
"Lottie, sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Melissa di waktu senggangnya. Mereka libur hari ini. Jadi, tidak banyak yang bisa dilakukan.
"Apanya?" Charlotte bertanya balik tidak mengerti. Kondisinya biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh dengan dirinya. Itulah yang ia rasakan.
"Ya ampun, padahal biasanya Kamu anak yang peka," Melissa menghela napas sambil menghela napasnya. Itu membuat Charlotte semakin bingung. Melissa pun mengerutkan kening lalu menjelaskan, "Bukankah akhir-akhir ini Kamu sudah dekat dengan putra mahkota?"
"Hm?" Charlotte menoleh. Sekejap ekspresinya berubah lalu biasa kembali, "Apa itu bisa di bilang dekat? Kurasa tidak. Kami hanya berteman biasa saja."
"Mengapa Kamu menjauhinya?" Melissa menggigit kue kering yang dibelinya sepulang dari laboratorium istana kemarin sore, "Apa Kalian pernah bertengkar?"
"Tidak, kami baik-baik saja selama ini," Charlotte ikut mengambil kue kering yang Melissa taruh di toples kaca. Ia memandang langit cerah di angkasa. Biru menawan dengan awan-awan putih bak kapas yang lembut.
"Aku yakin Nona de Vool yang peka tahu perasaan sang pangeran, tapi biarkan aku tetap mengingatkannya," Melissa menepuk pundak Charlotte. Ia tersenyum penuh arti seakan ia memberi semangat pada seorang gadis yang tengah patah hati. "Putra mahkota itu suka padamu. Kurasa ia benar-benar tulus. Aku tidak menemukan jejak sihirmu lagi pada dirinya."
"Aku tidak pernah menggunakan sihirku padanya," seru Charlotte tersinggung. Wajahnya yang kesal malah membuat Melissa tertawa gemas. "Mana mungkin aku berani melakukannya."
"Benarkah? Tapi, aku pernah merasakan sihirmu pada dirinya beberapa waktu lalu," Melissa pura-pura berpikir. Ia tersenyum lalu berkata dengan nada menyindir "Apa mungkin hanya perasaanku saja?"
"Itu tidak sengaja," Charlotte mengakuinya, "Aku mengarahkannya pada tuan putri agar dapat berteman dengannya, tapi sihirku tidak mempan padanya."
Melissa terkekeh. "Itu usaha yang bagus," katanya kemudian. Ia kembali menggigit sebuah kue kering sambil tetap menatap Charlotte dengan gemas.
"Jangan lihat aku seperti itu!" Charlotte berseru jengkel. Ia berdiri lalu menepuk kepala Melissa. Seberkas cahaya muncul di tangannya. Sekejap kemudian, Melissa terdiam.
"Lottie, apa yang Kamu lakukan?" Melissa meraih tangan Charlotte yang menepuknya. Matanya berkedip dua kali. Ia terlihat bingung.
"Bukan apa-apa. Ada nyamuk di dahimu," ucap Charlotte beralasan. Ia pun menarik tangannya kembali lalu menghela napas dan duduk. Pipinya menggelembung sebal.
"Mengapa aku di sini? Ini hari apa? Apakah kita ada di taman mansion Menara Penyihir?" Melissa bertanya-tanya. Ia menoleh ke kanan-kiri lalu ke toples kue keringnya yang tinggal setengah.
"Ini hari hari libur, Kak Mel," Charlotte menjelaskan. Sebenarnya, ia tidak suka menggunakan sihir manipulasi ingatan seperti itu, tapi ia sudah muak dengan godaan kakak didiknya itu. Toh, itu bukan masalah karena yang ia gunakan bukan sihir berjangka panjang.
__ADS_1
"Lottie!" Melissa menyadari sesuatu. Ia pernah merasakan hal yang serupa. Ia pun merengek, "Apa Kamu mengambil ingatanku lagi? Apa yang Kamu ambil? Cepat kembalikan."
"Apa yang Kak Melly bicarakan? Aku tidak bisa mengambil ingatan," sanggah Charlotte. Ia benar-benar tidak bisa mengambil ingatan. Ia hanya membuatnya lupa untuk sementara waktu. "Lagi pula, buat apa aku melakukannya?"
"Jangan bohong. Aku tahu Kamu menggunakan sihir manipulasi pikiran lagi padaku," protes Melissa cemas, "Cepat mengaku! Apa yang terjadi? Mengapa Kamu melakukannya?"
"Itu karena Kak Melly menjahiliku duluan," Charlotte berpura-pura sebal. Ia memalingkan wajahnya sambil menggelembungkan pipi.
"Memang apa yang sudah kulakukan?" Melissa tidak percaya, "Beri tahu aku!"
"Kakak tidak perlu mengetahuinya. Nanti Kakak bisa ingat dan menjahiliku lagi," tolak Charlotte. Ia berkacak pinggang. Rambut pirang platinumnya sedikit melambai-lambai ditiup angin.
"Apa aku baru saja membuatmu marah?" Melissa baru merasa berbuat salah. Ekspresi Charlotte terlihat sangat serius. Kalau ia tidak terkena sihir pelupa, ia pasti menertawakan ekspresi Charlotte yang menggemaskan itu.
"Sangat. Kakak membuatku sangat marah," jawab Charlotte ketus.
"Apa yang telah kulakukan? Setidaknya beri tahu aku," pinta Melissa gelisah. Pikirannya singgah ke mana-mana. Jangan-jangan ia telah berbuat sesuatu yang sangat memalukan. "Aku minta maaf."
"Lottie, ayo temani aku jalan-jalan," Nana muncul dari balik gerbang labirin taman. Wajahnya cerah. Rambutnya yang pendek dan runcing seperti duri tak dapat ditiup angin yang berhembus sepoi-sepoi. "Eh? Ada Melly juga. Apa Kamu mau ikut?"
"Ke pusat kota? Tentu saja aku ikut," seru Melissa semangat. Charlotte menghembuskan napas. Entah mengapa perasaannya tidak enak, tapi ia tetap ikut juga.
...***...
"Jadi, Kamu sudah tidak mengejar-ngejar gadis kecil itu lagi?" Solid mengerutkan kening setelah mendengar curahan hati Antonio. Kini, mereka sedang menyamar dengan pakaian rakyat biasa. Tidak kotor dan tidak mewah. Standar golongan menengah.
"Aku tidak pernah mengejar-ngejarnya," bantah Antonio, "Aku hanya ingin tahu apa yang membuatnya menjauh dariku."
"Bukankah itu sama saja?" Solid menatap calon rajanya aneh. Ia lalu memesan dua bungkus sate daging pada seorang pedagang jajanan pusat kota. Kemampuan tamar-menawarnya sangat hebat. Jadi, mereka dapat porsi lebih banyak.
"Entahlah, aku tidak bermaksud mendekatinya sama sekali," Antonio tidak ***** memakan sate yang dibelikan sahabatnya. Mereka duduk di salah satu bangku yang disediakan. Sambil merenung, pangeran itu mengamati aktivitas di pusat kota.
__ADS_1
Seperti biasa, tempat itu selalu ramai. Orang-orang berlalu lalang. Para pedagang menjajakan dagangannya. Anak-anak kecil berlarian. Beberapa bangsawan bahkan terlihat melintas di sana. Mereka tidak menyadari keberadaan sang pangeran yang baru beberapa bulan dilantik sebagai Putra Mahkota el Vierum.
"Berhati-hatilah, Kawan. Kalau gasip tentangmu sampai terdengar di telinga tuan putri, ia pasti sangat marah padamu," Solid memperingatkan. Ia memakan satenya dengan lahap. Tusuk-tusuk daging yang dibakar itu bahkan tinggal sedikit.
"Aku harus memberi penjelasan sebelum gosip buruk itu sampai ke telinganya," Antonio baru menyadari hal itu. Untuk Solid mengingatkannya. Kalau tidak, hubungan mereka akan merenggang lagi dan Ratu Clara akan memarahinya lagi. Ia bahkan bisa kehilangan kredibilitasnya sebagai Putra Mahkota el Vierum.
"Aku harus cepat pulang dan menulis surat," Antonio bangkit dan melupakan bungkus satenya yang belum terbuka. Solid sampai terkejut dibuatnya. Satenya sudah habis, jadi ia juga ikut segera bangkit.
"Hai, bagaimana dengan makananmu ini?" Solid maraih sate yang ditinggal Antonio. Pangeran muda itu yang sudah bergegas pergi.
"Kamu makan saja," seru Antonio membuat Solid terduduk lagi. Calon kesaria muda itu pun menghela napas. Ia melihat seorang anak yang malu-malu menghampirinya.
"Kamu mau, Bocah?" Solid menawarkan, "Ini, ambillah!"
Anak itu pun menerimanya dengan senang hati. Ia langsung berlari tanpa mengucapkan terima kasih. Solid menggeleng maklum. Untung ia bangsawan yang penuh toleransi. Ia harus segara menyusul tuannya sekarang.
"Aduh!" seruan seorang gadis mengagetkan Solid. Ia tidak sengaja menubruk gadis itu dan segera minta maaf. "Anda tidak apa-apa, Nona Muda?"
"Ah, aku baik-baik saja. Terima kasih," gadis itu menerima uluran tangan Solid. Ia lalu menepuk-nepuk gaunnya yang sedikit berdebu. Rambut pirang platinumnya tergerai berantakan setelah jatuh, tapi tetap menawan.
"Hai! Apa yang Kamu lakukan pada adikku?" sebuah suara bentakan memekakkan telinga Solid. Ia merasakan suatu yang nostalgia. Rasanya, ia pernah mengalami kejadian itu.
Seorang gadis berambut runcing pendek datang dengan mata melotot. Gadis lain yang terlihat seumuran dengannya mengikuti dari belakang.
"Maaf, Nona-nona. Saya tidak sengaja," Solid terkejut melihat wajah mengerikan gadis yang terlihat tomboi itu. Ia merasa tidak baik berinteraksi terlalu lama dengan gadis galak itu.
"Aku tidak apa-apa, Kak," gadis berambut pirang platinum panjang menengahi, "Akunya yang kurang hati-hati."
Solid merasa pernah melihat gadis itu, tapi ia tidak ingat di mana. Pasti gadis itu salah satu nona bangsawan ibu kota. Solid tak dapat mengingatnya karena banyak sekali gadis di pergaulan kelas atas.
"Hai, aku ingat. Kamu yang waktu itu," seru si gadis tomboi. Teman seumurannya berdecak beberapa kali, sementara gadis kecil lainnya terlihat cemas.
__ADS_1
"Apa?" jelas Solid terkejut. Ia tidak mengerti maksud gadis galak itu. Pada akhirnya, ia terus diomeli sampai lawannya tiba-tiba terdiam. Si gadis kecil yang mencolok pun meminta maaf lalu beranjak pergi.