
Kini Nia dan kawan kawan malaju kembali menuju Ibu kota. Nia benar benar merasa trauma dengan kejadian yang barusan menimpa dirinya. Andai saja kawan kawannya tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada dirinya.
"terima kasih Lena, Ello, Sinta, aku sungguh beruntung memiliki teman teman seperti kalian. Jika saja kalian tidak datang, mungkin Mas Alan sudah...," dia kembali menangis mengingat kejadian tadi.
"sudah Nia, mungkin karena Tuhan masih melindungimu!" ucap Sinta mencoba menenangkannya. Dia menyandarkan kepala Nia pada bahunya.
"terima kasih Ya Allah, Engkau masih melindungiku." gumam Nia.
"untung saja aku mengejarmu dengan memaksa pengunjung Ello untuk mau mengantarku mengikuti mobil Alan." ucap Lena. Dia menahan tawa saat mengingat kejadian saat dia memaksa seorang pengunjung di Restaurant Ello. Sebenarnya ingin rasanya dia tertawa, tapi mana mungkin dia tertawa di saat Nia sedang sedih seperti itu.
Lena menceritakan kejadian saat dia hendak mengejar Nia.
*kejadian di Restaurant Ello.
Saat seorang pria keluar dari Restaurant dan langsung mengendarai motornya. Tiba tiba Lena naik dan membuat pria tersebut kaget dan menghentikan laju motornya.
"hey...Mbak, kenapa kau naik motor saya? Turun...," bentak pria itu.
"Mas please ikutin mobil putih itu," ucap Lena dengan menunjuk mobil Alan yang semakin jauh.
"mobil putih ada banyak Mbak," ucap pria itu dengan melihat mobil yang berjalan di jalan raya.
__ADS_1
"ini genting Mas, teman saya sedang di culik dan dia ada di mobil itu. Tolong Mas saya takut teman saya di apa apain oleh penculik itu," ucap Lena dengan memohon.
"jangan jangan mbak ini komplotan penipu ya?" ucap pria itu curiga.
"sembarangan, lihat baik baik seragam kantor saya Mas. Saya kerja di kantor itu," ucap Lena dengan menunjuk kantornya yang terlihat dari Restaurant itu. "dan saya juga pemilik Restaurant ini, ayo lah cepat ikuti mobil itu. Keburu kehilangan jejak!" teriak Lena dengan memukul lengan pria itu.
"saya gak percaya, masa iya pemilik Restaurant kerja di kantor orang." ujar pria tersebut dengan melihat penampilan Lena.
"ah...banyak tanya, ayo cepat kejar mobil itu. Nanti aku bayar satu juta," celetuk Lena.
"satu juta?" ucap pria ragu.
"dua juta!" celetuk Lena kembali.
"oke " ucap Lena percaya diri.
"busettt, duit dari mana lima juta. Ahh...itu urusan nanti yang penting aku bisa mengejar Nia." gumam Lena.
Motor pun melaju dengan kecepatan tinggi hingga bisa mengikuti mobil Alan. Lena terus menghubungi Ello, dan kebetulan Ello sedang ada urusan dengan Sinta tentang kerja sama bisnis mereka. Dan dengan rasa kesal karena sudah mengganggu meetingnya, akhirnya Ello mengangkat panggilan dari Lena.
Setelah mendengar kata kata Lena, Ello dan Sinta langsung melaju mengikuti arah lokasi yang Lena bagikan.
__ADS_1
"ayo Mas lebih cepat lagi...," pinta Lena dengan memukul lengan pria itu. Pria itu habis habisan mendapat pukulan dan cubitan Lena karena melaju pelan dan melaju terlalu kencang pun tetap kena omelan dan pukulan.
"ini sudah cepat mbak," jawab pria itu kesal. "jika bukan uang lima juta, sudah aku balas pukulanmu itu Mbak...," umpat pria itu dalam hati.
Sesampainya di depan Resort Nilan, pria itu menagih bayarannya pada Lena. Membuat Lena susah untuk menelan salivanya, bagaimana dia membayarnya. Sedangkan dia tidak membawa uang dompet bahkan ATM. Dia hanya membawa ponsel dan uang pecahan dua lembar sepuluh ribuan.
"dan kamu tahu siapa yang membayar ongkos Lena?" ucap Ello kesal.
"Ello....," seru Lena cepat. Nia hanya tersenyum tipis mendengar kekonyolan Lena, tapi dia bersyukur mempunyai teman seperti Lena. Selalu ada saat dia sedang kesusahan.
"kalian teman terbaikku, maafkan aku sudah merepotkan kalian." ucap Nia sendu.
"aku mohon pada kalian, rahasiakan ini dari Ayah. Aku takut penyakit Ayah kambuh lagi, jika mendengar kejadian ini..," ucap Nia kembali.
Johan yang mendapat kabar dari Ello tentang kejadian ini. Semakin membuat Johan bekerja keras, agar permohonan cerai Nia segera terkabul.
"agrhhhhh....," Alan frustasi dan membanting semua barang barang yang ada di kamar Resort.
"kenapa aku bisa melakukan hal bodoh itu, Nia pasti semakin membenciku. Bodoh kau Al....," teriak Alan dan kembali membanting barang barang yang ada di dekatnya.
"aaaa.....a......" teriaknya sembari menghantamkan tangannya pada cermin. Tangannya pun terluka dan berdarah. Karyawan tak ada yang berani masuk ke dalam kamar itu, karena Alan memang melarangnya.
__ADS_1
"aku mencintaimu Nia, aku menyesal telah menyia-nyiakanmu. Aku bodoh, seharusnya aku tak menyakiti wanita sebaik dirimu. Seharusnya aku bersyukur telah memiliki istri sepertimu, baik sholeha...," lirih Alan dengan menahan rasa sakit di tangan dan di dalam dadanya. "aku terlambat menyadari semua, maafkan aku Nia.....," teriak Alan kembali.