
"Tuan Putri, saya tidak bisa menemani Anda hari ini," ucap Anna ketika sedang menyisir rambut biru gelap kemerahan Alice. Di samping kanan dan kirinya para pelayan membantu menguruskan hal lain. Sementara itu, Alice duduk tenang di depan cerminnya sambil membaca buku.
"Hm, ada apa?" tanya Alice tanpa mengalihkan pandangannya. Ia membalik halaman yang baru selesai dibacanya.
"Saya ada tugas yang penting untuk dilakukan," jawab Anna lembut. Alice masih tetap tidak menoleh. Ia berhenti membaca sejenak saat kembali bertanya, "Apa itu tugas yang terkait Kota Marianna?"
"Ya, Nona," Anna mengepang poni rambut Alice ke belakang. Alice pun tersenyum mengizinkan. "Lakukan saja. Aku akan meminta laporan darimu nanti."
"Terima kasih, Nona. Akan tetapi, saya takut tidak akan dapat memberi laporan kepada Anda," kata Anna kemudian fokus menyelesaikan dandanan Alice. Sebenarnya tidak ada yang spesial hari ini. Alice akan bekerja seperti biasa setelah dandan dan sarapan bersama teman-temannya. Saat mereka berangkat ke akademi, Alice akan belajar di Istana Mutiara bersama para amtenar. Tentu setelah laporan yang diterimanya selesai dibacakan.
"Terima kasih atas kerja keras Kalian," ucap Alice dengan santai. Senyum manis tersungging di bibirnya. Senyum yang hanya dapat dilihat oleh orang-orang Istana Mutiara. "Kamu boleh pergi sekarang, Madam."
Anna pun memberi salam dan hormat. Ia kemudian masuk ke ruang pribadinya. Dikuncinya setiap pintu dan jendela yang ada, memastikan tidak ada seorang pun yang mampu menyusup ke dalamnya. Ruangannya pun menjadi gelap gulita.
"Autentikasi...
Sinkronisasi...
Menyambung kepada server...
Selamat datang, Anna...,"
Suara sistem asisten berbunyi. Anna mengeluarkan perintah untuk membuka server dengan Sifer. Beberapa detik menunggu, kode nama Sifer pun muncul di mata Anna berupa hologram yang timbul melayang.
"Sifer, laporkan situasi!" titah Anna singkat. Wajah Sifer sudah ada di layar hologram sekarang. Ia menjelaskan ulang keberhasilan misinya membebaskan para sandera dan pasukan di ruang bawah tanah. Pemimpin mereka sudah ditentukan. Sifer menjadi penasihat di samping pemimpin yang kelak harus menggantikan penguasa kota yang lama.
"Pewaris penguasa yang asli sudah benar-benar gila. Jadi, aku menjalankan rencana cadangan. Syukurlah mereka setuju," jelas Sifer menutup laporannya. Ia lalu mendengus dan protes, "Ini sangat tidak efektif. Kita bisa saja langsung menakhlukkan kota itu dengan kekuatan kita. Mengapa harus menyerahkannya kepada Kerajaan el Vierum?"
__ADS_1
"Ini adalah batas campur tangan kita dalam kontrak dengan ibu suri. Jangan gegabah dan mengacaukan hubungan kita dengan beliau," Anna menerangkan, "Bagaimanapun, kita memiliki tali kekerabatan dengan mereka. Jika saja nonaku belum bertunangan, aku pasti akan meminta izin pada Marchioness van Ryvat untuk menjodohkannya dengan tuan muda saat besar nanti. Sungguh sayang sekali."
"Aku tidak peduli dengan idemu itu," ujar Sifer tak acuh, "Tugasku sudah selesai di sini. Aku minta cuti...."
"Bukankah Kamu berjanji pada mereka akan menjadi penasihat di samping pemimpin baru?" potong Anna sebelum Sifer menyelesaikan kalimatnya, "Apa Kamu ingin mengingkari janjimu itu?"
"Hai! Aku butuh liburan," seru Sifer protes.
"Hah... setidaknya pastikan kondisi Kota Marianna stabil terlebih dahulu," Anna mengalah. Ia pun meminta Sifer untuk memperlihatkan kondisi Kota Marianna saat ini. Tak lama kemudian, beberapa layar muncul di mata Anna. Layar-layar itu menunjukkan video rekaman langsung Kota Marianna.
Pasukan Kesatria Kerajaan el Vierum terlihat berbaris di luar benteng. Blokade Angkatan Laut mengepung jalur pelayaran. Para pasukan pembebas dari dalam kota telah bersiap melakukan perlawanan.
Di sisi lain, seorang pria timbun terlihat gelisah. Ia berdebat dengan seorang pria berotot di hadapannya. Sayang sekali, Anna tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Tiba-tiba, si pria timbun itu dicekik. Terlihat air matanya mengalir dan mulutnya mangap-mangap seperti ikan yang kehabisan napas.
Si pria kekar pun membantingnya ke lantai. Jelas terlihat bahwa ia sedang marah besar sekarang. Ia pun menarik pedangnya dan dalam sekali ayunan, pria timbun yang dibantingnya itu merenggang nyawa.
Di dalam kota, para pasukan pembebas berseru. Mereka keluar dari tempat persembunyian lalu menyerang setiap perompak yang terlihat. Kericuhan pun terjadi sampai di dalam kota dan benteng. Para perompak semakin dirugikan sekarang.
Kapal-kapal di pelabuhan entah sejak kapan terbakar. Si pria kekar menggeram kesal melihatnya. Ribuan anak panah berterbangan dari lautan. Para perompak yang tidak beruntung pun mati seketika.
Perang benteng yang tidak seimbang itu berlalu dengan cepat. Di tengah hari, pasukan pembebas berhasil membukakan pintu gerbang. Para kesatria pun masuk menyerbu ke dalam.
Di pelabuhan, kapal-kapal Angkatan Laut dapat berlabuh setelah semua kapal yang terbakar dibersihkan. Mayat-mayat berjatuhan nyaris di setiap sudut kota. Pertempuran itu merata hampir di setiap bagiannya.
Anna memberi perintah terakhir kepada Sifer untuk mengamati lebih lanjut situasinya. Pria yang disuruhnya itu hanya mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Server pun dimatikan. Layar-layar di mata Anna lenyap dan hanya bersisa satu saja.
Anna lalu menghubungi Maria. Ia ingat Alice ada janji dengan sahabatnya itu untuk berkunjung ke Serikat Dagang Saville di ibu kota. Wajah Maria yang semringah muncul di layar.
__ADS_1
"Tuan Putri, bagaimana kalau kita tanyakan langsung ke empunya?" kata Maria dengan senyum yang terlukis ceria di wajahnya. Sesaat kemudian, sosok Alice muncul. Kameranya sedikit bergetar saat itu.
"Apa kabar Kota Marianna, Kak?" tanya Alice tanpa basa-basi. Anna jadi paham bahwa nonanya itu berusaha mengorek informasi dari kawannya. Ia hanya mengatakan bahwa pihak kerajaan berada di atas angin sekarang. "Kecuali ada sesuatu yang tidak terduga, saya yakin pihak kerajaan akan memang."
"Itu kabar yang baik," Alice menerimanya tanpa bertanya lebih banyak lagi. Ia pun menyuruh Anna untuk menyusulnya jika sudah tidak ada pekerjaan. Anna menerima perintah itu setelah cukup beristirahat.
...***...
Kondisi Kota Marianna kacau balau. Beberapa rumah terbakar. Beberapa lainnya hancur. Darah bercucuran di jalanan. Mayat-mayat berjatuhan di mana-mana.
Tidak terlihat satu pun warga kota sampai sore hari tiba. Saat perang terjadi, mereka yang tidak ikut dalam bagian pasukan pembebas bersembunyi meringkuk di tempat mana pun yang sesuai. Mereka baru keluar setelah para kesatria dan pasukan pembebas menyerukan kemenangan.
Alih-alih diliputi kebahagiaan, kebanyakan warga malah menangis. Entah antara sedih atau terharu. Mereka beramai-ramai menguburkan mayat yang berjatuhan.
Raja Claudius menakhlukkan kastil penguasa kota tanpa perlawanan. Para bangsawan yang sebelumnya membelot berlutut padanya. Mereka mengatakan bahwa tidak ada jalan bagi mereka selain menyerah.
"Lalu mengapa Kalian tidak berusaha meminta bantuan pada ibu kota?" tanya Raja Claudius tegas. Ia duduk di atas singgasana yang ada di kastil itu. Para kesatria berbaris rapi. Pedang mereka siap terhunus kapan saja. Sedang para bangsawan Kota Marianna masih terus berlutut dengan tangan dan kaki gemetaran.
"Ka... kami terus diawasi," salah seorang bangsawan menjawab dengan terbata. Ia tertunduk dalam tak berani menatap mata sang raja. Raja Claudius pun memerintahkan mereka untuk diinvestigasi lebih lanjut. Mereka menjadi tahanan rumah sampai keputusan terkait mereka dikeluarkan.
Esok harinya, pemimpin dari pasukan pembebas menghadap baginda raja. Ia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan bersumpah setia. Raja Claudius pun memberinya gelar bangsawan baron dan memerintahkannya untuk merenovasi Kota Marianna.
"Hah... tak kusangka liburan ini terlalu singkat," ucap Raja Claudius setelah orang-orang pergi dari hadapannya. Saat ini ia duduk sendiri di sebuah ruang kerja milik penguasa kota sebelumnya.
"Anda meninggalkan semua pekerjaan kepada perdana menteri," seorang ajudan yang juga sahabat karib Raja Claudius berkomentar, "Anda mungkin akan mendapat omelan dari Tuan Putri Mahkota el Vierum saat sampai di ibu kota nanti."
"Arthur, aku justru menantikannya," balas Raja Claudius dengan senyum yang penuh kerinduan.
__ADS_1