
"Maksud kamu, apa kamu mengenal Lala. Dan maksudmu Lala itu pelakor?" Tanya Mama tak percaya.
"Iya, aku memang mengenal dia. Dan dia itu pelakor.." Ucap Johan dengan mengeratkan giginya.
"Kau jangan bohongi Mama Jo," ucap Bu Dina lemas yang duduk sembari memegang kepalanya.
"Mama.." Teriak Johan khawatir, dia memeluk Mamanya dengan penuh kasih. Dia merasakan apa yang kini tengah Mamanya rasakan. Karena Jo paham betul jika Mamanya itu tidak suka dengan yang namanya wanita kedua.
"Minum dulu Ma, maafkan aku Ma. Aku tak bermaksud untuk membuat Mama sedih," ucap Johan dengan memberikan segelas air putih pada Mamanya.
"Apa benar yang kau katakan tadi?" Tanya Bu Dina memastikan.
"Iya Ma, dan aku adalah pengacara yang menangani perceraian Nia sahabatku. Jika dia wanita baik, tak akan mungkin dia mau menikah dengan pria beristri. Walaupun mereka saling cinta, jauh sebelum pria itu menikah dengan wanita lain itu salah. Dan apa pun alasannya dia tetaplah salah. Dan otomatis dia akan di anggap rendah oleh orang lain."
"Mama sangat tidak suka dengan hadirnya orang ketiga, itu sangat sangat menyakitkan Jo. Mama sudah salah menilai dia baik," Bu Dina pun menangis mengingat kejadian pilu yang menimpanya dulu. Namun Johan menenangkan Mamanya agar beliau tenang.
"Dia memang berwajah polos, tapi hatinya tak sepolos yang kita lihat Ma. Jadi jangan pernah Mama berharap dia bisa menjadi bagian keluarga kita. Aku orang pertama yang akan menolaknya," tegas Johan.
Bu Dina akhirnya mengetahui siapa Lala sebenarnya, beliau tak menyangka jika wanita yang beliau pikir baik ternyata tak sebaik itu. Dan kini Bu Dina dan Johan tengah duduk di ruang tengah, dan kembali meneruskan obrolan yang tertunda tadi.
"Maaf tadi Tante tinggal sebentar, ada yang harus Tante bicarakan sama Johan. Maaf banget ya Nak," ujar Bu Dina lembut dan mengusap rambut Dessy.
"Tidak apa apa Tante," jawab Dessy lembut.
"Kata Jo, kamu juga pengacara?" Tanya Bu Dina berbasa basi.
"Iya Tante,"
__ADS_1
"Wah..itu sangat bagus, Mama akan punya anak dan menantu pengacara. Paket komplit," Ucap Bu Dina yang berhasil membuat Dessy tersipu.
"Paket komplit?" Ucap Johan, Catty dan Romi bersamaan.
"Paket komplit, karena sudah cantik, anggun, manis, pintar, dan berprofesi sama dengan Johan." Jawab Bu Dina yang lagi lagi membuat Dessy semakin tersipu.
Awalnya dia merasa tegang karena merasa Bu Dina tak menyukainya. Karena Bu Dina berekspresi datar waktu tadi Johan kenalkan, hingga membuat Dessy sedikit nervous. Namun setelah melihat keramahan Bu Dina, rasa gugup dan tegang itu pun hilang.
Bu Dina banyak bertanya pada Dessy tentang latar belakang keluarganya. Dan Dessy pun menjawab semua pertanyaan dari Bu Dina dengan tenang, jujur dan anggun. Memang benar yang Johan katakan, jika Dessy perempuan yang baik.
"Jadi kapan kau akan melamar Dessy, Jo?" Tanya Mama.
"Lamar?" Tanya Jo gugup.
"Iya, jika kau sudah membawa seorang gadis ke rumahmu dan mengenalkan pada Mamamu. Itu tandanya kau sudah siap untuk melamarnya." Ucap Bu Dina senang, dan menahan tawanya saat melihat Johan yang gugup.
"Nah..gitu dong, itu baru namanya laki laki. Walau masih enam puluh persen!" Ujar Bu Dina yang di sambut tawa oleh Catty dan Romi.
"What..enam puluh persen." Teriak Johan.
"Ha..ha..berarti kak Jo bukan pria normal." Ledek Catty dan Romi bersamaan.
"Dasar adik dan ipar sama sama nakalnya," bentak Jo. Catty dan Romi pun diam dan menahan tawanya.
"Jika kamu sudah menikahinya, kau akan menjadi laki laki delapan puluh persen."
"Aku menikahinya hanya naik dua puluh persen, kenapa tidak seratus persen?" Protes Johan.
__ADS_1
"Karena seratus persennya setelah kau berhasil membuat Dessy hamil dan Mama memiliki cucu."
"Kalau begitu, aku akan buat dia hamil sekarang juga. Biar aku tidak di kata pria tidak normal." Ucap Johan dengan mengedipkan kedua matanya pada Mamanya dan tersenyum.
"Johan.." Teriak Bu Dina dengan menatap tajam pada Johan.
"Bercanda Ma, aku juga masih waras dan tahu batas pacaran itu seperti apa Ma." Ucap Johan memeluk lembut Mamanya. "Johan sayang Mama, jadi Mama harus selalu sehat dan bahagia!" Ucap Johan dengan mengelus punggung Mamanya.
"Mama juga menyayangimu dan adikmu." Ucap Bu Dina dengan mengulurkan tangannya pada Catty, dan dia pun mengahampiri Mamanya dan ikut memeluk Mamanya.
"Catty juga sayang sama Mama dan Kak Jo, walau kadang dia sangat menyebalkan." Ucap Catty dengan menjulurkan lidahnya pada Jo.
Mereka semua tertawa lepas melihat Jo dan Catty yang selalu bertengkar jika bertemu, dan saling merindukan jika berjauhan.
"Johan terlihat begitu menyayangi Mama dan adiknya, aku tak salah pilih pasangan. Ternyata dia memanglah pria penyayang, pria yang baik. Tante Dina juga baik, beliau terlihat begitu menyayangi kedua anaknya!" Gumam Dessy dalam hati, dia pun terharu melihat keharmonisan keluarga kekasihnya.
"Bagaimana ya, rasanya di peluk seorang Ibu." Gumamnya kembali, dan dia menitihkan air matanya. Meratapi kehidupan pribadinya yang hanya dia dan Papanya yang tahu.
"Sini Nak," Dessy pun mendekati Bu Dina, dan beliau juga memeluk Dessy. "Tante merestui hubungan kalian, katakan pada Papamu. Tante dan Jo pasti akan datang melamarmu secepatnya!" Ucap Bu Dina dengan memeluk Dessy penuh kasih.
"Terima kasih Tante, aku akan katakan pada Papa Dessy." jawab Dessy yang membalas pelukan Bu Dina.
Malam semakin larut, Johan pun mengantar Dessy ke penginapan terdekat. Setelah memastikan Dessy masuk ke kamar hotelnya, Jo langsung kembali pulang ke rumahnya. Dia melajukan mobilnya dengan penuh kebahagiaan, akhirnya dia akan segera melamar dan secepatnya akan menikahi wanita yang sangat dia cintai.
Kini dia merasa sudah siap untuk menikah dengan gadis pujaannya.
Di kamar Bu Dina, beliau tengah melamun. Dia memikirkan tentang Lala yang katanya pelakor.
__ADS_1
"Apa iya Lala itu seorang perebut suami orang? Dia itu baik, pekerja keras. Masa' iya karena cinta ia rela jadi istri kedua kekasihnya,"