
"Sayang, terima kasih kau sudah hadir di hidupku. Dan kau juga membuat hidupku lebih sempurna dengan kehamilanmu ini." Ucap Ello yang duduk dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Nia sambil mengusap dan mengecup perut Nia tanpa henti.
"Kau juga membuat hidupku lebih sempurna dan selalu berwarna. Dan aku yang seharusnya berterima kasih padamu babang, kau sudah mau terima aku apa adanya. Tak peduli dengan statusku, tak peduli jika diriku bukan anak orang berpunya. Tak pe--," ucapannya terhenti oleh jari Ello yang di tempelkan di bibir mungilnya.
"Apa kau pikir jika aku ini menilai wanita itu dari status dan derajatnya. Aku mencintaimu karena kebaikanmu, kau itu sempurna kau tak hanya cantik di luarnya saja. Tapi juga cantik dari hatimu, i love you more." Ucap Ello dengan mengecup bibir Nia.
"Love you more too," balas Nia. Mereka pun saling berciuman, dan ciuman yang sangat dalam membuat Nia dan Ello menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Entah sejak kapan pakaian mereka sudah terlepas dari tubuh mereka dan tubuh mereka kini telah bersatu.
Mereka pun sangat menikmati kegiatan pa**s mereka. Dan setelah saling mengerang karena sudah sampai di puncak pelepasan, mereka pun terkulai lemas dan saling berpelukan.
"Jangan pernah pergi dari hidupku, tetaplah di sisiku hingga akhir hayat. Jangan pernah ada yang kedua di antara kita," ucap Nia dengan memeluk erat tubuh Ello.
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu dan anak kita sayang, hanya maut yang akan memisahkan kita. Apa lagi wanita kedua, itu tidak ada sejarahnya di keluarga Sanjaya dan aku pun tak berminat. Dan kamu jangan pernah tinggalkan diriku, aku tak bisa hidup tanpa dirimu Neng Nia Sayang." Ucap Ello.
"Prett.." ucap Ello.
"Kok Pret?" Ucap Ello menangkup wajah Nia dengan kedua tangannya.
"Kenyataanya hampir semua pria suka berkata seperti itu saat mereka masih cinta dan bersama. Tapi giliran saat mereka pas di tinggal dan gak bersama wanita yang dulu dia cintai. Nyatanya mereka masih bisa hidup kan," jawab Nia.
"Tapi aku benar benar tak mau kehilangan dirimu Sayang, lebih baik aku mati dari pada kau pergi meninggalkan aku." Ucap Ello yang kembali memeluk Nia.
__ADS_1
"Kita berdoa saja, semoga kita selalu bersama dan menua bersama hingga kita tak lagi bernafas." Nia pun menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Pelukan yang menurutnya sangat nyaman dan hangat.
"Aamiin," jawab Ello.
"Dia bergerak," ucap Nia menempelkan tangan Ello ke perutnya.
"Hallo Nak, Ayah sama Bunda sudah tidak sabar ingin segera melihatmu di dunia ini dan menimang nimang dirimu Nak. Sehat terus ya Nak, Ayah dan Bunda akan selalu memberikan yang terbaik untukmu Nak." Ucap Ello yang berbicara di perut Nia.
"Ayah juga harus selalu sehat, jaga kesehatan jangan terlalu capek kerjanya ya Yah. Anakmu ini akan sedih jika Ayah kelelahan karena terlalu banyak bekerja. Apa lagi Bunda pasti akan sedih banget Yah," ucap Nia dengan nada layaknya anak kecil yang manja.
"Uluh uluh..anak Ayah jangan sedih. Ternyata anak Ayah sangat sangat manja dan menggemaskan seperti Bundanya." Ucap Ello dengan mencubit gemas hidung Nia.
"Iya dong," sahut Nia dengan terkekeh.
"Kata anak kita, dia ingin di bacakan doa sebelum bobok sama Ayahnya." Ucap Nia manja.
"Baiklah, kita berdoa sama sama!" Ucap Ello.
Setelah membaca doa sebelum tidur, Nia pun memejamkan matanya dan Ello mengusap usap lembut perut Nia seperti biasanya. Nia pun terlelap dalam pelukan Ello, dan perlahan Ello melepas pelukannya dengan hati hati. Dia menyelimuti tubuh Nia, dan mengecup kening Nia dengan lembut.
"Tuhan jagakan dia untukku, aku sangat sangat mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri. Berilah kelancaran untuk persalinannya nanti, dan sehat untuk dua duanya. Dan semoga selalu di beri kesehatan dan kebahagiaan untuk istri dan anak anakku kelak." Lirih Ello dengan mengusap usap rambut Nia yang tergerai indah. Ello pun membaringkan tubuhnya, dan tidur dengan memeluk Nia kembali.
__ADS_1
๐ฟ๐ฟ
Keesokan harinya Nia sudah selesai memasak untuk sarapan yang di bantu oleh Bi Susi. Nia dan Ello memang semalam menginap di rumah Papa, dan kini mereka tengah berkumpul di ruang makan.
"Kenapa masakanmu selalu enak Nak," ucap Papa yang memuji masakan Nia.
"Karena istriku membuatnya dengan niat dan cinta," ucap Ello.
"Dengar tuh Ne, kalau masak itu harus dengan niat dan cinta. Pasti hasilnya akan seenak ini!" Ketus Oma dengan mengunyah makanannya.
"Bisanya cuma bilangin orang Ma," gerutu Mama. "Jadi kalau masak itu pakai niat dan cinta. Bukan pakai bumbu," sahut Mama. Nia, Ello dan Papa tertawa mendengar penuturan Mama dan Oma.
"Ya gak gitu juga kali ma, ya pakai bumbu yang sesuai resep. Waktu masaknya itu di dasari niat dan cinta, pasti hasilnya sesuai keinginan. Kalau hanya karena maksa agar bisa masak, hasilnya akan buruk Ma." Jawab Nia.
"Dengar itu Ne, pakai bumbu di dasari niat dan cinta. Bukan di dasari paksaan," cetus Oma.
"Terserah Mama saja, hari ini aku sangat malas berdebat." Sahut Mama yang lanjut menghabiskan sarapannya.
"Tumben sekali Mama gak membalas perdebatan Oma." Ucap Ello, sedang Oma, Papa dan Nia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin sedang ada tamu bulanan," ucap Nia.
__ADS_1
"Oh.." ucap semuanya.