Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Laboratorium Rekayasa Genetik


__ADS_3

"Monster itu seperti tak ada habisnya," keluh Viscount Ilios dengan wajah kusutnya. Kerutan tua di wajahnya seakan bertambah hanya dalam beberapa hari. Situasi wilayah di bawah yurisdiksinya semakin kacau dari hari ke hari.


"Bukan tidak ada habisnya, tapi mereka memiliki kemampuan regenerasi yang lebih cepat dari kebanyakan hewan lainnya," Leonius yang berbicara. Ia tidak mungkin mengizinkan Nana yang sembarangan berdialog dengan pria tua itu. Kalau gadis penyihir itu tersinggung sedikit saja, bisa jadi pria tua di hadapannya dulu yang dibantai sebelum monster-monster itu. "Kalau tidak dibunuh sekali serbu, esoknya mereka akan kembali dengan keadaan yang prima."


"Penyihir di wilayah kami menemukan jejak sihir pada hewan-hewan itu," Viscount Ilios menjelaskan penemuan yang didapat penyihirnya beberapa hari lalu, "Penyihir itu bilang, serigala-serigala itu sudah bermutasi menjadi monster sihir."


"Di mana dia sekarang?" suara dingin Nana mengagetkan Viscount Ilios. Tubuhnya kembali bergetar ketika saling bertatap mata dengan penyihir muda itu. Leonius menghela napas. Ia tak bisa sepenuhnya menahan Nana. Ia lega setidaknya pria tua itu tahu posisinya.


"Dia ada di rumahnya. Saya akan mengutus seseorang untuk segera memanggilnya," Viscount Ilios menekuk wajah. Tangannya yang masih bergetar ia sembunyikan di bawah meja. Lalu ia segera memerintahkan seorang pesuruh untuk memanggil penyihir itu.


"Bagus sepertinya Kamu orang yang cukup peka," seringai Nana menghiasi wajahnya. Leonius ingin menegurnya untuk bersikap sedikit lebih sopan pada bangsawan rendah itu, tapi ia mengurungkan niat ketika melihat hawa yang tidak nyaman di sekitar Nana.


"Ampuni saya, Madam," Dasku bersujud meminta pengampunan Nana. Ia segera meninggalkan Laboratorium Rekayasa Genetik tak lama setelah Shermann meninggalkannya. Ia bahkan mengorbankan seorang kawannya agar dapat keluar dari tempat terkutuk itu.


"Bagaimana Kalian bisa sebodoh itu?" bentak Nana di sebuah ruangan yang ada di kediaman Viscount Ilios. Hanya ada para penyihir di ruangan itu. Selain Nana, tidak ada yang dapat berkata apa-apa.


"Membiarkan pintu terbuka dan meninggalkannya begitu saja," Nana menggertakkan giginya, "Apa Kamu tahu bahaya dari kelakuanmu itu?"


"Ampuni saya, Madam. Saya pantas mati," Dasku terus berusaha memohon. Wajahnya lebam di sana-sini. Ia sempat dihajar saat di panggil tadi. Sebelumnya, ia tak pernah mau menampakkan diri di depan Nana.


"Benar, Menara Penyihir tidak butuh orang yang tidak berkompeten seperti dirimu," Nana sudah merapalkan mantra penghancurnya. Sebuah bola api kecil telah terbentuk di tangan kirinya. Sejak awal, ia dan para penyihir di belakangnya memang diperintahkan untuk mengeksekusi para peneliti yang gagal.


"Tidak, Madam! Saya moh...," sebelum Dasku sempat menyelesaikan kata-katanya, bola api Nana lebih dulu meledakkan dirinya. Tabir penutup yang dirapalkan para penyihir di ruangan itu membuat suara ledakan tak dapat keluar sedikit pun.

__ADS_1


"Kamu benar-benar seperti yang dirumorkan," Leonius memberi senyum masam saat bertemu dengan Nana di lorong. Ia sudah menebak apa yang gadis itu lakukan. Jadi ia tidak berniat untuk bertanya.


"Tutup mulutmu! Siapkan para pasukan. Kita akan ke sarang monster-monster itu sekarang," Nana berkata dingin. Ia tidak takut pada Leonius yang sudah mengeluarkan aura kesatrianya.


Leonius berdecak. Rencananya memang hari ini mereka memulai pembasmian. Siapa sangka gadis itu bertingkah seakan sudah tahu sarang mangsanya.


"Komandan dan madam itu sangat akrab, ya?" bisik seorang kesatria yang mengamati keduanya dari kejauhan. Mata Leonius segera menatap mereka tajam. Para kesatria itu pun balik badan sebelum mendapat masalah yang tidak perlu.


"Inikah tempatnya?" Leonius mengerutkan dahi. Di hadapannya terdapat sebuah bangunan kuno yang telah rata dengan tanah. Bekas pertempuran terlihat di sana-sini.


Nana mengamati sekitar. Ia menemukan jejak sihir di mana-mana. Ia juga mengenal pemilik jejak sihir itu. Ya, sihir paling gelap yang sangat ia kenal, Voxnus Audrew. Nana bergumam pelan, "Tapi dengan siapa pak tua itu bertarung?"


"Apa yang Kamu temukan?" tanya Leonius melihat ekspresi geram Nana. Sebelum gadis itu sempat menjawab, teriakan seorang kesatria lebih dulu menyita perhatiannya.


Suara gongongan terdengar dari segala arah. Para kesatria segera mencabut pedangnya. Para penyihir merapalkan mantranya, setidaknya untuk melindungi diri mereka sendiri. Nana menyeringai mendengar melodi gonggongan itu.


...***...


Laboratorium Rekayasa Genetik, beberapa jam sebelum kedatangan Nana dan rombongannya


"Siapa orang itu?" seorang pengintai yang diutus Biro Rahasia mengamati di sebuah pohon agak jauh dari bangunan kuno itu berdiri.


"Voxnus Audrew, Pemilik Menara Penyihir," jawab seorang temannya. Ia bersiaga mengambil senapan jitunya. Dengan lensa digital di mata, mereka dapat memperbesar visual yang jauh.

__ADS_1


"Mereka datang lebih cepat dari yang kuduga," si pengintai berkomentar. Ia tetap siaga dengan sebilah pedang di tangannya. "Tak kusangka mereka mengirim langsung Pemilik Menara Penyihir untuk membasmi monster-monster itu."


"Itu aneh," si penembak jitu mengingat data yang diterimanya pagi ini, "Harusnya yang datang adalah Nana Magansei bersama Leonius von Denburg."


"Lalu apa yang pak tua itu lakukan?" si pengintai curiga. Voxnus sudah masuk ke laboratorium cukup lama. Suasana di laboratorium itu amat sunyi seperti tempat yang angker.


"Aku bersyukur monster-monster ganas itu tidak dapat memanjat ke tempat yg tinggi," si penembak jitu melihat ke bawahnya. Di sana beberapa kreebs sedang berjalan menuju laboratorium.


Monster-monster itu mengabaikan makhluk yang ada di atasnya. Mereka mencium bau darah yang amat menggoda dari bangunan kuno. Lidah mereka menjulur tak sabar untuk segera sarapan.


"Dia keluar," ucap si pengintai. Si penembak jitu memasang senapannya. Ia tahu bahwa pertarungan akan segera terjadi. Bukannya ia ingin menolong Voxnus, ia bahkan yakin pak tua itu akan baik-baik saja. Ia hanya ingin mengambil data pertarungannya dengan kesiagaan penuh.


Voxnus tidak keluar sendiri. Ada seekor serigala raksasa yang mengikuti di belakangnya. Serigala itu memancarkan hawa membunuh yang pekat. Bulu kuduk si pengintai dan si penembak jitu sampai berdiri dibuatnya.


Para kreebs menyerbu. Voxnus segera membaca mantra dan menyerang monster-monster itu. Serigala raksasa di belakangnya melolong keras.


Batu-batu berterbangan di sekitar Voxnus. Dengan cepat, mereka melesat ke kepala para monster itu. Tidak banyak yang kena. Para kreebs terus menghindar sembari melebarkan kerumunan. Belasan ekor sudah ada di atap laboratorium yang datar.


Dengan geram, Voxnus membacakan mantra dan sebuah batu prasasti raksasa pun melayang di hadapannya. Voxnus menembakkan prasasti itu ke laboratorium. Tumbukan besar terdengar. Bagian depan laboratorium hancur mengubur para kreebs di atasnya. Gerombolan lain pun datang.


Si pengintai dan penembak jitu mematung. Mereka menyaksikan pertarungan itu tanpa berkedip. Hanya butuh waktu setengah jam sampai laboratorium runtuh seluruhnya. Semakin banyak batu berterbangan di sekitar Voxnus. Para kreebs cukup pintar untuk segera kabur dengan cepat darinya.


Raja serigala kembali melolong. Sejak tadi ia hanya menonton seakan berkata kepada Voxnus, "Tunjukkan kemampuanmu!" lalu ia merendahkan tubuhnya. Voxnus pun mengendarainya dan pergi dari laboratorium itu.

__ADS_1


"Kita harus segera melaporkannya pada Biro Rahasia," si pengintai menggigit bibir. Si penembak jitu mengangguk. Data pertarungan telah diperbarui. Menara Penyihir telah memiliki senjata baru. "Kemungkinan ada laboratorium lain di kerajaan ini. Ayo kita lekas pergi."


__ADS_2