Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Desa Saville


__ADS_3

Fajar mulai terbit March van Ryvat. Mentari malu-malu memanjat langit. Cahaya merah kekuningannya membawa kehangatan di tengah dinginnya hari esok.


Derrick berdiri di sebuah benteng paling luar Kerajaan el Vierum. Benteng yang dipercayakan kepada Keluarga van Ryvat untuk menjaga perbatasan sebelah barat. Benteng itu diapit Pegunungan Kaskas. Di baliknya ada tanah Keluarga Saville, keluarga pedagang yang datang sekitar puluhan tahun lalu. Di atas benteng yang sunyi itu, Derrick berdiri dan mengembara ke dunianya sendiri.


Ia sudah banyak berdiskusi dengan neneknya semalam. Aliansi sudah benar-benar dibentuk. Tidak! Sebenarnya sejak Duchess Evianna menikah dulu, aliansi sudah dibentuk. Derrick hanya mengencangkan ikatannya atas nama Keluarga vi Alverio. Ia pun menatap Pegunungan Kaskas yang rapat dan curam. Pasti sulit melewatinya.


"Bagaimana Saville bisa melewati pegunungan itu?" gumam Derrick dalam kesendiriannya. Ia memandang betapa kokohnya Pegunungan Kaskas. Rasanya janggal untuk membangun benteng di sekitar sini. Pegunungan itu sendiri sudah menjadi benteng alami.


"Mereka orang-orang hebat. Apa Kamu tahu? Gunung itu dilubangi dengan besi," jawab seorang pemuda yang dibalas dengan tatapan dingin Derrick. Pemuda itu tidak menghiraukannya. Mungkin ia bahkan tak memedulikannya. Itu memang bukan suatu masalah.


"Siapa?" tanya Derrick dengan ekspresi yang tak menunjukkan ketertarikan. Ia seolah tak berniat untuk tahu sama sekali. Hanya bertanya untuk formalitas belaka.


"Ramirez," jawab pemuda itu dengan senyum riang, "Ramirez van Ryvat. Kamu bisa memanggilku, Rez."


"Oh, oke," Derrick memalingkan pandangnya kembali ke Pegunungan Kaskas. Ada secarik jalan yang ujungnya ditelan gunung di sana. Derrick penasaran dengan arah jalur itu menuju.


"Itu adalah jalan untuk ke desa Keluarga Saville," kata Rez seakan dapat membaca arah pikiran Derrick dari matanya, "Aku pernah ke sana. Ada sebuah tembok juga di ujung itu. Arsitektur bangunan di dalamnya berbeda jauh dengan yang ada di kerajaan. Itu tempat yang indah. Sayangnya aku tidak bisa melewati benteng selanjutnya."


"Ada berapa banyak benteng memangnya?" kali ini Derrick benar-benar tertarik. Menolehlah ia. Ditatapnya Rez yang bercerita dengan semangat, "Entahlah. Aku hanya melihat dua benteng itu. Benteng kedua pun jaraknya sangat jauh dari Desa Saville. Temboknya tebal dan tinggi. Ada besi keras yang melapisinya. Aku yakin tembok itu sangatlah kuat."


"Benarkah begitu?" Derrick jadi ingin mengunjungi benteng itu. Ia kembali membawa pandangannya ke jalan yang menghubungkan Kerajaan el Vierum dan Desa Saville. Sebuah desa yang tak banyak diketahui orang, tapi serikat dagangnya sangat besar bahkan di mancanegara.


"Yah, apa kamu tertarik? Aku bisa mengantarmu ke sana kalau nenek mengizinkan," Rez dengan bangga menawarkan, "Kebetulan aku sedang senggang sekarang."


"Tuan Duke Muda, mohon jangan dengarkan ia!" seru seorang yang bersuara cempreng dari belakang. Orang itu terengah-engah. Peluh keringat membasahi wajahnya. Air mukanya keruh oleh kekesalan. Ia menatap Rez dangan tajam.


"Tuan Muda Rez! Pekerjaan Anda masih menumpuk. Cepat ikut saya kembali," omel orang bertuksedo abu yang agak pendek itu. Rambutnya yang berantakan menambahkan kesannya yang jarang mengurus diri. Ia terlihat amat lelah setelah dipaksa bekerja rodi dari Anyer sampai Panurakan.

__ADS_1


"Yus? Bukannya sudah kuselesaikan kemarin?" sanggah Rez dengan wajah tak berdosa.


Yus jadi semakin kesal. Ia terpaksa melembur kemarin karena Rez yang tiba-tiba dipanggil untuk menyambut tamu penting. Yus pun berseru protes, "Anda pikir pekerjaan hari ini belum datang. Cepat kembali persiapkan diri Anda!"


"Ugh, kamu sangat cerewet. Aku hampir trauma jadi calon kepala keluarga karenamu!" tuduh Rez blak-blakan. Derrick mulai malas berurusan dengan mereka. Sebelum Yus kembali meluapkan amarahnya, datang orang lain yang masuk ke daftar pengganggu pagi ini di benak Derrick.


"Salam, Tuan Muda sekalian," sapa orang itu dengan sopan. Ia tidak menunduk seperti kebanyakan bangsawan ketika bertemu dengan orang yang lebih tinggi darinya. Ia hanya memberi senyum ramah dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Aku Sifer dari Saville. Marchioness van Ryvat sendiri yang menyuruhku memandu Anda. Senang bertemu denganmu."


Derrick hanya mengangguk dan menerima uluran tangan Sifer. Yus kembali mengomeli Rez. Sifer sendiri terlihat semakin berwajah cerah.


Ia sudah berusaha keras selama sebulan ini di Kota Marianna. Ada agen lain yang kini membantu Keluarga Hamra merehabilitasi dan merekonstruksi kota itu. Tugasnya akan berakhir sebentar lagi. Ia dapat segera menikmati liburannya.


"Apakah Anda ingin pergi sekarang?" tawar Sifer dengan sopan, "Saya akan menyiapkan kuda untuk ke sana."


"Mari," balas Derrick.


Derrick pun bersiap. Ia menyarungkan pedangnya di punggung. Mereka berdua akan berangkat tanpa pengawal. Sifer bilang, jalur itu terjamin aman. Lagi pula jaraknya tidak terlalu jauh.


"Anda sudah siap?" Sifer menuntun seekor kuda cokelat yang gagah. Senyumnya yang ramah tersungging indah di wajahnya. Derrick tidak akan pernah mengira kalau pria yang santun itu pernah melakukan pembantaian perompak di Kota Marianna sebulan yang lalu.


"Mari ikuti saya, Tuan Duke Muda," Sifer menaiki kudanya diikuti Derrick. Mereka pun berangkat melintasi gerbang benteng satu-satunya. Pengawal yang menjaga gerbang itu memberi hormat ketika Derrick menunjukkan emblemnya.


Kuda berlari dengan kencang. Jejak-jejak kaki mereka membekas di jalanan sepi yang kering itu. Butiran-butiran debu mengepul di udara. Mentari mulai percaya diri memancarkan sinarnya.


Di kanan dan kiri Derrick adalah tebing yang curam. Ia takjub dengan Keluarga Saville yang dapat memotong gunung itu. Benaknya pun dipenuhi berbagai pertanyaan.


Jaraknya benar-benar dekat. Derrick melihat sebuah gerbang bertembok abu-abu di kejauhan. Tembok itu tidak tinggi. Sangat jauh berbeda dengan Benteng van Ryvat yang tinggi dan kokoh.

__ADS_1


Kali ini giliran Safir yang menunjukkan lencananya. Gerbang pun segera dibuka. Desa yang diceritakan Rez mulai terlihat di mata Derrick.


Daripada disebut sebuah desa, tempat itu lebih cocok dipanggil komplek perumahan yang rapi. Jalan raya besar dibangun di tengahnya, bercabang ke berbagai arah di penjuru Saville. Penduduknya cukup banyak. Mereka memiliki wajah-wajah yang cerah dengan tubuh yang tegap. Derrick pun baru menyadari kalau Sifer juga memiliki tubuh tegap yang gagah. Ia mungkin setara dengan seorang kesatria senior.


"Mengapa mereka membungkus kepala dan rambut mereka?" Derrick memperhatikan para wanita berkerudung yang berjalan di sekitarnya, "Apa mereka tidak merasa gerah di hari yang panas ini?"


"Membungkus?" awalnya Sifer sedikit bingung. Ia pun langsung paham ketika mengikuti arah pandang kliennya itu. Ia pun ber-oh paham, lalu memastikan, "Maksud Anda para gadis dan wanita itu kan?"


Derrick mengangguk, maka Sifer dengan senang hati menjelaskan, "Mereka menutup aurat dan menjaga kehormatan. Itu adalah hak dan kewajiban mereka sebagai wanita. Jika ditanya apakah mereka tidak gerah, saya tidak begitu tahu. Mungkin mereka sudah terbiasa karena sudah memakainya sedari kecil."


"Aurat? Apa itu?" Derrick tidak mengerti kosa kata yang Sifer gunakan. Ia merasa baru saja menemukan hal baru yang dapat menarik perhatiannya. Meneliti perbedaan budaya ini mungkin bisa jadi refreshing yang menyenangkan untuknya.


"Aurat itu adalah bagian tubuh yang tidak boleh ditampakkan. Secara naluri, bagian yang dianggap aurat pasti dapat menimbulkan rasa malu jika dipandang orang lain. Apalagi wanita. Bisa dibilang, mereka mengenakan kerudung itu untuk menjaga perhiasannya."


"Menarik," komentar Derrick yang kemudian bergumam, "Ini jauh berbeda dengan kebudayaan di Kerajaan el Vierum. Jadi, Akilla van Ryvat selalu mengenakan pakaian tertutup itu dengan alasan begitu. Yah, dia memang terlihat lebih anggun dan berwibawa daripada gadis bangsawan lainnya."


"Maksud Anda Putri van Ryvat yang sekarang menjadi bagian dari Istana Mutiara?" Safir menemukan sesuatu yang lebih menarik lagi. Jika tebakkannya benar, maka...!? Tidak! Melihat wajah datar Derrick, sepertinya itu salah.


"Ya, dia gadis paling unik di pergaulan sosial," jawab Derrick tanpa wajah yang tidak sedikit pun berubah.


"Hah? Saya dengar Anda tidak suka ke acara seperti itu," Sifer menarik lagi pesimisnya. Ia menemukan tanda-tanda yang menambah kemungkinan.


"Ada seorang yang sangat cerewet di kantorku," tanpa sadar, Derrick sudah mulai membuka dirinya atas keberadaan Safir, "Kamu tidak perlu mengetahuinya lebih jauh lagi."


"Anda menyelidiki para putri?' tebak Safir.


"Sedikit," kata Derrick singkat. Air mukanya amat tenang. Safir tak dapat menemukan sesuatu di sana.

__ADS_1


Walau terlihat di luar begitu, dalam hati Derrick ada sesuatu yang menggelitik hangat. Ia jadi teringat lagi dengan gadis yang barusan disebutnya. Ia merasakan sesuatu, tapi tak tahu dan tidak mau mengakui apa itu.


__ADS_2