
"Akhirnya kita akan kembali ke wilayah," seru Alice lega. Ia sudah sebulan lebih berada di ibukota untuk mempersiapkan acara di Istana Mutiara. Setelah ia kembali ke wilayah, Ratu Clara yang akan mewakilinya merawat Istana Mutiara. Istana itu akan ditempati para gadis terpilih dari acara Pesta Bedah Buku. Mereka akan memulai penelitian dan studi di sana.
"Anda terlihat sangat senang dengan itu," Anna mengamatinya teduh. Padahal baru tadi sore ia menerima teman-teman barunya dari akademi. Besok pagi, ia sudah akan pergi ke Duchy vi Alverio untuk liburan sejenak. Setelah dua Minggu, ia baru akan kembali lagi untuk belajar menjadi ratu masa depan.
"Tentu saja! Duchy vi Alverio lebih nyaman dan tenang daripada ibu kota," balas Alice. Ia mengenakan baju santai yang tetap tertutup menjaga kehormatannya. Setelah ini, ia akan ada acara bersama para gadis yang tinggal di istananya.
"Tuan Putri, makan malam sudah siap," lapor seorang pelayan. Alice pun mengangguk dan segera turun ke ruang makan. Lima orang gadis telah menunggunya untuk datang. Sarjana Florence juga di sana untuk menjadi wali para gadis cendekia itu.
"Maaf telah membuat Kalian menunggu," kata Alice berbasa-basi.
"Bukan masalah, Tuan Putri. Kami juga baru datang," kata seorang gadis berkerudung putih. Wajah gadis itu amat cantik bagai peri dengan senyumnya. Sorot matanya tenang menunjukkan kearifan. Aura yang dipancarkannya hangat membawa ketenangan. Ia masih berkerabat dengan Alice dari Keluarga van Ryvat.
"Kita tidak sedang berada di depan publik," Alice hendak memberi izin, "Jadi Kak Akilla dan yang lainnya panggil saja aku Alice."
"Saya tetap tidak akan bisa begitu, Tuan Putri," Mainne menunduk sungkan. Ia satu-satunya rakyat jelata yang terpilih. Statusnya sangat berbeda jauh dengan Alice.
"Santai saja," kata Alice dengan senyum manis persahabatan, "Ketika Kamu memasuki istana ini, Kamu berpeluang besar untuk menjadi pejabat kerajaan di masa depan nanti."
"Benar, Kamu juga harus mulai memperbaiki etiket di pergaulan sosial," kata seorang gadis bangsawan berambut coklat dan bergelombang. Nada bicaranya tegas. Tatapan matanya tajam. Sosoknya penuh kehormatan dan harga diri. Ia berkata dengan percaya diri, "Kita akan menjadi tangan kanan ratu di masa depan. Jangan sampai kita mempermalukannya di hadapan orang-orang."
"Begitulah, Mainne," Alice kurang setuju, tetapi tidak buruk juga. Masih banyak jalan berliku yang harus dilalui. Bagiamanapun, kebanyakan gadis yang pernah lolos seleksi dari Tuan Putri di Istana Mutiara akan menjadi sosok penting bagi kerajaan seperti Ratu Clara. "Jadi biasakan dirimu mulai sekarang. Kamu sudah dianggap setara seperti para nona bangsawan lainnya."
"Baik, Tuan Putri," kata Mainne masih belum mampu bersikap santai.
"Besok aku akan kembali ke Duchy vi Alverio selama dua munggu," kata Alice setelah makan malam tandas. "Walaupun aku tidak ada di sini, kuharap Kalian sudah dapat memulai pelatihan dan penelitian. Madam Florence, aku mohon bantuanmu."
"Baik, Tuan Putri," Sarjana Florence menyanggupi.
"Baiklah, Kalian boleh segera beristirahat," seru Alice begitu semua pesan disampaikan, "Seperti yang sudah kusampaikan, santai saja. Bila ada keperluan, kalian bisa meminta pada para pelayan. Aku pergi dulu."
Setiap gadis cendekia membawa pelayan mereka masing-masing kecuali Mainne. Ia diberi pelayan dari istana untuk melayaninya. Ia masih sangat sungkan dan lebih memilih mengerjakan semua keperluannya sendiri. Lagi pula, ia adalah gadis yang bijaksana dan mandiri.
__ADS_1
"Tuan Putri, mengapa Anda sendirian di sini?" tanya Mainne ketika mendapati Alice tengah duduk di atas saung taman dengan lentera temaram. Sebelumnya, ia mendengar sebuah lantunan merdu seperti syair. Itu amat indah walaupun ia tidak mengerti maknanya.
"Mainne? Bukankah sudah kubilang untuk bersikap santai?" tanya Alice tanpa menoleh. Ia memandang langit bersih yang penuh bintang bak mutiara. Purnama tengah terbit menerangi sekitarnya. Ia amat cantik dan menawan.
Angin malam berhembus membelai selimut tebal yang dikenakan Alice. Rambut panjangnya menari-nari senang. Cahaya rembulan menerpa wajahnya. Mata merahnya yang secantik ruby menyampaikan kerinduan.
"Mohon maafkan saya, saya masih belum terbiasa," kata Mainne.
"Tidak apa-apa," Alice tersenyum ramah. Ia benar-benar berbeda pada orang-orang terdekatnya. "Aku hanya sedang melihat bintang. Apa Kamu juga ingin melihatnya?"
"Em... yah, Baiklah," kata Mainne gugup lalu duduk di samping Alice. Dingatnya lantunan yang indah tadi. Tak ada seorang pun di sini kecuali Alice. Jadi pasti tuan putri itulah yang melantunkannya.
"Tuan Putri, apakah nyanyian yang baru saja Anda lantunkan itu?" tanya Mainne menyibak keheningan.
"Nyanyian? Aku tidak bernyanyi," sangkal Alice. Ia menatap wajah Mainne sekarang. Gadis biasa itu memiliki paras yang tak kalah jelitanya dengan bangsawan. Matanya cokelat gelap selaras dengan rambutnya yang sepunggung.
"Kalau yang Kamu maksud adalah apa yang aku baca barusan," jelas Alice, "maka itu adalah '30 ayat yang menyelamatkan' dari kitab suci."
"Tapi aku tidak pernah mendengar yang seperti itu dari utusan kuil," Mainne mengingatnya. Bahasa yang dibacakan Alice benar-benar berbeda. Itu tak dapat dipahami tetapi menenangkan.
"Tentu saja, tidak akan," Alice merapatkan selimut yang dipakainya. Malam makin larut dan hawa makin dingin. "Kuil telah mengubah isi kitab yang sebenarnya. Mereka menyembunyikan aturan-aturan yang mereka benci dan menyiarkan yang mereka suka saja. Bahkan mereka memutar lidah mereka untuk memanipulasi isi kitab suci itu."
"Benarkah? Tetapi bukannya Baginda raja dan keluarga kerajaan mendukung mereka," Mainne mengingat festival keagamaan yang meriah beberapa bulan lalu di kampung halamannya.
"Entahlah, itu karena penganut ajaran kuil sangatlah banyak dan berpengaruh," jelas Alice, "Jadi keluarga kerajaan tidak bisa serta-merta mengusiknya. Apalagi sejak naiknya Raja Rumahinius yang juga memulai hubungan keluarga kerajaan dengan para penyihir."
"Raja Rumahinius? Raja yang bersahabat dengan pemilik Menara Penyihir pertama?" duga Mainne. Nama raja itu amat terkenal. Orang-orang bilang, ia adalah raja yang revolusioner.
"Benar!" jawab Alice. Pandangannya lalu menunjukkan kesedihan dan kekecewaan pada leluhurnya itu. Walau sejarah mencatatnya sebagai pahlawan besar, fakta sebenarnya menunjukkan bahwa ia adalah pengkhianat besar.
Raja itulah yang memulai bitah-bitah dengan para utusan kuil. Ia yang membatasi pergerakan para penganut ajaran monoteisme murni karena menyinggung kekuasaannya. Mulai dari masanyalah pengaruh monoteisme murni menurun.
__ADS_1
"Tuan Putri, saya tertarik dengan ajaran monoteisme murni itu," kata Mainne dengan semangat pengetahuan, "Tapi sepertinya itu menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa kerajaan. Apa tuan putri memahaminya?"
"Tentu," kata Alice lalu menjelaskan perincian makna dari tiap ayat yang dibacanya, "Aku sudah menjelaskan padamu mengenai kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang meliputi kerajaan langit dan bumi. Lalu penciptaan tujuh langit yang berlapis-lapis tanpa sedikit pun ada cacatnya. Begitu pula dengan siksa yang akan diterima orang-orang yang ingkar terhadap Tuhannya dan penyesalan mereka di akhirat kelak."
"Ayat yang ini menjelaskan balasan untuk orang yang beriman dan takut kepada Tuhan walaupun mereka tidak melihat-Nya," jelas Alice setelah jeda sejenak tadi, "Mereka akan mendapat ampunan dan ganjaran yang besar yaitu surga."
"Aku mengerti," kata Mainne setelah menerima penjelasan Alice itu, "Tanda-tanda Tuhan itu benar-benar jelas. Bagaimana aku tidak menyadarinya selama itu? Aku mengerti perasaan orang-orang yang beriman itu. Mereka amat cerdas dapat melihat tanda-tanda-Nya."
"Syukurlah kalau begitu," kata Alice senang, "Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dijelaskan. Malam semakin larut, ayo kita beristirahat dulu. Lihat! Kak Anna sudah menghampiri kita."
"Nona, mengapa Anda belum kembali juga?" kata Anna cemas begitu sampai di depan saung, "Oh, ada Nona Mainne juga."
"Tolong panggil aku Mainne saja, Madam," kata Mainne kaget, "Saya masih jauh dari kata pantas."
"Baiklah kalau begitu," kata Anna setuju, "Nona, Mainne, mari lekas kembali dan beristirahat."
"Baiklah, Kak," Alice segera berdiri dari duduknya dan melangkah masuk diikuti Mainne dan Anna. Pikirannya tengah mengembara jauh ke masa depannya.
Ia bertanya-tanya bagaimana pemahaman religi yang putra mahkota miliki. Jika kepercayaan mereka berbeda, maka di masa depan mereka tidak akan pernah bersatu selamanya. Itu akan sangat buruk kalaupun Alice ingin memperjuangkan takhta. Entah berapa banyak keluarga yang akan mendukungnya dengan pemahaman monoteisme murni.
"Putra mahkota tidak menolak penjelasan ku di taman yang lalu," gumam Alice sesampainya di kamar. Ia berbaring menghadap langit-langit kamar yang gelap. Lampu-lampu minyak sudah dimatikan. Ia semakin terlarut dalam pikirannya.
"Aku masih memiliki kesempatan untuk membimbing putra mahkota," kata Alice yakin, "Aku pasti bisa membimbingnya dan kami akan bersanding bersama mengembalikan kerajaan ini pada kejayaannya."
Gadis kecil itu pun menutup mata. Masa depan yang menunggunya tidaklah sederhana. Entah bagaimana takdir akan mengantar mereka, hanya Tuhanlah yang tahu.
catatan:
Bahkan author tidak memiliki gambaran jelas tentang kelanjutan Alice dan Alichia ini. Bagaimana hubungan Alice dengan Antonio? Atau kapan dan bagaimana Alichia muncul? Author hanya membiarkan hati ini menulis dan jari-jemarinya mengetik. Semuanya mengalir dengan sendiri.
Mohon doanya semua. Semoga novel ini dapat terus istiqomah ditulis dan menyiarkan kebaikan.
__ADS_1