku. Aku akan berusaha meluangkan waktu."


"Terima kasih, Kak," Alice menyimpulkan senyumnya, "Aku akan datang kapan pun aku mau."


Derrick tidak mengatakan apa-apa, tetapi tampak kelegaan di wajahnya. Jawaban Alice itu menunjukkan setidaknya ia sama sekali tidak membenci kakaknya yang super sibuk itu. Derrick bersyukur melihatnya. Lalu firasatnya pun menggiringnya pada pertunangan Alice.


"Mungkinkah...?" Derrick bertanya-tanya dalam hatinya. Ia pun mengisyaratkan pada para pelayannya untuk pergi. Dengan satu lambaian tangan, di ruang makan pun hanya tersisa dua orang.


"Kuharap Antonio tidak melukai atau mengecewakanmu," kata Derrick kemudian. Makanannya sudah habis. Masih ada sedikit waktu sebelum jam kerja dimulai. "Kalau ia berani melakukan itu, aku dan Keluarga vi Alverio tidak akan tinggal diam."

__ADS_1


Alice tidak bereaksi apa pun terhadap perkataan Derrick itu. Ia melanjutkan sarapannya yang tersisa sedikit. Firasat kakaknya memang benar. Antonio pantas mendapat hukuman. Akan tetapi, seperti kata Alice, ia tidak peduli.


"Kakak tidak perlu khawatir," kata Alice setelah melahap suap terakhirnya. "Seperti yang kubilang kemarin, hubungan kami berjalan lancar."


"Benarkah begitu?" Derrick mengerutkan alisnya ragu. Ia tahu bahwa dalam pertunangan yang direncanakan tidak akan langsung menumbuhkan cinta. Apalagi mengingat usia Alice yang masih begitu belia. Mungkin ia belum mengalami masa pubernya.


Alice mengangguk kecil. Ia mulai menghabiskan jus buahnya. Lalu matanya menatap Derrick yang sepertinya akan mengatakan sesuatu.


"Syukurlah kalau begitu," Derrick berkata lega seperti itu. Akan tetapi, ia akan menyuruh Kakek James untuk menyelidiki Putra Mahkota el Vierum setelah itu.


...***...


Kota Ilios, seminggu setelah kedatangan para kreebs


Syuut... anak panah yang dilepas penjaga itu menyibak udara dengan kecepatan tinggi mengincar kepala seekor kreebs.


"Sial! serigala itu menghindar lagi. Bagaimana mereka bisa selincah itu," umpat penjaga yang memanah. Di benteng itu, ia adalah paling jago soal panah. Bidikannya selalu mengenai sasaran sampai para kreebs itu datang.


"Berapa banyak anak panah yang Kamu buang hari ini?" penjaga yang menggerutu bertanya. Ada banyak anak panah yang tertancap di depan gerbang. Tidak akan ada yang mengambilnya sampai para kreebs itu pergi sementara waktu.


Mereka tidak mau lagi mengambil risiko seperti beberapa hari lalu. Para penjaga yang melawan kreebs menggunakan tombak dan pedang dihabisi dengan cepat oleh mereka.


Pintu gerbang pun ditutup rapat-rapat setelah itu sehingga tak ada lagi yang dapat keluar dari kota untuk menggarap tanah dan berburu. Para pedagang yang biasanya mampir pun tak terlihat satu pun batang hidungnya. Sungguh konyol. Bisa jadi, kota ini akan runtuh hanya karena kepungan hewan liar.


"Mau bagaimana lagi? Sepertinya hewan-hewan itu bukan serigala bisa," si pemanah mengomentari. Ia sudah muak melihat bidikannya yang terus meleset. Ia pun bergabung dengan para pemburu yang sudah sejak tadi berputus asa.

__ADS_1


"Hai, ada yang datang," seru si penggerutu. Seruannya itu tak menggerakkan seorang pun yang terduduk lesu di benteng. Para pengungsi yang datang tiba-tiba, Para pemburu yang tak pernah kembali, dan para penjaga yang mati sia-sia karena tak tahu kemampuan lawan. Masalah-masalah itu terus membayangi mereka. Satu-satunya yang mereka syukuri adalah keberadaan benteng yang kokoh dan tinggi.


Gonggongan para kreebs terdengar. Orang-orang di benteng menutup telinga dan mata mereka tak tega menyaksikan lenyapnya rombongan yang akan datang itu.


Duar!!!


Sebuah ledakan mengagetkan orang-orang di benteng. Si penggerutu diam mematung di tempatnya. Matanya terbengong dan mulutnya terbuka tanpa bersuara.


"Hai! Apa yang terjadi?" panik si pemanah. Ia segera bangkit menghampiri kawannya. Dilihatnya kobaran api yang membumbung tinggi di depan gerbang.


"I... itu...," si penggerutu terbata. Ia menunjuk kepulan asap yang mengepul. Si pemanah dan para pemburu di benteng menahan napas. Sesaat kemudian, mereka tersentak mendengar seruan si penggerutu, "Itu kekuatan penyihir kerajaan! Aku sungguh beruntung dapat melihatnya."


Si penggerutu terkekeh keras. Gonggongan dan geraman kreebs yang marah kembali terdengar membisukan penjaga dadakan itu. Suara ledakan kembali terdengar tetapi tak sebesar tadi. Seruan para kesatria kemudian menyusul. Orang-orang di benteng pun bernapas lega mendengarnya. Bantuan telah datang.


"Mereka kabur, Madam," lapor seorang penyihir yang mendampingi Nana. Gadis penyihir ledakan itu menggertakkan giginya sebal. Setelah ini, mereka harus mengejar para monster buatan Menara Penyihir itu ke hutan. Sungguh merepotkan.


"Selamat datang, Tuan Kesatria, Nona Penyihir," Viscount Ilios menyambut rombongan Nana masuk. Tidak banyak pasukan yang mereka bawa. Marquis Van Denburg pun tidak ikut dan digantikan anaknya, Leonius von Denburg yang memimpin sepeleton kesatria. Di pihak Menara Penyihir pun yang ada lima orang.


"Ck! Mengapa hewan kecil seperti ini saja tidak dapat Kalian hadapi?" tanya Nana sarkastik. Viscount Ilios gemetaran. Ia melihat bekas ledakan yang dibuat oleh Nana masih mengepul di belakangnya.


"Mohon ampun, Nona," Viscount Ilios yang merupakan kakek tua itu berlutut dan menjelaskan, "Kami sudah berusaha mengatasinya, tetapi hewan-hewan itu terlalu cepat dan gesit sampai kami kewalahan menghadapinya. Bahkan kami mendengar sudah beberapa desa lagi yang terkena terornya."


"Kamu...," Nana Ingin mengolok lagi bangsawan rendah itu, tetapi Leonius lebih dulu menghentikannya. "Cukup Madam Magansei. Lebih baik kita tanya jelasnya setelah beristirahat nanti. Para pasukan juga sudah kelelahan."


"Itu salah Kalian karena harus memakai armor berat," cuek Nan tak peka dengan keadaannya. Leonius mengepal tapi senyuman masih terukir di wajahnya. Kalau saja ia tak memahami siapa gadis di depannya itu, ia akan membuangnya ke hutan agar menjadi santapan para hewan buas.

__ADS_1


__ADS_2