Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Masalah di Kota


__ADS_3

Kerajaan el Vierum, 3 Bulan Sebelum Alice vi Alverio Menghilang


"Kapan kita akan sampai di ibu kota?" Aristia menyibak keheningan di meja makan yang ditempati para gadis cendekia. Mereka sedang beristirahat di sebuah resto yang dikelola oleh Serikat Dagang Saville. Selain dari serikat itu, Alice tidak menerima yang lainnya.


Florence yang sedang menikmati tehnya pun menoleh, lalu menjawab, "Sekitar dua hari lagi. Ada satu desa lagi yang akan kita kunjungi. Jangan lupa, segera selesaikan laporan Kalian setibanya di istana nanti."


"Oke," jawab Mainne yang kebetulan baru saja mengunyah makanannya. Itu adalah daging sapi muda berkualitas tinggi yang dipanggang dengan sempurna. Ada teknik khusus untuk membuatnya. Proses penyembelihan pun memerlukan cara tertentu, tidak boleh asal sembelih. Hewan yang disembelih harus dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa.


"Kita sudah hampir sebulan tidak hadir di akademi," Akilla tiba-tiba teringat studi mereka ketika Florence menyinggung tugas laporan yang harus diserahkan nanti, "Bagaimana kita akan mengejar ketertinggalan?"


"Tenang saja! Kalian akan tetap mendapat nilai tambah meskipun tidak mengikuti ujian di semester ini," Anna meniupkan angin segar, "Lagi pula, lebih banyak hal yang Kalian pelajari dengan turun langsung ke lapangan, bukan?"


Pada dasarnya, gadis cendekia adalah gadis-gadis pilihan yang dibina atau dipimpin langsung oleh seorang putri. Dalam generasi kali ini, mereka berperan sebagai kawan belajar Alice. Mereka dipilih untuk mendampingi putri yang berbakat itu.


Mereka mendapat semacam beasiswa dan didikan khusus di Istana Mutiara. Ada berbagai program unggulan di sana. Hasil dari program-program itu diakui oleh akademi, bahkan Raja el Vierum.


Tiga generasi pertama yang dipimpin dan dibina oleh Putri Elianna juga Duchess Evianna selalu dapat menjadi sosok penting di ranahnya masing-masing. Dengan rekomendasi putri kembar itu, urusan administrasi dan birokrasi dapat selesai dengan mudah. Akan tetapi, mereka harus benar-benar dapat mengimplementasikan ilmu mereka setelah direkomendasikan.


Alice yang telah mendapat Honoris Causa pun berhak memberi kawan-kawannya rekomendasi. Akademi akan menghormati keputusannya sekalipun ia adalah seorang gadis berusia sepuluh tahun. Ia adalah keajaiban di zamannya.


Walaupun diakui oleh Raja el Vierum sekalipun, bukan berarti semua orang akan menerimanya. Pasti selalu ada pihak yang merasa iri dengan orang lain. Mereka mungkin akan meragukan kemampuan para gadis cendekia sampai melihatnya dengan mata kepala sendiri.


"Kita sudah cukup beristirahat, ayo kita berangkat," Anna mengajak para gadis cendekia untuk bergegas kembali ke kereta kuda. Mereka pun bangkit, sementara itu Florence sibuk menangani pembayaran di kasir.


Alice berjalan dengan anggun seperti kebiasaannya. Pandangannya lurus ke depan dan sedikit menunduk. Wajahnya terlihat teduh menenangkan. Ia berjalan sejajar dengan Aria yang sama-sama introver.


"Dasar orang rendahan! Minggir Kau dari jalanku!" teriakan seorang yang angkuh menarik perhatian Alice dan kawan-kawannya. Di jalan besar, terlihat seorang berpakaian bagus yang sedang marah-marah kepada seorang pedagang tua. Pedagang tua itu tersungkur di tanah dengan barang dagangannya yang berserakan. Sayur-mayur dan buah-buahan hancur dan tersebar di mana-mana.

__ADS_1


"Orang tua sepertimu buat apa pergi ke kawasan elit? Tempat ini hanya untuk bangsawan," bentak orang yang usianya masih terbilang muda itu. Di belakangnya, para pengikutnya hanya terdiam. Orang-orang yang lewat pun tak mau ikut campur.


Alice mengepalkan tangannya. Ia sangat ingin menegur bangsawan sombong yang muncul tepat di hadapan matanya itu. Sebelum kakinya tergerak selangkah pun ke sana, seorang pemuda sudah lebih mendahuluinya.


"Tenanglah, Kawan," pemuda itu membuat pendekatan yang damai. Bangsawan yang ia tegur segera melotot tajam kepadanya. Orang berpakaian bagus itu mengamati lawan barunya dari atas sampai bawah dengan hati-hati.


Pemuda itu mengenakan jas almamater beremblem Akademi Kerajaan. Kemeja dan celananya berbahan bagus. Tubuhnya tegap. Wajahnya tampan. Rambutnya cepak berwarna kecokelatan. Matanya gelap sebiru laut yang dalam.


Alice mengenali pemuda dengan wajah yang menyebalkan itu. Ia beberapa kali bertemu dengannya. Pemuda itu selalu memiliki ekspresi riang yang sedikit mirip dengan Aristia, tapi ada kesan jahilnya di sana.


"Siapa Kamu?" bangsawan yang sombong itu akhirnya bertanya.


"Aku?" si pemuda mengumbar senyum mengesalkan, "Aku adalah Solid van Denburg, ajudan Putra Mahkota el Vierum. Senang bertemu Anda, Baron Muda Puliu."


Baron bernama Puliu itu terbelalak. Ia nyaris tak percaya jika Solid tak menunjukkan emblem keluarganya yang terkenal. Ia langsung memperbaiki sikapnya agar tidak menyinggung tuan muda itu.


"Senior Solid? Apakah ia ada urusan di kota ini?" Aristia menanyakan hal yang sama. Ia pernah menjadi penggemar kesatria muda itu di akademi dulu, tapi sekarang sudah tidak karena ia memiliki banyak kesibukan di Istana Mutiara.


Alice sudah tidak melihat drama pahlawan-pahlawanan yang diperankan oleh ajudan tunangannya itu. Ia lebih tertarik dengan percakapan Anna bersama seorang staf Serikat Dagang Saville.


"Ada apa?" tanya Alice penasaran. Ia juga melihat orang tua yang tadi dimarahi Puliu ada di depan resto Serikat Dagang Saville. Pria tua itu duduk dengan wajah tertekuk, sementara seorang pegawai resto menghiburnya.


"Orang tua itu adalah pedagang yang bekerja sama dengan Serikat Dagang Saville. Ia membawa pasokan untuk resto di kota ini," jelas Anna sambil geleng-geleng. Sangat merepotkan saat berurusan dengan bangsawan setempat. Jadi, staf Serikat Dagang Saville itu meminta tolong padanya.


"Orang rendahan itu dulu yang mengusik saya," Puliu tetap meninggikan suara walau sekarang dengan bahasa yang lebih formal, "Bagaimana saya bisa menerima penghinaan seperti ini?"


"Bukannya Kamu yang menabraknya terlebih dahulu?" Solid secara tersirat membantah.

__ADS_1


Alice menatap Puliu sebal, lalu bertanya pada staf Serikat Dagang Saville, "Apa orang itu memang suka membuat gara-gara?"


"Ya, beliau sering melakukannya akhir-akhir ini, Yang Mulia Putri," jawab staf itu, "Saya dengar dari beberapa pelanggan, bisnis Keluarga Puliu mengalami kemerosotan dalam beberapa bulan belakangan. Sejak itu, banyak pedagang yang bekerja sama dengan kami mendapatkan masalah."


"Apa Kalian tidak melaporkannya ke pihak berwajib?" tanya Alice kemudian. Sorot matanya tajam. Tindak-tanduknya selalu terjaga. Kesannya sebagai Putri Musim Dingin menyeruak seketika. Staf itu sampai gugup dibuatnya. Anna tertawa kecil melihatnya.


"Kami sudah melaporkannya, tapi proses hukum tidak pernah berjalan," jelas staf yang merupakan seorang wanita paruh baya itu, "Para kesatria kota pun tidak pernah bergerak. Walaupun Keluarga Puliu mengalami kerugian, tapi mereka tetaplah keluarga kaya."


"Apa Madam Maria tidak mengetahui ini?" kali Alice bertanya pada Anna, "Ini masalah serikat yang masuk dalam urusannya bukan."


"Dia sudah menceritakannya pada saya," ucap Anna dengan jujur, "Penyelidikan sedang dilaksanakan sekarang."


"Mengapa tidak melaporkannya padaku?"


"Eh? Saya juga baru mendengarnya tadi pagi," Anna buru-buru menjelaskan sebelum Alice semakin salah paham, "Madam Maria menceritakannya setelah tahu kita sampai di kota ini."


"Di mana tua bangka itu? Dia harus bertanggung jawab," Puliu celingak-celinguk mencari korbannya. Ia ingin mencari dalih untuk ditunjukkan kepada Solid. Setelah menemukan pria itu duduk di depan resto Serikat Dagang Saville, ia menuding dan membentak, "Pak tua! Kemari Kau!"


Semua orang terkejut. Para kesatria yang mengawal perjalan Alice geram. Begitu pula para gadis cendekia. Tudingan Puliu itu terlihat mengarah kepada tuan putri mereka.


"Jaga sopan santunmu!" bentak Rosemary. Ia yang pertama bereaksi. Bentakannya lebih membuat banyak orang terkejut. Apalagi Solid yang baru menyadari keberadaan para gadis cendekia. "Yang Mulia Putri Mahkota el Vierum ada di hadapanmu."


"A ...!?" Puliu tak dapat berkata-kata. Bentakan Rosemary yang terdengar sangat galak menurunkan mentalnya seketika. Tubuhnya pun gemetaran karenanya.


"Sial! Aku tidak tahu. Jadi, karena itu ayah melarangku berurusan dengan mereka hari ini," umpat Puliu dalam hati. Ia juga baru menyadari keberadaan para kesatria asing yang ada di sekitarnya. Para kesatria itu memancarkan aura yang menekan padanya.


"Baron Muda Puliu, kami tidak akan tinggal diam mengenai masalah ini," Alice mengambil kesempatan itu untuk menunjukkan otoritasnya. Sebenarnya, Ia sudah berencana untuk pergi ke Balai Pengawas Wilayah di kota ini untuk menyelidiki kasus yang kemungkinan berkaitan dengan Keluarga Puliu dan penguasa kota. Akan tetapi, bangsawan rendah itu sudah menariknya untuk bertindak lebih cepat.

__ADS_1


__ADS_2