
Alice tertidur setelah lelah menangis pada hari itu. Anna memerintahkan siapa pun yang ada di Istana Mutiara saat itu untuk tutup mulut terkait masalah di taman agar tidak ada rumor buruk yang beredar. Selama beberapa hari, suasana di Istana Mutiara pun sedikit berubah.
Alice lebih sering mengurung diri di kamarnya. Akan tetapi, ia tetap meminta laporan berkala dari Anna dan kawan-kawannya. Para amtenar dapat memahami kondisi putri kecil itu. Mereka justru merasa lega karena putri kecil itu mau lebih banyak beristirahat.
"Tuan putri masih 10 tahun, tetapi sudah harus menghadapi masalah seberat ini," kata seorang amtenar begitu menemukan banyaknya bukti pelanggaran penguasa Kota Marianna. Di Istana Mutiara itu, semua penghuninya adalah perempuan. Para kesatria yang ditugaskan untuk menjaganya berada di lingkar luar istana. Mereka hanya akan masuk jika ada situasi yang mendesak.
"Benar, tidak seharusnya tuan putri memikul beban sebesar ini di usianya yang semuda itu," amtenar yang lain setuju.
"Kalau beliau adalah Putri Elianna, pasti beliau sudah mulai menyiapkan pasukan penakhluk sekarang," kata seorang wanita yang rambutnya disanggul ketika menemukan bukti baru lainnya.
"Sayang sekali beliau wafat diusia muda, padahal beliau adalah tuan putri yang berbakat," pembicaraan tiba-tiba teralih kepada Sang Putri Srikandi itu. "Sosoknya amat disegani hingga tak ada seorang pun berani menyinggungnya."
"Bahkan Baginda Raja el Vierum yang saat itu masih putra mahkota amat takzim padanya," wanita berambut cokelat menimpali, "Sungguh tragedi itu sangat tidak terduga. Bagaimana seorang sosok yang kuat itu menghilang bak ditelan bumi dalam semalam?"
"Ya, peninggalannya pun tak ditemukan sama sekali," wanita berambut pirang ikut menimbrung. Madam Selena sampai gemas mendengarnya. Ini memang sudah hampir waktunya beristirahat, tetapi bukan berarti mereka dapat seenaknya membicarakan orang lain.
"Kita masih memiliki banyak pekerjaan. Jangan terus-terusan mengobrol seperti ini," seru Madam Selena akhirnya, "Bukannya kita sudah bilang bahwa kita tidak akan mengecewakan tuan putri."
"Ah, baik, Madam," para amtenar pun kembali fokus sesaat kemudian.
Di kamarnya, Alice sedang membaca ringkasan yang Anna laporkan. Bukti-bukti pelanggaran Kota Marianna sudah lebih dari cukup. Ia pun menulis sepucuk surat pengantar untuk Raja Claudius.
Tok! Tok!
Pintu kamar Alice diketuk lalu terdengar suara seorang gadis memberi salam dan meminta izin masuk. Alice dengan senang hati mengizinkannya. Sosok Mainne terlihat begitu pintu itu dibuka.
"Tuan Putri, saya mohon maaf," kata Mainne masih belum mampu memanggil Alice dengan namanya. Alice hanya tersenyum. Gadis berbakat dari kalangan rakyat biasa itu tidak bersalah sama sekali.
"Aku justru berterima kasih kepadamu karena telah menyampaikan berita itu," kata Alice yang bersandar pada bantal di peraduannya, "Sudah menjadi tugasku untuk mengawasi kerajaan ini, tetapi aku malah baru menyadari masalah itu setelah berbulan-bulan lamanya."
"Anda tidak seharusnya mengemban tugas ini sendirian," Mainne tertunduk haru. Ia masih merasa bersalah karena sepucuk surat yang diterimanya telah menyebabkan masalah sebesar ini.
__ADS_1
"Sudah kubilang ini bukan salahmu. Jangan tunjukkan wajah bersalah itu," Alice seakan tahu isi hati kawannya. Ia membelai tangan Mainne kemudian mengalihkan topik, "Bagaimana dengan penelitianmu? Kudengar ia telah mengalami kemajuan yang pesat."
"Iya, berkat dukungan , Tuan Putri," seulas senyum terukir di wajah Mainne. Ia terlihat lebih cantik sekarang.
"Segala kebaikan itu atas kehendak Tuhan," Alice mengoreksi perkataan Mainne. Senyum lebih lembut sekarang. Padahal saat di luar, wajahnya yang imut itu dapat menjadi sangat dingin dan menyeramkan sampai ia dipanggil Sang Putri Musim Dingin.
Tak lama kemudian, Akilla, Rosemary, Aria, dan Aristia juga datang untuk menjenguk. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi tuan putri mereka selam ini.
"Alice, Kamu mendapat surat dari Tuan Duke Muda vi Alverio," Aristia berseru semangat. Di tangannya ada sepucuk surat. Ia adalah penggemar kakak dari tuan putrinya itu.
"Bisa Kamu bacakan," Alice tersenyum geli menyadarinya, "Pasti seru mendengar surat yang ditulis langsung oleh kakakku itu."
"Baiklah!" ucap Aristia senang. Ia segera membuka surat bersegel emblem Keluarga vi Alverio itu dan mulai membaca,
"*Keselamatan atasmu dan rahmat Tuhan serta keberkahan-Nya.
Teruntuk Adikku tercinta, Alice vi Alverio.
Kamu tahu? Langit tiba-tiba mendung saat kabar tentangmu sampai ke tanganku. Aku sangat khawatir karena kondisimu yang tiba-tiba memburuk. Syukurlah itu hanya gejala kelelahan biasa.
Tidak! Kudengar bocah itu membuat kondisimu lebih parah. Apa yang sebenarnya ia lakukan? Sungguh bocah yang tidak tahu malu*."
"Tunggu!" Alice memotong, "Bagaimana kakakku tahu mengenai masalah di taman itu?"
Para gadis cendekia menggeleng. Mereka juga tidak tahu. Perintah tutup mulut itu mereka jalankan dengan baik. Aristia pun melanjutkan,
"Alice, ingatlah! Apa pun pilihanmu di masa depan, Keluarga vi Alverio akan selalu mendukungmu. Jangan mengemban masalahmu sendiri. Ada kami di sini yang akan selalu menjadi kekuatanmu atas izin Tuhan.
Aku lebih berharap Kamu tidak mengambil risiko yang membahayakan. Akan tetapi, aku tahu Kamu adalah Tuan Putri yang bertanggung jawab. Jabatan Putri Mahkota el Vierum sangat pantas untukmu.
Semoga Tuhan senantiasa memberimu kekuatan dan kesabaran. Tetaplah pada kebaikan dan jalan-Nya yang lurus.
__ADS_1
Dari kakakmu yang hebat,
Derrick vi Alverio.
Sekali lagi,
Keselamatan atasmu dan rahmat Tuhan serta keberkahan-Nya"
"Segala puji teruntuk Tuhan," syukur Alice lirih. Bibirnya menyungging seulas senyum, tetapi setitik air mata menetes di pipinya, "Aku telah menerima banyak nikmat dan kasih sayang. Maka sedikit pun aku tidak akan mendustakannya."
Rosemary mengulurkan tangan mengusap air mata Alice itu. Ia juga melukiskan senyum di wajahnya. Di sini, ia adalah yang paling tua. Selain sebagai ketua dari para gadis cendekia, ia juga berperan sebagai kakak bagi yang lainnya.
"Kamu tidak perlu bersedih lagi," kata Rosemary dengan lembut, "Kami juga ada di sini bersamamu."
"Aku tahu," balas Alice, "Terima kasih karena mau berada di sisiku. Ke depannya, aku akan semakin banyak merepotkan Kalian.
...***...
Taman Bougainvillaea, Istana Ruby
"Jadi, An," Ratu Clara baru saja menasehati anaknya selama berjam-jam. Intinya adalah untuk peka terhadap perasaan seorang gadis, tetapi berakar sampai ke hukum dan adat-istiadat Keluarga van Ryvat yang tidak lain adalah hukum syariat agama Monoteisme Murni. "Kapan Kamu akan meminta maaf padanya."
"Entahlah, aku yakin dia sangat membenciku walau katanya tidak," Antonio menjawab lirih. Ratu Clara pun mengusap kepalanya. Rambut merah pemuda itu jadi berantakan karenanya.
"Pokoknya, Kamu harus segera meminta maaf," Ratu Clara memberi penekanan, "Jangan sampai Kamu melepaskan tunangan sesempurna gadis itu."
Antonio tidak membalas. Ia menggerutu dalam hati. Rasanya sudah sering ia berusaha mendekati gadis kaku itu, tetapi tetap saja sulit.
"Aduh!" kepala Antonio tiba-tiba disentil oleh Ratu Clara. Kepalanya memerah sedikit perih. Keras sekali sentilan ibunya itu.
"Ingat! Setiap perempuan itu punya martabat dan kehormatan," kata Ratu Clara menambah nasihatnya, "Apalagi Aliceku itu mengikuti adat Keluarga van Ryvat. Jangan sembarangan mendekatinya. Ada jarak yang harus Kamu jaga sampai Kalian menikah. Jangan sampai ibu mendengar Kamu membuatnya menangis lagi."
__ADS_1