Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Malam Bersama Aria de Ernest


__ADS_3

Charlotte de Vool adalah gadis yang lemah sejak kecil. Berbeda dengan kakaknya yang bersinar, ia nyaris seperti sosok yang terlupakan selama bertahun-tahun. Ayahnya selalu sibuk bekerja, sedangkan sang ibu hanya fokus pada pendidikan kakaknya, Catharina de Vool.


Charlotte sangat kagum dengan sosok kakaknya. Ia melihat sang kakak sebagai orang yang paling hebat. Ke mana pun ia pergi, nama Catharina selalu disebut. Saking seringnya disebut nama itu, Charlotte sebagai putri kedua sampai tenggelam dalam sinar ketenaran kakaknya itu.


Karena itu, Charlotte kadang merasa kesepian. Ia hanya dapat melihat sang kakak dari jauh, tak dapat mendekatinya. Jika ia berusaha meniru perilakunya, ia akan langsung gagal dan malu menunjukkannya. Ia terlahir sebagai gadis yang peka. Kepekaannya itu membuat ia sangat sensitif terhadap kata-kata orang lain walaupun terkait hal yang kecil saja.


Saat usianya delapan tahun, entah bagaimana keajaiban itu terjadi. Charlotte mulai dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat orang lain. Dunianya seakan berubah. Di hutan yang dekat paviliunnya, ia pun bertemu dengan Balqis, seorang tuan putri dari bangsa jin.


Balqislah yang mengajarkan Charlotte cara menggunakan sihir. Gadis itu senang bermain dengannya. Ia pun belajar tentang sihir pikiran. Dengan sihirnya itu, ia menyihir semua orang di Kediaman de Vool sehingga mereka pun mulai melirik padanya.


Segalanya berjalan dengan baik pada awalnya. Namun, Charlotte menemukan kekosongan itu tak lama kemudian. Ia terjebak dalam delusi akan kasih sayang sampai-sampai ia merasa takut sihir itu akan hilang kapan saja dan ia pun kembali ditinggalkan.


Selama dua tahun Charlotte menjadi ahli sihir pikiran, ini adalah pertama kalinya ia menemukan ketulusan. Ini adalah pertama kalinya ia mendapat perhatian dari orang lain tanpa menggunakan sihir. Ia merasakan ketulusan itu dari pemuda yang menolongnya siang ini. Perhatian yang ditunjukkan putra dari Keluarga von Martinez itu kejujuran.


Bukan hanya dari pemuda itu, ia juga mendapat ketulusan dari para murid perempuan Akademi Kerajaan. Mereka sangat baik hati dan suka bercerita. Namun, hal paling baik baginya pada malam yang indah ini adalah undangan dari Aria de Ernest, salah satu gadis cendekia yang sangat ia kagumi.


Tiga pucuk lilin menemani obrolan mereka malam ini. Cahaya di tenda pun jadi tidak redup. Aria membuatkan teh untuk tamunya. Setelah hening untuk beberapa saat, barulah ia memulai obrolan dengan Charlotte, "Nona de Vool, senang bertemu denganmu."


Aria memiliki wajah yang teduh. Perawakannya tenang dan dingin, tetapi ada perasaan hangat yang bersahabat darinya. Jika dibandingkan dengan Catharina de Vool, ia pasti jauh lebih unggul.


"Ju—justru saya yang merasa terhormat," Charlotte sedikit gugup menerima langsung teh dari Aria. Ia menunduk malu-malu untuk bertatap muka dengan gadis berambut perak itu

__ADS_1


"Santai saja. Aku menjamin keselamatanmu di sini meskipun kamu seorang penyihir," ucap Aria yang membuat Charlotte cukup terkejut kali ini. Ia baru ingat kalau Istana Mutiara sangat menolak keberadaan para penyihir. Jadi, ucapan Aria de Ernest itu dapat berarti, "Aku akan memburumu lain kali."


Hati Charlotte berdegup kencang. Ketakutan mulai menguasai dirinya. Sosok Aria yang tadinya amat menenangkan jadi seperti harimau putih yang seram.


"Apa kamu baik-baik saja, Nona de Vool?" tanya Aria dengan lembut. Hawa mengerikan pun menghilang darinya. Charlotte sangat bingung dengan fenomena itu. Aria de Ernest yang sekarang jadi sedingin dan seputih bulan.


"Sa—saya baik-baik saja," jawab Charlotte terbata-bata. Tangannya gemetar. Wajahnya pun pucat. Aria jadi tak percaya sama sekali dengan perkataannya.


"Sepertinya kamu belum siap untuk diajak bicara sekarang," Aria dengan wajah dinginnya menutup pembicaraan yang bahkan belum selesai basa-basinya, "Maafkan aku. Pasti kamu masih syok dengan kejadian hari ini. Kupastikan Senior Solid akan meminta maaf padamu besok. Lebih baik kita segera beristirahat."


Charlotte tak dapat menjawab. Ia merasakan tekanan misterius yang tak dapat dimengertinya. Mungkin itulah yang dirasakan Balqis.


Sementara itu, Aria menghamparkan dua alas tidur di tendanya. Gadis itu melakukannya dengan telaten seakan ia sudah terbiasa. Setelah selesai, ia menatap Charlotte dan berkata,"Ini mungkin tak senyaman di rumahmu, tapi aku yakin kamu tidak akan kedinginan di sini. Kita lanjutkan saja obrolan ini besok pagi."


"Tenanglah dan jangan takut. Aku tidak akan melukaimu," Aria mengelus rambut Charlotte yang sudah berbaring, "Tidurlah! Kita akan bangun di pagi hari nanti."


Charlotte mulai mengantuk. Ini pertama kalinya ia tidur sambil di elus-elus begini. Jika Aria adalah kakak atau ibunya, apakah rasanya akan sehangat ini? Ini adalah perasaan nyaman yang datang dari kasih sayang terdalam. Ia mungkin tak pernah ingin melupakannya.


Aria berhenti saat Charlotte sudah benar-benar tertidur. Gadis yang seumuran dengan Alice terlihat lebih imut ketika berwajah tenang seperti ini. Wajah pulas yang tertidur dengan nyenyaknya. Ia tidak terlihat ketakutan lagi.


"Aria," panggil sebuah suara saat Aria hendak mematikan lilin. Florence menyibak pintu tendanya. Sarjana muda yang bertanggung jawab atas gadis cendekia itu pun berkata ketika melihat Charlotte, "Dia sudah tidur?"

__ADS_1


Aria hanya mengangguk. Dengan wajahnya yang tenang, ia menunggu perkataan Florence selanjutnya. Pengayomnya itu pasti punya sesuatu untuk disampaikan.


"Dia gadis yang dicari-cari putra mahkota?" pertanyaan Florence kembali dijawab dengan anggukan oleh Aria, "Apa yang spesial darinya? Bukannya tuan putri jauh lebih cantik dan hebat darinya?"


"Aku juga tidak tahu. Aku belum menemukan apa pun," kali ini Aria menjawab dengan lisannya. Ia memandang Charlotte seperti gadis biasa pada umumnya. Walaupun ia tahu bahwa gadis itu adalah penyihir, ia tidak merasakan suatu yang berbahaya darinya.


"Dia memang tidak berbahaya, tapi tetap saja ia sudah melampaui batas," Florence menegaskan. Ia mengajak Aria keluar agar tidak menggangu gadis kecil yang tertidur pulas itu, "Bagaimana kita akan membujuknya nanti?"


"Entahlah, ia hanya punya dua pilihan," jawab Aria, "Jika ia ingin bersama putra mahkota, maka ia harus melepas takdirnya sebagai penyihir."


"Kudengar, ia malah tidak tertarik dengan putra mahkota," Florence mengemukakan fakta lain, "Bagaimana jika ia tidak ingin keluar dari jalan penyihir?"


"Apa yang bisa kita lakukan setelah itu? Kerajaan ini masih sangat menghormati penyihir bahkan setelah terbongkar banyak keculasannya," Aria memandang bulan sabit di penghujung revolusinya. Bintang-bintang kecil dengan ria menemaninya. Gugusan cantik di angkasa itu menghias malam dengan sempurna.


"Benar, kita masih belum dapat bersikap tegas terhadap mereka," Florence menyambung penjelasan Aria, "Harusnya mereka pantas mati atas apa yang sudah mereka lakukan."


"Apakah gadis itu juga?" tanya Aria yang kini melirik ke tendanya, "Kupikir, ia tidak sengaja berkontak dengan jin. Bagaimana kita menyikapinya?"


"Seperti katamu tadi, kita belum bisa berbuat apa-apa," Florence ikut mengedarkan pandangannya ke tenda, "Namun, jika tiba masanya nanti, semoga kita bisa membujuknya untuk keluar dari dunia penyihir. Itu pun kalau ia tidak membuat ulah seperti memecah belah sebuah keluarga."


"Dia terlihat tidak akan melakukan itu," balas Aria lirih. Ia berharap dapat membujuk gadis itu besok pagi sehingga tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.

__ADS_1


"Siapa yang tahu? Dia gadis penyihir yang ahli dalam sihir manipulasi pikiran," Florence berpikir lain, "Kamu harus hati-hati saat bersamanya."


__ADS_2