Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Ingin Pulang


__ADS_3

Charlotte berbaring di kasurnya yang empuk dan besar. Ia menatap langit-langit kamarnya yang seputih susu. Di setiap sisinya, ada ukiran yang sama putihnya seperti tulang. Ia pun mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Sudah hampir semusim, ya? Waktu berlalu tanpa terasa," gumam Charlotte pelan. Ia jadi teringat dengan kampung halamannya saat melihat daun-daun yang mulai layu dan kering di pepohonan. Musim panas akan segera tiba. "Apa aku bisa pulang?"


Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di benak Charlotte. Entah apa yang membuat rindu pada tanah itu. Padahal ia tidak begitu suka dengannya. Di sana, banyak kenangan-kenangan buruk yang tak ingin diingatnya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu menyadarkan Charlotte dari lamunan. Suara seorang pelayan terdengar meminta izin untuk menyampaikan pesan. Gadis berambut pirang platinum itu pun duduk di peraduan dan mengizinkan pelayannya untuk masuk.


"Nona, ini surat dari tuan besar," ucap pelayan berseragam hitam itu. Ia membawa nampan yang di atasnya terdapat sepucuk surat. Dengan hormat, ia menyerahkan surat itu.


"Terima kasih," Charlotte memberi senyum perinya saat mengambil surat itu. Pelayannya membalas senyum itu dengan senyum lembut yang seakan dipenuhi kasih sayang. Ia berdiri menunggu perintah sang nona selanjutnya.


Charlotte membaca surat itu dengan seksama. Setelah selesai, ia pun menghela napas dan menutupnya. "Tunggu sebentar, aku akan mengirimkan balasan."


"Baik, Nona," pelayan itu menurut.


Dalam surat yang diterima Charlotte, terdapat banyak kata rindu dan kasih sayang di dalamnya. Sejenak, terdengar seolah-olah ia sangat dicinta oleh ayahnya. Padahal pria itu sudah mengabaikannya selama beberapa tahun.


"Jadi, masih ada, ya," gumam Charlotte dengan wajah datar. Ia membuka laci belajarnya dan menengok sebuah tabung bercairan merah di sana. Masih berisi seperempat di sana.


"Ini, katakan kepada kurir untuk menyampaikannya segera," ucap Charlotte dengan senyum yang begitu manis. Ia menyerahkan suratnya. Pelayan itu pun pamit undur diri membawa surat balasan Charlotte.


"Hah... aku nyaris tidak percaya segalanya berubah secepat ini," Charlotte kembali berbaring. Di kembali langit-langit kamar yang putih. Ia pun mengangkat tangannya seakan hendak meraih angkasa. "Ayah ingin aku pulang? Apakah itu adalah keinginannya sendiri atau dorongan dari sihir?"


Charlotte tidak ingin memikirkannya lebih jauh. Cukup baginya dengan memiliki perhatian dari keluarga. Di masa lalu, hanya kakak perempuannya saja yang mendapat itu.


"Kak Catharine, bagaimana kabarmu?" Charlotte kembali bergumam. Catharine adalah sosok yang dikaguminya sama seperti Putri Mahkota el Vierum. Putri pertama Keluarga de Vool itu memiliki paras yang cantik, keanggunan yang menawan, dan kecerdasan yang hebat. Karena itu, dia selalu mendapat perhatian lebih daripada adiknya.


"Kamu...," Charlotte memotong kalimatnya sejenak, "Baik-baik saja, kan? Aku akan segera pulang."

__ADS_1


Charlotte menurunkan tangannya. Tiba-tiba, ia merasakan kantuk yang luar biasa. Matanya perlahan tertutup. Tanpa sadar, ia pun terlelap.


Sinar mentari sore yang kemerahan menembus jendela kamar Charlotte saat ia terbangun. Wajahnya ayu diterpa cahaya yang hangat itu. Ia pun mengerjapkan matanya. Ia masih ingin kembali tidur sedikit lebih lama.


"Tidak, aku harus bangun," Charlotte menyanggah perasaan dirinya. Dia pun duduk untuk mengumpulkan nyawa. Sepoi-sepoi angin dari luar membuatnya kembali mengantuk. Ia ingin kembali berbaring untuk sesaat.


"Tidak! Ayolah...," Charlotte terus berusaha mendorong dirinya untuk bangun. Kali ini, ia bangkit berdiri di samping ranjang besarnya. Berkali-kali ia hampir tertarik untuk kembali ke kasur, tapi akhirnya ia bisa mengatasi keinginan itu dengan keluar kamar.


"Nona, Anda sudah bangun," sapa pelayan yang mengantar surat tadi siang. Ia terlihat membawa beberapa lembar kain besar. Sepertinya itu adalah selimut yang baru diangkat dari jemuran. "Nona Nana berkunjung tadi. Akan tetapi, karena melihat Anda tertidur, beliau kembali ke bawah."


"Begitu, ya?" Charlotte menoleh ke kamarnya, "Terima kasih, aku akan ke bawah."


"Eh? Nona," panggil pelayan itu, "Apakah Anda tidak ingin mengganti pakaian terlebih dahulu.?"


"Tidak perlu," Charlotte menunjuk senyum manis yang selalu membuat setiap orang ingin lebih dekat dengannya, "Lagi pula, aku tidak akan keluar dari Mansion Menara Penyihir."


Charlotte pun turun dengan gaun yang dipakai untuk tidur siang tadi. Itu adalah gaun yang biasanya ia pakai untuk penelitiannya di laboratorium kerajaan. Warnanya putih dengan paduan krem di bagian tertentu.


"Itu dia! Adik kecil kita sudah bangun," suara Nana yang terdengar ceria menyambut Charlotte begitu ia menuruni tangga, "Apa tidurmu nyenyak?"


"Ah, maaf. Aku tidak tega saat melihat wajah imutmu yang sedang tertidur itu," Melissa yang menjawab, "Tenang saja. Akulah yang bertanggung jawab untuk riset itu. Kamu masih kecil, tidak perlu terlalu bekerja keras."


"Tapi, aku ingin ikut juga," Charlotte tidak berhenti protes. Ia menggelembungkan pipi sampai memerah. Wajahnya yang jalas terlihat kesal itu malah membuat Nana dan Melissa tertawa.


"Maaf-maaf, kukira Kamu sangat kelelahan sampai tertidur sepulas itu," kali ini Nana yang membalas. Ia mengajak Charlotte untuk duduk di sampingnya. Gadis berambut runcing itu menyungging senyumnya yang khas.


"Berapa lama lagi penelitian akan berjalan?" Charlotte mengambil cangkir minumnya yang berisi air madu. Ia menenggak minuman yang manis itu lalu menghela napas lega. Kantuknya sudah benar-benar hilang sekarang.


"Itu baru mulai saat Kamu datang," Melissa menjelaskan, "Butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya."


"Kakak santai sekali," Charlotte menatap Melissa yang dengan asyiknya mencomot beberapa kue kering dari sebuah toples kaca lalu bertanya dengan sarkastik, "Berapa banyak kit penelitian yang Kakak hancurkan hari ini?"

__ADS_1


"Uhuk!?" Melissa tersedak kue kering yang yang dimakannya. Ia pun melotot ke Charlotte dengan tajam. Gadis kecil Keluarga de Vool itu hanya membuang muka menghindari tatapannya.


"Nana yang mengobrak-abrik laboratorium hari ini," tuding Melissa tidak terima. Nana pun sama tidak terimanya. Dia memang menghancurkan beberapa tabung reaksi, tapi dia sudah mengatasinya.


"Aku tidak sengaja tadi. Mana kutahu kalau cairan itu tiba-tiba meledak jika terlalu lama dipanaskan," bela Nana. Senyumnya yang khas tadi telah luntur tak berbekas. Ia mengepalkan kedua tangannya menjadi satu seakan siap bergulat dengan Melissa. Ia telah lupa kalau dalang pertikaian itu adalah Charlotte yang kini melihat mereka seperti seorang yang melihat dua anak gadis bertengkar.


Charlotte pun merapalkan mantranya. Tangannya menunjuk kedua saudarinya yang masih beradu mulut. Dalam sekejap, keduanya terdiam saat Charlotte menyelesaikan mantranya.


"Aku makin hebat, kan?" kata Charlotte kemudian. Tak ada rasa bersalah di wajahnya. Hanya ada wajah polos seorang gadis berambut pirang platinum yang seakan minta dipuji.


"Haha...," Melissa menepuk jidatnya. Dia sadar kalau mereka berdua baru saja dipermainkan oleh gadis itu, tapi dia tidak bisa marah. Charlotte pasti akan beralasan bahwa ia sedang melatih kekuatan penenangnya.


Nana pun tak bereaksi apa-apa. Ia lebih suka menikmati sihir penenang yang Charlotte rapalkan padanya. Ia merasa nyaman setelah seharian itu berkutat dengan jurnal penelitian.


"Hari ini aku mendapat surat," perkataan Charlotte membuat Nana dan Melissa spontan menoleh. Keduanya mengira-ngira identitas si pengirim itu. Akan tetapi, spesifikasi mereka seketika runtuh saat Charlotte melanjutkan perkataannya, "Ayah ingin aku pulang saat musim panas ini."


"Apa!?" seri Nana tak percaya.


"Ayah memintaku pulang," Charlotte mengulang perkataannya. Sebelum ia kembali melanjutkan, Nan lebih dulu memotong, "Lalu, bagaiamana dengan bo... denganku?"


"Hah?" Charlotte yakin kakak didiknya itu ingin mengatakan sesuatu yang lain sebelumnya, "Karena itu, aku ingin mengajak Kalian untuk menemaniku ke County de Vool. Ada banyak tempat wisata yang bagus di sana."


"Aku tidak bisa," Melissa langsung menolak. Ia harus memastikan rencana Menara Penyihir berjalan dengan lancar, jadi dia tidak bisa ikut.


"Begitu, ya," Charlotte terlihat kecewa. Ia pun menatap Nana dengan tatapan melas. Ia bisa saja menggunakan sihirnya untuk mengajak mereka, tapi ia tidak ingin menggunakan itu untuk memaksa. "Bagaimana dengan Kak Nana."


"A... aku...," Nana terlihat berpikir dahulu. Ia pun melirik Melissa yang memberinya anggukan. Itu berarti, Melissa akan sendirian mengawasi rencana mereka. "Aku bisa ikut. Kamu tidak perlu sedih."


"Hore...!" seru Charlotte senang, "Janji, ya."


"Tentu, aku janji," Nana menyatukan kedua tangannya tanda serius.

__ADS_1


"Kita akan berangkat minggu depan," Charlotte mengabarkan. Ia pun beranjak dari duduknya untuk mandi. Saat ia pergi, barulah Melissa mengungkapkan pemikirannya, "Aku akan mengatur acara pemburuan akademi kali ini di County de Vool. Bocah itu akan ikut ke sana. Jadi, kupercayakan Lottie padamu."


"Serahkan padaku," Nana tersenyum puas setuju.


__ADS_2