
"Kudengar Pesta Bedah Buku di Istana Mutiara itu digelar hari ini," kata Charlotte mengingat acara yang sangat diidamkannya itu. Memang tidak banyak peserta yang diundang. Hanya orang-orang berkompeten yang dapat menghadirinya.
Tak peduli nona bangsawan ataupun gadis biasa, selama mereka memiliki rekomendasi dari Akademi Kerajaan atau institusi yang bekerja sama dengan Istana Mutiara, mereka berhak mengikutinya.
Selama beberapa hari ini Charlotte terus memikirkan alasan tidak diterimanya Menara Penyihir oleh Istana Mutiara. Ia sudah mencoba bertanya-tanya ke beberapa orang dan mereka hanya menjawab, "Entahlah," atau, "Aku juga tidak mengerti," bahkan di antaranya ada yang langsung mengalihkan topik seperti Nana.
"Hai, Kakak belum menjawab pertanyaanku," protes Charlotte mengingatnya. Ekspresi wajah Nana selalu berubah ketika Charlotte menanyakan hal itu. Ia jelas sekali menampakkan kebenciannya terhadap putri nomor satu sekerajaan yang bahkan jarang ditemuinya itu.
"Merepotkan!" kesal Charlotte dalam hati.
"Mengapa Kamu sangat tertarik dengan hal itu," Nana benar-benar heran, "Kamu tidak pernah ke pergaulan kelas atas, bukan?"
"Belum pernah sih," Charlotte tak menyangkal. Ia belum melaksanakan debut kedewasaannya. Jadi belum saatnya ia ke sana. Berbeda dengan Tuan Putri Mahkota Alice vi Alverio yang telah melaksanakan debutnya pada usia 8 tahun dengan prestasinya. Ia adalah yang paling muda dalam sejarah debut putra-putri kerajaan.
"Pergaulan kelas atas itu benar-benar busuk," sindrom antinobel Nana otomatis aktif kembali. Seperti biasa, ia melupakan dirinya sendiri yang sudah dihormati layaknya bangsawan, "Penuh dengan intrik, siasat, dan kemunafikan. Kamu pasti akan tahu nanti."
"Aku pasti bersiap," Charlotte tersenyum percaya diri. Tidak perlu diberi tahu pun ia sudah menyadarinya. Ia sudah sering melihat bagaimana Menara Penyihir menjilat para bangsawan. Tidak! Itu berbeda karena para penyihir menggunakan dana itu untuk penelitian. Alat-alat yang dikembangkan Menara Penyihir pun berguna untuk kerajaan. Mereka telah banyak berjasa.
"Kamu hanya ingin dekat dengan putri mahkota itu, bukan?" tiba-tiba Nana bertanya. Mata Charlotte langsung berbinar haru. Baru kali ini Nana menjadi wanita yang peka. Ia pun menjawab dengan senyum termanis dan semangat, "Kakak benar! Akhirnya Kakak menjadi orang yang perhatian."
"Ada apa dengan tatapanmu itu?" Kata Nana merasa tidak nyaman dengan tatapan peri berbunga yang diberikan Charlotte. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela kafe. Dari awal festival sampai hari ini, mereka masih menjelajahi kuliner kerajaan yang tiada habisnya.
"Kalau Kamu mengetahuinya, mengapa Kamu tidak mau membantuku?" setelah menunjukkan wajah yang penuh bingkai bunga itu, Charlotte memasang ekspresi melas. "Sebenci itukah Kamu denganku?"
"Heh?" Nana tak tega melihatnya. Ia sedikit kebingungan walau biasa melihat bermacam ekspresi Charlotte yang cepat berubah-ubah. Karena selalu bersama gadis kecil yang tampak polos itu, ia sampai lupa kalau Putri Kedua Count de Vool itu juga bangsawan yang memiliki bermacam topeng tebal.
"Bukan begitu, Lottie," Nana berusaha menjelaskan seakan ada kesalahpahaman di sana, "Oke-oke, biar kuberi tahu alasannya."
"Benarkah?" tanya Charlotte masih belum melepas topeng melasnya. Nana pun jadi semakin serius, "Tentu saja! Karena itu jangan menangis."
__ADS_1
"Menangis?" batin Charlotte heran lalu mengerti dalam beberapa detik kemudian, "Ya! Aku akan menangis kecewa jika Kamu tidak memberitahunya dengan benar."
"Itu salah Menara Penyihir di masa lalu," kata Nana berusaha tampak serius dan menyesal, "Menara Penyihir ikut berpartisipasi dalam pembangunan Istana Mutiara. Akan tetapi, salah seorang penyihir yang ikut dalam proyek menyinggung Putri Kembar Kerajaan sehingga masalahnya menjadi sangat besar. Menara Penyihir pun ditendang dari Istana Mutiara dan tidak pernah diterima lagi."
"Begitukah?" Charlotte memakai wajah simpati. Ia tidak percaya dengan cerita konyol itu. Lagi pula, sejak kapan Menara Penyihir memiliki proyek pembangunan.
"Ingatlah! Walau usiaku masih 10 tahun, aku adalah gadis yang peka dan cerdas,"Harga diri Charlotte berkata, "Tak kalah dengan Putri Mahkota Alice vi Alverio."
"Mungkin Kamu tidak percaya, tetapi itulah yang sebenarnya terjadi," kata Nana berusaha meyakinkan. Charlotte hanya tersenyum menghibur. Walau ia tidak menyukai pembohong, tetapi ia masih harus banyak belajar dari penyihir nomor dua itu.
"Waktu kita habis," Charlotte menaruh cangkir coklatnya yang kosong, "Ayo kita kembali."
...***...
Taman Shofia, Istana Mutiara
"Keselamatan atas Yang Mulia Putri Mahkota, Saya Mainne Hamra dari Akademi Kerajaan" salam seorang gadis cantik berseragam resmi Akademi Kerajaan dengan membungkuk hormat. Beberapa gadis lain yang telah hadir di sana memandangnya sebelah mata. Akan tetapi, mereka menyembunyikannya karena Pesta Bedah Buku ini adalah pesta keilmuan yang tidak memandang perbedaan status di kerajaan. Para putri bangsawan telah diwanti-wanti oleh wali mereka untuk berhati-hati selama pesta di Istana Mutiara.
"Saya merasa terhormat bila penelitian itu telah menarik minat Putri Kebijaksanaan el Vierum," kata Mainne kagum sekaligus lega. Putri itu tidak seperti rumor yang beredar kalau ia orang dingin dan tak acuh. Sebaliknya ia terlihat ramah dan berkharisma. "Saya akan mewujudkan harapan Tuan Putri di masa depan."
"Aku benar-benar menantikannya," senyum Alice mengembang. Saat itu, punggung Mainne terasa berat oleh tatapan para gadis bangsawan yang menatapnya tajam. Akan tetapi, ia tidak masalah karena ia gadis yang berani dan berpendirian.
"Hah... lebih baik tidak menghiraukan mereka," begitu kata hatinya.
Rata-rata gadis yang hadir pada pesta itu berusia dua belas sampai tujuh belas tahun. Alice selaku tuan rumah dan penanggung jawab acara menjadi peserta paling muda di sana.
"Tuan Putri lebih kecil dari yang kukira," seorang gadis bangsawan berbisik dengan gadis di sebelahnya ketika Alice tengah memberikan sambutan. "Benar, walau begitu ia tetap percaya diri dan anggun seperti yang dirumorkan."
"Apa Kamu tahu? Kudengar hubungannya dengan putra mahkota tidak begitu baik," intrik penyebaran rumor dimulai dengan senyap selama Sarjana Florence mengisi kajiannya.
__ADS_1
"Tidak mungkin! Yang kudengar, putri mahkota dan putra mahkota sangat dekat. Mereka sering bersama di istana," kubu penggemar Alice menyangkal.
"Kamu tidak tahu? Putri mahkota ke istana hanya untuk formalitas saja. Ayahku menteri dalam. Ia pernah melihat tuan putri mengabaikan putra mahkota." kubu kontra tak mau menyerah, "Saat bersama pun yang mereka lakukan hanya membaca buku dan belajar."
"Mungkin karena putra putri mahkota masih terlalu kecil. Saat mereka bertambah besar, mereka akan saling mencintai nanti," tebak seorang yang netral. Setelah Sarjana Florence menyelesaikan kajian, buku-buku yang ada di perpustakaan Istana Mutiara dikeluarkan dan ditata sedemikian rupa.
Para peserta membuat kelompok berdiskusi. Mereka yang beruntung dipersilakan untuk mempresentasikan buku yang mereka kuasai di depan. Itu akan menjadi penilaian penting di mata Alice dan nyonya bangsawan senior.
"Bagaimana jika mereka berdua benar-benar tidak akur dan memutuskan pertunangan di masa depan," perang intrik itu masih belum juga berakhir.
"Hus! Jangan berkata begitu, Kamu akan dihukum kalau pihak istana mendengar."
"Ya, jangan sembarangan!"
"Lebih baik menonton pertumbuhan mereka dan melihat bagaimana kisah romantis mereka di masa depan."
"Itu hanya perandaian," bela kubu kontra, "Jika salah satu dari mereka benar-benar memutuskan hubungan di masa depan, maka putri mahkota yang baru harus ditunjuk."
"Bukankah itu bisa jadi kesempatan?"
"Ya! Pasti bisa."
"Kita harus banyak belajar untuk berjaga-jaga."
"Tidak semudah itu," kubu netral yang berpengetahuan hendak menjelaskan, "Kalaupun pertunangan mereka dibatalkan, tuan putri akan tetap menjadi putri mahkota karena ia memiliki darah keluarga kerajaan."
"Ya, dan kedua bisa jadi bersaing untuk memperebutkan takhta."
Anna selaku pengamat acara itu memperhatikan dengan seksama. Ia membawa catatan setiap peserta yang hadir. Di sana terdapat banyak tanda dan coretan. Beberapa di antaranya adalah daftar hitam.
__ADS_1
Anna pun menyimpannya baik-baik dalam sebuah gawai mini berbentuk cincin di jarinya.