
Kediaman Earl di Aries, Ibu Kota Kerajaan
"Selamat datang, Tuan Putri," sambut Countess di Aries hangat, "Suatu kehormatan bagi kami dapat mengundang Anda."
"Begitu pula dengan saya, Nyonya Countess di Aries," balas Alice tak kalah hangat, "Saya sangat senang menerima undangan dari sahabat karib ibunda."
"Kamu sungguh pandai di usiamu yang begitu muda," Countess di Aries juga merasa senang, "Duchess vi Alverio pasti bangga jika melihat perkembangan Anda."
"Pasti begitu," Alice memberi senyum ramah. Ia dan Anna pun dituntun menuju taman kediaman tempat pesta teh diadakan. Beberapa gadis telah berkumpul di sana.
Melihat kedatangan putri nomor satu di Kerajaan el Vierum itu, para gadis yang tengah mengobrol langsung gaduh. Mereka berebut memberi salam. Alice hanya membalasnya dengan sedikit basa-basi dan senyum yang ramah.
"Tuan Putri, bagaimana rasanya bertunangan dengan putra mahkota?" tanya seorang gadis berambut pirang keemasan semangat. Alice pun meletakkan teh yang baru saja diminumnya dan menjawab santai, "Biasa saja. Itu tidak sehebat yang Nona Miralda bayangkan."
"Benarkah?" Miralda de Vasel tersenyum tidak percaya, "Bukankah kemarin Kalian berdua bersama di istana. Para bangsawan gaduh membicarakannya."
"Kami hanya belajar bersama," jelas Alice muak dengan obrolan terkait bocah itu. Ia mengamati nona tuan rumah yang tampak murung dan mengganti topik, "Nona Ariel, Anda terlihat tidak sehat. Apa Anda baik-baik saja?"
Ariel di Aries pun sedikit terkejut karena sejak tadi ia tidak bergabung dalam percakapan selain basa-basi penyambutan di awal. Ia menimbang-nimbang untuk memberi tahu. Para nona lain pun jadi penasaran dan memperhatikannya.
"Itu...," Ariel masih ragu untuk memberitahunya, "Bukan apa-apa," katanya berusaha menutupi kegelisahan dengan senyum, "Hanya sebuah masalah kecil di fief."
"Syukurlah kalau begitu," Alice menenangkan, "Nona tidak perlu terlalu memikirkannya karena pasti Earl di Aries dapat mengatasinya dengan baik."
"Tuan Putri benar," Ariel terhibur, "Ayah sudah berusaha sangat keras selama ini. Dia mengajarkan hal baik dan rakyat sangat mempercayainya."
"Maka sisanya tinggal berpasrah pada Tuhan Yang Maha Esa," lanjut Alice, "Benar kan, Madam?"
Anna hanya mengangguk dengan senyumnya. Para nona bangsawan itu pun kembali membicarakan hal lain. Mereka tertawa dan sesekali menggoda Alice kembali.
"Tuan Putri sungguh beruntung."
"Bertunangan dengan pangeran tampan."
__ADS_1
"Gagah berani dan pandai bermain pedang."
"Bermulut manis dan penuh perhatian."
Begitulah kata mereka. Padahal mereka belum tentu pernah bertemu Antonio selain dengan telinga. Akan tetapi, mereka membahasnya seperti orang yang paling mengenalnya.
Alice dengan sabar membalasnya dengan senyuman. Ia tak sekali pun tersanjung apa lagi bersemu merah. Entah mengapa ia malah jadi semakin dongkol dengan putra mahkota itu.
"Mereka terlalu berlebihan memandang bocah itu," gumam Alice di kereta kuda. Padahal dia sendirinya lebih kecil, tapi tak memandang diri anak-anak. Anna tertawa kecil karena itu. "Tapi saya setuju kalau putra mahkota perhatian pada Nona. Bahkan beberapa hari lalu beliau sampai membawakan kue spesial khusus untuk Nona."
"Yang mana?" Alice tidak ingat pernah makan kue pemberian Antonio.
"Yang Nona tolak langsung," Anna mengingatkan.
"Oh, itu," ingat Alice lalu kembali melupakannya, "Tapi ia memang orang yang baik hati pada siapa saja."
"Astaga!?" Anna nyaris tak percaya, "Apa Nona cemburu?"
"Tidak!" tegas Alice datar.
"Anda merajuk," Anna merasa bersalah. Lagi-lagi dibalas dengan datar oleh Alice, "Tidak."
"Syukurlah kalau begitu," lega Anna. Jika Alice berkata begitu, berarti memang begitu keadaannya. Kelihatannya gadis berusia 10 tahun itu benar-benar belum mengerti cinta.
Anna tiba-tiba merasakan hawa tidak nyaman. Dengan reflek ia mencabut belatinya. Alice di hadapannya pun begitu. Kepekaannya tak dapat diremehkan walau ia sekecil itu.
Mereka berada di tengah ibu kota yang padat. Sangat gegabah melakukan penyerangan kecuali ia seorang pembunuh solo. Selama beberapa saat menunggu, keberadaan hawa tak nyaman itu berangsur pudar. Tak ada apa pun yang terjadi, tetapi mereka tidak melepas kewaspadaan.
Saat itu, kereta kuda Istana Mutiara berpas-pasan dengan kereta kuda Menara Penyihir. Di dalamnya, Nana dan Charlotte tengah perang urat saraf. Luapan mana Nana sampai bocor ke mana-mana.
Tidak! Sebenarnya itu adalah pertarungan satu sisi. Hanya Nana yang tampak emosi. Charlotte yang tenang duduk diam mengabaikannya. Ia sengaja tidak memakai sihirnya sampai akhir agar para senior di paviliun kerepotan.
...***...
__ADS_1
"Kita kehilangan seorang penyihir sekaligus para tumbal," kata Voxnus membaca laporan dengan tidak senang. Wajahnya tampak seram. Air mukanya selalu keruh seperti biasa.
"Earl di Aries berhasil menumpas Bandit Serigala Liar dan menyelamatkan para tumbal," kata Alexier membacakan laporan. Ia seorang pria yang tampak dingin dan tidak banyak berekspresi. Matanya seperti serigala malas menyembunyikan taringnya. Walau terlihat biasa saja, ia tetap orang ketiga di Menara Penyihir.
"Bukan," potong Voxnus, "Earl bodoh itu bukan orang yang menumpas Bandit Serigala Liar. Jika ia orang yang menumpas para bandit itu, tidak mungkin penyihir kecil yang kukirim meninggalkan jejak terakhirnya di hutan."
"Mungkin saja penyihir kecil itu kabur dari penyergapan," tebak Alexier realistis. Voxnus masih menyanggahnya, "Ia bisa terbang di udara, buat apa ia kabur ke hutan?"
"Mananya pasti habis untuk bertahan," Alexier masih teguh pada tebakannya, "Kulihat dia hanya penyihir muda yang lemah dan tidak punya banyak mana."
"Yang Kau bilang lemah itu adalah penyihir level 4 dan keturunan cabang dari keluarga penyihir ternama," Voxnus berdalih, "Walau bukan keturunan langsung, ia tetap memiliki banyak mana."
"Wajar jika lawannya adalah ratusan kesatria tuan tanah yang dihormati rakyat," Alexier belum juga mengaku kalah, "Dia sudah bekerja keras untuk bertahan hidup."
"Lupakan saja! Sekarang ada masalah yang lebih serius," Voxnus mengalihkan topik, "Cih! Para bedebah astral itu selalu saja meminta hal-hal yang tidak masuk akal."
"Anda mengetahui kesia-siaan itu," komentar Alexier, "Tapi Anda tetap terobsesi pada mereka."
"Itu hanya rasa penasaranku," jujur Voxnus, "Aku hanya ingin sesekali masuk ke dunia para astral itu."
"Ck! Rasa penasaranmu itu sudah diluar batas wajar," kata Alexier terlihat tidak peduli, "Sudah berapa banyak orang yang Kau bunuh akhir-akhir ini?"
"Entahlah," ujar Voxnus lebih tidak peduli, "Buat apa menghitung remah roti yang jatuh."
"Tuan Voxnus, gawat!"kata seorang penyihir muda yang baru sampai itu. Wajahnya sangat panik. Ia seperti orang yang dikejar-kejar sekelompok serigala.
"Ada apa lagi?" bentak Voxnus tidak suka. Ia baru saja mendapat laporan masalah dan sekarang masalah lain ingin menyapanya.
"Nona Nana mengamuk," lapor penyihir itu, "Tak ada seorang pun yang bisa menenangkan"
"Bagaimana dengan Charlotte? Di mana dia?" Voxnus tidak percaya. Hanya gadis itu yang dapat menenangkan hati Nana dengan sihirnya.
"Anu... Tuan," penyihir itu melanjutkan laporannya, "Nona Charlotte langsung ke kamarnya begitu sampai. Ia tampak lelah. Sepertinya Nona Nana memang sudah marah sejak dalam perjalanan."
__ADS_1
"Ck! Dasar tidak tahu diuntung!" Voxnus dan Alexier segera turun untuk mengatasi masalah. Biasanya mereka akan membuat gadis pingsan agar dapat mendinginkan kepala.
Begitu semua pergi, penyihir muda itu pun menyeringai.