
Ke esokan hari, Nia dan Sinta akan kembali ke Ibu kota. Sebenarnya dia masih ingin bersama Pak Ilham, namun karena Alan dan Sinta masih ingin tinggal di Bandung selama dua hari. Nia memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta, dia masih merasa canggung tinggal satu atap dengan Alan yang sudah bukan Mahramnya lagi.
Nia beralasan pada Pak Ilham, kalau Sinta juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya dan juga tidak bisa berlama lama meninggalkan Tunangannya lama lama.
"Ayah jaga kesehatan ya Yah, Nia selalu berharap Ayah selalu baik baik saja." ucap Nia. Dia bermanja di bahu Pak Ilham, layaknya anak dan Ayah kandung.
"Ayah akan selalu jaga kesehatan Ayah, dan Ayah pasti baik baik saja. Selama kamu juga baik baik saja!" Pak Ilham mengusap lembut kepala Nia.
Lala yang berdiri di ambang pintu, merasa iri melihat kemesraan Nia dan Pak Ilham. Dia juga ingin di sayang oleh Pak Ilham seperti beliau menyayangi Nia.
"Nia pasti akan baik baik saja Yah, Nia janji akan menjaga diri Nia agar Ayah tidak menghawatirkan Nia," tutur Nia. Dia tidak ingin Pak Ilham terlalu mencemaskan dirinya.
"kamu pasti baik baik saja Nak, Ayah akan mengawasimu dari sini." gumam Pak Ilham dalam hati, dia tersenyum sambil memeluk Nia. Sinta terharu melihat Pak Ilham yang begitu menyayangi Nia, hingga tak terasa dia meneteskan air matanya.
"Nia pamit ya Yah," pamit Nia sambil mengecup punggung tangan Pak Ilham.
"Sinta juga pamit ya Om, jaga kesehatn ya Om!" Sinta pun mencium punggung tangan Pak Ilham. Beliau tersenyum dan mengangguk pada Sinta.
"hati hati di jalan ya...!" teriak Pak Ilham. Beliau melambaikan tangan pada Nia yang juga melambaikan tangannya. Beliau menatap mobil Sinta hingga mobil itu menjauh dan tak terlihat lagi oleh Pak Ilham.
Lalu Pak Ilham masuk ke dalam rumah, beliau melewati Lala yang sedang menatapnya. Beliau ingin kembali ke kamarnya, namun Alan menghentikan langkah Pak Ilham.
__ADS_1
"Yah, Alan ingin bicara dengan Ayah!" ucap Alan.
"Ayah lelah, Ayah ingin istirahat. Nanti saja bicaranya," ucap Pak Ilham tanpa menoleh pada Alan. Lalu beliau melangkah menuju kamarnya.
"Mas, Ayah selalu mengabaikanku. Tersenyum pun tidak apa lagi membalas sapaanku!" ucap Lala.
"kamu yang sabar, seiring berjalannya waktu. Ayah pasti akan menerima kehadiranmu," jawab Alan lembut.
"tapi Ayah begitu menyayangi Nia Mas, apa mungkin Ayah juga akan menyayangiku?" kini Lala bersandar di dada bidang Alan.
"kamu harus yakin jika Ayah juga menyayangimu. Mungkin karena saat ini beliau sangat kecewa padaku dan kamu. Dan kamu harus berusaha membuat Ayah yakin jika kamu wanita yang baik." ucap Alan. Dia mencoba membuat Lala yakin jika Pak Ilham juga menyayanginya.
"apa kamu benar benar mencintai Nia Mas?" tanya Lala ragu. Sebenarnya dia tak ingin bertanya soal ini.
"apa kamu sudah tak mencintaiku Mas?" tanyanya penuh selidik.
"kenapa kamu bertanya seperti itu?" Alan balik tanya pada Lala.
"karena kamu mencintai Nia yang sudah bukan istrimu. Aku takut kamu meninggalkan aku dan kembali pada Nia,"
"aku mencintaimu La, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu tidak perlu menghawatirkan itu sayang..." ucap Alan lalu dia memeluk Lala kembali.
__ADS_1
"aku tahu kamu Mas, kamu pasti akan berusaha mendapatkan keinginanmu sampai ke inginan itu terwujud," gumam Lala.
"aku akan mendapatkanmu kembali Nia... Aku harus mencari cara agar kamu bisa kembali padaku Nia...." gumam Alan dengan seringai di wajahnya.
Kini mereka saling berpelukan, namun fikiran mereka sibuk dengan pemikiran masing masing.
***
Di dalam mobil, Nia dan Sinta asyik mengobrol tentang pekerjaan. Melupakan sejenak masalah pribadi Nia, dan Sinta selalu menghibur Nia, agar Nia bisa melupakan Alan yang kini sudah menjadi masa lalu bagi Nia.
"jadi kamu dan Ello sekarang bekerja sama untuk perhotelan Ello" tanya Nia saat Sinta bercerita tentang kerjasamanya dengan Ello.
"hm...aku ingin belajar tentang hotel pada Ello. Hingga dia bisa sukses membuka banyak cabang hotel di beberapa kota," ucap Sinta.
"aku fikir Ello hanya mempunyai Restaurant saja!" ucap Nia. Karena Ello tidak pernah bercerita tentang semua usahanya pada dia dan Lena.
"dia begitu sibuk untuk usahanya, sampai di melupakan masalah pribadinya?" ucap Sinta dengan menyunggingkan bibirnya.
"masalah pribadi apa?" tanya Nia bingung. Karena dia melihat Ello seperti tidak punya masalah.
"masalah jodohnya, setelah hubunganku dan Ello berakhir. Dia tidak pernah lagi menjalin hubungan dengan wanita, dia sibuk mengembangkan usahanya." jawab Sinta.
__ADS_1
Sinta menceritakan masalah putusnya dengan Ello. Dia juga menceritakan tentang Papa Ello yang ingin Ello menjadi direktur utama di perusahaan Papanya. Namun Ello menolak dan lebih memilih membangun usahanya sendiri dari nol hingga sampai saat ini.
"baik Tuan, kami akan selalu mengawasi Non Nia!" ucap seorang pria yang sedang berbicara pada seseorang lewat ponselnya. Orang itu mengendarai mobilnya mengikuti Nia dan Sinta dari belakang.