Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Perdebatan


__ADS_3

Ia terlihat amat kecil dan rapuh. Rupanya menawan. Tindak tanduknya berwibawa nan anggun. Mata merah Rubynya yang unik menatap tajam tak kenal takut. Orang-orang tidak akan percaya bahwa ia masih berusia sepuluh tahun kalau tidak melihatnya sendiri.


"Mengapa Anda menuding bahwa pemuda itu orang sesat?" kata-katanya penuh pertimbangan. Terdengar biasa, tapi menusuk tajam bagi orang yang peka. Hawa dingin seakan keluar dari nadanya berbicara. Itulah dia Sang Putri Musim Dingin, Putri Mahkota el Vierum.


"Apakah kini Kuil Suci mulai berhak menghakimi aliran lainnya?" Alice melanjutkan pertanyaannya, "Sedangkan konsili pertama masih belum jelas kebenarannya."


Countess de Clarence mengembangkan kipas yang dipakainya. Konsili pertama adalah pertemuan para pandita dan uskup kuil dari berbagai tempat. Dalam konsili itu, terdapat dua kubu. Kubu Arius Sang Pandita Lurus dan Kubu Alexandrius Sang Pandita Bijak.


"Anda salah, Tuan Putri," Uskup Otto menyangkal. Ia tak segan sama sekali bahkan di depan Putri Mahkota el Vierum. Toh, dia hanya gadis kecil yang masih di bawah umur. "Hasil Konsili Pertama dimenangkan oleh kubu Alexandrius Sang Pandita Bijak. Jelas Kuil Suci hanya mengikuti kebenarannya saja."


"Hasil dalam konsili itu diputuskan oleh kaisar," Alice menjelaskan keanehan dalam konsili itu, "Apa menurut Anda, kaisar yang bahkan tidak mengerti sama sekali urusan agama berhak memberi keputusan dalam konsili itu?"


"Anda tidak boleh menghina Kaisar Agung, Tuan Putri," Uskup Otto melotot tajam. Wajahnya kembali galak. Komandan kesatria ingin menghentikan perdebatan ini tapi seakan tidak memiliki kuasa. "Bahkan walaupun Anda seorang putri mahkota, Anda harus memberi hormat pada leluhur yang agung."


"Sejak kapan kaisar itu menjadi leluhur agung dari Kerajaan el Vierum? Aku tidak pernah mendengarnya di buku sejarah mana pun," Alice tidak ciut sedikit pun walau terus ditusuk dengan tatapan yang galak dan menyeramkan itu, "Kami tidak pernah punya kekerabatan dengannya sedikit pun."


"Itu adalah etika paten yang telah ada turun-temurun," Uskup Otto membalas. Wajahnya lelah terus dipaksa mengerut. Ia menghela napas untuk menenangkan diri. "Para bangsawan dan keluarga kerajaan mana pun dengan taat mengikutinya."


"Aku juga tidak pernah mendengar itu sebelumnya," Alice tetap tenang, "Jadi, maksudmu Kerajaan el Vierum harus tunduk kepada kekaisaran yang telah banyak menjajah dan menjarah negeri orang?"


"Jangan salah paham, Tuan Putri," Uskup Otto mencoba meluruskan menurut versinya, "Kekaisaran Suci adalah pusat dari ajaran Kuil Suci."

__ADS_1


"Lantas apa hubungannya dengan Kerajaan el Vierum?" potong Alice, "Ajaran Kuil Suci hanyalah satu di antara banyak ajaran yang dianut di Kerajaan el Vierum. Kuil Suci tak memiliki hak untuk mengatur kami."


"Tuan Putri, saya memaklumi ketidakmengertian Anda sebab usia yang masih muda," Uskup Otto tak berniat untuk melanjutkan debat. Jika ini terus berlangsung, bisa jadi Istana Mutiara mengambil tindakan yang melemahkan pengaruh Kuil Suci. "Saya akan kembali kepada urusan saya. Komandan...."


"Anda bisa keluar terlebih dahulu, Tuan Uskup," Countess de Clarence memutuskan untuk membantu Alice. Sikap tegas putri kecil itu telah cukup baginya. Ia sudah jauh lebih baik untuk gadis berusia sepuluh tahun.


"Nyonya Countess, ini urusan mendesak," Uskup Otto tidak menerima. Ia mengepalkan genggamannya yang bertumpu pada tangan kursi. Wajahnya yang garang terlampau jauh dari kesan seorang pandita.


"Urusan kami pun juga mendesak," Countess de Clarence berdiri sambil menutup sebagian wajahnya dengan kipas yang mengembang, "Silakan Anda keluar terlebih dahulu."


"Tidak bisa! Aku harus mengambil orang sesat itu terlebih dahulu," Uskup Otto bersikeras. Ia berdiri dengan tongkat kehormatannya yang dililit emas membentuk dua spiral tirus ke bawah. Tangannya menggenggam tongkat itu erat-erat.


"Komandan, sejak kapan Kuil Suci memiliki otoritas untuk mengambil alih tugas kesatria?" tanya Alice lirih tanpa menghiraukan tindakan Uskup Otto. Komandan kesatria gelagapan dibuatnya. Aturan pengambilalihan kasus memang ada di Kerajaan el Vierum, tapi ada prosedur-prosedur yang tidak boleh dilewatkan.


"Ada ribut-ribut apa ini?" sebuah suara seorang pria menambah ketegangan yang terjadi. Suaranya dingin menahan amarahnya. Seorang pria datang dengan beberapa kesatria.


"Salam, Tuanku," komandan kesatria segera berdiri dan menunduk hormat. Semua orang terdiam. Mata Count de Clarence menyapu seisi ruangan. Istrinya terlihat tengah melindungi Putri Mahkota el Vierum.


"George, jelaskan apa yang terjadi!" titah Count de Clarence. Komandan kesatria yang bernama George itu pun menjelaskan situasinya. Ia juga menceritakan perdebatan Putri Mahkota el Vierum dengan Uskup Otto di awal tadi.


"Tuan Uskup, bukankah seharusnya Anda berbelas kasih dan lemah lembut, apalagi terhadap anak-anak?" pertanyaan Count de Clarence menyudutkan Uskup Otto. Ia sudah muak didatangi utusan dari Kuil Suci secara rutin. Jadi, sekalian ia melimpahkan amarah itu pada uskup kota yang dikuasainya.

__ADS_1


"Mereka menghalang-halangi tugas saya, jadi saya harus bersikap tegas," jelas Uskup Otto tanpa menjawab pertanyaan Count de Clarence.


"Tuan Uskup, Anda belum menjawab pertanyaan pertama saya," Alice memotong. Suaranha tegas terdengar jelas. Countess de Clarence duduk di sampingnya berjaga-jaga kalau ada hal yang tidak diharapkan. Aristia juga ikut-ikutan duduk di sisi satunya. Gadis berambut pirang itu terlihat seperti seorang kakak yang melindungi adik kesayangannya. "Mengapa Anda menuding pemuda itu sebagai orang sesat?"


"Bukankah sudah jelas bahwa pemikirannya tidak sejalan dengan Kuil Suci?" Uskup Otto lebih menjaga cara bicara kali ini. Ia menahan emosinya yang hampir saja meletus.


"Tidak sejalan dengan Kuil Suci? Saya dengar sendiri pemuda itu bilang ia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa," Alice memberikan kesaksian, "Tuan Uskup, Anda harus tahu. Tanah ini bukan Kekaisaran Suci. Anda tidak bisa menuding seorang Arisian sebagai orang sesat seenaknya."


"Tu... Tuan Putri," Uskup Otto hampir saja kembali membentak kalau saja ia tidak menyadari tempatnya berada. Ia di tengah orang-orang putri kecil itu. Apalagi pasangan Count de Clarence ada di sana. Reputasinya akan anjlok kalau ia melanjutkan masalah ini. Dengan berat hati, ia pamit undur diri.


"Komandan kesatria, menurut kesaksian dari orang-orang kami, pemuda itu tidak memulai masalah," kata Alice setelah mendengar laporan singkat dari Anna, "Jika tidak ada masalah lainnya, Anda bisa melepaskannya."


George melirik Count de Clarence terlebih dahulu. Pria berkumis itu mengangguk tanda setuju. Walaupun ia penguasa kota, hierarkinya masih di bawah sang Pemilik Istana Mutiara, Putri Mahkota el Vierum.


"Baik, Tuan Putri," George menurut. Sebenarnya, ia akrab dengan pemuda yang sejak tadi terus menyimak dari ruang interogasi itu. Jadi, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Ia hanya akan sedikit memberinya saran nanti.


"Urusan kata sudah selesai, mari kita lanjutkan jalan-jalannya," Countess de Clarence menepuk kedua tangannya sekali. Para gadis cendekia pun keluar dari pos keamanan yang sempit itu. Mereka lega telah melewati saat-saat yang menegangkan itu.


"Tadi itu sangat seru," Aristia berujar semangat. Countess de Clarence mengangguk setuju. Rupanya, sikapnya yang periang itu menurun dari ibunya. Mainne dan Akilla juga mengangguk. Mereka yang paling merasa tegang tadi. Itu adalah pengalaman baru yang unik selama perjalanan ini.


Anna menghela napas lega. Ia tak habis pikir nonanya akan bertindak frontal seperti tadi. Jika situasi ini terulang kembali dalam waktu dekat, ia khawatir nona kesayangannya akan berada dalam masalah.

__ADS_1


"Saya akan melindungi Anda, Tuan Putri," gumam Anna sembari melihat Alice yang berjalan di depannya bersama para gadis cendekia. Nonanya itu terlihat bahagia. Maka, ia akan senantiasa menjaga kebahagiaan itu sampai akhirat kelak.


__ADS_2