
Ditempat lain, yaitu ditempat Kakek Ilham. Disana juga tak kalah hangatnya. Alan dan Melly hidup bahagia dan sudah dikaruniai seorang anak perempuan bernama Renyta Sekar Wiguna yang sudah berumur 13 tahun. Reny adalah anak tunggal, namun sudah melengkapi keluarga kecil mereka dan menjadi sumber kebahagiaan untuk Kakek Ilham dan juga Eyang Sri dan Eyang Ratno.
Silaturahmi bersama Nia dan keluarga tetap terjalin hingga saat ini, bahkan jika ada waktu luang mereka bergantian untuk berkunjung. Terkadang Nia dan keluarga yang ke Bandung, kadang Kakek Ilham dan keluarga berkunjung ke Jogja. Dan Lala mantan istri Alan yang kini juga sudah bahagia bersama pasangan hidupnya dan dia sudah berdamai dengan Johan Kakak sekaligus sepupunya.
Alan adalah sosok suami siaga dan Ayah siaga buat Melly dan juga Reny. Alan bahkan sangat menjaga Reny anak semata wayangnya, dan dia begitu posesif terhadap pergaulan anaknya.
Selalu antar jemput Reny ke sekolah, bahkan saat belajar kelompok pun Alan sempatkan untuk mengikutinya. Bahkan saat ingin jalan bersama teman sekolahnya pun Alan setia menjadi bodygard anaknya. Itu semua karena dia takut anaknya akan salah bergaul dan takut tersakiti.
Entah sampai kapan dia akan posesif pada anak gadisnya itu. Sebenarnya Melly sudah memberi tahu Alan untuk tidak bersikap seperti itu.
"Mas, biarkan Reny bergaul sesuka hatinya. Jangan kamu kekang dan selalu kamu ikuti kemana pun dia pergi. Biarkan dia mencari pengalaman diumurnya yang sudah remaja, dia bukan anak kecil lagi yang harus kamu ikuti kemana pun dia pergi!" Ucap Melly lembut mencoba memberi pengertian pada Alan.
"Aku takut dia salah pergaulan, nanti dia pacaran terus disakiti dan diduakan sudah pasti dia akan sakit hati dan menangis. Aku kan gak bisa lihat anakku sedih!" Jawab Alan.
"Kita cukup kasih arahan untuk anak kita, bukan mengawasi anak kita kemana pun dia pergi Mas. Kamu kasih pengertian dan kasih tahu dia baik buruknya, lagi pula Reny anaknya terbuka Mas, tidak perlu kamu sekhawatir itu! Lihat aku, dulu aku tidak pernah diawasi orang tuaku bahkan aku bergaul dengan siapa saja. Apa kamu mendengar hal hal buruk tentangku Mas?" Melly merasa kasihan pada Reny yang tidak bisa bermain layaknya remaja lainnya.
"Iya kamu bisa mandiri sejak dini. Oke, akan aku coba untuk memberi ruang untuk Reny!"
"Aku tahu perasaanmu Mas, tapi ini anak remaja yang masih sekolah bukan sebuah pernikahan yang kamu takutkan terjadi hal buruk pada anakmu! Ingat Mas, kita hanya perlu membimbing dan memberi arahan yang baik bukan malah membuatnya takut dan berujung tertekan!"
"Setakut itu diriku sayang, hingga membuat anakku risih dan menahan kesalnya padaku."
"Ayah...Ibu...diminta Kakek keruang keluarga!" Teriak Reny dari luar kamar yang membuat mereka menghentikan obrolan.
"Ya Nak," sahut Melly dan Alan bersamaan.
__ADS_1
Disana sudah berkumpul para tetua yang menikmati secangkir teh beserta biskuit untuk pelengkap.
"Wah...sudah berkumpul semua, maaf Alan tadi baru pulang dan bersih bersih badan dulu Yah, Pak, Bu!"
"Tidak apa apa, sepertinya sedang rame Resortnya?"
"Alhamdulillah Yah, ini juga berkat Melly yang selalu membantu dan juga kasih dukungan!"
"Alhamdulillah, Bapak dan Ibu bahagia melihat kalian selalu kompak dalam mengurus anak dan juga dalam pekerjaan rumah dan kantor!" Ucap Nek Sri.
"Reny gimana sekolahnya?"
"Gak gimana gimana lah Nek, biasa aja sih. Hanya saja aku cuma punya teman dikit aja, banyak yang gak mau berteman denganku gegara ada yang satpamin aku setiap hari!"
"Aku gak salah dengar ini?" Tanyanya sambil mengorek ngorek telingannya.
"Kamu gak salah dengar kok Nak, Ibu sudah kasih pengertian pada Ayahmu. Jadi terima kasih dan beri pelukan pada Ayah!"
"Terima kasih Yah, aku tidak akan salah bergaul dan aku ini anak yang tidak pandai berbohong kan Yah!"
"Iya..." Ucap Alan mengacak ngacak rambut Reny dan memeluk sambil memberi kecupan dikepalanya.
Disitulah Alan dan Melly memberi pengertian pada Reny, mereka juga sama seperti Nia dan Ello yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan setiap orang tua akan menginginkan seperti itu bukan.
Reny pun mengerti dan dia berjanji tidak akan salah bergaul dan tidak akan pernah mengecewakan Ayah dan juga Ibunya. Kakek Ilham dan Eyangnya pun ikut menasehati Reny. Beruntung Reny anak yang pintar dan cepat tanggap jadi tidak begitu susah memberi nasehat padanya.
__ADS_1
"Ingat pesan Ayah sama Ibu ya!"
"Siap, ingatan Reny sangat tajam jadi tidak mungkin lupa sama pesan Ayah, Ibu, Kakek, Eyang Uti dan Eyang Kakung."
"Anak pintar,"
"Oh iya, Bulan sama Bintang kapan kesininya Ya?" Ucap Reny yang tiba tiba merasa kangen dengan Twins B.
"Kenapa emangnya? Kangen berantem apa kangen bercanda bareng?"
"Dua duanya, habis seru kalau bareng mereka. Aku kan gak punya saudara jadi kadang kesepian gak ada teman ngobrol, bercanda dan ketawa bareng!"
"Maafin Ibu ya, Nak. Ini salah Ibu yang tidak bisa kasih kamu adik!"
"Ini bukan salah Ibu kok, ini sudah takdir. Maafin kata kata Reny tadi ya Bu." Ucap Reny sedikit menyesal karena keceplosan bicara seperti itu.
"Ini takdir sayang, ini bukan salahmu jadi jangan lagi menyalahkan diri." Ucap Alan.
Awal mula karena Melly yang keguguran saat hamil kedua dan terpaksa dokter harus mengangkat rahimnya. Jadi dia tidak bisa memiliki seorang anak lagi.
Anak perempuan membuat Alan sedikit ketar ketir dan takut tidak bisa melindunginya. Banyak hal dibenaknya tentang ketakutannya memiliki anak perempuan, apa lagi dijaman sekarang yang banyak pergaulan bebas diluar sana. Walau tidak semua anak akan seperti itu, tapi kita tetaplah khawatir sebagai orang tua. Entah itu anak laki laki atau perempuan sama saja kita akan punya rasa khawatir bukan, terlebih sudah memasuki masa remaja dengan pergaulan yang sudah jauh berbeda saat masih kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tunggu ya kelanjutan Lala bersama keluarga barunya.
__ADS_1