Alice & Alicia: Putri Kembar Religius

Alice & Alicia: Putri Kembar Religius
Tentang Pertunangan


__ADS_3

"Dia terlihat jauh lebih bahagia," gumam Derrick di kantornya. Pandangannya menatap keluar jendela. Tepatnya pada saung peristirahatan di taman Kediaman vi Alverio tempat Alice dan Anna tengah berdiskusi.


"Syukurlah, sepertinya pertunangan itu tidak membebani perasaan nona muda," seorang kakek tua yang biasa mengantar secangkir teh ikut berkomentar. Dengan wajahnya yang penuh keriput itu, ia masih bisa memancarkan aura kewibawaan. Sorot matanya tenang dan teduh menunjukkan kebijaksanaan.


"Semoga saja begitu," Derrick tersenyum kecut. Pertunangan ini tidak sesederhana yang terlihat. Sejak Alice memulai debutnya dan membuka kunci Istana Mutiara, ia mulai dilirik untuk mewarisi takhta. Prestasinya membuat ia lebih mencolok daripada Antonio sehingga bisa jadi para bangsawan akan memanfaatkannya di masa depan. Keluarga Kerajaan el Vierum berusaha menghindari konflik yang tidak perlu itu demi masa depan yang lebih baik.


"Aku tidak akan membiarkan para lalat mengerumuni adikku. Hanya kebijaksanaan dan kebaikan yang boleh menyelimuti permata," mata Derrick kembali menatap tumpukan kertas perkamen di mejanya. Pandangannya menembus cakrawala masa depan. Ia pun menghela napas setelah kembali dari lamunannya dan bergumam, "Pertunangan, ya? Aku bahkan belum melakukannya."


"Itu karena Tuan Muda selalu sibuk dengan pekerjaan dan jarang menampakkan diri ke pergaulan sosial. Lagi pula...," Kakek James menjeda kata-katanya sembari menatap tumpukan surat dari para nona yang ingin berhubungan dengan majikannya itu. "Anda tak pernah mau menerima undangan-undangan itu."


"Ck, itu merepotkan. Lagi pula aku tidak suka dengan yang lebih tua," kata Derrick beralasan dengan sebal. Sejak ia mulai mengurus Duchy vi Alverio tiga tahun lalu, telah banyak nona yang berusaha berhubungan dengannya. Akan tetapi, ia menutup mata dengan semua itu dan menyerahkannya pada Kakek James. Hanya sesekali ia menerima undangan acara sosial dari bangsawan, itu pun bila diperlukan.


"Ho ho, jadi Anda akan menerimanya selama nona itu lebih muda?" Kakek James antusias. Akhirnya tuan mudanya tertarik untuk menjalin hubungan dengan dunia luar. Ini akan memulai saat-saat yang ditunggu oleh seantero Duchy vi Alverio.


"Setidaknya ia harus sedikit mendekati adikku," kata Derrick membuat harapan Kakek James pupus. Tidak banyak nona bangsawan yang sejenius Alice. Putri Mahkota el Vierum itu adalah gadis yang langka untuk dijumpai.


"Saya tidak dapat berbuat apa-apa kalau Anda berkata demikian," Kakek James pasrah. Derrick meliriknya sesaat. Sebenarnya ia sudah tahu tempat yang cocok untuk mencari pasangannya. Duke Muda vi Alverio itu pun menghela napas dan berkata, "Amati saja para nona di Istana Mutiara. Aku yakin mereka cukup pantas karena Alice sendiri yang memilihnya."


Mata Kakek James membara. Harapannya kembali tumbuh di Istana Mutiara. "Saya pastikan Anda akan didampingi oleh pasangan terbaik, Tuan Muda."

__ADS_1


Derrick berdecak sebal. Ia sudah muak dengan percakapan itu. Melihat itu, Kakek James pun segera pamit undur diri. Ia tidak mau mengganggu waktu istirahat tuan mudanya lagi. Ia pun bergumam saat keluar dari ruangan Derrick, "Tuan muda terlalu memaksakan diri. Di waktu istirahat pun bekerja demi wilayah. Duchess masa depan harus orang yang mampu meringankan beban tuan muda."


Sekali lagi matanya membara penuh semangat seakan cucunya sendiri yang akan segera berjodoh.


Derrick merenggangkan tubuhnya. Di sisa waktu istirahatnya yang singkat itu, ia termenung dalam diamnya. Matanya menyapu seisi ruangan sampai jatuh ke sebuah perkamen berkualitas tinggi yang terdapat lambang Menara Penyihir di sisinya. Ia mengingat adiknya lalu mendengus kesal pada proposal itu.


"Hans, buat surat penolakan untuk proposal ini," kata Derrick begitu melihat ajudan pribadinya memasuki ruangan.


Pemuda bernama Hans yang baru sampai di depan pintu itu menatap Derrick heran. Proposal itu baru sampai tadi pagi, beberapa saat sebelum Alice tiba. Hans yakin bahwa Derrick sama sekali belum memeriksanya.


"Apa Anda yakin?" tanya Hans setelah memindai cepat proposal itu. Jelas sekali itu adalah proposal yang amat menguntungkan bagi wilayah Duchy vi Alverio. Hampir tidak ada alasan untuk menolaknya.


"Jangan membuatku berkata dua kali," Derrick menatap Hans tajam. Nada bicaranya dingin dan tak bersahabat. Hans yakin bahwa tuan mudanya itu sedang dalam kondisi batin yang buruk. "Duchy vi Alverio tidak membutuhkan semua benda yang ditawarkan oleh Menara Penyihir itu."


"Apa?" ternyata Hans salah mengira. Derrick sudah membaca lengkap proposal itu. Setiap penawarannya tidak dapat mengganti kehilangan lima tahun lalu.


"Buang juga semua sovenir yang mereka berikan padaku," lanjut Derrick. Ia masih menatap Hans dengan tajam. "Duchy vi Alverio tidak akan menerima apa pun dari Menara Penyihir sejak lima tahun yang lalu."


"Anda serius, Tuan Muda?" Hans mengonfirmasi. Tawaran yang ada dalam proposal itu terlalu sayang untuk ditolak. Menara Penyihir memberi banyak penawaran bagus pada Duchy vi Alverio. Kalau Hans yang duduk di kursi duke muda itu, ia pasti langsung memberi cap untuk mengizinkan pembangunan cabang Menara Penyihir. Mungkin saja tuannya itu terlalu cepat mengambil keputusan.

__ADS_1


"Lakukan saja! Jangan buat aku berkata dua kali," Derrick menekankan. Hans sedikit tersentak. Ia pun segera pamit undur diri dan melaksanakan tugas itu.


"Pastikan itu benar-benar lenyap dari tanah Duchy vi Alverio. Jangan berikan pada siapa pun!" kata Derrick menyampaikan pesan terakhirnya. Hans berhenti sejenak. Baru saja ia berpikiran untuk memberikan sovenir itu kepada seseorang. Ia bergidik mendengar tuan mudanya itu seolah dapat membaca pikiran.


Setelah Hans keluar dari ruangannya, Derrick kembali larut dengan pekerjaannya. Walau ia tampak fokus, sebenarnya ia kembali tenggelam dalam cakrawala pikirannya.


Pertunangan Alice itu kelak bisa menjadi pedang bermata dua. Secara simbolis, Alice mewakili Istana Mutiara sebagai putri mahkota sementara Derrick mewakili keluarga kerajaan.


Memang tidak ada konflik di antara keduanya, tetapi ada celah yang akan merenggangkan hubungan keduanya. Celah itu adalah Menara Penyihir. Keluarga kerajaan secara aktif mendukung menara penyihir sedangkan Istana Mutiara selalu enggan berkompromi dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan sihir. Alice dan Antonio saling berperang dalam mempengaruhi.


Jika Alice meraih kemenangan dalam persaingan itu, kelak pengaruh Menara Penyihir akan memudar seiring berkurangnya dukungan keluarga kerajaan. Akan tetapi, jika terjadi sebaliknya, Istana Mutiara akan kehilangan sebagian kekuatannya.


Jika tak seorang pun di antara keduanya dapat memenangkan persaingan itu, maka pertunangan itu akan gagal dan keduanya harus kembali bersaing untuk takhta.


"Keluarga vi Alverio sangatlah setia kepada Keluarga el Vierum," gumam Derrick. Tanpa disadarinya, mentari hampir kembali ke peraduannya. Cahaya jingga menembus masuk ke ruangan Derrick yang sunyi. Memori-memori hari itu merasuk kembali ke hati Derrick.


"Jika Keluarga el Vierum tidak menghentikan dukungannya pada Menara Penyihir nanti, Keluarga vi Alverio tidak akan yakin dapat mempertahankan kesetiaannya," lanjut Derrick. Ia bangkit dari meja kerjanya dan meninggalkan tumpukan pekerjaan yang tersisa. "Yang pasti, Keluarga vi Alverio akan selalu mendukung putri mahkota yang merupakan darah dagingnya. Lagi pula, kami juga memiliki darah keluarga kerajaan."


Seringai Derrick menghias wajahnya. Ia keluar untuk makan malam bersama adiknya setelah sekian lama. Di hadapan adiknya tercinta itu, ia selalu menjadi kakak paling ramah yang paling baik sedunia.

__ADS_1


__ADS_2