
"Apa maksud kalian berdua, dasar gadis penyihir tengik?" umpat Hamelin dengan sisa tenaganya. Ia sudah tak dapat berbuat apa-apa lagi. Badannya telah terkunci oleh mana yang Melissa rapalkan.
"Hai, Tua bangka! Jangan pikir kami tidak tahu," tuding Nana dengan penuh emosi, "Aku menemukan bekas mana bunyi di area perburuan County de Vool. Mana itu pasti berasal dari seluringmu. Dari seluruh penyihir di kontinen, hanya kamu yang menggunakan mana bunyi selihai itu."
"Aku tak pengerti maksudmu, Bocah!" gumam Hamelin yang mulai kehilangan kesadarannya, "Kalian tiba-tiba datang dan mengacaukan rumahku. Apa begini cara kerja Menara Penyihir?"
"Kau ...!" Nana ingin memukul Hamelin, tapi Melissa menghalanginya, "Dia akan mati jika kau sentuh lagi, Nana. Biarkan dia beristirahat dulu. Untuk saat ini, kita cukup periksa saja rumahnya."
"Gadis-gadis kurang ajar," umpat Hamelin untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran.
"Huh! Penyihir lemah! Padahal orang-orang sangat takut dengan seluringmu yang menlegenda itu," Nana membalas umpatannya. Ia pun segera mengikuti Melissa masuk ke rumah Hamelin. Mereka berdua memporak-porandakan tempat itu tanpa mendapatkan hasil sama sekali. Hanya Hamelin tua yang mereka bawa dari sana.
"Kamu yakin bekas mananya mengarah ke sini?" tanya Nana setelah lelah mencari. Melissa yang masih belum menyerah pun menjawab, "Aku yakin arahnya ke mari. Penyihir tua itu pasti menyembunyikan sesuatu."
"Ck! Kita harus segera menemukan Charlotte. Bagaimana kalau ternyata ia terluka atau ...," Nana membayangkan sesuatu yang buruk, "Bagaimana kalau ada bandit hutan yang menculiknya?"
"Hah? Apa yang kau gumamkan itu, Nana? Mana mungkin ada bandit di Hutan Kaskas yang ganas?" Melissa mencibir, "Yang ada, mereka akan habis dimangsa monster sebelum bisa beraksi."
"Ada. Mereka ada di sini," tubuh Nana bergetar karena marah. Ia bisa merasakan kehadiran sekelompok orang-orang di kejauhan. Tanpa aba-aba sedikit pun, ia kembali terbang ke langit dan meluncur cepat. Mellissa hanya dapat menghela napas melihat tingkah kawannya yang terburu-buru. Ia harus menjaga Hamelin sekarang. Kalau tidak, pria tua itu pasti akan kabur.
***
"Sir Ula, kenapa Anda ada di sini?" tanya Rosemary mencoba untuk menggali informasi lebih dalam, "Bukankah Anda bilang bahwa tempat ini berbahaya?"
__ADS_1
"Ya, di sini sangat berbahaya. Flora dan faunanya sangat tak terduga di sini. Ada banyak hewan dan tumbuhan beracun. Kalau kita tak hati-hati, kita bisa mati dalam sehari," balas Ula dengannya santainya, "Tapi, aku sudah terbiasa di sini. Aku datang ke mari sejak beberapa tahun yang lalu untuk meneliti dan mencatat katalog makhluk-makhluk misterius di sini."
"Mencatat katalog?" Rosemary tak mengerti. Buat apa mencatat hal-hal seperti itu dan hidup sendirian di sini?
"Tak perlu dipikirkan, Nona vi Cornelia. Ini hanya sekadar hobiku, jadi aku menikmatinya," Ula mengeluarkan sebuah buku dari sakunya, "Lagi pula, aku tidak sendirian di sini."
"Hm? Benarkah?" Solid masih merasa curiga, "Di mana tempat tinggalmu?"
"Di arah yang berlawanan. Kalian mau ke luar hutan, kan?" Ula meminjamkan bukunya pada Rosemary yang terlihat sangat tertarik, "Aku akan membawa kalian ke desa Baron Alder."
"Baron Alder? Itu kan wilayah kekuasaan Ducy vi Alverio?" Solid semakin curiga pada Ula, "Harusnya, kami ada di sekitar wilayah County de Vool. Sir, apa kamu serius?"
"Anak muda, aku sudah bilang padamu," Ula berpaling kepada Solid dan menudingnya dengan jari, "Jika kamu tak percaya padaku, carilah sendiri jalanmu. Kamu akan sampai di wilayah County de Vool dalam seminggu jika mengikuti arah mentari terbenam."
"Seminggu?" Solid semakin tak percaya. Ia hendak protes lagi, tapi Rosemary buru-buru mencagahnya. "Solid, aku tahu ini aneh. Tapi sepertinya pria itu tidak berbohong sama sekali."
"Dari mana kamu ta ...," sebelum Solid selesai mempertanyaannya, Rosemary sudah lebih dulu menjelaskan. "Ini adalah batu bercahaya yang tadi kita lihat. Di sini ada anak-anak sungai tempat kita pingsan tadi. Lihat, itu adalah pohon raksasa yanng ada di peta ini."
Rosemary menunjuk sebuah pohon yang batangnya amat sangat besar. Andai delapan orang pria melingkarinya, meraka masih belum cukup untuk memenuhi keliling pohon itu.
"Hah, terserah kamu," Solid menghela napas pasrah. Bedasarkan penjelasn Ula, mereka akan sampai di desa terdekat besok pagi. Jadi, mereka akan berkemah di luar.
"Bukannya di sini ada banyak hewan berbahaya? Bagaimana kalau mereka menyerang kita?" salah seorang siswa merasa pesimis. Ula pun menoleh padanya dan menyeringai tipis.
__ADS_1
"Lindungilah dirimu sendiri. Kita hanya bisa lari atau melawan jika bertemu salah satu makhluk ganas di Hutan Kaskas," jelas Ula seirus, "Kalian kan siswa-siswi Akademi Kerajaan, harusnya kalian bisa bertahan hidup demi diri kalian sendiri. Jangan jadi beban bagi orang lain."
Para siswa jadi ribut. Mereka adalah putra-putri bangsawan. Meskipun sebagiannya sudah diajari ilmu berpedang sejak kecil, mereka sama sekali tak memiliki pengalaman. Apalagi para siswi perempuan yang tak pernah memegang pedang sama sekali.
"Santai saja," Ula menengahi keributan anak -anak itu. Jika mereka tak segera ditenangkan, perjalanan ini akan memakan waktu lebih lama. "Aku tak pernah bilang bahwa kita akan berkemah di luar. Ada pos yang kusiapkan di tengah jalan menuju Desa Baron Alder. Kita bisa beristirahat di sana."
Sebagian siswa bisa bernapas lega, sebagiannya yang lain masih merasa takut-takut, tapi tak menimbulkan keributan. Lagi-lagi, mereka terpaksa pasrah pada keadaan. Hanya ini yang bisa mereka lakukan sekarang.
"Sir, apa semua flora dan fauna di sini benar-benar ada?" tanya Rosemary yang masih sibuk membaca buku sambil berjalan, "Mereka terlihat fiktif dan mengerikan."
"Aku hanya mencatat hewan-hewan yang kulihat, Nona," jawab Ula jujur, "Hewan-hewan itu benar-benar ada. Coba kalian lihat beruang landak. Aku pernah melihat penguasa hutan itu beberapa tahun yang lalu sebelum Duke vi Alverio memburunya."
"Beruang landak?" ucap Rosemary dan Solid bersamaan, "Duke vi Alverio pernah memburu makhluk seperti itu?"
"Ya, coba tanya saja saat kalian berkunjung ke kediamannya nanti," Ula menyarankan, "Mereka pasti mau menerima kalian, kan?"
"Yah, tapi buat apa Duke vi Alverio memburu hewan ini?" tanya Rosemary penasaran. Ula tak langsung menjawab. Ia tersenyum miris untuk sejenak, lalu berkata, "Untuk sesuatu yang bodoh. Kalian tanyakan itu juga padanya nanti."
"Hah?" Solid tak terlalu mendengar ucapan Ula yang lirih itu, "Apa katamu?"
Tuk!
"Auw! Mary, apa maksudmu?" protes Solid tak terima dijitak Rosemary tiba-tiba. Rosemary berkacak pinggang di hadapannya. Gadis itu menatap Solid dengan sebal. "Jaga sopan santunmu. Kamu adalah putra bangsawan. Jangan buat kami malu."
__ADS_1
"Ck! Dasar kolot," Solid membuang wajah.
Mereka sampai di pos yang Ula maksud pada sore hari. Yah, katanya sih sore hari. Pepohonan di sini terlalu rindang sampai sulit melihat posisi matahari. Anak-anak akademi langsung tepar di sana. Mayoritas mereka tidak terbiasa jalan jauh. Sebagian lainnya memilih untuk berjaga meskipun sedang lelah.