Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Ayya dari Langit


__ADS_3

"Aku pulang," ucap Charlotte dengan lirih begitu turun dari kereta kuda Akademi Kerajaan. Wajahnya terlihat memelas dan bersedih. Ia tak berani melihat wajah keluarganya yang sudah sangat khawatir seharian kemarin.


"Dari mana saja kamu?" tanya Count de Vool dengan dingin. Aura mengerikan memancar dirinya. Sudah pasti pria paruh baya itu marah. Harusnya Charlotte bersiap untuk menjadi citra utama di acara nanti.


Charlotte menunduk dalam. Ia tidak ingin menjawab maupun menerima omelan. Tangannya disembunyikan ke belakang. Dalam hati, ia membaca mantra untuk meredakan amarah ayahnya.


Count de Vool sangat lega saat melihat Charlotte datang. Ia sangat khawatir pada gadis itu. Bagaimana dia tahu kalau anak gadisnya itu tidak mau ikut dalam pemburuan? Tak ada seorang pun yang memberitahukan hal itu sebelumnya. Charlotte juga tidak mengatakan padanya.


Seusai merapalkan mantranya, Charlotte langsung dipeluk oleh Count de Vool. Ayahnya itu sama sekali tidak marah. Ia bahkan meminta maaf. Penguasa County de Vool itu sangat menyesal tidak dapat mengerti keinginan putrinya sama sekali.


Tangis pun tumpah di pipi Charlotte. Ia tak menyadari bahwa seberkas kehangatan telah meresap ke hatinya yang selama ini kosong. Rasa haru dan ucapan maaf sang ayah itu terdengar nyata baginya dan itu memang benar-benar permintaan maaf yang tulus dari Count de Vool. Sayangnya, Charlotte tidak menyadarinya.


Padahal selama ini ia adalah gadis yang peka. Mantra sihir telah mempengaruhi pola pikirnya. Ia selalu diliputi rasa takut akan kehilangan bila keajaiban itu menghilang suatu saat nanti.


Count de Vool pun menggendong Charlotte. Ia berterima kasih kepada pihak Akademi Kerajaan yang memulangkan Charlotte ke rumah. Mereka hanya tersenyum dan kemudian pamit undur diri.


Charlotte menceritakan kepergiannya ke perkemahan setelah merasa lebih baik. Ia pun meminta maaf dan benar-benar menyesal. Dengan wajahnya yang paling imut, ia memohon pada ayahnya untuk tidak naik ke panggung di tengah acara pemburuan nanti.


"Aku ingin bertemu lagi dengan teman-teman baruku. Boleh, ya? Aku cuman nggak mau naik ke panggung," pinta Charlotte manja. Count dan Countess de Vool tertawa geli melihatnya. Mereka pun berjanji untuk mengikuti keinginan Charlotte.


Nana duduk diam memperhatikan. Setelah lama berpikir, ia pun menghela napas. Sungguh disayangkan mendengar Charlotte sama sekali tidak bertemu putra mahkota di perkemahan itu. Padahal ia bertemu dengan Solid dan Charles, dua orang yang paling dekat dengan putra mahkota. Dia juga bertemu para gadis cendekia, tapi tidak ada Putri Mahkota el Vierum di sana.

__ADS_1


Keluarga de Vool dan Charlotte datang ke perkemahan di siang hari. Count de Vool pun mengumumkan dibukanya putaran kedua. Hewan-hewan buruan yang lebih hebat dilepas saat itu juga. Para peserta berseru. Pemburuan puncak di musim ini pun bermulai.


...***...


Angin bertiup kencang di langit biru yang tinggi. Seekor elang berukuran sedang meluncur cepat di dalam arusnya. Di kaki burung predator itu terdapat sebuah surat. Saat suara melengking khas didengarnya, ia pun melesat turun kepadanya.


Seorang pemuda berbadan tegap mengulurkan tangannya ke angkasa. Pemuda itu memiliki rambut gelap yang kemerahan karena disiram sinar mentari. Matanya sebiru langit. Ia adalah pewaris tunggal Duchy vi Alverio, Derrick vi Alverio.


"Sejak kapan kakak belajar falconry?" tanya Alice yang menemani kakaknya ke bukit tertinggi di sekitar ibu kota. Anna dan Akilla juga ikut bersamanya. Mereka berdua sedang berteduh di bawah pohon lebat. Beberapa Kesatria Duchy vi Alverio yang merangkap sebagai Kesatria Istana Mutiara juga ada di sekitar sana.


"Baru-baru ini. Saat aku berkunjung ke rumah nenek," jawab Derrick yang tengah melepas surat di kaki elang pemberian Keluarga van Ryvat.


Alice memperhatikannya dengan seksama. Cara komunikasi dengan burung itu memang unik, tapi ini terlalu kuno bagi gadis itu. Ia bisa menerima informasi secara instan bersama Anna dengan teknologi Saville. Tadi pagi pun ia sudah menerima laporan mengenai kondisi para gadis cendekia di County de Vool.


"Dari Ramirez," jawab Derrick singkat.


"Kak Ram? Sejak kapan kakak akrab dengannya?" pertanyaan Alice kali ini membuat Derrick mengerutkan keningnya. Pemuda itu pun malah balik bertanya, "Kamu sendiri sejak kapan akrab dengannya?"


"Aku hanya tahu dari kakak-kakak Akilla. Mereka sangat sering membicarakannya," jawab Alice santai. Ia tidak peduli lagi dengan surat itu. Matanya fokus bertukar pandang dengan elang di tangan Derrick. Ia lantas bertanya, "Siapa namanya?"


"Entahlah? Kamu mau memberinya nama?" Derrick menawarkan. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Ada sesuatu yang membuatnya merasa lega.

__ADS_1


"Kakak belum memberinya nama? Bagaimana kalau Ayya? Artinya keajaiban Tuhan," saran Alice. Jari-jari manisnya ingin menyentuh bulu-bulu cantik di sayap burung itu. Namun, ia masih takut untuk melakukannya.


"Keajaiban Tuhan? Kenapa memilih nama itu?" Derrick lantas mengajak Alice berteduh. Burung elangnya dengan tenang bertengger di tangan. Ia akan diberi daging setelah ini.


"Karena dia bisa tebang di langit. Bukankah itu ajaib? Jika kita merenungkannya, kita akan menemukan tanda-tanda kuasa Tuhan padanya," ujar Alice sambil menuangkan segelas teh untuk kakaknya, "Elang itu terbang tanpa kesulitan sedikit pun. Tak ada yang dapat menghalanginya kecuali Tuhan. Tuhan Yang Maha Penyayang lagi Maha Mengetahui."


"Itu bagus. Aku menerimanya," Derrick memberikan sepotong daging kepada Ayya. Elang pengirim pesan itu menerimanya dengan senang hati. Ia mengepakkan sayapnya seakan mengklaim bahwa daging itu hanya miliknya.


"Dia masih muda kan? Ukuran tidak sebesar yang kubayangkan," komentar Alice begitu memperhatikan Ayya dengan lebih seksama, "Apa ia benar-benar mengakui Kakak sebagai tuannya?"


"Tentu saja, aku bersusah payah untuk itu. Walaupun berat, hari-hariku di March van Ryvat cukup menyenangkan," Derrick ingin mengambil teh yang diseduhkan adiknya. Namun, tangan kanannya masih kotor oleh bekas daging yang ia berikan pada Ayya. Sementara, tangan kirinya menjadi tempat bertengger burung yang tengah lahap memakan daging itu.


"Apa aku boleh menyentuhnya?" Alice sudah gemas ingin menyentuh bulu-bulu Ayya. Rasanya akan hebat kalau ia bisa menjadi seorang falconer juga. Itu pasti akan menambah atmosfer alam saat ia bertualang dengan Aria dan para gadis cendekia nanti.


"Lebih baik jangan. Dia mungkin melukaimu," Derrick tidak mengizinkan. Ia menjauhkan Ayya sebelum Alice semakin antusias. Sikapnya itu membuat Alice merasa diremehkan.


"Nona, izinkan saya untuk pergi sebentar," ucapan Anna membuat Alice batal untuk protes. Perhatiannya kini teralih pada Kepala Agen Saville itu. Pasti ada sesuatu yang penting datang kepadanya.


"Ya, tapi jangan terlalu jauh," kata Alice sambil mengedipkan mata sekali. Selain Alice yang mengerti kondisi Anna itu, ada juga Akilla yang merupakan putri dalam dari Keluarga van Ryvat. Ia turut memperhatikan Anna dengan seksama. Hanya Derrick yang tetap sibuk pada elang barunya dan tidak mengerti.


Anna tidak pergi terlalu lama. Saat ia kembali, air mukanya tampak keruh. Ada rona kemarahan di sana, tapi matanya sendu.

__ADS_1


"Kakak, ayo pulang," ajak Alice kemudian. Ini sudah bukan waktunya untuk bersantai lagi. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi.


__ADS_2