
Dulu aku sempat berpikir, jika kebahagiaan itu mustahil untukku. Tapi ternyata semua yang aku pikirkan dulu salah. Kebahagiaan kini telah aku rasakan setelah penderitaan aku lalui. Beratnya lika liku kehidupan pernah membuatku berpikir untuk mengecilkan hati, seolah menyalahkan sang pemberi hidup disaat cobaan semakin berat. Namun hati kecilku menepis pikiran itu, karena tidak mungkin penderitaan mengalahkan kebahagiaan. Setelah penderitaan pasti akan muncul kebahagiaan bukan.
Seperti yang aku rasakan saat ini, memiliki suami yang penuh cinta dan kasih sayang. Keluarga besar yang sangat menyayangiku, dan kedua anakku yang membuat hidupku lebih sempurna. Aku selalu berdoa agar anak anakku tak merasakan apa yang pernah aku rasakan.
Disetiap doaku selalu berharap anak anakku selalu dikelilingi orang orang baik dan bahagia selalu. Kelak dewasa bisa menjadi anak yang memiliki sifat dan hati baik nan lembut dan mendapatkan jodoh yang terbaik.
Dan Ayah Ilham yang pernah menjadi mertuaku, juga sangat mengasihiku seperti anak sendiri. Sosok Ayah yang selalu mendampingi putrinya dikala sedang kesusahan. Selalu melindungiku dikala banyak cobaan menghampiriku. Beliau tak pernah lelah mendampingiku dan melindungiku hingga ada seseorang mempersuntingku.
Beliau rela melakukan apa saja demi kebahagiaanku, semua itu mana mungkin aku lupakan begitu saja. Bagaimana bisa aku melupakan kebahagiaan dan pengorbanannya. Karena sesungguhnya beliau begitu menderita lebih dariku. Aku selalu berharap beliau selalu bahagia dimasa tuanya, dan aku yakin Ayah saat ini sangat bahagia dengan kehadiran Melly menantunya. Wanita baik dan manis yang Mas Alan cintai, terlebih Ayah sudah sangat mengenal Melly dan keluarganya.
Kini kami semua hidup bahagia tanpa dendam, benci, bahkan kami semua menjadi keluarga. Kenangan pahit biarlah kusimpan sendiri, tak ku ceritakan ke anak cucuku. Hanya kisah cinta dan kebahagiaanlah yang akan ku ceritakan ke anak cucuku nanti. Agar mereka tahu bagaimana cara menciptakan kebahagiaan yang sebenarnya.
"Sayang...ayo masuk kekamar!" Ajak suamiku saatku duduk di teras rumah bersama keluarga besar Papa Jaya. Dihari libur seperti saat ini selalu kami sempatkan berkumpul bersama keluarga besar di rumah Papa.
__ADS_1
"Ello...ngapain kamu ngajak Nia, ke kamar siang bolong gini? Jangan mesum di siang bolong!" Ujar Oma, yang sedang asyik mengobrol denganku dan yang lain.
"Ngobrol sama Mama, Oma dan Tante Binti itu gak ada faedahnya sama sekali. Kalian semua bisa bisa membuat istriku memiliki sifat seperti kalian!" Ujar Suamiku tercinta, aku dan Papa hanya terkekeh mendengar omelannya dengan berkacak pinggang.
Ya, suamiku takut aku bisa tertular sifat dari mereka. Oma yang suka ceplas ceplos, suka usil seperti suamiku, dan sifat yang tak mau dikalahkan oleh siapa pun. Termasuk dikalahkan Mama dan juga Ello.
Dan Mama yang suka semaunya sendiri, keras kepala, dan punya keinginan tinggi untuk mendapatkan yang sempurna. Walau terkadang pilihannya banyak yang salah. Dan pastinya selalu kalah saat berhadapan dengan Oma. Tapi mereka membuat hidupku lebih berwarna, yang membuatku lebih bahagia. Mereka selalu menyayangi aku.
Mereka mempunyai sifat yang berbeda tapi tetap saja mereka selalu kompak dalam membuat masalah. Tapi bagi suamiku mereka adalah biang rusuh, dan dia takut jika aku bisa memiliki sifat seperti mereka.
Dan Papa Jaya yang dewasa selalu menengahi perdebatan Oma dan Mama setiap harinya. Papa yang pengertian dan selalu merahasiakan apa yang beliau ketahui tentang kesalahan besar Mama yang Mama sembunyikan dari Papa. Beliau tetap menyayangi Mama, walau Mama selalu membuat kesalahan besar ataupun kecil. Namun cintanya lebih besar dari apa pun.
Dan suamiku, memiliki sifat yang sama dengan Oma yang usil, Mama yang keras kepala, dan memiliki sifat dewasa seperti Papa. Ya kalau lagi oleng dia pasti akan usil, kalau mempunyai keinginan harus ia dapatkan seperti Mama dan kalau ada masalah besar pada teman, keluarga atau orang terdekatnya. Dia selalu bersikap dewasa seperti Papa. Intinya dia memiliki sifat dari ketiga tetuanya, sungguh sangat berwarna sifatnya kan!
__ADS_1
"Mama..." Teriak Zacky saat datang bersama Lena dan Langit.
"Ada apa Zac..." Tanya Tante Binti saat Zacky terduduk dan menyandarkan kepalanya dibahu Tante.
Kami semua terdiam saat Zacky terlihat sedih, sedang Lena tersenyum lebar seolah dia telah mendapatkan undian.
"Dih...ada Om Zac cama Tante Ena, pasti bicik deh." Ucap Bulan putriku yang sangat cerewet, sifatnya seperti siapa lagi kalau bukan Ayahnya, Oma dan Grandmanya.
"Bulan gak boleh bicara seperti itu ya Nak!" Pintaku lembut.
"Emang Om Zac cama Tante Ena celalu begicu Bun. Bulan jadi cebel!" Ucapnya membuat Oma dan Mama terkekeh. Sedang tanganku menutup mulut Bulan agar tak berucap seperti itu lagi.
"Denger tu Zac, anak kecil saja sebel. Apa lagi kita, ya gak Ma?" Tanya Mama dengan menyunggingkan bibir pada Oma.
__ADS_1
"Kita...kamu aja kali Ne, Mama gak sebel. Tapi sudah melebihi kata sebel!" Ucap Oma.
"Nenek nenek sok gak kompak," ucap Mama pelan tapi masih terdengar ditelingaku.