
"Mereka tidak pantas dikasihani," kata Alice mengomentari buku yang dibacanya. Anna yang mendengarnya pun bertanya, "Mengapa Tuan Putri berpikir demikian?"
"Itu karena mereka telah diberi peringatan," jawab Alice lugas, "Tetapi mereka malah menutup diri dari peringatan itu."
"Hm, begitulah. Sebagai manusia yang dianugerahi akal, kita harus bisa menggunakan fasilitas pikir itu sebaik mungkin," ucap Anna dengan senyum senang di wajahnya. Dulu, ia baru bisa mengerti bacaan Alice itu pada usia 12 tahun. Itu karena bahasa yang digunakannya berbeda dengan bahasa lokal yang ada.
"Mudah saja jika membaca tafsirnya," jawab Alice enteng. Anna tersenyum maklum lalu berkomentar, "Bahkan walau itu adalah tafsirnya, anak-anak seusia Tuan Putri pasti tetap kesulitan memahaminya."
"Benarkah? Tapi, kudengar ada banyak anak yang telah mengerti kitab ini di umur yang lebih muda dariku," Alice tak percaya.
"Haha... mereka adalah anak-anak ajaib," kata Anna dengan tawa kecilnya melihat ekspresi serius Alice.
"Apa yang kalian bicarakan?" Antonio pun akhirnya tertarik untuk masuk ke dalam percakapan mereka. Sejak tadi, ia hanya mendengar dan memperhatikan raut wajah Alice yang berganti-ganti seiring bergantinya bab yang ia baca.
"Masa depan manusia," kata Alice singkat
"Masa depan?" Antonio bertanya-tanya tak mengerti. Alice pun mengangguk, lalu menjelaskan, "Masa depan manusia yang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan."
"Telah disiapkan untuk mereka api yang menyala-nyala," lanjut Alice serius, "Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."
"Bagaimana kamu seyakin itu?" tanya Antonio mengingat pelajaran teologinya. Bagaimanapun juga, itu terdengar meragukan baginya. Ia tak bisa lantas percaya dengan apa yang belum pernah dilihatnya.
"Karena aku sudah melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan dan naluriku berkata demikian," jelas Alice tanpa ragu, “Aku mempelajari ilmunya sehingga aku tahu dan yakin dengan apa yang kupercaya.”
"Naluri?" Antonio berusaha mencerna maksudnya. Alice mengangguk lagi, "Benar! Pada dasarnya, naluriah manusia itu percaya akan adanya Tuhan Yang Mahakuasa. Bahkan, orang atheis pun akan memohon pada Tuhan yang ia nafikan saat nyawanya terancam."
"Ah ... aku mengerti," Antonio mengangguk paham, "Tapi, apa tanda-tanda Tuhan yang Kamu lihat itu?"
"Langit," jawab Alice, "Apakah kamu pernah memperhatikan langit? Bukankah langit itu sangat kokoh tanpa cacat. Apa menurutmu, suatu sebesar itu tidak ada yang menciptakan dan menjaganya, sementara kota-kota manusia saja tidak mungkin muncul dengan sendirinya? Gunung-gunung dan lautan juga. Bukankah setiap sesuatu itu ada yang menciptakannya?"
__ADS_1
"Itu kan peristiwa alami?" Antonio menyanggah.
"Benar! Itu adalah mekanisme alam. Alam ini bergerak sesuai hukum yang berlaku," balas Alice mantap, "Bukankah setiap hukum alam itu pasti ada yang mengaturnya?"
"Apa maksudmu?" Antonio masih belum mengerti jelas. Ia masih berusaha untuk mencerna setiap untaian kata dari tunangannya itu.
"Manusia telah mempelajari mekanisme-mekanisme atau hukum alam," Alice memulai lagi penjelasannya, "Mereka memanfaatkan hukum-hukum alam itu dan menyesuaikan diri sedemikian rupa untuk kemaslahatan mereka. Jika Tony sudah memahami fakta ini, apakah kamu masih ragu bahwa hukum-hukum itu telah diatur oleh Tuhan Yang Mahakuasa?"
"Oke, aku mengerti," Antonio tersenyum puas. Ia berhasil mengobrol dan berdiskusi cukup santai dengan Alice, "Mari dengar tentang masa depan manusia yang tadi Kamu katakan."
"Hm? Kamu tertarik dengan itu?" tanya Alice meragukan. Tak disangka anak yang beberapa hari lalu angkuh itu telah sangat sopan sekarang. Aduannya kepada Ratu Clara mungkin cukup mujarab.
"Ya, jelaskan saja!" kata Antonio dengan senyum berharap di wajahnya. Alice pun membalas, "Kalau begitu, biar Anna yang menjelaskannya."
"Eh!?" Antonio tampak kecewa.
"Sepertinya, Yang Mulia Putra Mahkota ingin Tuan Putri sendiri yang menjelaskannya," ujar Anna melihatnya.
"Itu benar!" balas Antonio yang kemudian teringat dengan guru-guru teologinya yang membosankan.
"Hah...," Anna menghela napas mengalah, "Baiklah kalau begitu. Kita akan membahas nasib orang-orang yang menutup diri terhadap Tuhannya."
Anna lalu melantunkan sebuah ayat yang tidak dimengerti Antonio. Tapi, ia tetap mendengarnya karena itu sangat merdu. Bagaimana kalau Alice yang membacanya?
"Orang-orang yang ingkar itu akan dibakar di neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali," Anna mulai menjelaskan, "Apabila mereka dilempar ke dalamnya, mereka akan mendengar suara-suara jeritan sementara neraka itu mendidih membakar mereka."
"Neraka itu hampir meledak-ledak saking dendamnya kepada mereka," Anna berhenti sejenak, "Setiap kali dilempar ke dalamnya sekelompok orang-orang yang ingkar itu, bertanya kepada mereka penjaga-penjaga neraka,
‘Belum datangkah kepadamu pemberi peringatan?’
__ADS_1
Mereka pun menjawab, ‘Benar, telah datang kepada kami pemberi peringatan maka kami mendustakannya dan kami katakan, ‘Tidaklah Tuhan menurunkan suatu pun, sungguh Kalian tidak lain dalam kesesatan yang nyata.'
Dalam alenia ini, Tuhan menjelaskan keadilannya," kata Anna menjelaskan tafsirnya, "Jika Kalian perhatikan, percakapan antara para penjaga dan penghuni neraka ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak akan menghukum hamba-Nya kecuali Ia telah memberinya peringatan. Kalian mengerti?"
Alice dan Antonio mengangguk serempak. Camilan dan teh baru saja diseduh kepada mereka. Anna menyilakan keduanya untuk mendengarkan sambil memakan kudapan itu.
"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Antonio penasaran.
"Setelah itu, mereka menunjukkan penyesalan mereka," jelas Anna melanjutkan, "Mereka berkata,
‘Seandainya kami mendengar atau memikirkannya, tentu kami tidak akan termasuk di antara penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala ini.’
Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaan itu teruntuk para penghuni neraka," Anna kembali terdiam sejenak memastikan kedua muridnya memperhatikan dengan benar. Keduanya masih memperhatikan walau sepertinya Alice sudah tampak kelelahan.
Mata Alice terpejam beberapa saat, lalu terbuka kembali. Anna hanya tersenyum melihatnya maklum. Umurnya masih 10 tahun. Apalagi, sebenarnya ia sudah memahami ayat itu sebelumnya.
"Apa Anda tahu mengapa hukuman untuk orang-orang yang ingkar itu sangatlah berat?" tanya Anna mengetes.
"Tentu saja karena mereka dengan bodohnya mengingkari Tuhan Yang Mahakuasa," jawab Alice, lalu dilanjutkan oleh Antonio, "Ya, bahkan menentang raja atau penguasa dari suatu kerajaan saja hukumannya sangat berat, apalagi kalau sampai mengingkari Tuhan Sang Pemilik alam semesta."
"Benar sekali! Kalau begitu, saya tidak perlu mengulanginya kembali," ucap Anna senang. Ia pun melihat Raja Claudius dan Duke vi Alverio datang. Maka, ia mencukupkan kuliah dadakannya.
"Kudengar, kalian berdua sedang belajar di taman ini," kata Raja Claudius ramah. Di belakangnya, Duke vi Alverio mengikuti. Wajahnya tampak semakin lelah, tetapi ia menutupinya dengan senyum hangat yang teduh.
"Tuan Putri tampak lelah," Raja Claudius memperhatikan Alice yang mengantuk.
"Tidak selelah Baginda dan Ayah," kata Alice tiba-tiba segar kembali dari kantuknya. Raja Claudius terkekeh mengingat kembali tumpukan tugasnya, "Kami berbeda, Nak. Saat besar nanti, kamu juga akan merasakannya."
"Pangeran juga?" tanya Alice merasa tidak adil. Ia menatap Antonio datar sampai membuatnya salah fokus. Wajah pangeran muda itu sedikit memerah melihat Alice yang tiba-tiba memperhatikannya.
__ADS_1
"Ya ya, tentu saja," kata Raja Claudius, "Kalian akan bekerja bersama nantinya. Sekarang, kamu tidak perlu memaksakan dirimu. Kamu boleh beristirahat dulu."
"Maka saya pamit untuk pulang, Paman," kata Alice lalu memberi hormat pada raja. Ia pun pergi meninggalkan Istana Ruby. Di perjalanan, ia tidur di pangkuan Anna. Tidurnya sangat lelap. Ia lebih terlihat seperti anak seusianya saat itu.