
“Wakil Ketua Osis, di mana kita sekarang?” tanya seorang siswi begitu melihat Rosemary berdiri di sampingnya. Ia baru saja membuka mata. Saat bangkit untuk duduk, matanya seketika terbelalak. Masih banyak murid-murid Akademi Kerajaan yang belum sadar. Mereka tergeletak diberbagai tempat. Sejauh ini, baru ada tiga orang yang telah siuman. Mereka adalah Rosemary, seorang siswa dari kelas kesatria, dan siswi yang barusan bertanya.
“Lady vi Cornelia, apa yang sebenarnya terjadi?” siswa dari kelas kesatria itu juga bertanya sambil meremas ubun-ubunnya. Kepalanya masih pusing tak karuan. Penglihatannya pun masih sedikit buram. Ia dapat mengenal Rosemary dengan warna rambutnya yang khas.
“Aku juga tidak tahu apa-apa. Tempat ini sangat aneh. Mirip dengan hutan di dongeng-dengeng sebelum tidur,” jawab Rosemary yang pertama kali terbangun. Ia telah memperhatikan sekitarnya dengan cermat. Dengan kepribadiannya yang bijak dan tenang, ia telah membuat beberapa dugaan sambil merancang rencana.
Pohon-pohon di sekitar sangat tinggi dan rimbun sampai-sampai sinar matahari tak dapat menembusnya. Namun, mereka memiliki akar-akar gantung yang unik dan cantik. Akar-akar itu bercahaya kebiruan temaram. Karena itu, Rosemary dan kawan-kawannya dapat saling melihat dan mengenal satu sama lain walaupun sekitarnya sedikit gelap.
Suara gemericik air terdengar. Tak jauh dari tempat para murid akademi terbaring, ada sebuah anak sungai yang mengalir jernih. Sungai dangkal itu juga bercahaya. Batu-batu cantik yang penuh warna bertaburan di sana. Batu-batu itulah yang memancarkan cahaya.
“Jangan sentuh air itu!” sebuah suara teriakan menghentikan Rosemary yang hendak mencuci muka. Gadis dari Keluarga vi Cornelia itu pun menoleh. Dilihatnya seorang berpenutup wajah yang jatuh dari langit-langit hutan. Namun, ia sampai di tanah dengan mulus.
“Nona, menjauh dari sungai segera!” teriak orang bertopeng itu sekali lagi. Rosemary menunjukkan wajah penuh tanya. Ia menuruti perintah orang itu dan segera menjauh. Dalam hati ia bertanya-tanya, “Apa yang sesungguhnya terjadi? Tempat apa ini?”
“Si, siapa Anda?” tanya Rosemary akhirnya. Hawa mencekam tiba-tiba menyeruak begitu saja. Tubuh gadis itu pun membeku seolah ada aura misterius yang menekannya. Kedua temannya yang sudah tersadar juga merasakan hal itu.
“Ula. Namaku Ula,” jawab orang itu dengan suara yang samar. Tidak jelas apakah ia laki-laki atau perempuan. Ula melempar sebuah batul ke anak sungai. Belum sampai batu itu menyentuh permukaan, suara-suara percikan terdengar dari sungai.
__ADS_1
Butir-butir air seolah berterbangan dari sungai. Batu yang dilempar itu seketika terkorosi, nyaris tak tersisa saat sampai di permukaan air. Rosemary dan kawan-kawannya yang melihat itu bergidik ngeri. Ia pun berterima kasih pada Ula yang telah memperingatkannya.
“Ah, ya. Siapa kalian? Kenapa kalian bisa sampai ke pedalaman hutan yang berbahaya ini?” Ula mendahului Rosemary yang hendak meminta keterangan. Pertanyaannya itu menunjukkan bahwa ia adalah orang asli di sini atau paling tidak sering berkunjung ke tempat semacam ini.
“Sir Ula,” Rosemary memutuskan untuk menganggap orang berpenutup wajah itu sebagai laki-laki, “Perkenalkan, saya Rosemary vi Cornelia dari Kerajaan el Vierum. Mereka adalah teman-teman saya, murid dari Akademi Kerajaan. Kalau boleh tahu, di mana dan tempat apakah ini?”
“Tempat ini? Ini adalah pedalaman Hutan Kaskas. Buat apa kalian ke tempat berbahaya ini?” Ula mengulang pertanyaannya yang belum terjawab. Orang itu memandang penuh curiga. Rasanya aneh melihat anak-anak bangsawan itu sampai ke tempat yang bahkan tak dapat dijamah oleh pemburu handal dari Kerajaan el Vierum.
“Kami …,” Rosemary kebingungan untuk menjawab. Gadis berambut cokelat itu tidak ingat bagaimana ia dan teman-temannya sampai ke tempat ini, apalagi tujuannya ke mari. Memori di kepalanya hanya dapat mengingat sampai hari pembukaan puncak pemburuan.
Ula mengerutkan kening sebentar, lalu berpaling tanpa mengatakan apa pun. Otaknya sedang mencerna maksud Rosemary. Ia memang mendengar mengenai acara pemburuan itu, tapi ia yakin bahwa tempatnya sangat jauh dari sini. Tidak mungkin anak-anak dapat tersesat sampai ke mari. Ia juga jadi bingung harus berbuat apa.
“Sir,” Rosemary kembali memanggil Ula. Ia masih butuh informasi lainnya. Beberapa kawannya mulai terbangun. Termasuk Solid yang ternyata ada di antara mereka. Pemuda itu memijat keningnya, berusaha menghilangkan pening yang memberatkan kepalanya.
“Tunggu sebentar. Aku akan kembali lagi. Jangan pergi atau menjauh dari tempat ini. Ingatkan temanmu untuk tidak mendekati sungai. Oke?” peringatan Ula memotong panggilan Rosemary. Orang itu pun langsung pergi dengan melompat tinggi ke dahan-dahan di pohon yang besar. Rosemary hanya dapat tertegun dan menatapnya tak percaya.
Sebagaimana yang Ula katakan, Rosemary mengingatkan kawan-kawannya untuk tidak mendekati sungai. Ia pun menyuruh mereka berkumpul di satu tempat dan mendata kawan-kawannya yang ada. Total mereka ada tujuh belas, tiga orang masih belum siuman. Jumlah itu nyaris satu kelas di Akademi Kerajaan.
__ADS_1
“Mary, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Solid mewakili anak-anak lainnya.
“Entahlah. Aku juga tidak ingat. Kita tunggu saja Sir Ula kembali,” jawab Rosemary setelah menjelaskan beberapa hal yang diketahuinya. Walaupun ia tidak bisa begitu saja mempercayai orang lain, ia tidak memiliki pilihan pada kondisi ini. Beberapa anak terlihat panik. Mereka sangat kebingungan dan ketakutan. Hanya sedikit yang dapat berkepala dingin seperti Solid dan Rosemary.
Tempat ini memang cantik, tapi mengandung banyak aura misterius yang mengerikan. Bisa saja tiba-tiba muncul binatang buas yang berbahaya, atau serangga beracun yang mematikan, bahkan monster sihir seperti yang telah dirumorkan. Semakin lama di sini, kondisi akan semakin membahayakan.
“Nona vi Cornelia,” Ula tiba-tiba muncul di dekat Rosemary. Kemunculannya yang mendadak itu tentu saja membuat Sang Wakil Ketua OSIS sangat terkejut. Solid bahkan dengan sigap mencabut pedang di punggungnya dan membuat kuda-kuda.
“Tenang, Solid. Aku yakin dia orang baik,” ucap Rosemary setengah yakin dengan prasangkanya. Ia tidak bisa menjamin pernyataan itu sepenuhnya. Karena itu, ia tetap memberi sinyal pada Solid untuk bersiaga.
“Anak-anak, aku akan mengantar kalian ke luar dari sini,” kata Ula sambil membuka topengnya. Ia memang seorang laki-laki. Baru saja pria itu menjelaskan secara singkat mengenai dirinya. Setelah diperhatikan lebih detail, ternyata ia menggunakan pakaian yang sangat aneh bagi orang-orang Kerajaan el Vierum. Pakaian yang ia gunakan serba hitam. Ada empat saku dimukanya. Bahannya pun terlihat jauh berbeda.
“Apa kita benar-benar bisa mempercayainya?” bisik Solid curiga. Matanya menatap tajam ke pria bernama aneh itu. Mana mungkin ia mau mengantarkannya ke luar hutan. Mungkin saja dia adalah orang dari suku pedalaman di Hutan Kaskas. Mereka terkenal sangat berbahaya dan brutal.
“Kalau kamu tidak mau ikut, silakan saja cari jalanmu sendiri,” kata Ula dengan dingin seolah dapat mendengar bisikan Solid yang lirih. Ia pun berpaling dan mengajak anak-anak yang lain untuk bersiap. Walaupun awalnya anak-anak itu kebingungan, mereka juga tidak punya pilihan lain.
“Kita ikuti saja dulu dia, tapi jangan turunkan kewaspadaan. Kita juga tak akan mendapat apa-apa kalau tetap diam saja,” ucap Rosemary lirih. Setelah tiga orang yang tersisa siuman dan siap, rombongan ini pun berangkat. Saat mereka mulai melangkahkan kaki, anak-anak yang terdampar di sisi hutan yang lain baru saja terbangun. Mereka tak seberuntung Rosemary yang bertemu dengan orang lokal yang—mungkin—baik hati.
__ADS_1