
Pada hari keenam, Alice dan rombongannya sampai di wilayah County de Clorence, kampung halaman Aristia. Count de Clorence menyambut langsung rombongan di gerbang kota. Ia memberi salam pada Alice selaku Putri Mahkota el Vierum.
"Terima kasih telah menjaga anak saya selama di ibu kota, Tuan Putri," ucap Count de Clarence. Ia adalah sosok pria paruh baya berkumis tebal. Rambutnya pirang sama seperti Aristia dan bermata biru laut.
"Nona Aristia de Clarence telah banyak membantu saya dan Istana Mutiara," Alice membalasnya dengan tulus pula, "Sayalah yang seharusnya berterima kasih."
"Sungguh suatu kehormatan bagi kami, Keluarga de Clarence," Count de Clarence berujar senang. Sebagian kekhawatirannya berkurang. Selama ini, ia gelisah dengan tingkah putrinya yang penuh semangat dan berisik akan membuat sang Putri Musim Dingin terganggu. "Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih. Mari saya antar ke kediaman kami."
Tidak seperti di desa baron yang sebelumnya, Kota Coulmer yang dikelola Count de Clarence sangat ramai. Penduduknya tidak setegang di desa, tapi mereka tetap menyambut kedatangan Putri Mahkota el Vierum dengan meriah dan membentuk pagar betis di sepanjang jalur menuju kediaman tuan tanah. Mereka seakan melihat rombongan pawai yang megah.
"Itu kereta kencana dari ibu kota. Sungguh sangat besar," orang-orang ramai membicarakan rombongan Alice.
"Para kesatria itu sangat gagah. Aku akan menjadi seperti mereka suatu saat nanti," seorang anak berkata dengan semangat kepada teman-temannya.
"Itu Nona de Clorence. Wilayah ini akan semakin makmur dengan prestasinya di ibu kota," seorang penduduk yang kenal dengan Aristia membalas lambaian tangan putri Keluarga de Clarence itu. Aristia menggantikan Alice menyapa para penduduk Kota Coulmer.
Sang Putri Mahkota el Vierum merasa terbebani dengan keramaian itu. Ia lebih nyaman duduk di forum para bangsawan tingkat tinggi daripada harus berhadapan dengan penduduk sebanyak ini, tapi mau bagaimana pun, ia harus terbiasa secepat mungkin sebagai calon ratu masa depan. Walaupun sekarang masih dapat dimaklumi menimbang usianya yang masih belia.
Mainne juga ikut menyapa para penduduk. Walau ia tidak dikenal, orang-orang tetap menghormatinya karena ia bagian dari gadis cendekia di Istana Mutiara. Ia penasaran bagaimana dengan kondisi di kampung halaman Aria dan Akilla nanti. Akankah seramai ini atau ada sesuatu yang lain?
__ADS_1
"Kota ini sangat cantik," ucap Rosemary memperhatikan sekelilingnya. Setiap bangunan tertata rapi dengan arsitektur yang unik. Apalagi pusat perbelanjaannya yang disusun sedemikian rupa sehingga tidak terkesan sesak.
"Kita hampir sampai," seru Aristia semangat. Kastil yang amat megah terlihat di hadapan mereka. Temboknya tebal dan tinggi. Menara-menaranya menjulang gagah mencakar langit. Di dalamnya, taman-taman nan indah terawat dengan baik.
"Keselamatan atas Tuan Putri Mahkota el Vierum," sapa Countess de Clorence yang merupakan ibu kandung Aristia. Ia memiliki senyum hangat yang khas dengan keceriaan. Pantas saja Aristia selalu memiliki wajah yang berseri.
"Ini adalah suatu kehormatan bagi saya untuk dapat bertemu dengan Nyonya Countess de Clarence," ucap Alice setelah membalas salamnya. Countess de Clarence adalah gadis cendekia dari generasi pertama. Ia sahabat karib Duchess Evianna dan Putri Elianna.
"Duchess Evianna pasti bangga memiliki putri secerdas Anda, Tuan Putri," Countess de Clarence menuntun para gadis cendekia ke ruang istirahat, "Justru saya yang merasa terhormat dapat bertemu dengan Anda."
"Karena kita ada lingkup keluarga, panggil saja aku Bibi Emilda atau Bibi Emel saja cukup," ucap Countess de Clarence. Nama gadisnya adalah Emilda de Aries, ia adalah adik dari Count de Aries yang sekarang. "Hari ini Kalian istirahat dulu, aku akan mengajak Kalian mengelilingi kota besok."
"Terima kasih, Bibi Emel," ucap Alice hormat. Setelah itu, Aristia mengajak para gadis cendekia untuk menengok koleksi novel-novelnya. Ada banyak sekali di perpustakaan. Sambil istirahat, mereka membaca buku dan bercerita.
"Baginda Ratu, ini laporan yang Anda minta," Henrietta menyerahkan beberapa lembar kertas berisi biodata seorang gadis. Selama beberapa minggu, Ratu Clara meminta Intelijen Istana Ruby untuk mencari profil gadis yang dikejar-kejar oleh putranya.
Beberapa hari terakhir, muncul gosip tidak enak yang membuat gatal telinga Ratu Clara. Menurut gosip dari pergaulan sosial kelas atas itu, putra mahkota terlihat sedang berusaha mendekati seorang gadis selama Putri Mahkota el Vierum pergi ke wilayah barat.
Gosip itu pun sudah terdengar sampai ke telinga Raja Claudius. Raja dan ratu sudah membincangkan masalah ini secara pribadi. Jelas, apa yang dilakukan putra keduanya itu telah menodai martabat keluarga kerajaan, tapi mereka belum bertindak apa-apa selain menekan persebaran gosip itu.
__ADS_1
"Jadi, dia gadis yang sama dengan yang waktu itu?" Ratu Clara menghela napas miris dengan kelakuan putranya, "Bagaimana gadis itu bisa dengan bebas keluar-masuk istana?"
"Dia mendapat rekomendasi dari pemilik Menara Penyihir, Penyihir Agung Voxnus Audrew dan Kepala Penelitian Sihir, Nana Magansei," jelas Henrietta. Wanita paruh baya yang rambutnya disanggul itu duduk anggun di kursi yang ada di ruang kerja sang ratu, "Dia masuk istana sebulan sebelum musim sosial."
"Benar juga, dia gadis dari Menara Penyihir," Ratu Clara menaruh dokumen profil itu di mejanya. Bagaimanapun, gadis dari Menara Penyihir itu tidak dapat disalahkan. Ia sama sekali tidak pernah mendekati putra mahkota, tapi putra mahkotalah yang mendekatinya. "Mereka mungkin telah merencanakan ini sejak lama."
"Apa yang akan Anda lakukan, Baginda Ratu?" Henrietta menuangkan kembali teh ke gelas yang sudah kosong.
"Aku tidak boleh membiarkan putra semata wayangku terobsesi dengannya lebih jauh lagi," kata Ratu Clara setelah menyeruput teh yang baru itu, "Selain karena harus menghormati Putri Mahkota el Vierum, tindakannya itu dapat mempengaruhi masa depannya kelak."
Ratu Clara berdiri dari kursinya. Ia menatap lukisan sepasang gadis kembar berambut merah dengan mata ruby yang indah. Keduanya tersenyum manis. Salah satunya memancarkan aura karismatik yang berwibawa, satunya lagi intelektual yang bijaksana.
"Aku juga akan selalu berada di sisi Istana Mutiara," Ratu Clara meraba lukisan itu lalu menatap sosok muda Putri Elianna dan Duchess Evianna, "Aku tidak akan mengkhianati amanah keduanya, bukan?"
"Anda benar. Sebagai orang-orang pilihan Putri Kembar, kita tidak akan membiarkan Istana Mutiara terancam begitu saja," Henrietta adalah gadis cendekia dari generasi kedua yang diayomi langsung oleh Duchess Evianna, sedangkan Ratu Clara adalah gadis cendekia dari generasi pertama yang dipimpin Putri Elianna.
"An akan pulang sebentar lagi," Ratu Clara kini menatap keluar jendela. Taman Bougainvillaea terlihat dari sana. Apalagi saung favorit sang ratu yang merupakan pusatnya. "Suruh ia untuk segera menemuiku sesampainya di istana nanti."
"Baik, Baginda," Henrietta menerima perintah itu.
__ADS_1
"Juga, terus awasi gadis dari Menara Penyihir itu," tambah Ratu Clara, "Kamu boleh kembali sekarang."
Henrietta pun pamit undur diri.