Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Aku Hanya Ingin Berteman


__ADS_3

"Hah, syukurlah baginda raja mau menerima penemuan kita," ucap Nana begitu keluar dari pusat observasi istana. Wajahnya kusut. Semalam ia begadang untuk menyelesaikan proyek yang telah dirancang sejak beberapa bulan lalu. Baru pagi ini ia membawanya ke istana.


"Benar, Baginda raja tampak puas dengan hasil yang kita berikan," timpal Charlotte.


"Setelah ini kita bisa berlibur ria ke mana pun yang kita mau," Nana merenggangkan tubuhnya. Sisa lelah samalam masih menimpanya. Untung tak ada seorang pun di sekitarnya. Kalau tidak, para bangsawan yang kontra terhadap Menara Penyihir akan mencibir mereka.


"Bisakah Kakak menghilangkan kebiasaan buruk itu?" protes Charlotte mengingatkan. Walau ia tidak terlalu menjunjung tinggi kehormatan bangsawan, ia tetap memiliki darah bangsawan yang kental. Etiket sangat berpengaruh baginya.


"Buat apa? Lagi pula aku bukan bangsawan," jawab Nana tak peduli. Charlotte menghela napas. Tak ada yang dapat dilakukannya terhadap sindrom aneh Nana itu.


"Setidaknya perhatikanlah tempat kita berada," Charlotte menasihati, "Kamu bisa melakukannya di menara karena tidak akan ada yang memedulikannya."


"Yah, itu karena kekuatanmu terlalu besar untuk disinggung oleh penyihir lain," tambah Charlotte dalam hati.


"Ck! Kalau begitu biarkan aku terus di laboratoriumku saja," Nana menatap Charlotte. Akhir-akhir ini anak itu semakin banyak bicara dan menggurui. Kalau itu orang lain, tentu Nana tidak akan menerimanya. Entah mengapa ia merasa baik-baik saja jika itu dari Charlotte.


"Kamu mengerti kan, Kak?" tanya Charlotte memastikan kuliah singkatnya tersampaikan dengan baik kepada Nana. Tangan kecilnya memegang ujung lengan pakaian Nana. Dari situ muncul cahaya temaram yang membuat hati siapa saja tenang.


"Iya-iya, aku akan berusaha," Nana menjawab datar.


"Jangan hanya bicara saja," Charlotte menggembungkan pipinya. Mana bisa penyihir nomor dua yang barbar itu langsung dipercaya. "Kakak harus membuktikannya."


Nana hanya tersenyum kecut. Gadis kecil itu tidak tahu bagaimana masa kecil Nana yang ditindas oleh bangsawan. Kedua orang tuanya dibunuh. Rumah dan desanya dibakar. Hanya karena tolakan seorang wanita desa, anak bangsawan punguasa wilayah itu membumihanguskan tanah kelahiran Nana.


Dendamnya tak dapat padam begitu saja. Oleh karena itu ia belajar sihir. Ia harus menjadi lebih kuat.dari siapa pun. Saat waktunya tiba, ia akan membalaskan dendamnya yang telah lama membengkak.


"Menghadap Putra Mahkota dan Putri Mahkota el Vierum," sapa Charlotte begitu melihat Antonio dan Alice keluar dari taman. Keduanya baru saja selesai belajar. Kebetulan mereka berpas-pasan.

__ADS_1


"Nana Magansei dan Charlotte de Vool mengucap salam," lanjut Nana. Dilihatnya mata merah Alice yang membara. Walau wajahnya datar dan dingin, mata itu memancarkan kebencian.


"Tuan Putri, saya mohon maaf atas kejadian yang terjadi terakhir kali?" kata Charlotte memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin untuk berteman dengan Alice. Diam-diam ia merapalkan sihirnya. Dengan sihir itu, penyihir kuat seperti Nana pun tidak akan menolak setiap permintaannya.


"Apa yang Kamu lakukan?" tanya Alice dengan hawa dingin yang mencekam. Mata merahnya itu menatap tajam. Hatinya menyebut kuasa Tuhan. Ia merasakan ketidaknyamanan dari lawan bicaranya yang teramat cantik itu.


Charlotte jelas terkejut walau ia tak menampakkannya. Sihirnya baru saja dibatalkan. Tubuhnya bahkan merasa panas seperti ketika terakhir kali ia bertemu dengan putri mahkota yang agung itu.


Saat matanya bertemu pandang dengan mata merah Alice, ia merasa seperti akan dikutuk oleh putri itu. Tubuhnya mendadak menggigil saking takut. Ia langsung buru-buru membungkuk agar tidak memperlihatkan sisi buruknya dan menjawab pertanyaan Alice selancar mungkin, "Saya mohon maaf atas kesalahan yang lalu dan berharap dapat menjadi teman Anda."


"Teman?" kata Alice tanpa menyembunyikan nada penolakannya, "Dengan diri yang seperti itu, bagaimana Kamu menjadi temanku?"


Charlotte semakin terkejut. Jelas sekali proposal pertemanannya ditolak. Ia tidak mengerti. Sebagai putri seorang count, itu tak akan meruntuhkan martabat Putri Mahkota el Vierum itu di pergaulan sosial. Harusnya ia cukup layak bagi putri yang bahkan tak terlalu memandang status itu.


"Apa?" Nana menatap Alice tajam. Kebenciannya terhadap bangsawan semakin besar di hadapan Alice. Ia ingin sekali menggunakan sihir kalau saja ia tidak tahu konsekuensi yang akan diterimanya jika melukai putri mahkota yang lemah.


"Alice, apa yang Kamu katakan?" suara itu mengagetkan semua orang yang ada di sana. Antonio memandang Alice tak percaya. "Ia hanya ingin berteman denganmu."


"Ha? justru mengapa Yang Mulia ikut campur urusan saya?" Alice lebih tak percaya dengan reaksi Antonio. Lalu dilihatnya Antonio tampak sedikit berbeda.


"Apa dia sudah terkena sihir gadis itu? Sungguh mengecewakan!" Alice kembali menatap Charlotte. Gadis penyihir itu masih menundukkan muka ketakutan. Lalu ia menggeser pandangannya kepada Nana yang tampak cemas dan keheranan.


"Jangan kira kami tidak tahu dengan apa yang dilakukan Menara Penyihir," kata Alice penuh intimidasi. Nana langsung kaget mendengar itu. Keringat dingin tetiba membasahi wajahnya perlahan. Air mukanya mengeruh kesal.


"Aku tak ada urusan dengan Kalian," kata Alice melewati Nana dan Charlotte begitu saja, "Biar kuperingatkan, jangan berbuat macam-macam di tanah yang diberkahi ini."


"Alice tunggu!" Antonio berusaha menghentikan tunangannya. Gadis kecil itu sudah agak jauh dari tempat awalnya berdiri. Antonio pun mewakilinya meminta maaf dengan sopan. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengejar Alice.

__ADS_1


Charlotte langsung tersungkur duduk ketika Alice sempurna pergi. Tangannya masih gemetaran hebat. Air matanya hampir tumpah saking takutnya. Kalau ia belum memiliki harga diri sebagai bangsawan, tentu ia sudah menangis sekarang.


"Lottie, Kamu tidak apa-apa?" tanya Nana khawatir. ia meraih tangan mungil Charlotte dan membantunya berdiri. "Sudah kubilang gadis kecil itu terlalu sombong. Jangan dekat-dekat dengannya."


Charlotte tidak menjawab. Ia masih saja menunduk sampai keluar dari istana. Dengan akalnya yang bijak, ia mencoba mencari Selagan dirinya.


"Apa yang kurang?"


"Aku seorang putri count."


"Aku hanya ingin berteman."


"*Aku juga seorang penyihir berbakat. Aku ingin menjadi penyihir pribadi ratu di masa depan."


"Apa karena aku belum menyelenggarakan debut sehingga tuan putri tak mengenalku."


"Tidak! Kudengar, tuan putri bahkan tidak masalah untuk berteman dengan rakyat jelata di istananya."


"Aku yakin tidak kalah pandai dengan gadis biasa itu. Lalu apa?"


"Menara Penyihir*!?" Charlotte ingat kata-kata Alice yang teramat ngeri. Istana Mutiara tidak pernah menerima Menara Penyihir. "Apa yang sebenarnya dilakukan Menara Penyihir? Tidak mungkin kebencian itu karena dendam konyol di generasi yang telah lewat."


Charlotte ingin bertanya kepada Nana. Akan tetapi, melihat kakak ajarnya itu tengah berpikir begitu keras membuatnya mengurungkan niat. Lagi pula mungkin ia tidak akan menjawab.


Pasti ada hal besar yang tengah direncanakan Menara Penyihir sampai Istana Mutiara sangat menolaknya. Charlotte harus mencari tahu sendiri alasannya. Begitu memikirkan itu, pikirannya kembali tertata dan serius. Ia menatap curiga pada Nana.


" Balqis," panggil Charlotte dalam hatinya, "Apa Kamu bisa membantuku?"

__ADS_1


"Tentu saja, Lottie kecilku," jawab Balqis halus. Makhluk astral yang berkontrak dengan Charlotte itu muncul di pelupuk matanya.


__ADS_2