
"An, apa Kamu sudah siap?" suara Ratu Clara nyaring memanggil Antonio di kamarnya. Antonio menghela napasnya. Ia sudah berpakaian rapi layaknya pangeran. Rambut merah menyalanya disisir klimis.
"Sudah, Bun," Antonio keluar dari kamarnya dengan elegan. Tidak akan ada tuan muda yang lebih keren darinya di negeri ini. Ia adalah pewaris nomor satu sekerajaan. Yah, begitulah menurut dirinya sendiri.
Hari ini adalah hari itu. Hari pertemuannya kembali dengan Alice. Sepertinya sudah hampir dua minggu mereka tidak saling bertukar sapa. Terakhir kali bertemu adalah di awal minggu ini saat Alice berkunjung ke Akademi Kerajaan. Saat itu, mereka pun hanya bertukar pandang.
Agenda utama hari ini adalah meminta maaf pada gadis kaku itu. Entah mengapa, Antonio merasa gugup saat memikirkannya kembali. Ia menghela kembali napasnya untuk yang kesekian kalinya. Ia sudah susah payah melatih kalimat maafnya sejak kemarin. Semoga saja gadis sensitif itu mau memaafkannya.
"Selama Kamu memenuhi tuntutannya untuk menjadi lebih baik, pasti dia memaafkanmu, Sayang," hibur Ratu Clara. Mereka bersama-sama menuju ke Taman Baugenvillaea. Kebetulan sekali mereka bertemu dengan serombongan para peneliti dari Menara Penyihir yang bekerja di Laboratorium Istana.
Antonio melihat Charlotte di rombongan para peneliti itu. Saat tatapan keduanya saling bertemu, lagi-lagi Charlotte langsung membuang muka. Sudah seminggu lebih sejak gadis baik hati itu menghindarinya. Ia sampai bingung. Sebenarnya, apa yang salah dengannya?
Antonio sangat ingin kembali berbincang bersama gadis yang seumuran dengan tunangannya itu. Toh, mereka hanya berteman. Tidak ada yang salah dari itu, tetapi ia selalu merasa ada yang menatapnya tidak suka jika melakukannya. Bahkan sekarang, ia merasakannya.
"An, apa ada yang Kamu pikirkan?" suara lembut Ratu Clara membuat Antonio sedikit tersentak. Untung ia sudah berlatih mengendalikan dirinya, jadi hal itu tidak terlalu kentara.
"Bukan apa-apa. Aku hanya berpikir bahwa akhir-akhir ini orang-orang sering menjauhiku," Antonio mengatakan hal yang terlintas dipikiran tanpa sadar. Wajahnya tertunduk dan pandangannya terlihat lesu.
"Ya ampun, apa baru sekarang Kamu peka dengan lingkungan sekitarmu?" tanya Ratu Clara dengan nada menyindir yang terdengar lembut. Antonio menghela napas lagi. Ia tidak dapat menjawabnya.
"Keselamatan atas Baginda Ratu el Vierum dan Putra Mahkota el Vierum," sebuah suara yang halus menyapa Ratu Clara dan Antonio di gerbang taman. Rupanya, Alice sudah datang ditemani Anna. Ratu Clara menyambutnya dengan hangat. Mereka bersama-sama menuju saung favorit sang ratu.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Alice?" tanya Ratu Clara sembari menyeduhkan teh yang disiapkan para pelayannya. Alice menjawab baik. Ia lalu menatap Antonio yang terlihat lesu. "Sepertinya Putra Mahkota lebih butuh banyak perhatian dari saya."
"Benar, dia butuh perhatianmu," goda Ratu Clara dengan senyum geli yang tersungging di wajahnya. Alice tetap terlihat tenang seakan godaan itu tidak mempengaruhinya sama sekali, walau kenyataannya ia sedikit terguncang dan kaget.
Berbeda dengan Antonio. Pemuda itu terang-terangan memperlihatkan ekspresinya. Wajahnya merona merah. Ia memalingkan wajahnya dan berusaha mengusir bayang-bayang perkataan ibunya tadi.
"Benarkah? Saya rasa tidak. Sepertinya Putra Mahkota membenci saya," sindir Alice tanpa memedulikan tindakan pemuda itu. Ia menerima teh yang diseduhkan untuknya.
"Itu tidak mungkin!" Antonio spontan menyanggah tebakan Alice itu. Ratu Clara sampai hampir menumpahkan tehnya karena kaget. Antonio pun buru-buru menyesali perbuatannya, "Ah, maafkan aku."
"Hm," Alice mengangguk singkat. Ia mulai menikmati kudapan favorit. Sebuah makaron berwarna merah muda sudah terambil di tangan mungilnya. Ada juga kukis cokelat di sana.
"Eh? Apakah sesingkat itu? An, Kamu harus melakukannya dengan lebih baik," protes Ratu Clara. Ia bisa melihat kecanggungan yang mereka rasakan. Tidak! Lebih tepatnya yang Antonio rasakan karena Alice memang pendiam dan terlihat biasa-biasa saja.
"Baiklah," ucap Alice enteng, "Apa yang ingin Kamu bicarakan, An? Bukankah Kamu yang mengundangku kali ini?"
"Ah, Alice. Apa Kamu tidak memakai Bros yang aku kirimkan?" Antonio berucap gugup sehingga malah kalimat itulah yang keluar dari mulutnya. Alice mengerutkan kening. Ia jadi ingat dengan sebuah kotak kado yang diterimanya pagi ini. Sayangnya, kado itu datang tepat setelah ia selesai berdandan. Jadi, ia tidak sempat membukanya.
"Jadi, kado itu darimu? Aku belum sempat membukanya. Kamu kecewa?" Alice bertanya dengan ekspresinya yang tidak berubah sama sekali. Daripada memikirkan hal sesepele itu, benaknya lebih dipenuhi dengan pekerjaan yang mulai menumpuk sekarang.
"Tidak, itu salahku. Harusnya kukirimkan kado itu dari kemarin," Antonio tertunduk menyesal.
__ADS_1
"Tidak masalah, jadi," Alice kali ini mengambil sebuah kukis cokelat, "Apa yang mau Kamu bicarakan?"
"Alice, hatimu lebih indah dari rembulan dan lebih hangat dari mentari. Para bunga pun akan malu memandangnya dan angin berhembus mendampinginya," Antonio mengatakan kalimat yang dengan susah payah dihafalnya itu dengan lancar dan elegan seperti membaca puisi. Ia berdiri menunjukkan kelihaian beretikanya. Tangan kirinya ditaruh ke dada, dan tangan kanannya mengulur kepada Alice. "Jadi, maukah Engkau melapangkan dadamu untuk menerima permintaan maafku?"
Ratu Clara menutup mulutnya dan menahan tawa mendengarnya. Ia yakin, suaminyalah yang mengajarkan hal itu. Pantas saja nilai sastranya paling tinggi di antara pelajaran lainnya. Alice mengerutkan kening dan menoleh ke Ratu Clara. Ia lalu bertanya, "Bibi, apa Bibi yakin sudah memasukkannya lagi ke kelas etika?"
"Ya ampun, Alice sayangku," Ratu Clara berekspresi sedih. Ia baru akan mengadu, "An sangat sulit diatur. Dia selalu kabur dari kelasnya yang amat penting itu."
Antonio menatap tidak percaya. Bukan hanya uluran tangannya tidak diterima, ia juga jelas diabaikan. Ibunya bahkan tidak mendukungnya sama sekali. Yah, salahnya memang karena sedikit nakal. Akan tetapi, sikap itu....
"An, apa Kamu lupa bahwa di Istana Mutiara sejak dulu para putri mengikuti etika ibu suri?" kali ini Alice menatap Antonio menyelidik. Pemuda itu sudah menarik tangannya dan kembali duduk dengan menghela napas.
"Ya? Tentu saja aku tidak lupa," Antonio memutuskan untuk menatap gadis itu daripada berpaling lagi. Mata merah ruby mereka saling bertemu. Jika dilukiskan, keduanya pasti akan terlihat sangat serasi. "Aku hanya kurang terbiasa dengan itu."
"Begitu, ya?" Alice berkata singkat. Ia lalu menyeruput tehnya dan mengambil sepotong kukis lagi. Ia memejamkan matanya menikmati setiap ketenangan hari itu.
"Apa Kamu mau memaafkanku?" Antonio menanyakan hal yang sejak tadi belum Alice jawab. Alice membuka matanya dan terlihat mendengus kecil. "Bukankah aku sudah menerimanya sejak tadi? Kuharap Kamu bisa jadi lebih baik lagi ke depannya."
"Sungguh? Kamu benar-benar memaafkanmu?" Antonio berseru senang. Ada kelegaan di matanya. Harusnya, hubungan Alice dengan dirinya jadi lebih baik mulai hari ini. Alice mengangguk dan mengulas sebuah senyum tipis. "Ya, Yang Mulia."
Ratu Clara senang melihat keharmonisan itu. Ia menepuk kedua tangannya bermaksud ingin pergi. Akan tetapi, Alice sudah lebih dulu mendahuluinya, "Karena Putra Mahkota sudah mengutarakan maksudnya. Saya pamit undur diri."
__ADS_1
"Apa?" Ratu Clara melihat senyuman Alice tidak percaya. Ia mematung di tempat. Alice beralasan bahwa sudah banyak pekerjaannya yang tertunda. Jadi, dia harus segera kembali. Istana Mutiara adalah tanggung jawabnya.
"Semoga hari Anda menyenangkan, Baginda Ratu," Alice memberi hormat dan salam, "Keselamatan atas Kalian semua."