Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Ke Serikat Dagang Saville


__ADS_3

Kerajaan el Vierum, 5 Bulan Sebelum Alice vi Alverio Menghilang


Alice dan rombongannya hampir sampai di ibu kota ketika hari menjelang sore. Karena tidak terhalangi benteng dan bangunan, ia bisa melihat matahari yang terbenam di ufuk barat.


Sungguh indah nian pemandangan itu. Cahaya merah saga mentari yang mewarnai awan-awan begitu menawan. Angin lembut yang menemani gandum-gandum menari amat halus berhembus. Suasananya begitu nyaman dan menentramkan.


"Nona, Anda terlihat senang sore ini," komentar Anna yang melihat Alice tersenyum tipis ke luar jendela. Sinar mentari menyiram wajah cantiknya. Angin yang menyusup masuk menenangkan batinnya. Rambutnya melambai-lambai senang saking ademnya.


"Ya, aku senang dan rindu," ucap Alice tanpa menoleh. Tanpa ia sadari, air matanya menetes di pipi. Akan tetapi, senyum tipis itu tetap tidak hilang dari wajahnya sehingga Anna hanya dapat terdiam.


Sekali lagi angin berhembus sampai meniup air mata Alice. Ia pun baru sadar kalau dirinya menangis. Dengan buru-buru, ia pun mengusapnya. Bersamaan dengan hilangnya air mata itu, hilang pula senyum di wajahnya. Kini hanya kesedihan yang terlihat di sana.


Suasana ini mengingatkan Alice dengan belaian terakhir ibundanya. Sesaat sebelum ia pingsan di hari itu karena terlalu lelah menangis. Ketika ia terbangun, tubuh ibunya sudah terbujur kaku tak bernyawa. Seulas senyum terukir di wajah teduh Sang Sarjana Kebijaksanaan itu.


Alice tidak menangis lagi melihatnya. Ia telah berjanji tidak akan meratapi kehilangannya. Sejak saat itulah, ia menjadi gadis yang dewasa dan terkenal dingin di hadapan orang yang baru melihatnya.


"Ayo mampir dulu ke Serikat Dagang Saville di ibu kota," kata Alice setelah mampu mengendalikan emosinya. Gerbang kota sudah di depan mata. Mereka tinggal masuk karena gerbang bangsawan yang tidak banyak dilalui orang.


"Apa!?" tanya Anna tidak percaya. Kunjungan ke Serikat Dagang Saville tidak ada dalam jadwal. Harusnya mereka sudah sampai di Istana Mutiara siang ini. Akan tetapi, karena suatu alasan, mereka sedikit terlambat di pemberhentian terakhir.


"Aku ingin bermain dengan Kak Maria," kata Alice dengan wajah imutnya yang secantik peri bunga. Anna menghembuskan napas pasrah. Ia menepuk jidatnya karena menghadapi sesuatu yang tidak terduga. Sejak kapan nonanya itu akrab dengan Direktur Serikat Dagang Saville di ibu kota?


Anna menyampaikan permintaan Alice pada kepala pengawal dan sais tepat setelah melewati gerbang. Mereka sempat kaget dengan permintaan Alice yang tidak terduga itu, tetapi mereka hanya bisa menurutinya. Lagi pula, Serikat Dagang Saville memang memiliki hubungan yang dekat dengan Istana Mutiara.

__ADS_1


"Maria, tuan putri ingin berkunjung ke serikat. Siapkan kamar terbaik di hotel," kata Anna setelah memberi salam dengan gawainya. Suara di seberang sana tampak histeris kegirangan. Maria bertanya sekali lagi guna meyakinkan. Barangkali ia salah mendengar atau sedang bermimpi.


Saat Anna menegaskan kedatangan nonanya, terdengar Maria berteriak ke sekelilingnya agar mempersiapkan jamuan terbaik untuk Putri Mahkota el Vierum. Suasana di seberang sana menjadi gaduh saking kagetnya.


"Ya ampun, Anna. Harusnya Kamu memberi kabar jauh-jauh hari agar kami dapat memberikan yang terbaik," protes Maria setelah ia selesai mengatur orang-orang di sekitarnya. Anna meminta maaf dengan nada tak bersalah. Itu adalah permintaan dadakan Alice. Jadi Serikat Dagang Saville bisa lebih santai saja.


"Lagi pula tuan putri lebih tertarik dengan gawai dan perangkat modern yang disimpan oleh serikat," kata Anna yang dibalas dengan senyuman dan anggukan Alice. Dia sudah bilang saat meminta tadi.


"Apa benar atasan tertinggi sudah mengizinkannya?" Maria bertanya ragu. Ia sudah memikirkan barang apa yang akan ia tunjukkan pada Alice. Mungkin film untuk anak-anak atau ensiklopedia digital karena ia dengar dari Anna bahwa Alice menyukainya.


"Sudah," jawab Anna datar. Ia menekan-nekan kertas media letak layar digitalnya mencari surat keputusan yang dikirimkan oleh atasan tertinggi sejak beberapa minggu yang lalu.


"Oke, kami pasti akan menyiapkan yang terbaik," seru Maria senang, "Tuan Putri tenang saja dan nikmati kunjungan Anda."


Istana Mutiara punya saham serikat itu di Kerajaan el Vierum dan Alice membutuhkan kekuatan lebih dengan posisinya saat ini sebagai Putri Mahkota el Vierum. Jadi ia ingin bernegosiasi dengan atasan tertinggi itu.


Kekuasaan Istana Mutiara sebenarnya terletak pada fungsi pengawasannya. Itulah tugas Alice sebagai Putri Mahkota el Vierum. Saat ia masih menjadi Nona Muda vi Alverio dulu, yurisdiksinya hanya ada pada Duchy vi Alverio walau ia sudah memegang kunci Istana Mutiara.


Akan tetapi, karena posisinya saat itu masih belum dikokohkan dan pengalamannya masih sangat kurang, kekuasaannya di Istana Mutiara dibatasi. Istana Mutiara saat itu berada dalam pengawasan ibu suri, Marchioness van Ryvat.


Dengan jaringan Serikat Dagang Saville nanti, Alice bisa lebih leluasa mengawasi kerajaannya, memungkinkannya terbebas dari segala bentuk rencana maupun tindak pemberontakan, dan mengamati kemakmuran rakyat, serta mencari solusi atas bencana atau musibah yang mungkin terjadi.


"Nona ingin bernegosiasi dengan atasan tertinggi?" Anna memastikan pendengarannya tidak salah. Alice mengangguk, "Aku akan membeli beberapa saham lagi di serikat."

__ADS_1


"Setahu saya, saham yang dimiliki Istana Mutiara sudah berada di batas tertinggi," Anna mengingat-ingat. Itu memang benar. Kalau Istana Mutiara menambah sahamnya, kuasanya di dalam Serikat Dagang Saville akan bertambah dan itu akan menyimpang dari fungsi sebenarnya dari pembangunan Istana Mutiara.


Dengan jumlah sahamnya saat ini, sebenarnya Alice sudah dapat memanfaatkan jaringan informasi Serikat Dagang Saville untuk menjalankan fungsinya sebagai pengawas Kerajaan el Vierum. Akan tetapi, pemberi batasan itu bukanlah serikat melainkan mendiang Duchess Evianna sendiri, penguasa Istana Mutiara sebelumnya. Karena Duchess Evianna sudah wafat, Alice membutuhkan izin dari Marchioness selaku wali Istana Mutiara untuk menggunakan kuasa penuhnya.


"Biarkan aku mencoba," kata Alice sebelum Anna dapat menjelaskan apa yang diketahuinya. Gadis itu terus mendesak sampai akhirnya Anna hanya dapat mengatakan, "Baiklah kalau Nona bersikeras. Saya akan mendiskusikan ini dengan Direktur Maria nanti."


Anna lupa untuk menjelaskan pengetahuannya tadi.


...***...


"Kakek, ke mana kita akan pergi?" tanya Lut yang mengikuti pria tua kemarin ke komplek bangsawan. Kali ini, Var ikut dengan Lut karena sudah tidak memiliki cara lain. Ia mengikutinya dengan heran sambil bertanya-tanya dalam hati, "Siapa kakek tua itu?"


"Tidak usah banyak bicara. Ikuti saja aku," pria tua itu menjawab. Mereka terus berjalan di komplek bangsawan yang amat mewah itu, melewati satu per satu mansion yang sudah seperti istana kecil di sana. Sungguh berbeda dengan rumah-rumah susun di komplek rakyat jelata. Rasanya seperti menyeberang ke dunia yang berbeda.


Pria tua, Lut, dan Var pun berhenti di depan sebuah mansion yang amat besar. Dua penjaga yang berdiri di gerbang awalnya terlihat curiga. Akan tetapi, setelah melihat pria tua lebih jelas, mereka pun segera memberi hormat. Lut dan Var jadi yakin bahwa pria tua yang bersama mereka itu bukan orang sembarangan sampai dihormati orang-orang bangsawan, tapi ujian yang sebenarnya masih menunggu di dalam.


Pria tua dan rombongannya pun diizinkan masuk. Mereka menunggu di ruang tamu yang sangat megah. Kursi dan mejanya terbuat dari kayu berkualitas tinggi yang mengkilap. Vas bunga yang indah diletakkan di meja menambah suasana segar di sana. Rak-rak berisi buku tebal dipajang tak jauh dari sebuah tangga. Dari tangga itulah terlihat seorang pria paruh baya yang turun dengan bergegas.


"Ayah, saya senang akhirnya Ayah pulang. Kami sangat khawatir," kata pria paruh baya itu. Perkataannya membuat Lut dan Var tersentak dalam diam. Mereka tidak menyangka sedang berjalan dengan sesepuh bangsawan sejak tadi. Penampilan yang biasa, pakaian yang kasar, dan alas kaki yang seadanya itu benar-benar menipu keduanya.


"Ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan namaku sejak kemarin ya, Anak Muda," kata pria tua membuat seisi ruangan tersentak. Lut lupa bahwa sejak kemarin mereka belum berkenalan. Var tidak menyangka bahwa sahabatnya bisa mendapat bantuan dari bangsawan yang belum dikenal. Sementara pria paruh baya heran ayahnya mau datang bersama dua pemuda yang tidak dikenal.


"Namaku Andreas van Ryvat," kata pria tua itu memperkenalkan diri. Ia adalah adik ibu suri, tetapi ia tidak mengatakannya, "Sesepuh di Keluarga van Ryvat. Aku membantumu karena kita merupakan golongan yang sama. Jadi tidak usah sungkan."

__ADS_1


Pria paruh baya bernama Issac van Ryvat mengangguk paham. Lut pun mengingat-ingat sebentar lalu tersenyum berterima kasih. Hanya Var yang tidak mengerti situasinya di ruangan itu.


__ADS_2